Masa Depan Internet Terang, tetapi Literasinya Masih Kurang
Beberapa tahun ke depan, konsumsi masyarakat mengakses media daring diprediksi akan menggeser kebiasaan mengakses media mainstream, yang ditandai tingginya pola akses media digital oleh anak muda. Kelompok usia muda berdasarkan survei Litbang Kompas lebih sering membuka gawai untuk mengakses media sosial dibandingkan dengan kelompok usia menengah dan usia tua. Responden kelompok muda menyatakan mengakses media sosial setiap hari. Platform aplikasi daring, seperti Instagram, Facebook, dan Whatsapp, paling sering diakses, baik sebagai sarana percakapan maupun sebagai konten informasi.
Namun, dalam pola kebiasaan konsumsi media ini, bisa dikatakan audiens bersifat pasif. Bagi operator penyedia jasa jaringan internet, tingginya penetrasi internet di Indonesia menjadi peluang bisnis. Bagi masyarakat, kemudahan akses internet semestinya menjadi tantangan agar lebih produktif dan memperkaya khazanah pengetahuan. Di sektor ekonomi, penggunaan internet oleh UMKM cukup tinggi. Data APJII menyebutkan, 87,4 % UMKM telah menggunakan internet untuk mendukung kelangsungan usahanya.
Hasil survei Litbang Kompas ini menunjukkan audiens di semua kelompok usia mayoritas sudah menyatakan puas dengan informasi yang disajikan oleh media sosial, yakni 91,4 %. Sikap puas tersebut menegaskan bahwa sebagian besar masyarakat masih berada pada level konsumen informasi dari internet, tetapi kurang kritis terhadap konten yang disajikan oleh internet karena sudah merasa puas dengan informasi yang tersaji. Gambaran ini menunjukkan belum kuatnya literasi digital di kalangan masyarakat. Akan tetapi fenomena pertumbuhan pengguna internet merupakan hal positif. Data APJII periode Juni 2022 menunjukkan masyarakat terkoneksi ke internet melalui beragam cara. Mayoritas menggunakan data seluler (77,64 %) dan koneksi Wi-Fi di rumah (20,61 %). (Yoga)
Deglobalisasi dan Populisme Ekonomi
Council on Foreign Relations menulis bagaimana ketimpangan pendapatan di AS meningkat dalam beberapa dekade terakhir. Ketimpangan di AS bahkan relatif tinggi dibandingkan banyak negara maju lain. Krisis keuangan global 2008, pemulihan ekonomi yang lambat dan timpang, dan gejolak ekonomi akibat Covid-19 telah memperburuk situasi ini. Di Indonesia, data BPS menunjukkan, sejak September 2015 angka rasio ini mengalami penurunan sampai dengan September 2019. Meski demikian, pandemi Covid-19 telah melebarkan ketimpangan pendapatan, walau kembali menurun pada Maret 2021. Program perlindungan sosial seperti BLT, Program Keluarga Harapan (PKH) banyak memberikan kontribusi untuk perbaikan ini.
Perang Rusia-Ukraina telah memberikan tekanan baru pada kelompok rentan akibat kenaikan harga pangan. Integrasi global membuat kenaikan harga makanan dan energi, bahkan akibat konflik Rusia-Ukraina terasa di Indonesia. Ketimpangan pendapatan juga mendorong penolakan pada globalisasi. Dalam hal vaksin dan pangan, demi memenuhi kebutuhan domestik, beberapa negara membatasi ekspornya. Dalam hal pangan, sudah lebih dari 20 negara membatasi ekspornya. Kebijakan ini hanya memperburuk situasi ekonomi dunia karena pembatasan ekspor akan membuat harga pangan terus melonjak. Akibatnya kelompok rentan semakin terpukul.
Prospek keberlanjutan reformasi ekonomi menjadi tak pasti. Tak mengejutkan jika tekanan politik menguat, kebijakan yang muncul akan bersifat populis. Dan ini tak hanya terjadi di Indonesia. Di Indonesia, kita sudah melihat gejalanya dalam berbagai kebijakan saat ini : keengganan pemerintah untuk mengurangi subsidi BBM, walau bebannya amat berat dan lebih membawa manfaat bagi kelas menengah atas kontrol harga atas beberapa komoditas, pelarangan ekspor kelapa sawit yang akhirnya dibatalkan beberapa waktu lalu. Kebijakan ekonomi yang baik kerap kali pahit dan miskin tepuk tangan. Namun, mengambil langkah tak populer juga tak mudah, karena politisi tak akan mendukung sepenuhnya reformasi yang tak popular. (Yoga)
Jadi Korban Karena Lemah Perlindungan
Kakak adik itu masih anak-anak. Sang Kakak Khairil, 9 tahun dan adiknya, Hasril 5 tahun. Dalam usia sangat belia itu, mereka harus merasakan kenyataan hidup yang sangat pahit. Delapan bulan mereka mendekam di rumah tahanan imigrasi (Depot Tahanan Imigresen/DTI) Tawau, Sabah, Malaysia. Di tempat itu pula mereka kehilangan sang ayah yang selama ini menjadi sandaran hidup. "Kami temukan mereka di Pelabuhan Tunon Taka, Nunukan pada Oktober 2021," kata Koordinator Koalisi Buruh Migran Berdaulat (KBMB), Abu mufakir, kepada Tempo, kemarin.
"Mereka kami pulangkan ke rumah neneknya di Bulukumba, Sulawesi Selatan," Mereka dilahirkan di sebuah kawasan perkebunan sawit di Lahad Datu, Tawau, Sabah. Kelahiran mereka tak pernah tercatat dalam administrasi otoritas Sabah ataupun di Kabupaten Bulukumba tepat kelahiran bapak-ibunya. Pada Maret 2021 Aris mengajak kakak adik itu pulang ke Bulukumba. Nahas truk pengangkut sawit yang mereka tumpangi terjaring razia kepolisian Malaysia. Mereka dijebloskan ke DTI Tawau bersama puluhan imigran lain yang ikut terjaring. (Yetede)
Perlindungan Buruh Migran Bukan Hanya Tanggung Jawab Kami
Laporan terbaru Tim Pencari Fakta Koalisi Buruh Migran Berdaulat (KBMB) tak hanya menyudutkan pemerintah Malaysia, tapi juga Indonesia. Sedikitnya 149 warga negara Indonesia meninggal di Depot Tahanan Imigran di Sabah, Malaysia, sejak awal 2021 hingga Juni 2022. Banyak pekerja migran yang dideportasi menderita sakit, ditengarai akibat buruknya perlakuan yang mereka alami selama mendekam dalam rumah detensi imigrasi. Kepala Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI), Benny Rhamdani, termasuk yang tertohok oleh laporan tersebut. Ditemui Avit Hidayat dari Tempo di kantornya, Senin 27 Juni 2022, benny mengaku telah menerima informasi tentang buruknya perlakuan terhadap pekerja migran di rumah tahanan imigrasi Malaysia. "Saya itu datang langsung ke Kedutaan Besar Malaysia di Jakarta. Selain bertemu untuk urusan penempatan, saya menyampaikan protes langsung agar ini menjadi perhatian serius pemerintah Indonesia," kata Benny. (Yetede)
Potensi Besar Kiriman Uang Pahlawan Devisa
Pemerintah didorong untuk mengembangkan potensi remitansi alias pengiriman uang dari luar negeri oleh buruh imigran, yang sempat menurun akibat pandemi Covid-19. Direktur Eksekutif Migrant Care, Anis Hidayah, mengatakan arus remitansi melemah 20% karena pembatasan mobilitas selama dua tahun terakhir. Sepanjang 2020, dana kiriman buruh imigran itu berkisar Rp160 triliun. "Padahal biasanya bisa lebih dari Rp185 triliun. Potensinya masih bisa didorong lagi," ucap Anis kepada Tempo, kemarin. Meskipun nilainya turun, Anis menilai remitansi buruh migran tetap berkontribusi jumbo terhadap perekonomian Indonesia, khususnya untuk pembangunan di daerah. "Kalau tidak ada sumbangan devisa dari remintansi, kita bisa kolaps selama dua tahun pandemi," Biasanya remintansi pekerja Indonesia pun dianggap masih terlalu tinggi, yaitu di atas 2%. Saat ini rata-rata biaya remintansi secara global adalah 6%. (Yetede)
Pertalite Hanya Bagi Mobil Bermesin di Bawah 2,000 cc
Masyarakat kelas menengah tidak akan leluasa membeli BBM subsidi. Pasalnya, pemerintah bersiap membatasi konsumsi Pertalite dan Solar. Dalam kajian awal, pemilik mobil dengan kapasitas di atas 2.000 cc dilarang membeli Pertalite.
"Sementara hasil kajiannya begitu (untuk kendaraan di atas 2.000 cc)," ungkap Saleh Abdurrahman, Anggota Komite BPH Migas, kepada KONTAN, Senin (27/6).
Optimisme di Tengah Bom Aneka Tantangan
Ketidakpastian masih menyelimuti ekonomi global tak menyurutkan semangat optimisme atas arah ekonomi Indonesia di 2023.
Ini nampak dari keputusan Pemerintah dan Badan Anggaran (Banggar) Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang menyepakati asumsi pertumbuhan ekonomi di tahun depan di kisaran 5,3% - 5,9%, lebih tinggi dibanding outlook tahun ini sebesar 4,8% - 5,5%. Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti juga menyebut ada risiko gejolak ekonomi global penuh ketidakpastian.
Selain itu lonjakan harga energi dan pangan menyebabkan banyak negara berkembang kesulitan. Ia memperkirakan, pertumbuhan ekonomi 2023 berada pada kisaran 4,5% - 5%.
Ekonom Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Yusuf Rendy Manilet melihat jika tahun depan Indonesia bisa tumbuh seperti sebelum pandemi, yakni tumbuh 5,17% atau tumbuh 5,2% di 2019 sudah bagus. "Artinya ingin dicapai 5,3%-5,9% perlu extra ordinary pemerintah," katanya.
Pesona Baru dari Bisnis Non Emas
Ekspansi PT Merdeka Copper Gold Tbk lewat aksi akuisisi membetot perhatian investor. Aksi ini menopang produksi emas, emiten bersandi saham MDKA ini yang sedang menurun.
Salah satu akuisisi yang dilancarkan MDKA adalah pembelian 55,67% saham PT Hamparan Logistik Nusantara (HPN) melalui anak usahanya, PT Batutua Tembaga Abadi. Selain akuisisi tambang nikel, MDKA juga bermitra dengan Hong Kong Brunp Catl Co. Ltd, pemasok terbesar baterai kendaraan listrik di dunia.
Analis Korea Investment Sekuritas Indonesia Edward Tanuwijaya dalam riset 17 Juni menulis, aksi akuisisi MDKA senilai US$ 693 juta bagi aset nikel tersebut, berpotensi menghasilkan keuntungan hingga US$ 2,7 miliar ke depannya. Akuisisi itu juga berpotensi memberikan kontribusi kas dengan initial return 10% per tahun, untuk dua tahun pertama karena smelter Cahaya Smelter Indonesia (CSI) dan Bintang Smelter Indonesia (BSI) sudah beroperasi sejak 2020.
Perbankan Rajin Perkuat Permodalan Untuk Ekspansi Bisnis
Memasuki tengah tahun, industri perbankan terus memperkuat permodalan. Berbagai strategi dipersiapkan sejumlah bank agar rasio kecukupan modal (CAR) semakin kokoh.
Bank Mandiri Taspen (Mantap) misalnya, berencana menggelar rights issue pada semester II 2022. Direktur Utama Bank Mandiri Taspen Elmamber P. Sinaga berharap aksi rights issue tersebut bisa menghimpun dana di kisaran Rp 500 miliar. Atas modal yang didapatkan, maka akan digunakan untuk memperkuat struktur permodalan dalam ekspansi bisnis ke depan," kata Elmamber, Jumat (24/6).
Transaksi Octo Mobile Bank CIMB Naik Dua Kali Lipat
PT Bank CIMB Niaga Tbk terus berinovasi menambah fitur dan layanan digital di OCTO Mobile. Hal ini guna meningkatkan transaksi mobile banking sehingga mengoptimalkan pendapatan berbasis komisi. Direktur Customer Banking CIMB Niaga Noviady Wahyudi menyatakan terjadi kenaikan transaksi OCTO Mobile hingga dua kali lipat saat ini. Hal ini berdampak positif terhadap pendapatan berbasis komisi. Ia menargetkan pendapatan komisi dari layanan digital ini bisa tumbuh hingga dua kali lipat.









