;

Ledakan Granat Mewarnai Pilkada 2024

Yuniati Turjandini 06 Sep 2024 Tempo
WAKIL Ketua Umum Partai Amanat Nasional Viva Yoga Mauladi bergegas menghubungi Bustami Hamzah setelah bakal calon gubernur dalam pemilihan kepala daerah Aceh itu mendapat teror. Viva menanyakan kondisi Bustami dan kerabatnya di Aceh. “Beliau mengatakan kepada saya bahwa kondisinya baik-baik saja,” kata Viva kepada Tempo, Kamis, 5 September 2024.

Partai politik Viva menjadi salah pendukung Bustami, yang berpasangan dengan Muhammad Yusuf Al Wahab dalam pilkada Aceh 2024. Selain PAN, partai pendukung Bustami-Yusuf adalah Partai NasDem, Partai Golkar, Partai Gelora, Partai Adil Sejahtera Aceh, Partai Generasi Aceh Bersatu Taat dan Takwa, serta Partai Darul Aceh. Koalisi partai ini mendaftarkan Bustami-Yusuf ke Komisi Independen Pemilihan Aceh—nama penyelenggara pemilihan di Aceh—sebagai calon Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh pada 29 Agustus 2024.

Empat hari setelah pendaftaran itu, Bustami mendapat teror. Kediaman penjabat Gubernur Aceh yang berada di Desa Pineung, Kecamatan Syiah Kuala, Kota Banda Aceh, itu dilempari bahan peledak yang diduga granat. Insiden itu terjadi tepat setelah azan salat subuh berkumandang pada Senin, 2 September 2024. Ledakan granat itu menghancurkan pekarangan rumah Bustami. Vas bunga, kursi, dan dinding rumah di sekitar pekarangan hancur akibat ledakan tersebut. (Yetede)

Deflasi Bertubi-tubi Karena Krisis

Yuniati Turjandini 06 Sep 2024 Tempo
SEJAK Mei 2024, terhitung sudah empat bulan indeks harga konsumen melandai. Teranyar pada Agustus lalu, Badan Pusat Statistik mencatat terjadi deflasi 0,03 persen secara bulanan. Selama empat bulan beruntun terjadi deflasi di Tanah Air. Deflasi 0,03 persen secara bulanan tercatat pada Mei 2024; 0,08 persen pada Juni 2024; 0,18 persen pada Juli 2024; dan 0,03 persen pada Agustus 2024.

Deflasi secara bertubi-tubi biasanya terjadi saat krisis. Setelah krisis finansial Asia pada 1997, Indonesia mengalami deflasi selama tujuh bulan berturut-turut, dari Maret hingga September 1999. Selama periode tersebut, deflasi terutama disebabkan oleh depresiasi nilai tukar dan penurunan harga beberapa jenis barang. Periode deflasi lain terjadi antara Desember 2008 dan Januari 2009, saat terjadi krisis finansial global. Ketika itu deflasi dipicu oleh penurunan harga minyak dunia serta melemahnya permintaan domestik.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik Pudji Ismartini menyebutkan kondisi ini terjadi karena peningkatan pasokan barang dan jasa yang berkontribusi pada indeks harga konsumen. Saat pasokan meningkat, harga cenderung turun. Seperti pada Agustus lalu, kontributor utama deflasi berasal dari makanan, minuman, dan tembakau. BPS mengaitkannya dengan kedatangan musim panen raya hingga data penurunan harga pangan, seperti produk hortikultura dan peternakan. (Yetede)

Dominasi Politikus dalam Jajaran Anggota BPK

Yuniati Turjandini 06 Sep 2024 Tempo
DOMINASI politikus dalam jajaran anggota Badan Pemeriksa Keuangan yang baru terpilih makin memupuskan harapan perbaikan performa lembaga auditor negara. Selama ini kehadiran anggota yang berlatar belakang politikus lebih banyak berdampak negatif bagi BPK. Alih-alih meningkatkan citra dan kinerja lembaga auditor negara itu, mereka justru memperburuknya. Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat yang membidangi keuangan telah mengumumkan hasil seleksi anggota BPK periode 2024-2029, setelah melakukan uji kepatutan dan kelayakan pada 2-4 September 2024. Mereka memilih 5 dari 75 kandidat yang mendaftar, yakni Akhsanul Khaq, Bobby Adhityo Rizaldi, Budi Prijono, Daniel Lumban Tobing, dan Fathan Subchi.

Tiga dari lima anggota BPK yang dipilih itu merupakan politikus. Bobby berasal dari Partai Golkar, Daniel dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, dan Fathan dari Partai Kebangkitan Bangsa. Adapun Budi Prijono merupakan Inspektur Jenderal Kementerian Pertahanan dan Akhsanul Khaq sebelumnya adalah Auditor Utama I BPK. Kelima anggota BPK pilihan DPR ini akan bergabung dengan empat anggota yang sudah ada, yang dua di antaranya juga berlatar belakang politikus.  Hasil pemilihan ini membuktikan sejumlah kasus korupsi yang telah menyeret nama anggota BPK berlatar belakang politikus gagal membuka nurani DPR. Karena itu, berlebihan bila kemudian kita berharap BPK akan menjadi lebih baik dengan kehadiran para anggota baru tersebut. (Yetede)

Tergusurnya Sawah Produktif demi PIK 2

Yuniati Turjandini 06 Sep 2024 Tempo
HINGGA akhir masa pemerintahannya, Presiden Joko Widodo terus mendorong akselerasi pembangunan infrastruktur melalui proyek strategis nasional (PSN). Pada 18 Maret 2024, pemerintah menetapkan 14 PSN baru yang seluruh pembiayaannya berasal dari investor swasta. Jumlah itu terdiri atas delapan kawasan industri, dua kawasan pariwisata, dua jalan tol, satu kawasan pendidikan dan kesehatan, serta satu proyek migas lepas pantai. 

Salah satu PSN baru yang disetujui tersebut adalah proyek Pantai Indah Kapuk 2 (PIK 2) di Provinsi Banten. Proyek ini berupa pengembangan green area dan eco-city di lahan seluas 1.756 hektare. Sebagai destinasi pariwisata hijau dengan nilai investasi Rp 65 triliun, kawasan Tropical Coastland PIK 2 ini diklaim juga akan mengakomodasi kawasan wisata bakau. Sejak mendapat status PSN, proyek PIK 2 berjalan makin cepat, terutama dalam hal pembebasan lahan. Warga di sejumlah kawasan di sekitar proyek melaporkan pembebasan lahan yang makin agresif sejak Maret 2024. PIK 2 terindikasi memanfaatkan statusnya sebagai PSN untuk melakukan pembebasan lahan warga secara masif. 

Proyek dengan status PSN, sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2021, mendapat sejumlah kemudahan, dari jaminan pemerintah, termasuk jaminan untuk kredit; kemudahan perizinan usaha dan pengadaan tanah; kemudahan penyelesaian masalah hukum terkait dengan proyek; hingga penanganan dampak sosial dari proyek oleh pemerintah.  Atas nama PSN, PIK 2, yang secara jelas adalah entitas bisnis swasta skala besar, mengambil alih lahan warga secara intimidatif. Pembebasan lahan oleh PIK 2 pasca-PSN terindikasi sebagai upaya perluasan lahan proyek PIK 2 secara signifikan dari luas awal proyek yang semula “hanya” 1.756 hektare. (Yetede)

Berbagai Hambatan Menuju Program Prioritas

Yuniati Turjandini 06 Sep 2024 Investor Daily (H)
Sejumlah kementerian/lembaga ramai-ramai meminta tambahan anggaran tahun 2025 demi menjalankan program prioritas, setelah sebelumnya dipangkas Kementerian Keuangan. Namun permintaan ini menghadapi tantangan berat dari terbatasnya kemampuan fiskal akibat besarnya hutang dan bunga jatuh tempo pada 2025-2026. Seiring dengan itu, sejumlah kalangan khawatir sejumlah program prioritas kementerian terancam tersendat, jika penambahan anggaran tidak terpenuhi. Ini akan merugikan Indonesia ditengah upaya menjaga pertumbuhan ekonomi. Apalagi, Prabowo Subianto, Presiden Terpilih memasang target pertumbuhan ekonomi ambisius, yakni 8% per tahun, agar Indonesia menjadi negara maju. Target ini membutuhkan sokongan kuat dari sisi fiskal, kebijakan, hingga dunia usaha. Akan tetapi, jika penambahan anggaran disetujui, ruang fiskal penambahan baru akan makin sempit. Selain itu, defisit APBN bisa semakin membengkak, jika penambahan anggaran tidak diimbangi pendapatan negara atau realokasi pagu dari K/L lain. (Yetede)

Pengembangan Energi Nuklir di Indonesia Sudah di Ambang Pintu

Yuniati Turjandini 06 Sep 2024 Investor Daily (H)
Pengembangan energi nuklir di Indonesia sudah di ambang pintu. Hal ini seiring dengan disahkannya rancangan Peraturan Pemerintah tentang Kebijakan Energi Nasional (KEN). Pemerintah dan DPR telah mencapai kata mufakat dalam revisi Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2014 tentang KEN. Dalam PP 79/2014 disebutkan energi pengembangan nuklir  merupakan pilihan terakhir. Artiannya nuklir mulai dimanfaatkan  jika pengembangan seluruh potensi  energi terbarukan masih belum cukup dalam pemenuhan  kebutuhan energi nasional. Dalam pengembangan KEN usulan pemerintah disebuttkan, PLTN mulai dibangun pada 2032 dengan kapasitas 250 megawatt (MW). Naskah revisi KEN versi pemerintah itu menekankan energi nuklir sebagai penyeimbang yang perlu dimanfaatkan. (Yetede)

Program Restrukturisasi Perbankan

Yuniati Turjandini 06 Sep 2024 Investor Daily

Pada Januari 2025, program restrukturisasi perbankan (PRP) mulai berjalan untuk menangani permasalahan perbankan yang membahayakan perekonomian nasional. Perbankan juga akan membayar premi PRP kepada Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) yang menjalankan program tersebut. Nantinya perbankan membayar premi PRP dua kali dalam satu tahun setiap awal semester. Pada periode Januari-Juni akan dibayar pada Januari, lalu periode Juli-Desember akan dibayar pada Juli.

Besaran premi juga tidak sama, akan tergantung peringkat kompositnya, mulai dari 0,0% sampai dengan 0,0065%. Aturan ini resmi diteken Presiden Joko Widodo dalam Peraturan Pemerintah  No 34/2023 tentang Besaran Bagian Premi atau Pendanaan Program Restrukturisasi Perbankan pada 16 Juni 2023. Ketua Dewan Komisioner LPS Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan, premi tersebut diperlukan sekali ketika sistem keuangan terguncang, sehingga industri perbankan tidak meminjam uang pemerintah tetapi menggunakan uangnya industri perbankan sendiri dari premi PRP tersebut ketika bank mengalami kejatuhan. (Yetede)

Penerbangan Internasional Langsung Ke Belitung Akan Menarik Investor

Yuniati Turjandini 06 Sep 2024 Investor Daily
Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraft) Sandiaga Salahudin Uno mengupayakan penerbangan internasional lansung ke Belitung, Bangka Belitung (Babel), untuk meningkatkan kunjungan wisata ke daerah ini. "Kami akan berusaha membantu penerbangan internasional dapat masuk ke Belitung, karena ingin menarik banyak wisatawan dan investasi kesini. Kita ingin lebih banyak penerbangan lebih banyak ke sini," Kata Sandiaga. Menurut dia, sudah ada dua negara yang tertarik atau berniat untuk membuka penerbangan langsung ke Belitung. yakni dari Singapura dan Malaysia (kuala Lumpur). "Mudah-mudahan ini bisa kita wujudkan, Bapak Menteri Perhubungan mendukung, Bapak Presiden juga mendukung," ujar dia. Ia mengatakan, dengan adanya penerbangan langsung dari Singapura dan Malaysia akan menarik Investor untuk berinvestasi di kawasan KEK. (Yetede)

Memindahkan Impor ke wilayah Indonesia Timur Bukan Solusi Efektif

Yuniati Turjandini 06 Sep 2024 Investor Daily

Rencana pemerintah untuk memindahkan kegiatan impor tujuh komoditas ke wilayah Indonesia Timur dinilai bukan sebagai solusi yang efektif untuk mengatasi permasalahan impor ilegal. Sebaliknya, kebijakan tersebut justru berpotensi menjadi beban tambahan bagi industri dan ritel nasional dalam bentuk tambahan biaya  logistik yang harus ditanggung. "Infrastruktur di Indonesia Timur masih belum memadai jika dibandingkan dengan kawasan Indonesia Barat, terutama terkait transportasi dan logistik.

Selain itu, biaya operasional yang tinggi, termasuk transportasi dan distribusi, akan terdampak pada kenaikan harga barang di pasar," ujar Ketua Umum Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) Budihardjo Iduansjah. Hippindo menawarkan solusi yang lebih efektif untuk menangani impor ilegal yaitu dengan memperkuat pengawasan dan penegakan hukum di seluruh pelabuhan Indonesia. Peningkatan kolaborasi dengan pihak terkait untuk menertibkan pelaku impor ilegal sangat dibutuhkan. Asosiasipun mendorong pemerintah untuk memperbanyak produksi dalam negeri. (Yetede)

Antrean IPO Menyusut di Tengah Skandal

Hairul Rizal 06 Sep 2024 Kontan (H)

Hajatan initial public offering (IPO) saham sepi. Sudah sebulan terakhir, belum ada calon emiten baru yang melakukan penawaran umum saham perdana. Bahkan, jumlah emiten dalam pipeline IPO Bursa Efek Indonesia (BEI) menciut. Tercatat, ada lima calon emiten yang mundur dari rencana IPO di bursa. Penurunan jumlah pipeline IPO ini terjadi di tengah kasus suap IPO yang melibatkan karyawan BEI. Per 30 Agustus 2024 lalu, BEI mencatat, hanya ada 23 calon emiten yang berada dalam antrean IPO. Sebanyak 17 di antaranya, merupakan perusahaan skala menengah dengan nilai aset Rp 50 miliar hingga senilai Rp 250 miliar. Sedangkan lima perusahaan lainnya berskala besar, dengan aset di atas Rp 250 miliar, dan hanya ada hanya ada satu calon emiten dengan skala kecil yang memiliki nilai aset di bawah Rp 50 miliar. Pencatatan saham IPO terakhir kali dilakukan pada 8 Agustus 2024, yakni IPO saham PT Esta Indonesia Tbk (NEST). NEST menjadi emiten ke 34 yang listing pada tahun 2024 ini. Jumlah nilai emisi yang dikantongi emiten saham baru dari IPO ini sebesar Rp 5,15 triliun. I Gede Nyoman Yetna, Direktur Penilaian Perusahaan BEI mengatakan, menyusutnya jumlah pipeline IPO disebabkan ada keputusan internal perusahaan-perusahaan tersebut untuk menunda maupun berdasarkan evaluasi manajemen bursa. Nyoman menampik mundurnya calon emiten dari rencana IPO berkaitan dengan isu skandal gratifikasi yang masih diselidiki lebih lanjut. 

Di sisi lain, Pengamat Pasar Modal dan Guru Besar Keuangan dari Universitas Indonesia, Budi Frensidy mengatakan, sepinya hajatan penawaran umum perdana saham tak bisa dipungkiri disebabkan oleh mencuatnya dugaan kasus gratifikasi yang dilakukan oknum karyawan BEI. Seperti diketahui. BEI dikabarkan telah melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terhadap lima karyawannya. Ini merupakan buntut pelanggan oknum karyawan yang meminta imbalan dan gratifikasi atas jasa penerimaan emiten. Adapun kelimanya merupakan karyawan pada divisi penilaian perusahaan. Divisi ini bertanggung jawab terhadap penerimaan calon emiten saham. Kuat dugaan kelima karyawan tersebut meminta sejumlah uang imbalan kepada calon emiten. Komisi XI DPR pun berencana segera memanggil otoritas pasar modal untuk mendalami kasus tersebut. Pengamat Pasar Modal, Satrio Utomo mengatakan, sebenarnya minat perusahaan untuk melakukan IPO di bursa saham masih banyak. Di sisi lain, para investor menginginkan IPO yang bagus. Sementara analis Kanaka Hita Solvera, Daniel Agustinus mengatakan, sebaiknya BEI memang lebih selektif dalam menyaring saham-saham yang baru IPO tersebut. "Ini agar investor tidak dirugikan," tandasnya.

Pilihan Editor