Kisah pilu Dosen Muda, Pagi Mengajar Sore ”Ngojol”
Gelar ”Ir” atau insinyur terpampang di layar panggilan telepon Whatsapp saat Didi (30) menceritakan kesehariannya. Pukul 07.00 hingga 17.00 WIB, ia berada di sebuah perguruan tinggi negeri di wilayah Jabar sebagai dosen. Namun, sebelum dan sesudahnya dia mengaspal sebagai pengemudi ojek online. Jarak tempuh antara rumah dan kampus tempat mengajar 20 km. Setiap pagi, ia berusaha mendapatkan pelanggan ojek yang searah dengan kampus agar mendapat uang tambahan sedini mungkin. Begitu urusan kampus selesai, dia kembali mengaspal. Pesanan membawanya ke berbagai arah, dari ujung Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, hingga Bekasi. ”Setidaknya bisa buat makan,” ujar Didi, Sabtu (10/5). Didi lebih memilih bekerja sampingan sebagai pengemudi ojek dalam jaringan karena memperoleh proyek di luar kampus penuh ketidakpastian. Meski tak seberapa, penghasilan ojek online bersifat rutin tiap hari.
Sbagai dosen perguruan tinggi negeri (PTN) berstatus calon pegawai negeri sipil (CPNS), dia memperoleh gaji Rp 2 juta-an per bulan. ”Di luar bensin, saya bisa mendapat penghasilan Rp 100.000-Rp 200.000 per hari dari ojol, walaupun kadang saya dapat di bawah Rp 100.000 per hari,” tuturnya. Penghasilan dari ngojol ia pakai untuk membayar tagihan air dan listrik bulanan serta makan sehari-hari. Didi menjadi tulang punggung seluruh penghuni rumah beranggotakan ayah, ibu, seorang adik, dan dua keponakan. Adiknya yang lulusan paket C masih bergumul mencari pekerjaan. Yang dilakukan Didi sejalan dengan olahan data survei kualitatif Tim Jurnalisme Data Harian Kompas pada 36 dosen PTN. Pekerjaan sampingan menjadi sumber penghasilan bagi dosen untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sebanyak 76,5 % dari mereka memiliki pekerjaan sampingan di luar kampus.
Sebanyak 44 persen dosen PTN, menurut olahan Kompas, mempunyai pengeluaran untuk keluarga yang lebih besar dibanding penghasilan bulanan. Rata-rata dosen menanggung lebih dari dua anggota keluarga. Untuk makan siang, Didi mengandalkan jatah dari kampus sebesar Rp 600.000-Rp 900.000 per bulan. Penghasilannya juga digunakan untuk mencicil rumah bersubsidi, tempat tinggalnya saat ini. Karena penghasilannya tidak cukup, ia berencana mengoper kredit pemilikan rumahnya. Kompas menemukan fakta, sebanyak 50 % dosen PTN memiliki cicilan untuk melunasi tempat tinggal pribadi. Besaran cicilan berkisar 10-50 % dari total pengeluaran per kapita per bulan. Kini, Didi sedang berjuang mendapatkan beasiswa untuk studi strata III di UGM, Yogyakarta. Jika dapat lulus strata III, dia berpeluang memperoleh gaji pokok yang lebih baik daripada saat ini. (Yoga)
Rendahnya Gaji Dosen Indonesia dibanding Negara Tetangga
Rata-rata gaji pokok dosen perguruan tinggi negeri atau PTN Indonesia senilai 1,3 kali besaran upah minimum provinsi, setara 143 kg beras, jauh di bawah Malaysia, Vietnam, Thailand, dan Kamboja. Tim Jurnalisme Data Harian Kompas membandingkan gaji pokok 36 dosen PTN sepanjang 2024 yang disurvei secara kualitatif per 4-23 April 2025 dengan UMP setiap daerah. Dari data yang dihimpun, nilai rata-rata gaji pokok dosen PTN di Indonesia lebih rendah dibanding lima negara lain di Asia Tenggara. Gaji dosen perguruan tinggi publik di Kamboja mencapai 6,6 kali upah minimum, Thailand 4,1 kali upah minimum, Vietnam 3,42 kali upah minimum, Malaysia 3,41 upah minimum, dan Singapura 1,48 kali upah minimum.
Kompas mengolah data gaji dosen universitas publik di kawasan Asia Tenggara selain Indonesia dari laman Glassdoor, sedangkan upah minimum dari laman Trading Economics. Upah minimum menjadi indikator pembanding lantaran menjadi standar penghasilan bagi pekerja secara umum yang berlaku di sebuah negara. Gaji pokok dosen PTN di Indonesia diatur PP No 5 Tahun 2024 tentang Perubahan Kesembilan Belas atas PP No 7 Tahun 1977 tentang Peraturan Gaji PNS. Gaji pokok akan naik setiap dua tahun sekali bergantung masa kerja. Berbeda dengan UMP yang dimutakhirkan setiap tahun, regulasi gaji pokok dosen dimutakhirkan lima tahun sekali.
Dosen Fakultas Hukum UGM, Nabiyla Risfa, menilai, dosen PTN di Indonesia belum mendapat gaji pokok yang layak, apalagi dengan kualifikasi minimal lulusan S-2. Gaji pokok juga mestinya dimutakhirkan setiap tahun. Dia berpendapat gaji pokok dosen minimal sebesar Rp 10 juta per bulan. Gaji pokok itu, memberatkan dosen muda yang belum menjadi asisten ahli atau belum memiliki jabatan fungsional. Mereka hanya menerima 80 % gaji pokok PNS golongan IIIb, Rp 2,9 juta. ”Bisa dibayangkan siapa yang bisa bertahan sampai lima tahun dengan gaji kurang dari Rp 5 juta per bulan, apalagi jika sudah berkeluarga,” ujarnya. (Yoga)
Kurang Uang Memaksa Gen Z ”Polyworking”
Susah mencari pekerjaan terjadi di seluruh dunia. Sebagian generasi Z menjadikan polyworking alias melakoni beberapa pekerjaan sekaligus sebagai solusinya. Jajak pendapat Capital One menemukan 36 % gen Z di Kanada punya pekerjaan sampingan. Dikutip The Financial Post pada 15 Mei 2025, lembaga keuangan di AS dan Kanada itu menemukan 45 % responden mempertimbangkan mencari pekerjaan sampingan. Lebih dari 70 % responden Capital One menyatakan kerja sampingan dilakukan karena perlu uang lebih banyak. Energi dan sumber daya mereka difokuskan ke sana, bukan perhatian pada isu-isu tertentu atau mengejar renjana (passion).
Gianluca Russo, pekerja gen Z di Arizona, AS, adalah anggota tim komunikasi LinkedIn. Ia juga bekerja sebagai pelatih sepeda di dalam ruangan, koreografer tari, penulis lepas, dan pengarang. Profesi sebanyak itu biasa untuknya. ”Satu-satunya cara saya dapat menangani begitu banyak pekerjaan sekaligus adalah karena saya hanya mengerjakan pekerjaan yang saya sukai,” ujar Russo kepada Harper’s Bazaar edisi Senin (21/4). Beberapa tahun terakhir, polyworking ramai di dunia kerja. Anak muda berusaha membentuk kembali makna membangun karier di antara ketidakstabilan ekonomi, minim lowongan, dan ambisi. Fenomena ini tidak muncul dalam sekejap. Dunia kerja berubah, pasar kerja yang tidak stabil, dan situasi ekonomi. Gen Z terdampak.
Polyworking berbeda dengan side hustle. Side hustle adalah situasi seseorang mempunyai pekerjaan penuh waktu, tetapi juga mempunyai pekerjaan sampingan. Sementara, Forbes pada 2023 menjabarkan, polyworking adalah praktik memiliki beberapa pekerjaan penuh waktu. ”Saat ini, tidak ada jaminan kerja. Lihat apa yang terjadi dengan sektor federal. Pekerjaan yang Anda pikir tidak akan pernah hilang ternyata hilang. Pekerjaan itu adalah pekerjaan yang dianggap sangat aman oleh orang-orang,” ujar konsultan karier Lynn Berger di New York. Polyworking bukanlah sekadar tren. Ini adalah kalibrasi ulang terhadap definisi pekerjaan di era modern. Pesannya jelas, satu pekerjaan sering kali tidak cukup di situasi ekonomi kini. (Yoga)
Pekerja Migran Jadi Pilihan Orang Muda
Potret migrasi orang muda di sentra produksi pangan terjadi di Desa Cikarang, Karawang, Jabar, yang dikunjungi Kompas, awal Mei 2025. Petani yang bekerja di sawah umumnya sudah tua. Orang muda di desa di Karawang menganggap sponsor dan perusahaan penempatan pekerja migran Indonesia sebagai ”dewa” yang membantu mencarikan pekerjaan di luar negeri (Kompas, 14/5/2025). Di desa yang dikenal sebagai lumbung padi itu terjadi kecenderungan orang mudanya, terutama lulusan SMA ke atas, enggan menjadi petani. Bekerja di sawah dianggap tidak lagi menguntungkan. Kelompok orang muda seperti itu juga cenderung ingin mendapatkan kerja dan pendapatan instan.
Hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional 2023 oleh BPS menunjukkan, lebih dari separuh migran berada di kelompok usia produktif, yaitu awal 20-39 tahun, dengan puncak pada usia 20-29 tahun (26,3 %). Penelitian Ahmadah Faidah dan rekan-rekan dari IPB University di sentra padi di Pulau Bawean, Jatim, tahun 2024, menunjukkan, faktor yang menyebabkan keputusan migrasi terutama ialah pendapatan. Salah satu harapan anggota keluarga bermigrasi ialah memperoleh pendapatan yang lebih besar daripada pendapatan di tempat asalnya.
Ancaman makin banyaknya orang muda desa menjadi pekerja migran kembali muncul karena pemerintah berencana membuka keran pekerja migran ke Timur Tengah. Menteri PPMI, Abdul Kadir Karding, tahun ini, berencana mencabut aturan moratorium penempatan pekerja migran Indonesia di negara-negara Timur Tengah yang sudah berlangsung 10 tahun. Oleh karena itu, menciptakan lapangan usaha di bidang pertanian dengan pendapatan lebih besar dibandingkan menjadi pekerja migran menjadi tantangan. Apalagi pemerintah mempunyai target swasembada pangan yang mesti dicapai, (Yoga)
Tekanan dalam Penyaluran Kredit Industri Manufaktur
Di tengah tantangan ekonomi domestik dan global, penyaluran kredit terhadap industri manufaktur diperkirakan mengalami tekanan. Namun, industri penopang perekonomian nasional dan penyerap tenaga kerja ini membutuhkan dukungan pembiayaan. Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, Minggu (18/5) mengatakan, industri tekstil dan produk tekstil (TPT) sebagai sektor manufaktur padat karya tengah mengalami tekanan berat yang memengaruhi kelayakan penyaluran kredit perbankan. Dalam jangka pendek hingga menengah, Josua memperkirakan, prospek penyaluran kredit ke sektor TPT akan bersifat selektif dan konservatif.
Ini mempertimbangkan daya saing industri, kondisi keuangan perusahaan, serta risiko struktural dan kebijakan eksternal. ”Industri TPT mengalami pelemahan struktural dan siklikal sekaligus, mulai dari penurunan produktivitas, ketergantungan pada tenaga kerja tidak terampil, hingga tekanan likuiditas dan beban utang tinggi,” katanya. Di sisi lain, bank mengantisipasi risiko kredit dan gagal bayar akibat tingginya utang (leverage) dan tekanan likuiditas yang dialami perusahaan tekstil. Ada pula risiko regulasi Permendag No 8 Tahun 2024 tentang Kebijakan dan Pengaturan Impor yang justru mengakibatkan pasar dalam negeri dibanjiri produk impor sehingga memperlemah daya saing industri domestik.
Selain itu, risiko eksternal berupa volatilitas harga bahan baku global, pelemahan rupiah, dan rencana tarif resiprokal AS turut menambah ketidakpastian terhadap daya saing dan keberlanjutan ekspor. Menurut Josua, kepercayaan bank terhadap kemampuan industri TPT dalam memenuhi kewajiban finansial jangka panjang sejalan dengan pailitnya PT Sri Rejeki Isman (Sritex). Bank cenderung hanya menyalurkan kredit ke perusahaan TPT yang memiliki rekam jejak kuat, struktur permodalan sehat, serta strategi bisnis ekspor-impor yang terdiversifikasi. (Yoga)
Kopi Indonesia ke Pasar Global melalui World of Coffee Jakarta 2025
Pengunjung memadati World of Coffee Jakarta 2025 di hari ketiga sekaligus hari terakhir penyelenggaraan di Jakarta, Sabtu (17/5). Selain mempromosikan produk kopi nasional di mata para pemain global, ajang ini membuka pangsa global bagi produk lain dalam rantai pasok hilirisasi produk minuman kopi. Ketua Umum Asosiasi Kopi Spesial Indonesia (Speciality Coffee Association of Indonesia / SCAI) Daryanto Witarsa mengatakan, target utama penyelenggaraan ajang ini adalah mempertemukan profesional di bidang kopi nasional, mulai dari produsen, roaster, barista, hingga pelaku industri manufaktur, dalam ekosistem industri kopi dunia. ”Posisi unik Indonesia sebagai pasar konsumen sekaligus produsen kopi yang signifikan di dunia membuat pergelaran tahun ini menjadi menarik. Pelaku lain yang masuk rantai pasok kopi nasional jadi turut mendapatkan medium promosi ke pasar global,” ujarnya, Sabtu.
Head of Brand and Marketing Activation PT Multi Citra Rasa, Jordy Junius mengatakan, pada hari ketiga pergelaran World of Coffee 2025, pihaknya membawa 15 kelompok pelaku industri kopi mancanegara untuk mengunjungi pabrik produksi Dripp di Kawasan Industri MM 2100, Bekasi, Jabar. PT Multi Citra Rasa adalah perusahaan produsen jenama sirop perisa minuman kopi, Dripp. Ke-15 kelompok itu merupakan pembeli potensial yang ia kumpulkan sepanjang hari pertama dan kedua World of Coffee Jakarta 2025. Para calon pembeli dari Malaysia, Kamboja, Jepang, dan Arab Saudi itu dipersilakan melihat proses produksi Dripp untuk memastikan kualitas sesuai dengan standar yang mereka butuhkan. ”Target utama kami mengikuti pergelaran ini memang untuk mendapatkan potential buyer agar kami dapat melakukan ekspansi pasar ke luar negeri,” ujar Jordy. (Yoga)
”Scamming” Menjerat Warga
Di tengah maraknya digitalisasi dan geliat ekonomi daring, masyarakat dihadapkan pada gelombang penipuan berbasis daring (”scamming”) yang kian meresahkan. Harapan mereka kepada pemerintah, sebagai berikut; Aisyah Sekar (26) karyawan swasta di Bogor, nyaris jadi korban penipuan yang mengatasnamakan PT Antam Tbk melalui akun palsu di laman Google ketika hendak membeli emas. Ada yang mencurikan ketika hendak membayar. Setelah memastikan ke akun resmi media sosial Antam, terbukti itu penipuan. Ia bersyukur terhindar dari penipuan meski menilai pemerintah belum serius melindungi konsumen. Agnes Sinaga (53) pensiunan di Jakarta, pernah menjadi korban scamming yang menawarkan investasi saham melalui grup Whatsapp.
Modusnya bermula dari tawaran belajar saham, yang ternyata merupakan jebakan yang dijalankan sekelompok penipu. ”Indonesia saat ini belum berada dalam kondisi aman dari kejahatan digital semacam ini. Yang membuat miris, para pelaku tampak begitu mudah menjalankan aksinya tanpa rasa takut,” katanya. Pada Maret 2024, Daisy Joyce Djohar (65) warga Jakarta mengalami kerugian Rp 200 juta, berawal dari ketertarikannya pada tawaran investasi yang disebarkan oleh mitra dari merek kecantikan ternama di media sosial. Dengan membeli produk, Joyce dijanjikan keuntungan. Namun, janji pembagian untung tak pernah terealisasi. Sudah melapor ke polisi, pelaku tak bisa ditangkap dan uang tak kembali. (GIO). (Yoga)
Mencintai Produk Lokal Hanya Sebatas Jargon di NTT
Gerakan cinta dengan membeli produk buatan NTT masih sebatas jargon. Kalangan elite pemerintah belum memberikan contoh penggunaan produk lokal. Di halaman minimarket di Kota Kupang, NTT, Minggu (18/5) terlihat seorang pejabat eselon dua meneguk air mineral botol kemasan 600 mililiter, dari merek Indonesia, yang diproduksi di Pulau Jawa, lalu dikirim ke NTT. Potret yang sama ditemukan di beberapa kantor lembaga vertikal sepanjang pekan ini. Lembaga dimaksud berada di bawah kementerian, badan, atau lembaga di pusat. Dalam sejumlah acara, mereka menghadirkan minuman kemasan yang diproduksi di luar NTT. Padahal, di NTT, banyak produk air mineral kemasan yang sudah beroperasi belasan tahun lamanya. ”Sudah telanjur pakai air minum kemasan yang sudah terkenal. Ini semata-mata pelayanan,” kata salah satu pemimpin lembaga vertikal di Kupang. Konsumen produk luar NTT ini berasal dari kalangan elite pemerintah. Mereka memimpin organisasi perangkat daerah.
Merekalah yang menjadi motor penggerak program Gubernur NTT. Mereka juga diangkat berdasarkan SK kepala daerah. Apa yang ditemukan di lapangan, berbeda dengan harapan Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena, yang sebelumnya mengingatkan para elite agar memberi contoh memakai produk yang dihasilkan di NTT. Dalam acara temu dengan wartawan di rumah jabatan pada Sabtu (10/5), di atas meja undangan disajikan air mineral produk NTT. ”Harus dimulai dari rumah pejabat,” ujarnya. Begitu juga produk lain yang ada pabriknya di NTT. Ia ingin memberikan contoh awal. Menurut Melkiades, gerakan membeli produk NTT yang diluncurkan sejak Maret 2025 itu bertujuan untuk memajukan perekonomian lokal. Produksi yang semakin meningkat akan menyerap tenaga kerja. Uang yang dihasilkan beredar di NTT. Berbeda dengan produk dari luar yang justru menarik uang keluar NTT.
Selama ini NTT sangat bergantung pada produk luar, terbaca pada neraca perdagangan NTT yang mengalami defisit cukup dalam. Tahun 2024, nilai barang yang dipasok dari luar Rp 40,49 triliun, sedang yang dikirim ke luar NTT hanya Rp 5,88 triliun. NTT mengalami defisit neraca perdagangan Rp 34,61 triliun. Pelaku usaha kecil dan menengah menyambut baik program itu. SolemanMawo (40) pengolah minuman jahe merah dan daun kelor celup di Desa Ombarade, Kabupaten Sumba Barat Daya, menyarankan regulasi yang mewajibkan setiap minimarket berjaringan agar membeli produk lokal. Selama ini, ia menjual produk olahan melalui media sosial. Banyak pemesan enggan membeli lantaran tingginya ongkos pengiriman ke tempat tujuan, lebih dari dua kali lipat ketimbang harga produk. (Yoga)
Dibutuhkan Sinkronisasi Pusat dan Daerah
Tarif Trump Bagian dari Agenda Strategi yang Mahal
Pilihan Editor
-
Nilai Aset Asabri Merosot di Tahun Lalu
31 Jan 2020 -
India Turunkan Bea Masuk Kelapa Sawit
30 Jan 2020









