Indonesia dan Korea Selatan Bekerja Sama dalam Pengelolaan Bandara Asing
Hambatan Rasio Pajak
Pemerintah Mendorong Investasi Energi Bersih dan Orientasi Ekspor
Industri Alat Kesehatan dalam Negeri Mengalami Pertumbuhan Pesat Pascapandemi
Digitalisasi di Sektor Pertanian Terus Digalakkan oleh Pemerintah
Industri Perhiasan Capai Ekspor US$ 3,94 Juta
Pelaku Usaha Berharap Kabinet Baru Bisa Mengatasi Perekonomian yang Lemah
OJK Menyebut Dua UUS Melakukan Spin Off
Hartono Bersaudara di Balik Sepak Terjang Aplikasi BliBli
Intelektual Kelas Kambing
NOAM Chomsky pernah mengungkapkan hal yang sebetulnya menjadi tanggung jawab kaum intelektual. Ia berkata: "Intellectuals are in a position to expose the lies of governments, to analyze actions according to their causes and motives and often hidden intentions (Noam Chomsky, The Responsibility of Intellectuals, 1967). Ungkapan Chomsky ini dapat dimaknai setidaknya dalam tiga hal: pertama, peran dan fungsi kelompok intelektual bukanlah untuk bermesra-mesraan dengan kekuasaan. Kelompok intelektual harus mampu menjaga jarak dengan kekuasaan. Haram hukumnya bagi kelompok intelektual untuk bermanja-manja dengan penguasa.
Kedua, kaum intelektual tidak boleh didikte dan dikendalikan kekuasaan. Sebaliknya, kelompok intelektual-lah yang harus mendikte kekuasaan. Kaum intelektual harus mampu membongkar kebohongan pemerintah, menganalisis intensi atau niat tersembunyi di baliknya, serta memaksanya kembali ke jalan yang benar. Ketiga, kerja-kerja kaum intelektual harus diletakkan pada kerangka kerja advokasi problem pokok rakyat banyak. Kaum intelektual harus bersenyawa dengan mereka yang ditindas oleh sistem. Bukan justru bersekutu dengan para penindasnya. Problemnya, kaum intelektual kita seolah-olah buta dan tuli terhadap situasi yang berkembang. Bahkan tidak sedikit yang pura-pura tidak tahu masalah yang sedang terjadi demi mendapatkan “posisi aman”. Mereka dengan sengaja membunuh insting kemanusiaannya, melumpuhkan komitmen serta tanggung jawab sosialnya. (Yetede)









