Indonesia Berpeluang Menjadi Pemain Kunci Pasar Emas Global
Bank emas memiliki potensi besar untuk mendongkrak perekonomian Indonesia, seperti yang disampaikan oleh Menteri BUMN Erick Thohir. Kehadiran bank emas diprediksi dapat meningkatkan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia sebesar Rp245 triliun dan menciptakan sekitar 800.000 lapangan kerja. Bank emas diharapkan dapat memperkuat ekosistem penghiliran emas di Indonesia, memberikan manfaat ekonomi bagi negara dan masyarakat, serta berkontribusi sekitar 1,1% terhadap PDB Indonesia pada 2024.
Selain itu, keberadaan bank emas juga berpotensi meningkatkan cadangan devisa Indonesia, karena emas menjadi komoditas yang stabil dan terus naik harganya dalam jangka panjang. Trioksa Siahaan, Head of Research LPPI, menjelaskan bahwa dengan adanya bank emas, Indonesia dapat lebih mudah mendeteksi dan menyimpan logam mulia, yang pada gilirannya akan memberi dampak positif pada perekonomian dan masyarakat.
Ibrahim Assuaibi, pengamat investasi komoditas, menambahkan bahwa bank emas akan melengkapi ekosistem hilirisasi komoditas emas yang sudah dirancang pemerintah, dan akan menjadi alternatif investasi yang menguntungkan bagi masyarakat. Selain itu, bank emas juga dapat menjadi sumber pendapatan negara melalui pajak.
Secara keseluruhan, bank emas di Indonesia diharapkan dapat memperkuat sektor ekonomi, menciptakan lapangan pekerjaan, dan memberikan manfaat finansial bagi masyarakat melalui investasi yang menguntungkan.
Bank Jatim Pastikan Kepatuhan terhadap Proses Hukum
Bank Jatim menunjukkan komitmennya untuk menghormati proses hukum terkait dugaan manipulasi pemberian kredit yang melibatkan Pemimpin Bank Jatim Cabang Jakarta. Fenty Rischana, Corporate Secretary Bank Jatim, menegaskan bahwa pihak manajemen berkomitmen penuh untuk mendukung pemeriksaan yang sedang berlangsung oleh Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta (Kejati DK Jakarta). Kasus ini terungkap setelah hasil pemeriksaan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan SKAI Bank Jatim, yang kemudian mendorong perseroan untuk melaporkan dugaan manipulasi kredit kepada aparat penegak hukum.
Bank Jatim memberikan apresiasi kepada Kejati DK Jakarta atas upaya cepat dalam penegakan hukum dan memastikan bahwa perusahaan akan terus beroperasi sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) serta menjaga prinsip Good Corporate Governance (GCG), seperti transparansi, akuntabilitas, dan fairness. Fenty juga menegaskan bahwa proses pemeriksaan terhadap tersangka terus berlanjut, dan Bank Jatim mengupayakan recovery asset untuk pemulihan kerugian secara optimal.
Pada akhirnya, Bank Jatim memastikan akan tunduk dan patuh terhadap ketentuan hukum yang berlaku, serta berkomitmen menjaga kelancaran operasional dan meningkatkan kepercayaan pemangku kepentingan.
Danantara: Pendatang Baru yang Mengguncang Ekonomi
Kepemilikan SBN oleh BI Diprediksi Meningkat
Daya Beli Melemah, Tantangan Berat bagi Emiten
Lebaran Diharapkan Dongkrak Permintaan Kredit Multiguna
Menyamarkan Jejak dari Penipuan Tiket Konser
Penipuan tiket konser yang marak terjadi via daring diketahui memakai rekening identitas orang lain sebagai penampung dana. Cara itu dipakai untuk menyamarkan aliran transaksi dari korban ke rekening penampung, yang kemudian berpindah lagi ke akun lain, sehingga jejak pelaku sulit dilacak. Hal itu terungkap dalam investigasi Kompas terhadap sejumlah penipuan tiket konser yang kasusnya diviralkan korban di media sosial. Kami mendatangi orang-orang yang identitasnya terdaftar sebagai rekening bank untuk penipuan. Kemudian, lewat bantuan mereka yang rekeningnya didaftarkan tersebut, kami melacak catatan mutasi rekening penampung.
Deputi Analisis dan Pemeriksaan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) Danang Tri Hartono membenarkan, penipu pada banyak kasus memakai rekening penampung dengan identitas lain untuk mengaburkan jejak aliran transaksi. Akun yang dipakai itu bisa berasal dari rekening hasil jual-beli atau hasil dari penyalahgunaan identitas. ”Tujuan utamanya agar pelaku tidak diketahui. Jejak pemilik manfaat atau pelaku penipuan jadi kabur,” ujar Danang di kantor PPATK, Jakarta, Jumat (7/2). Danang mengurai pola aliran transaksi pada penipuan tiket konser. Dari rekening penampung yang bertransaksi dengan korban itu, uang akan berpindah lagi ke akun rekening bank lain atau ke dompet digital. Kemudian, pelaku menarik tunai uang di gerai minimarket.
Dalam penipuan tiket konser, lanjutnya, rekening yang digunakan kemungkinan besar untuk satu aksi saja. Hal itu lantaran penipu mengantisipasi macetnya dana apabila mendadak terjadi pemblokiran. Dari catatan PPATK, sedikitnya ada 182 kasus terkait penipuan konser yang diadukan dengan total nilai transaksi mencurigakan sebesar Rp 2,3 miliar pada 2024. Sementara ada 180 kasus yang diadukan pada 2023 dengan total nilai transaksi mencurigakan Rp 3,1 miliar. Dari catatan PPATK, dalam berbagai kasus penipuan, jamak ditemukan penggunaan rekening dari pihak lain yang menyamarkan jejak transaksi kepada pelaku sesungguhnya. (Yoga)
MBG dan Hilirisasi untuk Kemanandirian Indonesia
Negara yang kuat adalah negara yang tak bergantung pada negara lain. Pemikiran ini sangat kuat mendasari Presiden Prabowo mewujudkan program Makan Bergizi Gratis atau MBG, efisiensi anggaran, hingga keinginan untuk segera mewujudkan megaproyek hilirisasi yang mandiri. Saat berbincang dengan pemimpin redaksi di kediamannya di Padepokan Garuda Yaksa, Hambalang, Bogor, Jabar, Sabtu (22/2), Presiden Prabowo justru mengaku heran dengan banyak pihak yang mempersoalkan program MBG. Dia menegaskan, banyak negara telah lama melakukannya. India, salah satu negara yang sudah 10 tahun melakukan program ini dan telah memberi makan gratis kepada 800 juta rakyatnya.
Prabowo pun bertekad jangan sampai ada anak Indonesia yang lapar. ”Saya tidak sampai hati saat bertemu mereka. Mau menangis. Tapi, saya tahan saja.” ujarnya. Ketika ditanya soal pelaksanaannya yang tersendat dan apakah melibatkan banyak mitra usaha UMKM, Prabowo langsung menghubungi Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana melalui teleponnya, dengan speaker yang dikeraskan. Sejurus kemudian terde- ngar suara Dadan. ”Sudah 71.000 mitra UMKM yang sudah masuk tahap verifikasi. Sampai saat ini sudah melayani 1,6 juta. Senin ini sudah 2.5 juta,” kata Dadan di ujung telepon menjawab Prabowo.
Presiden juga menyinggung efisiensi anggaran yang dilakukan untuk memperkuat kemandirian negara. Anggaran negara yang selama ini banyak dikeluarkan, menurut Prabowo, sangat banyak yang digunakan untuk hal-hal tidak perlu, seperti banyaknya perjalanan dinas. Pengeluaran pun hanya diukur berdasarkan serapan atau output, bukan dampaknya. Penghematan sudah dilakukan tiga tahap di masa pemerintahannya. Dari penghematan anggaran ini, Presiden Prabowo merencanakan untuk membiayai sejumlah megaproyek hilirisasi tambang secara mandiri, mulai bauksit, nikel, hingga batubara, yang apabila direalisasikan akan memiliki nilai tambah berkali kali lipat. (Yoga)
Tenjaganya Layanan Pendidikan yang Berkualitas
Pendidikan tinggi merupakan pusat keilmuan dan penggerak utama pertumbuhan ekonomi. Karena itu, efisiensi anggaran tak seharusnya mengurangi kualitas layanan pendidikan tinggi. Pernyataan Mendiktisaintek, Brian Yuliarto bahwa pemerintah berkomitmen mendukung akses ke pendidikan tinggi (Kompas, 22/2) menjadi janji pemerintah bahwa efisiensi anggaran pendidikan tidak akan berdampak pada kualitas layanan pendidikan. Pernyataan Mendiktisaintek bahwa efisiensi anggaran tak akan memengaruhi akses kuliah, mulai dari uang kuliah tunggal (UKT) hingga beasiswa mahasiswa, melegakan masyarakat. Tidak ada lagi kekhawatiran terhadap kenaikan UKT akibat keputusan efisiensi anggaran oleh pemerintah.
Demikian pula para mahasiswa penerima beasiswa tetap dapat melanjutkan studi dengan tenang tanpa khawatir putus kuliah karena ketiadaan biaya. Para calon mahasiswa dari keluarga tidak mampu juga tetap mempunyai harapan dapat melanjutkan pendidikan selepas SMA dengan mengandalkan beasiswa. Namun, efisiensi anggaran jelas memberikan tantangan dan langsung menghadang Brian yang dilantik menjadi Mendiktisaintek pada 19 Februari. Tantangan untuk menata kelola anggaran Kemendiktisaintek yang dipangkas Rp 14,3 triliun dari pagu awal Rp 56,607 triliun.
Dengan komitmen tidak memotong anggaran subsidi UKT, beasiswa mahasiswa ataupun dosen, hingga sertifikasi dosen, pemotongan anggaran hingga 25 % yang semula direncanakan untuk pos-pos tersebut (Kompas, 14/2) harus dialihkan ke pos-pos lain yang tidak terkait layanan pendidikan. Pos-pos lain tersebut, antara lain, perjalanan dinas, seminar, alat tulis kantor, peringatan dan perayaan, serta kegiatan seremonial lainnya. Konsekuensi tersebut tidak hanya harus ditanggung jajaran Kemendiktisaintek, tetapi juga perguruan tinggi negeri. Untuk perguruan tinggi, anggaran bantuan operasional perguruan tinggi negeri (BOPTN) termasuk yang memungkinkan dipangkas, dengan catatan pemangkasan ini tidak boleh memengaruhi keputusan kampus soal UKT. Tantangan bagi pengelola perguruan tinggi untuk lebih kreatif mengoptimalkan potensi sumber daya kampus. (Yoga)
Perlunya Merevisi Target Penerimaan Negara
Pemerintahan Prabowo diawali dengan berbagai kebijakan baru yang bakal berdampak pada penerimaan negara tahun 2025, pajak ataupun nonpajak. Sejumlah kalangan menilai pemerintah mau tidak mau perlu merevisi target penerimaan dengan mengajukan pembahasan APBN Perubahan agar transparan. Penerimaan pajak di awal tahun 2025 diperkirakan turun dibanding tahun sebelumnya akibat sejumlah faktor penghambat, antara lain sistem perpajakan baru Coretax yang sampai saat ini masih bermasalah, kenaikan PPN yang batal berlaku secara umum, serta dampak berlakunya formula baru tarif efektif rata-rata (TER) dalam pemungutan PPh 21. Bukan hanya pajak, target penerimaan negara bukan pajak (PNBP) juga terancam turun.
Dengan berdirinya Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara), dividen BUMN yang selama ini merupakan sumber PNBP akan diinvestasikan ke Danantara. Otomatis target PNBP juga akan turun. Konsultan pajak dari PT Botax Consulting Indonesia, Raden Agus Suparman, Sabtu (22/2) memprediksi, target penerimaan di APBN 2025 akan direvisi akibat sejumlah kebijakan di awal tahun itu. Pasalnya, dari segi pajak, penerimaan PPN pasti turun akibat kenaikan PPN yang batal berlaku secara umum, sistem Coretax yang bermasalah, dan efek efisiensi anggaran. ”Banyak belanja pemerintah yang dipangkas dengan efisiensi.
Efisiensi yang memangkas anggaran sampai Rp 306 triliun ini akan berpengaruh pada penerimaan PPN. Misalnya, pengadaan belanja alat rumah tangga (ATK) kantor pemerintahan akan berpengaruh pada penerimaan PPN,” kata Raden. Dari segi nonpajak, penerimaan PNBP akan ikut turun akibat dividen BUMN yang tidak lagi disetorkan ke kas negara, tetapi ke Danantara. Raden menilai, jika target penerimaan direvisi, APBN 2025 juga perlu diubah. Idealnya, pemerintah dan DPR merevisi postur APBN itu dengan membahas APBN-Perubahan (APBN-P). Proses pembahasan melalui APBN-P perlu dilakukan secara terbuka dan transparan di parlemen. (Yoga)









