;

Mengoptimalkan Potensi Besar yang Belum Digali

Mengoptimalkan Potensi Besar yang Belum Digali
Industri pariwisata Indonesia, meski kaya akan potensi alam, budaya, dan destinasi eksotis, masih tertinggal dibandingkan negara-negara ASEAN lainnya seperti Thailand, Malaysia, dan Singapura. Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Uno, menghadapi tantangan besar, terutama dalam meningkatkan kontribusi pariwisata terhadap PDB nasional, yang saat ini hanya 4% dengan target 4,5% pada 2024, jauh di bawah angka prapandemi 6,3% pada 2019.

Minimnya dukungan anggaran menjadi salah satu penyebab utama. Pagu anggaran pariwisata Indonesia hanya Rp1,7 triliun untuk 2024, sangat jauh dibandingkan Thailand dan Singapura yang mengalokasikan hingga US$1 miliar untuk promosi dan pengembangan. Kebijakan seperti pengurangan bandara internasional dari 34 menjadi 17 juga dinilai kontraproduktif, menghambat konektivitas menuju destinasi potensial.

Ironisnya, wisatawan asing yang datang ke Indonesia memiliki pengeluaran tertinggi di ASEAN, rata-rata US$1.600 per kunjungan dengan durasi tinggal 13 hari. Namun, keterbatasan infrastruktur, konektivitas, dan mahalnya tiket penerbangan domestik menjadi kendala besar dalam memaksimalkan potensi tersebut.

Langkah-langkah strategis, seperti peningkatan anggaran, infrastruktur, dan promosi, diperlukan agar Indonesia dapat mengejar ketertinggalan dan menjadikan pariwisata sebagai motor utama pemulihan ekonomi nasional. Pemerintah didorong untuk melihat sektor ini sebagai investasi strategis dengan dampak jangka panjang yang signifikan.
Download Aplikasi Labirin :