Bursa
( 805 )Respons dan siasat para Investor Ritel menghadapi Anjloknya IHSG
IHSG
anjlok hingga 6,12 % pada 18 Maret 2025, memicu ”trading halt”. Meski sempat
pulih, pasar saham masih melemah. Berikut respons dan siasat para investor
ritel menghadapi kondisi tersebut : “Penurunan IHSG belakangan ini berdampak besar
pada portofolio saya. Sebulan lalu, saat Danantara dibentuk, saya menjual rugi saham
bank-bank BUMN dan mengalihkan investasi ke sektor swasta. Jika tren ini berlanjut,
saya akan mengamankan dana dalam bentuk tunai sambil menunggu stabilitas pasar.
Setelah investor asing kembali masuk, baru saya mempertimbangkan membeli saham
lagi,” ujar Nico Himawan (28), pekerja swasta di Pekalongan, Jateng.
“Saya
berinvestasi saham jangka panjang, jadi saat IHSG anjlok, saya tidak cut loss
dan justru menambah sedikit demi sedikit dengan strategi dollar cost averaging.
Meski tren penurunan IHSG memengaruhi portofolio, saya tetap mempertahankan
saham, termasuk yang fundamentalnya kurang baik, sambil diversifikasi ke aset
lain, ujar Yuliana Jemie, pebisnis UMKM asal Pontianak, Kalbar. Menurut Sem
(28) karyawan swasta di Jakarta, “Untuk mengantisipasi penyusutan nilai saham, saya
mulai mengalihkan dana ke emas dan deposito, yang dinilai lebih aman dan menguntungkan.
Ketidakpastian kebijakan setiap pergantian presiden membuat investor ragu.
Pemerintah perlu menciptakan kebijakan yang stabil dan berkelanjutan agar
investor percaya, termasuk menunjukkan komitmen dengan menindak tegas
koruptor.” (Yoga)
Peraruhan untuk Stempel Layak Investasi
Investor menilai
potensi keuntungan berinvestasi di Indonesia semakin menurun. Tanpa perbaikan
struktural dan pendekatan teknokratis dalam kebijakan pemerintah, berbagai
risiko baru bisa muncul. Status layak investasi atau investment grade, jadi taruhan. Demikian pesan dan aspirasi yang mengemuka pada
Kompas Collaboration Forum (KCF) di Jakarta, Jumat(21/3). Komisaris Utama PT
Pan Brothers Tbk Benny Soetrisno dan pengajar di Universitas Katolik Indonesia
Atma Jaya Jakarta, A Prasetyantoko, menjadi narasumber dalam acara bertema ”Ada
Apa dengan Perekonomian Nasional?” tersebut. Prasetyantoko mengatakan, kondisi
pasar keuanga domestik, terutama pasar saham, dalam beberapa waktu terakhir
mengalami koreksi yang cukup dalam. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Maret
2025 turun hingga ke level 6.270 atau terkoreksi 21 % dibanding level tertingginya,
7.900 pada September 2024.
Hal itu
terjadi karena, penurunan peringkat saham Indonesia oleh Morgan Stanley Capital
International (MSCI) dan Goldman Sachs, revisi ke bawah pertumbuhan ekonomi
Indonesia 2025 oleh Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD),
dari 5 % menjadi 4,9 %. Lembaga pemeringkat tersebut memperkirakan
profitabilitas emiten di Indonesia akan turun seiring outlook pertumbuhan ekonomi
yang lebih rendah. Selain itu, kebijakan pemerintah, seperti efisiensi
anggaran, Danantara, dan program tiga juta rumah, dipandang dapat berdampak
pada keberlanjutan fiskal ke depan. Alhasil, aliran modal asing di pasar
keuangan domestic selama 17-20 Maret 2025 tercatat jual neto sebesar Rp 4,25
triliun, yang menekan nilai tukar rupiah yang cenderung bergerak dalam kisaran
Rp 16.300-Rp 16.500 per USD.
Di sisi
lain, investor asing masih menaruh keyakinan pada pasar obligasi negara,
mengingat peringkat kredit atau sovereign credit rating Indonesia masih
dipertahankan pada level investment grade alias layak investasi. ”Sudah bunyi,
sinyal di equitymarket (pasar saham). Perlu
dijaga jangan sampai merembet memengaruhi soverign rating-nya. Kalau itu sampai
terjadi, kemungkinan terjadinya krisis yang lebih kompleks akan lebih besar,” kata
Prasetyantoko. Apabila peringkat kredit Indonesia turun, likuiditas akan
semakin mengetat dan berpotensi memicu krisis ekonomi. Dengan kata lain,
perkembangan dinamika di pasar keuangan akan mendahului sektor riil. (Yoga)
Peluang Pertumbuhan Emiten Kawasan Industri
Nasib Bank BUMN Ditentukan RUPS
Strategi Ekspansi dan Harga Jadi Kunci Pertumbuhan
Strategi Ekspansi dan Harga Jadi Kunci Pertumbuhan
Bank Dihimpit Biaya Dana Tinggi
Kepercayaan Investor Perlu Dijaga
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)
pada Kamis (20/3) ditutup menguat 1,11 % ke level 6.381 dibandingkan perdagangan
hari sebelumnya. Nilai penjualan bersih saham oleh investor asing tercatat Rp
499 miliar. Aksi jual saham oleh investor asing mulai mereda, dari Rp 2,5
triliun pada Selasa (18/3) menjadi Rp 910 miliar pada Rabu (19/3). Tekanan jual
yang deras pada Selasa lalu sempat membuat IHSG terperosok hingga minus 6 % ke
level 6.076 pada sesi pertama perdagangan. Akibatnya, bursa harus menghentikan
perdagangan sementara atau trading halt, sesuai regulasi yang diberlakukan
sejak pandemi Covid-19.
Meskipun IHSG kini berangsur pulih,
pengamat pasar modal, Alfred Nainggolan, menilai, pemerintahan baru perlu memberikan
perhatian lebih terhadap dinamika pasar modal. Dalam dua dekade terakhir, pasar
modal Indonesia telah berkembang pesat dan menjadi pilar penting dalam pendanaan
pembangunan ekonomi, berdampingan dengan sektor perbankan. Kesadaran masyarakat
terhadap investasi juga semakin meningkat. ”Jangan sampai ini pupus karena
pasar tidak merasakan kehadiran pemerintah,” ujarnya. Merespons koreksi pasar
saham yang terjadi, pemerintah perlu bertindak cepat dalam menangani isu-isu
besar terkait ekonomi, politik, dan pasar modal. Penurunan harga saham yang signifikan
mencerminkan kekhawatiranpasar terhadap stabilitas ekonomi dan politik. (Yoga)
Upaya Ekstra Dongkrak IHSG
Properti CTRA Tertekan Daya Beli Lemah
Pilihan Editor
-
Digitalisasi Keuangan Daerah
26 Jul 2022 -
Paradoks Ekonomi Biru
09 Aug 2022








