Menggarap Potensi Ekonomi dari Ibadah Haji dan Umrah
Regulasi Zero ODOL Bakal Ditegakkan
Motor Pertumbuhan Vale
Tiga proyek raksasa PT Vale Indonesia Tbk (INCO) diproyeksikan bakal beroperasi lebih cepat dari jadwal dan menjadi motor bagi pertumbuhan kinerja perseroan ke depan. Laba Vale bahkan ditaksir bisa menguat sampai tiga digit pada tahun ini. Ketiga proyek tambang sekaligus smelter tersebut memiliki total nilai fantastis berkisar US$ 9-10 miliar atau ekuivalen Rp 164 triliun (kurs Rp 16.450 per US$) yang hingga saat ini masih terus disebut Vale. Pertama adalah proyek tambang forenikel di Bahodopi yang dikerjakan perseroan melalui PT Bahodopi Nickel Smelting Indonesia (BNSI), perusahaan patungan (joint venture/JV) antara Vale dan Tisco serta Xinhai.
Kedia, proyel Hihg Pressure Acid Leaching (HPAL) di Pomala melalui PT Kolaka Nickel Indonesia (KNI), JV antara Vale menggandeng Zhejiang Huayou Cobalt dan Ford. Terakhir, proyek mixed hydroxide precipitate (MHP) di Sorowako yang dikerjakan perseroan melalui PT HPAL Nickel Indonesia (HNI), JV antara Vale, Huayou, dan pihak ketiga yang disebut-sebut akan disiapkan oleh Huayou dengan syarat memiliki standar ESG global. Salah satu dari tiga proyek tersebut tepatnya proyek tambang di Blok Bahodopi diperkirakan berpotensi lebih cepat, sehingga berpotensi menjadi katalis kinerja laba perusahaan pada tahun. Belum lagi, proyek KNI an HNI yang disebut juga akan mendukung profitabilitas vale. Ini terlihat pada kuartal 1-2025, keuntungan derivatif INCO terdorong oleh proyek KNI dan HNI sebesar US$ 16,7 juta. (Yetede)
Perekonomian Nasional Tetap Terjaga di Tengah Tekanan Global
Perjuangan BSI Jadi Bank Syariah Raksasa
Trump Angkut Komitmen Investasi Ratusan dari UEA
Terminal Khusus Haji dan Umrah di Terminal 2F Bandara Soekarno-Hatta
Misi Besar Membangun Eksositem Digital Indonesia di Tanah Air
Pembagian Dividen Dorong Optimisme Pasar
Gelombang pembagian dividen oleh sejumlah emiten sepanjang bulan Mei 2025 telah memberikan sentimen positif yang signifikan terhadap pasar saham Indonesia. Aksi ini tidak hanya mencerminkan kekuatan fundamental dan kesehatan keuangan perusahaan, tetapi juga menunjukkan optimisme manajemen terhadap prospek usaha ke depan, sekaligus menjadi insentif nyata bagi investor.
Tokoh-tokoh penting turut menegaskan dampak positif fenomena ini. Martin Aditya dari Capital Asset Management menyatakan bahwa konsistensi pembagian dividen memperkuat persepsi stabilitas emiten di mata investor. Nafan Aji Gusta, analis dari Mirae Asset Sekuritas, menambahkan bahwa selain pembagian dividen, aksi korporasi seperti buyback saham turut mendorong likuiditas dan penguatan IHSG, yang tetap bertahan di atas level 7.000. Di sisi lain, Maximilianus Nico Demus dari Pilarmas Investindo Sekuritas mengingatkan bahwa pasar Indonesia sebagai emerging market tetap terpapar sentimen global, sehingga dukungan makroekonomi domestik dan iklim global yang kondusif tetap diperlukan untuk menjaga aliran modal asing.
Dari sisi emiten, sejumlah perusahaan besar mengambil peran penting. Bob Tyasika Ananta, Wakil Direktur Utama Bank Syariah Indonesia (BRIS), menyampaikan pembagian dividen sebesar Rp1,05 triliun sebagai bentuk optimisme terhadap kinerja perusahaan ke depan. Bernardus Irmanto, Plt. Presiden Direktur Vale Indonesia (INCO), menekankan bahwa efisiensi kapital memberi ruang bagi pembagian dividen tanpa mengganggu proyek strategis. Sementara itu, Yusak Lumba Pardede, Direktur Cita Mineral Investindo (CITA), menegaskan komitmen perusahaan dalam konsistensi pembagian dividen, dengan nilai Rp1,29 triliun dari laba 2024.
Dengan setidaknya 30 emiten telah menjadwalkan cum date dividen, fenomena ini mempertegas peran dividen sebagai motor penggerak IHSG dan penguatan sentimen investor, baik domestik maupun asing.
Permintaan Global Dongkrak Harga Batu Bara RI
Ketegangan geopolitik global, termasuk konflik terbaru antara India dan Pakistan, menimbulkan kekhawatiran akan stabilitas pasokan energi dunia, seperti halnya dampak besar yang ditimbulkan konflik Rusia-Ukraina. Tokoh penting dalam krisis energi global seperti Gazprom, perusahaan migas Rusia, bahkan menghentikan pasokan gas ke Eropa, yang selama ini sangat bergantung pada Rusia untuk kebutuhan energi. Namun, Indonesia menunjukkan ketahanan dan optimisme dalam menghadapi potensi dampak konflik India-Pakistan, khususnya terkait batu bara.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat bahwa ekspor batu bara Indonesia mencapai 150 juta ton hanya dalam empat bulan pertama tahun 2025, dengan cadangan nasional mencapai 33,8 miliar ton. Dalam menghadapi kompetisi global dengan negara produsen lain seperti Australia, AS, dan Rusia, pemerintah Indonesia terus mendorong peningkatan produksi batu bara sekaligus menjaga pasokan domestik dan mendukung transisi energi baru terbarukan. Langkah strategis ini dinilai tepat dalam mengamankan pendapatan negara dari sektor energi dan menjaga kesejahteraan rakyat di tengah gejolak geopolitik dunia.
Pilihan Editor
-
Ampas Pahit Pasar Susu
27 Jan 2020 -
Waspada, Virus Corona Mengancam Pariwisata
24 Jan 2020 -
Anggaran : Dana Rp 186 Triliun Mengendap
23 Jan 2020









