;
Tags

UMKM

( 686 )

Penyaluran KUR Masih Lambat di Awal Tahun

HR1 04 Jun 2025 Kontan
Hingga Mei 2025, penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) belum mampu secara signifikan mendorong pertumbuhan kredit UMKM yang masih lesu sejak pandemi. Dari target KUR nasional sebesar Rp 300 triliun, baru terealisasi Rp 107 triliun atau sekitar 36%, menunjukkan bahwa program subsidi bunga ini belum berjalan optimal sebagai motor penggerak sektor UMKM.

Menurut data Bank Indonesia, pertumbuhan kredit UMKM hanya mencapai 2,6% yoy per April 2025, meski menunjukkan sedikit perbaikan dari bulan sebelumnya. Kredit mikro bahkan masih mencatat kontraksi 1,91%, menandakan tekanan masih kuat di segmen paling kecil dalam UMKM.

Agustya Hendy Bernadi, Sekretaris Perusahaan BRI, menyatakan bahwa BRI—bank dengan kuota KUR terbesar—baru merealisasikan Rp 54,9 triliun (31,38%) dari total kuota Rp 175 triliun. BRI tetap berkomitmen mendukung UMKM tak hanya lewat pembiayaan, tetapi juga melalui program pemberdayaan seperti Desa BRILiaN dan Link UMKM, serta fokus penyaluran ke sektor pertanian, yang sejalan dengan kebijakan pemerintah terkait ketahanan pangan.

Achmad Syamsudin, Direktur Utama Bank Sumsel Babel, juga mengakui penyaluran masih minim, yakni baru 31,42% dari target, dengan dominasi sektor pertanian dan perkebunan. Ia menyebut penyaluran biasanya meningkat selepas kuartal II, dan saat ini bank bekerja sama dengan pemerintah melalui sosialisasi aktif, seperti grebek pasar.

Sementara itu, Raden Agus Trimurjanto, Direktur Bank DIY, menyatakan bahwa pihaknya telah menyalurkan 57,15% dari kuota KUR hingga Mei 2025, terutama ke sektor perdagangan dan pariwisata.

Meskipun KUR tetap menjadi andalan untuk mendongkrak kredit UMKM, realisasinya masih rendah dan belum cukup kuat untuk mengatasi perlambatan kredit sektor ini. Sejumlah bank seperti BRI, Bank Sumsel Babel, dan Bank DIY menunjukkan upaya dan komitmen pemberdayaan, namun tantangan struktural dan momentum penyaluran tetap menjadi hambatan utama pemulihan UMKM secara menyeluruh.

Peran Penting Perempuan Menggerakkan Perekonomian

KT3 31 May 2025 Kompas

Saat ini, 61,3 % perempuan di Asia Tenggara atau di negara anggota ASEAN memiliki dan mengelola bisnis. Namun, sebagian besar masih kategori UMKM yang merupakan sektor usaha informal sehingga tergolong kelompok rentan. Partisipasi tenaga kerja perempuan di negara-negara anggota ASEAN juga tercatat sangat tinggi. Sebanyak 68 % perempuan berpartisipasi dalam ekonomi di negara-negara ASEAN, di atas rata-rata global, yakni 50 %. ”Kontribusi perempuan terhadap ekonomi di negara-negara ASEAN sangat besar dan mereka perlu dilindungi,” ujar Menlu RI 2014-2024, Retno Marsudi sebagai pembicara di The 2025 Asia Grassroots Forum (AGF)  di Bali, Kamis (22/5). Ajang AGF digelar Amartha di Bali, 21-23 Mei 2025. Retno mengatakan, dengan berpartisipasi dalam ekonomi, perempuan juga memperoleh perlindungan sosial. ”Ketika perempuan duduk di level pengambilan keputusan, mereka dapat memberikan perspektif inklusif tambahan pada proses pengambilan keputusan,” ujar Retno.

”Partisipasi perempuan di bidang apa pun tidak hanya membawa manfaat baik bagi perempuan, tetapi juga untuk semua. Berinvestasi pada perempuan adalah berinvestasi untuk masa depan lebih cerah,” ujarnya. Berdasarkan laporan UNESCO pada 2024, partisipasi perempuan dalam pendidikan STEM (science, technology, engineering, and mathematics) masih rendah, yakni 35 %. Menurut Retno, lembaga pembiayaan seperti Amartha yang membidik perempuan diakar rumput dapat menjembatani antara pendidikan dan partisipasi ekonomi. Saat ini, Amartha telah menyalurkan modal usaha Rp 35 triliun kepada 3,3juta UMKM di Indonesia. Lebih dari 90 % UMKM digerakkan perempuan yang tersebar di lebih dari 50.000 desa. Chief Risk and Sustainability OfficerAmartha Aria Widyanto me-nyebut, tingkat kredit macet di Amartha 2,3 %. Lembaga pembiayaan seperti Amartha memberi kontribusi signifikan untuk mengentaskan perempuan dari jurang kemiskinan. (Yoga)


Nasib Pengusaha Lokal dalam Pengelolaan MBG

KT3 28 May 2025 Kompas

Galau dirasakan Yus Elisa, Ketua Asosiasi Pengusaha Kue dan Kuliner (Aspenku) Sumsel. Sebagai ketua, Yus banyak menerima keluhan para pelaku UMKM di Palembang, tentang kerjasama Kadin Indonesia dan China.”Kalau pemodal besar (global) sudah masuk ke program MBG, bisa-bisa kami hanya menjadi penonton di negeri sendiri,” keluh Yus di Palembang, Senin (26/5). Padahal, sejak awal, Presiden Prabowo telah menyampaikan bahwa salah satu dampak positif MBG adalah membantu perekonomian lokal karena melibatkan pelaku usaha lokal, termasuk UMKM. Dengan kehadiran investor asing, UMKM lokal jadi gamang. Dengan kekuatan modal besar, investor asing dapat dengan mudah membuat dan mengelola dapur satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) sebanyak-banyaknya di daerah. Ketimbang bekerja sama dengan investor asing ataupun investor besar, pemerintah lebih baik mengoptimalkan keberadaan pengusaha lokal, terutama yang berpengalaman di bidang kuliner atau katering.

Mereka pun paham dalam menjalankan prosedur standar operasi (SOP) penyediaan makanan berjumlah massal. Kendala mereka hanyalah pembiayaan atau modal usaha yang terbatas. Anggota Aspenku Sumsel mencapai 600-an pelaku usaha kulineratau catering, saat MBG akan dimulai, semuanya mendaftar untuk menjadi mitra pengelola program tersebut. Hanya saja, karena terbatas modal, akhirnya hanya satu anggota Aspenku Sumsel yang terpilih sebagai mitra pengelola MBG, yakni pemilik Catering Tiara Palembang. Modal awal untuk menjadi mitra MBG mencapai miliaran rupiah, untuk menyediakan dapur dengan standar dan luas tertentu, peralatan untuk penyimpanan, pengolahan bahan baku, dan wadah makanan, hingga kendaraan untuk pendistribusian makanan. ”Kalau ditotal, modal semuanya tak kurang dari semiliar rupiah,” ungkap Yus. Jika para pengusaha lokal diberi kemudahan akses pinjaman modal usaha, semuanya mungkin berkesempatan menjadi mitra pengelola MBG. (Yoga)


Penyaluran Kredit UMKM pada Empat Bulan Pertama Tahun Ini Masih Belum Lancar

KT1 26 May 2025 Investor Daily (H)
Penyaluran kredit usaha UMKM pada empat bulan pertama tahun  ini masih seret, meskipun sudah mulai meningkat. Adanya penurunan suku bunga  acuan Bank Indonesia (BI Rate) bisa menjadi harapan baru kebangkitan UMKM ke depan. Setelah sempat melambat dalam dua bulan terakhir, per April 2025 kredit UMKM tumbuh 2,3% secara yoy menjadi Rp 1.400,1 triliun. Realisasi ini mulai menunjukkan sinyal pemulihan, dibanding posisi Maret 2025 yang hanya naik 1,7% (yoy). Mengacu data uang beredar BI, perbaikan terutama terlihat pada kredit usaha kecil menengah. Per April, kredit kecil tumbuh 9,5% (yoy) menjadi Rp469 trliun naik dari maret  yang tumbuh 8,4% (yoy) menjadi Rp309,7 triliun per April bulan sebelumnya cuma naik 0,05% (yoy). Sedangkan, kredit mikro masih mencatatkan kontraksi yang dalam yakni 2,5% (yoy)  menjadi Rp 621,5 triliun. Penurunan ini lebih dalan dari kontraksi 2,1% (yoy) posisi Maret 2025. Dari penggunaannya, kredit UMKM untuk modal kerja tumbuh 0,8% (yoy) atau tembus Rp1.007,8 triliun, membaik dari bukan sebelumnya yang naik 0,2% (yoy). Kemudian, kredit investasi UMKM meningkat 6,5% (yoy) menjadi Rp 392,3 triliun, juga membaik dari bulan sebelumnya yang tumbuh 5,5% (yoy). (Yetede)

Usaha Akar Rumput Diminati Investor Asing

KT3 26 May 2025 Kompas (H)

Lembaga keuangan dan investor asing kian melirik potensi ekonomi akar rumput yang mencakup UMKM. Sektor UMKM di Indonesia dinilai memiliki potensi besar meski ditengah tantangan kapasitas dan sumber daya yang kompleks. The 2025 Asia Grassroots Forum (AGF) yang diselenggarakan PT Amartha Mikro Fintek, 21-23 Mei, di Nusa Dua, Bali, mempertemukan investor, pemerintah, regulator, sektor swasta, dan komunitas wirausaha ultramikro dan akademisi dalam rangkaian diskusi panel yang dihadiri 700 peserta dari 15 negara. Senior Operations Officer International Finance Corporation, Miguel Soriano mengatakan, baru 30-40 % dari UMKM yang memiliki akses ke layanan keuangan dari investor asing.

Bank Dunia memperkirakan, kesenjangan pembiayaan UMKM di Indonesia masih sangat tinggi, mencapai 234 miliar USD. Penyebab kesenjangan pembiayaan dari lembaga keuangan asing, menurut CEO Bank Standard Chartered Indonesia, Rino Santodiono Donosepoetro, lantaran masih banyak kendala infrastruktur dan jangkauan ke segmen usaha akar rumput. Namun, pihaknya membuktikan hal itu dapat diatasi, seperti tercermin dari kolaborasi dengan mitra perusahaan teknologi finansial (tekfin). Tercatat 2 juta peminjam yang menerima pembiayaan melalui kemitraan Standard Chartered Indonesia dengan delapan perusahaan tekfin peer to peer lending.

Sejumlah 65 % dari profil peminjam adalah perempuan dan hampir separuh segmen usaha mikro memiliki pendapatan di bawah Rp 5 juta per bulan. Pada akhir 2024, Standard Chartered Indonesia mengumumkan komitmen pembiayaan Rp 2 triliun kepada 400.000 perempuan pengusaha melalui Amartha. ”Institusi keuangan global perlu terlibat langsung mendukung sektor mikro dan mempromosikan pembiayaan inklusif untuk mengembangkan wirausaha di tingkat akar rumput dan menumbuhkan mereka lebih jauh,” ujar Dono sepoetro. (Yoga)


Untuk Mendongkrak Ekonomi Akar Rumput dilakukan Jemput Bola

KT3 26 May 2025 Kompas

Kemudahan mengakses pembiayaan menumbuhkan harapan Rosvita Sensiana (40) Ketua Kelompok Dalale, kelompok perajin tenun ikat yang dibentuk pada 2014 di Kabupaten Sikka, NTT. Ia berupaya melanjutkan tradisi menenun dengan bahan pewarnaan alami dari tumbuh-tumbuhan seperti akar mengkudu, daun katuk, kunyit, kemiri, dan kulit batang mangga. Kelompok Dalale beranggotakan 12 perempuan dari Desa Kajowair, Kecamatan Hewokloang, dan Desa Watukobu, Kecamatan Kewapante. Mereka berlatar belakang ibu rumah tangga, kaum muda dan mahasiswi. Setiap bulan, setiap anggota dapat memproduksi 8-10 lembar kain tenun per bulan dengan harga jual mulai dari Rp 400.000 per lembar.

Hasil tenun banyak dikirim ke Jakarta dalam bentuk kain melalui kerja sama dengan butik Noesa dan pemasaran daring. Guna meningkatkan skala usaha, para petenun di kelompok Dalale mulai menambah permodalan. Anggota kelompok pernah mencoba mengakses pembiayaan ke bank dua tahun lalu, namun, terbentur persyaratan kredit berupa jaminan aset tanah atau kendaraan bermotor. Sebagian besar anggota kelompok tidak memiliki kendaraan bermotor, sedang lahan rumah tinggal belum besertifikat. Selain itu, mereka cenderung kesulitan mengakses kantor bank terdekat, di Kecamatan Kewapante yang berjarak 9 km dari perkampungan itu. Akhirnya mereka memilih kemitraan dengan Amartha setahun terakhir.

Rosvita mengemukakan, Amartha menawarkan model kemitraan berbasis komunitas. Pinjaman dari Amartha sebesar Rp 60 juta untuk tenor satu tahun menggunakan penjaminan dari kelompok usaha itu. Dana pinjaman didistribusikan kepada seluruh anggota Dalale sesuai kemampuan dan kebutuhan anggota. Tim Amartha rutin datang ke desa-desa setiap pekan untuk mengambil angsuran. Kelompok Dalale juga terfasilitasi dalam hal pemasaran produk, di antaranya pesanan khusus dalam jumlah besar untuk beberapa kegiatan Amartha. Rosvita menuturkan, usaha ultramikro membutuhkan pendampingan dalam hal desain dan mutu produksi agar bisa menembus standar pasar luar negeri, juga pemasaran demi meningkatkan skala usaha. (Yoga)


UMKM Sulit Akses Kredit di Tengah Risiko Meningkat

HR1 26 May 2025 Kontan
Sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) masih menghadapi tekanan signifikan yang terlihat dari lemahnya pertumbuhan kredit dan memburuknya kualitas aset di segmen ini. Bank Indonesia mencatat pertumbuhan kredit UMKM hanya sebesar 2,3% secara tahunan per April 2025, dengan kredit mikro bahkan mengalami kontraksi 2,5%. Rasio kredit bermasalah (NPL) UMKM juga meningkat menjadi 4,36%, menandakan risiko yang makin tinggi di sektor ini.

Sekretaris Perusahaan BRI, Hendy Bernadi, menjelaskan bahwa BRI kini lebih ketat dalam menilai kapasitas bayar debitur pada kredit mikro karena tidak diperbolehkannya agunan tambahan, sehingga bank harus berhati-hati menyalurkan kredit. Sementara itu, Maria Trifanny Fransiska, Head of Sustainability Maybank, menyatakan bahwa Maybank fokus pada usaha menengah atas yang profil risikonya lebih bisa diantisipasi, namun tetap memberikan kredit mikro melalui kerjasama dengan lembaga keuangan lain dan fintech.

Presiden Direktur CIMB Niaga, Lani Darmawan, mengungkapkan bahwa lambatnya pertumbuhan kredit UMKM disebabkan oleh menurunnya permintaan akibat stagnasi omset dan aktivitas usaha. Sedangkan EVP Corporate Communication BCA, Hera F. Haryn, menyebutkan bahwa BCA berupaya mendorong kredit UMKM dengan menawarkan suku bunga khusus untuk UMKM yang berbasis lingkungan sosial, tata kelola baik, dan pengusaha wanita.

Kondisi kredit UMKM yang melemah dan meningkatnya NPL memerlukan intervensi pemerintah serta strategi perbankan yang lebih selektif dan inovatif untuk menjaga keberlanjutan pembiayaan sektor ini.

Ekonomi Investasi Global

KT1 23 May 2025 Investor Daily (H)

Di tengah kondisi ekonomi dunia yang terus bergejolak, usaha ultra mikro dan kecil, menjadi sektor yang berpeluang  besar untuk menampung masuknya investasi dari global. Hal ini mengingat sektor ekonomi akar rumput (grassroots), sudah terbukti lebih resilent dan menyimpan potensi pertumbuhan besar. Ketertarikan investasi global untuk masuk ke segmen ini juga terus meningkat. Salah satunya terlihat permodalan yang diberikan sejumlah institusi keuangan global kepada Amartha, perusahaan teknologi keuangan yang memfokuskan bisnisnya pada pembiayaan di segmen grassroots. “Amartha memiliki investor dari berbagai institusi, baik lokal maupun asing. Di antaranya Swedia Soverigne Fund, Finlandia Sovereigne Fund, dan Belgian Sovereign Fund telah menyuntikkan investasinya ke Amartha,” kata Founder & CEO Amartha Andi Taufan Garuda Putra. Taufan mengatakan, pembiayaan di sektor akar rumput memiliki potensi besar untuk bertumbuh, dengan tingkat risiko yang relatif dapat dikendalikan. Terbukti, hingga saat ini, Amartha telah  menyalurkan pembiayaan hingga lebih dari Rp35 triliun kepada 3,3 juta UMKM, dengan rasio pinjaman bermasalah di angka 3%. (Yetede)

UMKM Wajib Mampu untuk Berdaya Saing Tinggi

KT1 21 May 2025 Investor Daily
Untuk mendorong UMKM dalam negeri para pelaku UMKM perlu memperhatikan beberapa hal. Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Susanto menekankan, pelaku  UMKM harus bisa berdaya saing  dan harus mampu berkompetensi. "Kalau kita punya daya saing, di Hippindo kan tidak mungkin kalau produk kita menjadi laku Contohnya di Hippindo kan tidak mungkin kalau produknya tidak bagus akan dijual di retail ya, termasuk dari Aprindo ya," kata dia. Budi mengatakan, produk UKM yang memiliki daya saing dapat menghambat masuknya produk-produk impor. "Karenakan goalnya sebenarnya ya jualan. Kalau jualan kan dapat duit, duitnya di simpan sih memang tapikan dibagi untuk usaha. Sebenarnya kan tujuan utamanya itu," terang dia. Selain itu untuk meningkatkan UKM dalam negeri para pelaku usaha UKN tidak hanya memasarkan produknya di dalam negeri. "Dalam negeri memang pasarnya besar sekali. Kalau pasar di dalam negeri ini sudah tercukupi oleh industri/UMKM kita sudah luar biasa sebenarnya," kata Mendag. Selain dalam negeri pasar ekspor dinilai berpotensi untuk mengembangkan produk UKM lokal. "Jadi nanti selain dipasarkan di dalam negeri juga eskpor. Kita (Kemendag) ada namanya program UMKM Bisa Ekspor. Jadi setiap bulan kita ada namanya business matching," terang dia. (Yetede)

BUMDes Blora Mampu Berkontribusi Garap 160 Sumur Bor Minyak

KT1 20 May 2025 Investor Daily
Badan Usaha Milik Desa (BumDes) Sumber Alam Agung Abadi Desa Plantungan, Blora, Jawa Tengah mampu berkontribusi terhadap Pendapatan Asli Desa (PADes) Plantungan lewat pengelolaan 160 sumur bor artesis yang menghasilkan  minyak. "BUMDes dari awal mengelola sumur artesis hingga sekarang sudah berkontribusi dalam memberikan PADes Plantungan lebih dari Rp 3 miliar," kata Pengelola BUMDes Sumber Alam Agung Abadi Desa Plantungan Hanafi. Hasil pengumuman limbah dari seratus sumur bor artesis di Desa Plantungan Kecamatan Blora Jawa Tengah, kata dia, rata-rata mendapatkan 1 juta liter per bulan. Ia mengungkapkan dari 160 sumur bor artesis tersebut, yang bercampur dengan minyak limbah tercatat ada 60-an sumur, selebihnya minyak yang bercampur dengan air. "tergantung intensitas hujan. Jika curah hujannya tinggi banyak airnya, begitu sebaliknya. Rata-rata per bulan pengumpulan minyak bisa mencapai 1 juta liter," terangnya. Ia mengatakan dari pengolahan puluhan limbah sumur bor artesis di Desa Plantungan, penghasilan per tahunnya ya cukup besar dan sudah berjalan empat tahun, sehingga bisa berkontribusi terhadap PADesa. Sekitar 10% dari PADes tersebut digunakan untuk mendukung kegiatan sosial, pembangunan infrastruktur serta lainnya. (Yetede)