;
Tags

Bursa

( 810 )

Dividen BMRI Berikan Imbal Hasil Menarik

HR1 26 Mar 2025 Kontan
PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) akan membagikan dividen sebesar Rp 43,5 triliun atau 78% dari laba bersih tahun 2024, dengan nilai Rp 466 per saham. Ini merupakan peningkatan dari tahun sebelumnya dan memberikan dividend yield sebesar 9,83% berdasarkan harga saham Rp 4.740.

Direktur Utama Bank Mandiri, Darmawan Junaidi, menegaskan bahwa keputusan pembagian dividen besar ini mencerminkan dukungan pemegang saham terhadap rencana ekspansi bisnis bank ke depan.

BPI Danantara, melalui BKI sebagai holding, juga akan mendapat dividen signifikan sebesar Rp 22,61 triliun.

Sementara itu, Handiman Soetoyo dari Mirae Aset Sekuritas menilai dividen BMRI menarik untuk investor jangka panjang, namun tidak cocok bagi pemburu dividen jangka pendek. Prospek pertumbuhan sektor perbankan dinilai tetap menjanjikan dalam jangka panjang.

Gelombang Merger Bawa Optimisme Baru

HR1 25 Mar 2025 Kontan
Merger antara PT XL Axiata Tbk (EXCL) dan PT Smartfren Telecom Tbk (FREN) yang telah mendapatkan persetujuan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan pemegang saham Axiata Group diyakini akan memperkuat posisi keduanya dalam industri telekomunikasi Indonesia. Aksi korporasi ini diharapkan tidak hanya memperluas spektrum dan jaringan infrastruktur digital, tetapi juga menciptakan efisiensi biaya dan meningkatkan margin profitabilitas.

Indy Naila, analis dari Edvisor Profina Visindo, menilai merger ini dapat memperkuat konektivitas digital dan meningkatkan ruang belanja modal EXCL untuk ekspansi. Senada, analis Mirae Asset Sekuritas Daniel Widjaja menyoroti potensi penghematan Rp 1,7 triliun per tahun dari penonaktifan 12.000–15.000 menara yang tumpang tindih serta peluang pertumbuhan di sektor Fixed Broadband (FBB) dan layanan 5G.

Paulus Jimmy dari Sucor Sekuritas melihat merger ini akan menghasilkan entitas baru dengan 94 juta pelanggan, pendapatan gabungan US$ 2,8 miliar, dan EBITDA US$ 1,4 miliar. Namun, ia juga mengingatkan tantangan ke depan, terutama terkait persaingan harga dan ARPU yang stagnan akibat tekanan ekonomi serta persaingan ketat di pasar data.

Kendati menghadapi tantangan, para analis tetap optimistis. Paulus menetapkan rating buy untuk saham EXCL dengan target harga Rp 3.200, sementara Indy dan Daniel masing-masing menargetkan Rp 2.700 dan Rp 2.900. Merger ini diyakini sebagai langkah strategis untuk memperkuat daya saing dan pertumbuhan jangka panjang di industri telekomunikasi.

THR Lebaran: BRI Siapkan Rp 51,74 Triliun

HR1 25 Mar 2025 Kontan
PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) memutuskan untuk membagikan dividen sebesar Rp 51,74 triliun atau Rp 343,4 per saham, yang mencerminkan 86,02% dari laba bersih tahun 2024 sebesar Rp 60,15 triliun. Keputusan ini disampaikan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) dan menunjukkan komitmen BRI dalam memberikan nilai tambah kepada pemegang saham.

Catur Budi Harto, Wakil Direktur Utama BBRI, menjelaskan bahwa pembagian dividen ini dilakukan dengan memperhatikan struktur modal dan kesiapan likuiditas untuk ekspansi bisnis, serta menjaga rasio kecukupan modal (CAR) tetap kuat di angka 19%.

Kinerja keuangan BRI pada Februari 2025 menunjukkan peningkatan signifikan dengan laba bersih Rp 4,6 triliun, tumbuh 42% secara tahunan dan 129% secara bulanan. Hal ini memunculkan optimisme terhadap prospek saham BBRI.

Achmad Yaki, Head Online Trading BCA Sekuritas, melihat prospek perbaikan kinerja BRI sebagai sinyal positif, dan merekomendasikan hold dengan target harga Rp 4.400. Sementara itu, Nafan Aji Gusta, Analis Teknis Senior dari Mirae Asset Sekuritas Indonesia, menilai pembagian dividen akan menjadi katalis positif, dan menyarankan buy dengan target harga Rp 3.830.

Dengan fundamental yang menguat dan pembagian dividen besar, saham BBRI diproyeksi memiliki potensi pemulihan dan pertumbuhan ke depan.

THR Lebaran: BRI Siapkan Rp 51,74 Triliun

HR1 25 Mar 2025 Kontan
PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) memutuskan untuk membagikan dividen sebesar Rp 51,74 triliun atau Rp 343,4 per saham, yang mencerminkan 86,02% dari laba bersih tahun 2024 sebesar Rp 60,15 triliun. Keputusan ini disampaikan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) dan menunjukkan komitmen BRI dalam memberikan nilai tambah kepada pemegang saham.

Catur Budi Harto, Wakil Direktur Utama BBRI, menjelaskan bahwa pembagian dividen ini dilakukan dengan memperhatikan struktur modal dan kesiapan likuiditas untuk ekspansi bisnis, serta menjaga rasio kecukupan modal (CAR) tetap kuat di angka 19%.

Kinerja keuangan BRI pada Februari 2025 menunjukkan peningkatan signifikan dengan laba bersih Rp 4,6 triliun, tumbuh 42% secara tahunan dan 129% secara bulanan. Hal ini memunculkan optimisme terhadap prospek saham BBRI.

Achmad Yaki, Head Online Trading BCA Sekuritas, melihat prospek perbaikan kinerja BRI sebagai sinyal positif, dan merekomendasikan hold dengan target harga Rp 4.400. Sementara itu, Nafan Aji Gusta, Analis Teknis Senior dari Mirae Asset Sekuritas Indonesia, menilai pembagian dividen akan menjadi katalis positif, dan menyarankan buy dengan target harga Rp 3.830.

Dengan fundamental yang menguat dan pembagian dividen besar, saham BBRI diproyeksi memiliki potensi pemulihan dan pertumbuhan ke depan.

Respons dan siasat para Investor Ritel menghadapi Anjloknya IHSG

KT3 24 Mar 2025 Kompas

IHSG anjlok hingga 6,12 % pada 18 Maret 2025, memicu ”trading halt”. Meski sempat pulih, pasar saham masih melemah. Berikut respons dan siasat para investor ritel menghadapi kondisi tersebut : “Penurunan IHSG belakangan ini berdampak besar pada portofolio saya. Sebulan lalu, saat Danantara dibentuk, saya menjual rugi saham bank-bank BUMN dan mengalihkan investasi ke sektor swasta. Jika tren ini berlanjut, saya akan mengamankan dana dalam bentuk tunai sambil menunggu stabilitas pasar. Setelah investor asing kembali masuk, baru saya mempertimbangkan membeli saham lagi,” ujar Nico Himawan (28), pekerja swasta di Pekalongan, Jateng.

“Saya berinvestasi saham jangka panjang, jadi saat IHSG anjlok, saya tidak cut loss dan justru menambah sedikit demi sedikit dengan strategi dollar cost averaging. Meski tren penurunan IHSG memengaruhi portofolio, saya tetap mempertahankan saham, termasuk yang fundamentalnya kurang baik, sambil diversifikasi ke aset lain, ujar Yuliana Jemie, pebisnis UMKM asal Pontianak, Kalbar. Menurut Sem (28) karyawan swasta di Jakarta, “Untuk mengantisipasi penyusutan nilai saham, saya mulai mengalihkan dana ke emas dan deposito, yang dinilai lebih aman dan menguntungkan. Ketidakpastian kebijakan setiap pergantian presiden membuat investor ragu. Pemerintah perlu menciptakan kebijakan yang stabil dan berkelanjutan agar investor percaya, termasuk menunjukkan komitmen dengan menindak tegas koruptor.”  (Yoga)

Peraruhan untuk Stempel Layak Investasi

KT3 24 Mar 2025 Kompas (H)

Investor menilai potensi keuntungan berinvestasi di Indonesia semakin menurun. Tanpa perbaikan struktural dan pendekatan teknokratis dalam kebijakan pemerintah, berbagai risiko baru bisa muncul. Status layak investasi atau investment grade, jadi taruhan.  Demikian pesan dan aspirasi yang mengemuka pada Kompas Collaboration Forum (KCF) di Jakarta, Jumat(21/3). Komisaris Utama PT Pan Brothers Tbk Benny Soetrisno dan pengajar di Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya Jakarta, A Prasetyantoko, menjadi narasumber dalam acara bertema ”Ada Apa dengan Perekonomian Nasional?” tersebut. Prasetyantoko mengatakan, kondisi pasar keuanga domestik, terutama pasar saham, dalam beberapa waktu terakhir mengalami koreksi yang cukup dalam. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Maret 2025 turun hingga ke level 6.270 atau terkoreksi 21 % dibanding level tertingginya, 7.900 pada September 2024.

Hal itu terjadi karena, penurunan peringkat saham Indonesia oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI) dan Goldman Sachs, revisi ke bawah pertumbuhan ekonomi Indonesia 2025 oleh Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD), dari 5 % menjadi 4,9 %. Lembaga pemeringkat tersebut memperkirakan profitabilitas emiten di Indonesia akan turun seiring outlook pertumbuhan ekonomi yang lebih rendah. Selain itu, kebijakan pemerintah, seperti efisiensi anggaran, Danantara, dan program tiga juta rumah, dipandang dapat berdampak pada keberlanjutan fiskal ke depan. Alhasil, aliran modal asing di pasar keuangan domestic selama 17-20 Maret 2025 tercatat jual neto sebesar Rp 4,25 triliun, yang menekan nilai tukar rupiah yang cenderung bergerak dalam kisaran Rp 16.300-Rp 16.500 per USD.

Di sisi lain, investor asing masih menaruh keyakinan pada pasar obligasi negara, mengingat peringkat kredit atau sovereign credit rating Indonesia masih dipertahankan pada level investment grade alias layak investasi. ”Sudah bunyi, sinyal  di equitymarket (pasar saham). Perlu dijaga jangan sampai merembet memengaruhi soverign rating-nya. Kalau itu sampai terjadi, kemungkinan terjadinya krisis yang lebih kompleks akan lebih besar,” kata Prasetyantoko. Apabila peringkat kredit Indonesia turun, likuiditas akan semakin mengetat dan berpotensi memicu krisis ekonomi. Dengan kata lain, perkembangan dinamika di pasar keuangan akan mendahului sektor riil. (Yoga)

Peluang Pertumbuhan Emiten Kawasan Industri

HR1 24 Mar 2025 Kontan
Prospek pertumbuhan emiten kawasan industri di Indonesia menunjukkan potensi positif, terutama karena peluang relokasi usaha dari China akibat perang dagang dengan Amerika Serikat. Hal ini sempat terbukti pada periode 2018–2019, di mana penjualan lahan industri di kawasan Greater Jakarta meningkat signifikan hingga 380 hektare, dengan kontribusi besar dari sektor otomotif, kimia, makanan-minuman, dan pusat data.

Namun, para analis menggarisbawahi bahwa tahun ini pertumbuhan kawasan industri bisa tertahan oleh sejumlah tantangan domestik, seperti ketidakpastian hukum, panjangnya birokrasi, serta kebijakan seperti Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) yang menimbulkan ambiguitas di mata investor asing.

Sukarno Alatas, Senior Analyst dari Kiwoom Sekuritas Indonesia, menyatakan bahwa investor kini cenderung menahan diri karena ketidakpastian kebijakan dan iklim investasi. Hal senada disampaikan oleh Ahmad Iqbal Suyudi dari Edvisor Profina Visindo, yang menyoroti tantangan regulasi dan birokrasi sebagai hambatan utama masuknya investasi langsung asing (FDI).

Sementara itu, Ismail Fakhri Suweleh dan Wilastita Muthia Sofi dari BRI Danareksa Sekuritas menekankan pentingnya daya saing dan kejelasan hukum, termasuk perlindungan hak kekayaan intelektual, sebagai faktor penting untuk menarik investor. Mereka juga menyoroti bahwa kemampuan monetisasi investasi sangat tergantung pada kesiapan infrastruktur dan cadangan lahan (landbank).

Imam Gunadi dari Indo Premier Sekuritas menambahkan bahwa meskipun terdapat hambatan seperti kualitas tenaga kerja dan beban regulasi, sektor-sektor tertentu seperti kendaraan listrik (EV) dan proyek hilirisasi tetap menjanjikan karena didukung insentif pemerintah.

Dari sisi investasi, Imam merekomendasikan PT Puradelta Lestari Tbk (DMAS) karena kinerja keuangan yang solid, sementara Ismail dan Wilastita memilih PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA) yang dinilai kuat karena diversifikasi pendapatannya.

Meskipun emiten kawasan industri menghadapi banyak tantangan struktural dan kebijakan, potensi pertumbuhan tetap terbuka lebar jika pemerintah mampu menciptakan iklim investasi yang lebih kompetitif dan stabil.

Nasib Bank BUMN Ditentukan RUPS

HR1 24 Mar 2025 Kontan
Menjelang libur panjang Lebaran, pergerakan saham bank-bank BUMN diperkirakan sangat dipengaruhi oleh hasil Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), yang kali ini menjadi sorotan karena melibatkan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) untuk pertama kalinya. Keputusan penting seperti pembagian dividen dan pergantian direksi berpotensi menjadi katalis utama bagi kinerja saham-saham perbankan pelat merah yang tengah tertekan.

Royke Tumilaar, Direktur Utama BNI, menjadi salah satu figur yang diperkirakan akan digantikan dalam RUPS, dengan Putrama Wahju Setyawan disebut-sebut sebagai calon pengganti. Posisi Sunarso, Direktur Utama BRI, juga dikabarkan akan diganti, meski masa jabatannya belum berakhir. Nama Catur Budi Harto dan Hery Gunardi muncul sebagai kandidat kuat untuk posisi tersebut.

Dari sisi kebijakan, pembagian dividen menjadi perhatian utama investor. BNI mengusulkan rasio dividen sebesar 60% dari laba, dan BRI bahkan menaikkan hingga minimal 85%. Namun, Maximilianus Nico Demus dari Pilarmas Investindo Sekuritas mengingatkan bahwa rasio dividen yang terlalu tinggi bisa menimbulkan kekhawatiran terhadap keberlanjutan kinerja bank. Ia juga menekankan pentingnya memperhatikan fundamental dan prospek jangka panjang bank.

Indy Naila dari Edvisor Profina Visindo menambahkan bahwa tekanan pada saham bank tak lepas dari faktor politik domestik dan ketidakpastian terhadap program pemerintah baru, khususnya terkait efektivitas Danantara, yang membuat investor bersikap lebih hati-hati atau risk off terhadap saham sektor perbankan.

Investor menantikan arah kebijakan dan kepastian dari RUPS sebagai sinyal penting untuk menentukan kembali strategi investasi mereka di sektor perbankan BUMN.

Strategi Ekspansi dan Harga Jadi Kunci Pertumbuhan

HR1 21 Mar 2025 Kontan
PT Essa Industries Indonesia Tbk (ESSA), emiten yang dimiliki oleh Garibaldi Thohir (Boy Thohir), menunjukkan prospek jangka panjang yang menjanjikan berkat stabilnya produksi amonia dan inisiatif strategis dalam dekarbonisasi, termasuk proyek amonia rendah karbon dan pengembangan Sustainable Aviation Fuel (SAF) melalui usaha patungan ESSA SAF Makmur (ESM).

Meskipun pendapatan ESSA turun 12,62% pada 2024 akibat penurunan harga jual rata-rata amonia, laba bersih justru naik 30,54% menjadi US$ 45,18 juta, ditopang oleh efisiensi biaya produksi dan penurunan beban bunga karena pengurangan utang yang signifikan.

Beberapa analis seperti Kenny Shan dari Sinarmas Sekuritas, Reggie Parengkuan dari Indo Premier Sekuritas, Sukarno Alatas dari Kiwoom Sekuritas, dan Reza Priyambada dari Reliance Sekuritas sepakat merekomendasikan "buy" untuk saham ESSA, dengan target harga antara Rp 665 hingga Rp 1.200 per saham. Mereka menilai ESSA memiliki pendapatan yang stabil, portofolio proyek yang solid, serta didukung prospek kenaikan harga gas alam global yang akan menjaga harga amonia tetap tinggi.

Namun demikian, Reggie Parengkuan mengingatkan adanya risiko penurunan harga amonia apabila konflik geopolitik mereda atau musim dingin di Eropa dan AS tidak seberat yang diperkirakan. Hal ini menjadi sentimen negatif yang perlu dicermati ke depan.

Strategi Ekspansi dan Harga Jadi Kunci Pertumbuhan

HR1 21 Mar 2025 Kontan
PT Essa Industries Indonesia Tbk (ESSA), emiten yang dimiliki oleh Garibaldi Thohir (Boy Thohir), menunjukkan prospek jangka panjang yang menjanjikan berkat stabilnya produksi amonia dan inisiatif strategis dalam dekarbonisasi, termasuk proyek amonia rendah karbon dan pengembangan Sustainable Aviation Fuel (SAF) melalui usaha patungan ESSA SAF Makmur (ESM).

Meskipun pendapatan ESSA turun 12,62% pada 2024 akibat penurunan harga jual rata-rata amonia, laba bersih justru naik 30,54% menjadi US$ 45,18 juta, ditopang oleh efisiensi biaya produksi dan penurunan beban bunga karena pengurangan utang yang signifikan.

Beberapa analis seperti Kenny Shan dari Sinarmas Sekuritas, Reggie Parengkuan dari Indo Premier Sekuritas, Sukarno Alatas dari Kiwoom Sekuritas, dan Reza Priyambada dari Reliance Sekuritas sepakat merekomendasikan "buy" untuk saham ESSA, dengan target harga antara Rp 665 hingga Rp 1.200 per saham. Mereka menilai ESSA memiliki pendapatan yang stabil, portofolio proyek yang solid, serta didukung prospek kenaikan harga gas alam global yang akan menjaga harga amonia tetap tinggi.

Namun demikian, Reggie Parengkuan mengingatkan adanya risiko penurunan harga amonia apabila konflik geopolitik mereda atau musim dingin di Eropa dan AS tidak seberat yang diperkirakan. Hal ini menjadi sentimen negatif yang perlu dicermati ke depan.