Pariwisata
( 747 )Lokasi Wisata Murah Dalam Kota Diserbu Warga
Jelang Tahun Baru 2025, ruang publik dengan area terbuka hijau yang murah atau gratis dan terintegrasi dengan transportasi publik menjadi pilihan untuk menghabiskan waktu liburan. Taman kota, museum, dan taman hiburan yang menyuguhkan keindahan alam sekaligus pengetahuan ramai dikunjungi warga. Hal itu tidak terlepas dari pelemahan daya beli dan kewaspadaan akan kondisi ekonomi ke depan sehingga warga harus berlibur secara hemat. Sejumlah taman di Jakarta dipadati pengunjung sepanjang Kamis (26/12/2024). Salah satunya Tebet Eco Park, Jakarta Selatan, seluas 7,3 hektar yang bisa dikunjungi secara gratis oleh masyarakat. Di sana, para orangtua mengajak anak-anaknya bermain di trampolin, ayunan, seluncuran, dan jungkat-jungkit. Ada pula yang sekadar duduk di atas rerumputan, bangku panjang, ataupun kursi malas sambil menikmati udara segar di bawah pepohonan rindang, bunga-bunga, dan aliran sungai. Tidak hanya itu, sebagian pengunjung juga berfoto di jembatan meliuk yang menghubungkan sisi selatan dan utara taman. Keramaian juga terjadi di Taman Literasi Martha Christina Tiahahu di kawasan Blok M, Jakarta Selatan. Ada yang sekadar jalan-jalan, duduk sambil bercengkerama, hingga bermain dengan anak-anak. Di Taman Literasi Marta Christina Tiahahu juga tersedia perpustakaan.
Warga Cipinang, Jakarta Timur, Zamira (34), mengatakan membawa tiga anaknya dan istrinya ke Taman Literasi untuk menghabiskan liburan Natal mengingat pada Jumat (27/12) ia sudah akan kembali bekerja. Menurut dia, lokasi taman yang berada di samping Stasiun MRT Blok M sangat memudahkan. Fasilitas taman juga lengkap. Bukan hanya arena bermain anak, melainkan juga ada perpustakaan. ”Di sini anak-anak lebih bebas untuk berlari dan bermain. Ruang terbuka hijau juga cocok untuk menyegarkan pikiran bagi kami yang merupakan pekerja kantoran,” ujar Zamira. Di sudut barat Jakarta, warga juga memadati kawasan Kota Tua. Setiap sudut kompleks gedung peninggalan Belanda itu menjadi sasaran untuk berfoto. Mereka juga mendatangi sejumlah bangunan yang dijadikan museum, misalnya Museum Seni Rupa dan Keramik serta Museum Sejarah Jakarta yang harga tiketnya Rp 10.000. ”Mumpung libur sekolah, makanya kami ke sini. Di sini enak karena bisa foto-foto dan ongkosnya tidak mahal,” kata Eko (47), warga Bogor, Jawa Barat, yang datang ke Kota Tua bersama istri dan dua anaknya. Andre (23), warga Bintaro, Tangerang Selatan, yang juga mengunjungiKotaTua siang itu mengatakan, kemudahan akses ke kawasan itu dari stasiun kereta komuter menjadi pertimbangan untuk berwisata ke sana. Ia dan tiga temannya yang sama-sama berlibur ke Kota Tua hanya perlu menaiki kereta komuter dari Stasiun Jurang Mangu tanpa harus berganti kemoda transportasi lain. Sementara itu, Taman Mini Indonesia Indah (TMII) juga menjadi tempat liburan masyarakat. (Yoga)
Padatnya Lalu Lintas di Kawasan Wisata
Perantau Rindu Kembali ke Kampung Halaman
Oleh karena itu, hidup hemat dan belanja sesuai kebutuhan menjadi solusi bagi dia. Dalam beberapa tahun terakhir, Leo tidak membeli banyak barang saat merayakan Natal dan Tahun Baru. Cara itu juga masih akan diterapkan saat ini. ”Untung dari dulu sudah biasa tidak terlalu berlebihan merayakan Natal. Dulu, saya sering belanja dalam momen Natal dan Tahun Baru. Kalau sekarang, beli barang-barangnya kalau lagi perlu saja. Paling tahun depan saya juga lebih memilih-milih lagi barang mana yang akan dibeli,” ujarnya. Cindy Silviana (36), warga Jakarta lainnya, memilih untuk tetap berlibur di Jakarta. Biasanya ia vakansi ke Bandung atau Bogor, Jawa Barat, untuk merayakan libur akhir tahun. Ia ingin di Jakarta saja karena malas terjebak macet sekaligus tidak ingin melakukan perjalanan jauh. Agar tidak terlalu mati gaya, dia dan keluarga menginap di salah satu hotel di Jakarta, akhir pekan lalu. Hotel di bilangan Jakarta Pusat itu terbilang mewah. (Yoga)
Di Masa Sulit, Berlibur Tetap Perlu
Di tengah kenaikan harga barang dan jasa, berlibur tetap dibutuhkan untuk menyegarkan pikiran di tengah impitan beban kerja. Seperti apa liburan akhir tahun ini? Berikut petikan respons sejumlah warga. Setiap tahun, saya dan suami rutin pulang kampung ke Klaten, Jawa Tengah, merayakan Natal bersama keluarga besar, serta ziarah ke makam ayah saya. Kami sudah merencanakan liburan akhir tahun dengan budgeting (menganggarkan) pengeluaran bensin, tol, dan ”hura-hura”. Selanjutnya, menabung untuk seluruh kebutuhan dana tersebut. Harapan saya setiap mudik, perjalanan lancar, selamat, dan tidak ada bencana alam. (LKT) Maria Lidwina Yanita Petriella (33) Jurnalis, tinggal di Cibubur ” Saya berlibur dengan keluarga ke Jepang karena mencari destinasi bersalju yang relatif dekat. Kami tidak setiap tahun bisa liburan, tergantung dari cuti dan ketersediaan biaya. Tapi, tahun ini alhamdulillah bisa ke luar negeri meski bukan yang pertama ke Jepang. Harapannya, liburan kami lancar, enggak ada kendala berarti, dan kami semua sehat. Selain itu, semoga liburan ini bisa jadi momen bonding yang kuat antar-anggota keluarga. (ERK) Silvia Junaidi (42) Ibu rumah tangga di Jakarta ” Saya berencana berlibur ke Malang, Jawa Timur, untuk memenuhi permintaan anak-anak. Tempat wisata yang akan dituju adalah Batu Night Spectacular dan Jatim Park 2. Menurut rencana, akan menggunakan mobil pribadi agar bisa mampir mampir. Biar lebih fleksibel saja pergerakannya. Selain itu, saya akan memanfaatkan liburan untuk mengunjungi keluarga di Pekalongan dan Klaten. Sembari liburan sembari memperkuat tali silaturahmi juga. (HEN) Lasarus Hari Setiadi (42) Karyawan swasta di Jakarta” Mulanya, saya dan keluarga besar berencana liburan ke Tanah Karo, tetapi batal karena kondisi jalan yang rawan longsor. Jadi, liburan kali ini kami memilih di kota (Medan) saja. Sepertinya bakal liburan ala-ala urban tourism atau sekadar makan, berjalan jalan ke lokasi yang pernah viral. Pariwisata di perkotaan juga sedang banyak berkembang sehingga menarik dikunjungi. Semoga pemerintah Kota Medan siap menghadapi libur Natal dan Tahun Baru 2024/2025. (AVE) Selly Ginting (27) Karyawan swasta di Medan. (Yoga)
Kawasan Ekonomi Khusus Pariwisata Sepi Investor Menimbulkan Keresahan di Morotai
Mengapa KEK Pariwisata Sepi Investor?
Visa Jadi Alat Dongkrak Wisatawan
Mengoptimalkan Potensi Besar yang Belum Digali
Pariwisata Jadi Prioritas Pengembangan Ekonomi
Bali Menjadi Jantung Pariwisata di Indonesia
Pilihan Editor
-
Kisruh Labuan Bajo Merusak Citra
04 Aug 2022 -
Masih Saja Marak, Satgas Tutup 100 Pinjol Ilegal
01 Aug 2022 -
ANCAMAN KRISIS : RI Pacu Diversifikasi Pangan
10 Aug 2022 -
HARGA PANGAN, Fenomena ”Lunchflation”
29 Jul 2022 -
Digitalisasi Keuangan Daerah
26 Jul 2022









