Intervensi Setiap Hari Demi Laju Ekonomi
Genjot Sosialisasi Cek Kesehatan Gratis yang Belum Optimal
Amman Berharap Flexibilitas Ekspor Konsentrat Tembaga Tahun Ini
Laju Pertumbuhan Kredit Industri Perbankan di Awal Tahun Memang Biasanya Cenderung Landai
Sejumlah Pihak Khawatir UU Minerba Berisiko Merusak Tata Kelola Tambang
Kementerian Pertanian Angkat Bicara Menanggapi Satu Kasus Antraks yang Terjadi di Desa Tileng
Pasar Cemas Efek Kebijakan Trump dan Kenaikan Harga Emas
Luhut soal Prabowo Pangkas Anggaran hingga Tiga Putaran
Langkah BI di Tengah Ketidakpastian
Ekonomi Indonesia mengalami pelambatan, Bank Indonesia (BI) memilih untuk tidak segera melanjutkan siklus pelonggaran moneter dengan menurunkan suku bunga acuan, tetap mempertahankan suku bunga di level 5,75%. Gubernur BI, Perry Warjiyo, menegaskan bahwa stabilitas nilai tukar rupiah menjadi prioritas utama, mengingat pentingnya menjaga kestabilan ekonomi dalam menghadapi dinamika global. Meskipun ada tekanan dari sektor pengusaha dan perbankan yang berharap penurunan suku bunga untuk memacu ekspansi bisnis, BI memutuskan untuk memberikan waktu agar dampak dari pemotongan suku bunga sebelumnya dapat bekerja.
Haryo Kuncoro, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Negeri Jakarta, menjelaskan bahwa keputusan BI untuk mempertahankan suku bunga dapat dipahami, mengingat pemotongan suku bunga di awal tahun sudah cukup signifikan, dan dampaknya perlu waktu untuk terasa. Sementara itu, para bankir dan pengusaha berharap adanya penurunan suku bunga untuk meringankan biaya pinjaman, terutama untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan mempercepat ekspansi bisnis. Namun, BI juga meningkatkan insentif untuk bank yang memberikan pinjaman di sektor prioritas seperti perumahan, guna mendukung sektor-sektor tersebut dalam kondisi suku bunga yang tinggi.
Menjaga Stabilitas di Era Gejolak Global
Keputusan Bank Indonesia (BI) untuk mempertahankan suku bunga acuan BI Rate di level 5,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 18–19 Februari 2025 menunjukkan sikap kehati-hatian dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi global. Keputusan ini diambil dengan mempertimbangkan upaya menjaga inflasi tetap terkendali, stabilisasi nilai tukar rupiah, serta mendukung pertumbuhan ekonomi nasional. Meskipun di dalam negeri inflasi relatif terkendali, BI tetap waspada terhadap pergerakan nilai tukar rupiah yang terpengaruh oleh kebijakan ekonomi eksternal, terutama dari AS.
Dari sisi perbankan, keputusan ini memberikan kepastian dalam menghadapi dinamika pasar, meski perbankan berharap BI dapat fleksibel dalam menyesuaikan kebijakan suku bunga ke depan. Pemerintah juga diharapkan lebih gesit dalam mendukung stabilitas ekonomi melalui kebijakan fiskal yang akomodatif, seperti insentif pajak dan stimulus ekonomi.
Ke depan, kebijakan suku bunga BI akan sangat dipengaruhi oleh kebijakan The Fed dan dinamika ekonomi global. Jika The Fed menurunkan suku bunga lebih agresif, BI mungkin memiliki ruang lebih besar untuk pelonggaran kebijakan moneter. Oleh karena itu, keseimbangan antara stabilitas ekonomi dan pertumbuhan ekonomi menjadi kunci dalam kebijakan moneter BI.









