Mencintai Produk Lokal Hanya Sebatas Jargon di NTT
Gerakan cinta dengan membeli produk buatan NTT masih sebatas jargon. Kalangan elite pemerintah belum memberikan contoh penggunaan produk lokal. Di halaman minimarket di Kota Kupang, NTT, Minggu (18/5) terlihat seorang pejabat eselon dua meneguk air mineral botol kemasan 600 mililiter, dari merek Indonesia, yang diproduksi di Pulau Jawa, lalu dikirim ke NTT. Potret yang sama ditemukan di beberapa kantor lembaga vertikal sepanjang pekan ini. Lembaga dimaksud berada di bawah kementerian, badan, atau lembaga di pusat. Dalam sejumlah acara, mereka menghadirkan minuman kemasan yang diproduksi di luar NTT. Padahal, di NTT, banyak produk air mineral kemasan yang sudah beroperasi belasan tahun lamanya. ”Sudah telanjur pakai air minum kemasan yang sudah terkenal. Ini semata-mata pelayanan,” kata salah satu pemimpin lembaga vertikal di Kupang. Konsumen produk luar NTT ini berasal dari kalangan elite pemerintah. Mereka memimpin organisasi perangkat daerah.
Merekalah yang menjadi motor penggerak program Gubernur NTT. Mereka juga diangkat berdasarkan SK kepala daerah. Apa yang ditemukan di lapangan, berbeda dengan harapan Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena, yang sebelumnya mengingatkan para elite agar memberi contoh memakai produk yang dihasilkan di NTT. Dalam acara temu dengan wartawan di rumah jabatan pada Sabtu (10/5), di atas meja undangan disajikan air mineral produk NTT. ”Harus dimulai dari rumah pejabat,” ujarnya. Begitu juga produk lain yang ada pabriknya di NTT. Ia ingin memberikan contoh awal. Menurut Melkiades, gerakan membeli produk NTT yang diluncurkan sejak Maret 2025 itu bertujuan untuk memajukan perekonomian lokal. Produksi yang semakin meningkat akan menyerap tenaga kerja. Uang yang dihasilkan beredar di NTT. Berbeda dengan produk dari luar yang justru menarik uang keluar NTT.
Selama ini NTT sangat bergantung pada produk luar, terbaca pada neraca perdagangan NTT yang mengalami defisit cukup dalam. Tahun 2024, nilai barang yang dipasok dari luar Rp 40,49 triliun, sedang yang dikirim ke luar NTT hanya Rp 5,88 triliun. NTT mengalami defisit neraca perdagangan Rp 34,61 triliun. Pelaku usaha kecil dan menengah menyambut baik program itu. SolemanMawo (40) pengolah minuman jahe merah dan daun kelor celup di Desa Ombarade, Kabupaten Sumba Barat Daya, menyarankan regulasi yang mewajibkan setiap minimarket berjaringan agar membeli produk lokal. Selama ini, ia menjual produk olahan melalui media sosial. Banyak pemesan enggan membeli lantaran tingginya ongkos pengiriman ke tempat tujuan, lebih dari dua kali lipat ketimbang harga produk. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023