UMKM
( 686 )Dewan Penunjang Ekspor Dibentuk Bantu UMKM
Kementerian Perdagangan (Kemendag) bakal membentuk Dewan Penunjang Ekspor sebagai upaya untuk meningkatkan ekspor produk usaha mikro kecil, dan menengah (UMKM).
Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi mengatakan, pada dasarnya Kemendag telah memiliki Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional, maka nantinya Dewan Penunjang Ekspor akan dikembangkan dari direktorat tersebut.
“Jadi Dewan Penunjang Ekspor tersebut sebagai badan yang bisa mempelajari dan mengeksekusikan pasar tertentu, “ ujar Lutfi.
Menurut dia, saat ini ada dua pasar utama yang bisa dikerjakan. yakni Indonesia Islamic Fashion dan Indonesia Halal Industry. Keduanya perlu dikembangkan lebih dulu untuk pasar dalam negeri.
Tanggulangi Dampak Covid-19 , Menteri KKP Bantu Gudang Beku Pengolahan Ikan
Menteri Kelautan dan Perikanan atau KKP Sakti Wahyu Trenggono menyatakan bantuan cold storage atau gudang beku kepada sejumlah UMKM pengolahan ikan merupakan upaya menanggulangi dampak ekonomi pandemi Covid-19.
Melalui sarana penyimpanan beku itu ia berharap bisa dimanfaatkan untuk menyimpan kelebihan produksi saat musim puncak sekaligus menjaga harga agar tetap stabil di tingkat nelayan serta dapat menjamin ketersediaan ikan pada saat musim paceklik dengan harga yang terkendali.
Dengan demikian diharapkan dapat menguatkan dan meningkatkan peranan UMKM sektor kelautan dan perikanan sekaligus membangun rasa percaya diri dalam menghadapi tantangan ke depan, katanya.
Ia menyatakan perusahaan Unit Pengolahan Ikan (UPI) berskala mikro dan kecil memegang peranan penting bagi Indonesia, baik secara ekonomi maupun ketahanan pangan.
Rencananya, pada 2021, PDSPKP KKP akan menyerahkan bantuan 300 chest freezer dan 228 peralatan pengolahan kepada UPI berskala mikro kecil.
Aset Holding Ultra Mikro Rp 1.600 Triliun
Pembentukan holding ultra mikro Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang menggabungkan Bank Rakyat Indonesia (BRI) dengan PT Pegadaian dan PT Permodalan Nasional Madani (PNM) baka segera berjalan. Hingga kini proses penggabungannya sedang tahap finalisasi.
Jika tiga perusahaan ini bergabung dalam catatan KONTAN setidaknya holding ini terbentuk maka ada penggabungan aset setidaknya lebih dari Rp 1.600 triliun.
Berdasarkan perhitungan Kemkeu, pasca holding BUMN untuk UMi terbentuk maka jumlah aset BRI akan bertambah sebesar 1,5%. Selain itu kemampuan ketiga perusahaan juga akan lebih besar untuk menjangkau hingga 29 juta pelaku usaha ultra mikro dan UMKM yang selama ini belum terlayani lembaga keuangan formal.
EVP Keuangan dan Operasional PNM Sunar Basuki menjelaskan bahwa sampai dengan saat ini progres pembentukan holding ultra mikro masih dalam tahap pendalaman kajian. Dia berharap dengan ekosistem UMKM besar bersama BRI dan Pegadaian, akan terbangun pula jejaring usaha UMKM yang lebih luas, dengan saling mengenal dan menemukan keterkaitan usahantar sesama mereka.
2022, Pemerintah Gelar Sensus Pelaku UMKM
Jakarta - Pemerintah akan melakukan sensus untuk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) pada 2022 agar bisa memiliki satu basis data UMKM. Selama ini, Kementrian Koperasi dan UKM selalu kesulitan untuk membuat kebijakan karena belum memiliki data tunggal tentang UMKM karena data tentang koperasi dan UMKM berasal dari banyak kementrian/lembaga.
Pemerintah diharapkan bisa memiliki data yang baik sehingga proses transformasi para pelaku usaha mikro dari informal ke formal bisa lebih cepat dilakukan. Dengan adanya satu basis data, pemerintah bisa menghasilkan kebijakan yang tepat dan berdampak baik untuk semua pelaku UMKM. Sementara itu, Menteri Koperasi dan UKM selama ini pihaknya kesulitan melakukan perencanaan, pemberdayaan, dan evaluasi untuk pengembangan UMKM. Melalui kerja sama dengan BPS, pihaknya bisa memiliki data pelaku UMKM mulai dari biodata hingga produk yang dijual. Hal ini berimplikasi baik agar Kemenkop UKM memiliki prioritas lebih konkret dalam membuat kebijakan.
(Oleh - IDS)
Kementerian Minta BUMN Borong Produk UMKM
Kementerian BUMN menggelar pameran bertajuk Pasar Digital (PaDi) UMKM Virtual Expo 2021. Acara yang digelar secara virtual dari 15 Februari hingga 22 Februari 2020 ini mempertemukan perusahaan pelat merah dengan ratusan UMKM.
Wakil Menteri BUMN Pahalan N Mansury mengatakan, kemitraan antara BUMN dan UMKM sangat penting di tengah pandemi Covid-19 seperti saat ini, terutama untuk mempercepat pemulihan ekonomi.
Lanjutnya, dengan PaDi UMKM diharapkan perusahaan pelat merah yang tengah membutuhkan barang atau dalam tahap pengadaan bisa melakukannya lewat platform tersebut. Sebelumnya, BUMN mencari barang di wilayahnya masing-masing.
Staf Ahli Bidang Keuangan dan Pengembangan UMKM Kementerian BUMN, Loto Srinaita Ginting mengatakan, tercatat sebanyak 2.000 buyer group BUMN ikut meramaikan acara ini. Sementara, lapak UMKM yang tersedia sekitar 244 lapak.
Ekspor UMKM, Standar Produk Jadi Tantangan
Bisnis, JAKARTA — Kendati memiliki potensi yang besar, optimalisasi ekspor produk usaha mikro, kecil, dan menengah masih terganjal oleh sejumlah kendala, khususnya terkait dengan standardisasi produk.
Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Menkop UKM), Teten Masduki mengatakan banyak produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang potensial untuk diekspor. Berbagai produk dari sejumlah subsektor seperti pertanian, perikanan, furnitur, herbal, dan pakaian memiliki permintaan yang tinggi di luar negeri.
Kemenkop UKM pun akan fokus pada peningkatan kapasitas produksi dan daya saing. Meski jumlah UMKM tercatat mencapai 64 juta unit, skala usaha masih didominasi oleh usaha kecil dengan kemampuan ekspor yang terbatas.
Publikasi Indonesia Eximbank bahkan menunjukkan bahwa usaha kecil hanya mengekspor sekitar 39,3% produk yang dihasilkan.
Senada, Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi menyatakan kesesuaian standar produk menjadi kendala kendala yang dihadapi UMKM yang hendak melakukan ekspor. Di sisi lain, pengusaha nasional harus menghadapi rumitnya perizinan ketika pasar telah diperoleh.
Data Badan Pengkajian dan Pengembangan Perdagangan menunjukkan bahwa kontribusi UKM selama Januari sampai September 2020 hanya mencapai 9,7% dari total ekspor periode tersebut atau sekitar US$11,36 miliar.
Adapun, menurut data Kemenkop UKM, kontribusi UMKM terhadap ekspor secara keseluruhan mencapai 14,37%. Namun, jumlah ini masih tertinggal dibandingkan dengan negara Asia Pasifik lain yang bisa mencapai 35%.
OPTIMISTIS
Sementara itu, Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Rosan P. Roeslani mengatakan usaha skala kecil dan menengah menjadi salah satu yang terdampak selama pandemi Covid-19. Namun, serapan tenaga kerja di sektor ini masih tinggi, yakni mencapai 97% dari total tenaga kerja nasional.
Optimisme pun disampaikan Ketua Umum Asosiasi UMKM Indonesia (Akumindo) Ikhsan Ingratubun. Menurutnya, kontribusi ekspor dari usaha skala kecil dan menengah diperkirakan masih bisa tumbuh pada tahun ini meskipun pandemi masih berlangsung.
Oleh karena itu, dia mengusulkan agar pemerintah dapat meningkatkan peran perwakilan Indonesia di negara tujuan. Para perwakilan di kedutaan besar diharapkan bisa menjadi penghubung dengan calon pembeli atau importir.
Mengandalkan kehadiran perwakilan dagang, lanjut Ikhsan, perlu didukung pula dengan kehadiran sebuah platform yang khusus menjadi etalase produk Indonesia.
Ekonom Senior Institute for Development of Economic and Finance (Indef), Enny Sri Hartati menilai peningkatan kontribusi ekspor UMKM bisa dicapai dengan mengoptimalisasi pemasaran pada produk-produk dengan keunikan khusus. Kelompok produk ini cenderung masih memiliki permintaan yang terjaga karena menyasar kelompok menengah ke atas.Pengembangan UMKM, Cirebon Dorong Komoditas Rotan dan Batik
Bisnis, CIREBON — Kabupaten Cirebon bekerjasama dengan Kota Prabumulih, Sumatera Selatan, dalam upaya peningkatan hasil produksi kerajinan tangan di masing-masing wilayah. Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperdagin) Kabupaten Cirebon Deni Agustin mengatakan Kabupaten Cirebon memiliki hubungan erat dengan Prabumulih sejak lama.
Kabupaten Cirebon memiliki 40 komoditas
ekspor. Dari jumlah tersebut, ada dua yang menjadi unggulan, yakni furnitur/kerajinan
rotan dan batik. Industri rotan yang ada di Kabupaten Cirebon sebanyak 1.311
dengan jumlah pekerja 57.102. Setiap tahunnya hasil produksinya itu mencapai 104.917
ton. Sedangkan dari komoditas batik, Kabupaten Cirebon memiliki 530 unit usaha
dan mampu memproduksi 42.024 kodi setiap tahunnya. Deni mengatakan, keunggulan yang
ada di Kabupaten Cirebon ini bisa dipasarkan di Kota Prabumulih. Sebaliknya, kerajinan tangan dari Prabumulih bisa dipamerkan.
Wakil Wali Kota Bandung Yana Mulyana
mengatakan penawaran kerja sama ini mampu mendorong para pelaku UMKM dapat
kembali bangkit. Sehingga ekonomi mereka bisa kembali menggeliat.
Di tempat sama Ketua IAI Kota Bandung
Yena Iskandar mengatakan pelaku UMKM menjadi kelompok rentan, bahkan tak
sedikit yang gulung tikar akibat pandemi Covid-19. “Untuk itu kami apotek perlu
berkontribusi membantu para pelaku UMKM, minimal kita menyediakan tempat,
sarana, peluang untuk memasarkan produk para pelaku UMKM,” terangnya.
(oleh - HR1)
Transaksi BUMN via PaDi Capai Rp 11,4 Triliun
Sejak diluncurkan Agustus 2020 hingga akhir Januari 2021, total transaksi melalui Pasar Digital Usaha Mikro Kecil dan Menengah (PaDi UMKM) mencapai Rp 11,4 triliun.
“Inisiatif PaDi UMKM merupakan salah satu quick wins atau satu upaya percepatan yang diharapkan bisa diterapkan mulai awal 2021,” kata Wakil Menteri BUMN Pahala N Mansury, pada pembukaan PaDi UMKM Virtual Expo 2021 di Jakarta, Senin (15/2/2021).
PaDi UMKM adalah platform untuk mengoptimalkan, mempercepat, dan mengefisienkan transaksi belanja BUMN pada UMKM.
UMKM di Pare-Pare Dapat Bantuan Rp 4 Miliar
Pemerintah Kota (Pemkot) Parepare kini tengah mempersiapkan peluncuran program bantuan bagi pelaku Industri Kecil Menengah (IKM) dan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).
Sekretaris Dinas Perdagangan Kota Parepare, Siti Rahmah Amir mengatakan, Untuk tahun ini, sekira Rp 4 miliar. Bantuan tersebut akan diberikan kepada pelaku IKM dan UMKM di Parepare.
Untuk mekanismenya, Dinas Perdagangan Kota Parepare mengalokasikan pemberian bantuan sarana dan prasarana bagi IKM dan UMKM tersebut melalui dua jenis, yaitu pagu wilayah dan melalui pokok pikiran DPRD.
Amunisi Terakhir UMKM Perempuan di Bali
Dalam tradisi Bali ada tiga petuah
bijak yang biasa jadi pegangan
ketika menghadapi kesulitan,
yakni seken (serius), seleg (tekun) dan
beneh (lurus). Petuah itu boleh jadi
ampuh jika ditambah satu “ramuan”
agar bisa menyelamatkan usaha mikro
kecil dan menengah (UMKM) dari
dampak pandemi yakni teknologi.
Bali merupakan rumah bagi 4,32
juta penduduk dan juga mesin pariwisata Indonesia. Secara akumulatif
selama periode Januari-Desember
2020, kunjungan wisatawan mancanegara ke Bali mencapai 1,05 juta,
merosot tajam 83,26% dari periode
yang sama tahun 2019 sebanyak 6,27
juta kunjungan.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Bali Trisno Nugroho
menyadari betul multiplier effect dari
pandemi. Pihaknya selalu menekankan
akselerasi pemasaran via digital bagi
UMKM yang menjadi binaan BI. Saat
ini, BI provinsi Bali telah membina
sebanyak 34 pengusaha UMKM.
Meski begitu, Trisno menyadari tak bisa menyentuh semua sektor UMKM lantaran keterbatasan sumber daya manusia. Namun, minimal UMKM hasil binaan BI bisa memberikan contoh bagi UMKM lain untuk bisa bertahan dan berkembang selama masa pandemi. Salah satu contoh yang bisa diteladani ialah pengusaha UMKM perempuan yang menonjol dari sisi kreativitas dan manajemen keuangan. Hal ini tercermin dari wawancara Investor Daily sebelumnya dengan pemilik Bali Tangi, Meiga Collection dan Bali Collection. Ketiga perempuan pengusaha UMKM ini menerapkan manajemen utang yang sangat hati-hati, serta mempraktikan penjualan via digital.
Temuan UNDP juga menguak perbedaan cara mengelola keuangan
berdasarkan gender. Bagi UMKM
perempuan, mayoritas kesulitan utama
yang dihadapi selama pandemi ialah
membayar utang. Sementara pengusaha UMKM laki-laki cenderung kesulitan membayar biaya sewa. Selain itu,
lebih dari 37% UMKM milik perempuan
mengalami penurunan pendapatan
antara 40-60% akibat pandemi.
Survei UNDP ini dilakukan kepada
1.100 responden UMKM di 15 provinsi
di Indonesia pada Agustus 2020. Sebanyak 60% di antaranya berasal dari
Jawa, dan 40% berada di luar Jawa.
Hasil riset WEConnect International
beserta anggota Bank Dunia, International Finance Corporation (IFC)
selama 2020, ditemukan sebanyak
34% pengusaha perempuan mengalami
peningkatan kegelisahan yang menurunkan produktivitas selama pandemi.
Dalam hal pembagian waktu, 27%
pengusaha perempuan mengalami
tambahan tanggung jawab atas anak
ataupun orang tua yang membuat
waktu untuk urusan bisnis berkurang.
Presiden Direktur Bank OCBC
NISP, Parwati Surjaudaja, mengatakan
laporan McKinsey per September
2020 lalu memperkirakan PDB global
akan berpotensi meningkat 26% pada
2025, jika terwujud kesetaraan gender
sepenuhnya. Untuk di Indonesia,
menurut data McKinsey, PDB Indonesia berpeluang bertambah US$135
miliar pada 2025 jika bisa mewujudkan
kesetaraan gender.
Dengan fakta-fakta tersebut, Bank
OCBC NISP yakin perempuan memiliki peran yang sangat besar untuk
mendorong perekonomian, termasuk
di Indonesia. “Kesetaraan gender ini
bukan bicara isu sosial atau moral saja,
tapi juga untuk kemajuan ekonomi dan
kesejahteraan bangsa,” kata dia.
Sementara itu, pemerintah telah memastikan program Bantuan Langsung
Tunai (BLT) kepada UMKM akan
kembali digelontorkan pada 2021. Ketua Komite Penanganan Covid-19 dan
Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN),
Airlangga Hartato, mengemukakan
pemerintah pusat akan berkerja sama
dengan pemerintah daerah untuk
gerakan UMKM go digital dan bantuan
modal untuk ekspansi UMKM juga
diupayakan merata. Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga
Uno turut menjanjikan pinjaman lunak
sebesar Rp 9,9 triliun bagi pelaku pariwisata di Bali. Pinjaman ini berupa
penempatan uang negara di perbankan
yang disalurkan ke pelaku usaha lewat
program PEN.
Pilihan Editor
-
Ribuan Ton Daging Kerbau Akan Serbu RI
24 Mar 2021









