OJK Pastikan Likuiditas Perbankan Aman
JAKARTA-Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat likuiditas perbankan dalam level yang memadai dengan rasio yang terjaga. EVP Corporate Communication&Social Responsibility Bank BCA, Hera F. Haryn, menyebutkan likuiditas BCA juga terapantau aman. Rasio simpanan dalam bentuk giro dan tabungan atau current account saving account (CASA) BCA naik 15,1% secara tahunan atau mencapai Rp830,4 triliun per September 2022. "Nilai CASA berkontribusi hingga 81% dari total dana pihak ketiga. Pertumbuhan CASA menjadi penoang utama kenaikan dana pihak ketiga yang mencapai Rp 1.026 triliun. atau tumbuh 11% secara tahunan. Sekretaris Perusahaan Bank BRI, Aestika Oryza Gunarto, juga menyatakan kondisi likuiditas Perseroan saat ini terpantau cukup. "Hal ini terlihat dari loan to deposit ratio BRI yang secara konsolidasi terjaga dilevel 88,51% per September," ujarnya. (Yetede)
Mendagri: Percepat Penyerapan Anggaran
Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian kembali meminta pemerintah daerah menggenjot penyerapan anggaran daerah. Dari data Kemendagri, rata-rata realisasi belanja di tingkat kota hingga provinsi baru 65,75 % hingga 71,86 %. Dalam rapat membahas percepatan realisasi belanja daerah, di Jakarta, Senin (5/12), Tito mengatakan masih banyak anggaran daerah menumpuk di pos anggaran belanja tidak terduga dan dana bantuan sosial. (Yoga)
CADANGAN BERAS PEMERINTAH, Penyerapan Jorjoran Tak Tepat Saat Paceklik
Upaya memacu cadangan beras pemerintah melalui penyerapan produksi dalam negeri secara besar-besaran saat musim paceklik dinilai tidak tepat. Langkah ini justru meningkatkan permintaan di tengah keterbatasan suplai beras. Inflasi bahkan berisiko makin tinggi karena harga beras ikut naik. Pemerintah meminta Perum Bulog meningkatkan stok beras hingga 1,2 juta ton pada akhir 2022. Dengan stok sebesar itu, Bulog diharapkan memiliki stok yang cukup untuk mengintervensi pasar sekaligus menangani situasi darurat, seperti saat terjadi bencana alam, dengan cara meningkatkan penyerapan gabah/beras produksi domestik melalui skema komersial. Harga pembelian beras ditetapkan maksimal Rp 10.200 per kg di gudang Bulog.
Menurut Direktur Perencanaan dan Pengembangan Perum Bulog periode 2007-2009 sekaligus pengamat pertanian Universitas Cokroaminoto, Yogyakarta, Mohammad Ismet, secara teoretis, arahan pengadaan dalam negeri untuk Bulog di saat paceklik tidak tepat. ”Pada musim paceklik, stok pasar terbatas. Musim paceklik justru waktu pedagang dan penggilingan untuk melepas stok (beras) yang mereka beli saat panen raya (kepasar),” ujarnya saat dihubungi, Senin (5/12). Apabila Bulog dipaksa menyerap saat musim paceklik, lanjut Ismet, harga beras di pasar akan meningkat karena ada tambahan permintaan di tengah keterbatasan stok. Beras hasil serapan yang terbatas membuat Bulog tetap tidak memiliki stok yang cukup untuk mengintervensi pasar. Kualitas beras yang diserap juga berpotensi ”dikorbankan”. Selain itu, ketika Bulog meningkatkan penyerapan saat paceklik, ekspektasi pelaku perberasan lainnya akan berubah, imbasnya, harga beras di pasar kian meningkat. (Yoga)
China Melonggar, Yuan dan Saham Menguat
Sebagian besar saham China pada Senin (5/12) melonjak dan nilai mata uang Yuan menguat melewati level psikologis penting, yaitu 7 yuan per USD. Posisi itu adalah yang terkuat sejak September lalu. Indeks saham Hang Seng (Hong Kong) naik 4,5 % menjadi 19.518,29. Indeks Saham Gabungan Shanghai naik 1,8 % menjadi 3.211,81. Catatan positif itu merupakan efek dari rencana Beijing mengumumkan pelonggaran mobilitas paling cepat hari Rabu (7/12). Investor menyambut gembira kabar pelonggaran yang didorong aksi protes dan kerugian ekonomi yang meningkat. Dengan pengumuman itu, China, yang selama tiga tahun mencanangkan kebijakan nol Covid-19, segera melonggarkan penutupan perbatasan dan penguncian wilayah yang sangat sering dilakukan. China diperkirakan akan mulai mengikuti trend global yang ”hidup dengan virus”. Kebijakan nol Covid telah merugikan ekonomi serta memberikan tekanan mental pada warga dan memicu aksi protes. Otoritas di daerah-daerah telah melonggarkan pengetatan, aturan karantina, dan keharusan tes Covid dengan berbagai tingkat keketatan.
Para pejabat juga sudah mulai menurunkan nada bahaya tentang Covid. Investor pun berharap pembukaan kembali China akan mencerahkan prospek pertumbuhan dan permintaan komoditas. ”Dalam waktu dekat, perusahaan platform internet juga akan mendapatkan hasil yang lebih baik. Secara intuitif, saat kasus melonjak, orang akan memilih tinggal di rumah untuk meminimalkan risiko penularan,” kata Kepala Ekonom Grow Investment Group, Hao Hong. Standard Chartered memperkirakan China akan menghapus sebagian besar kebijakan pembatasan terkait Covid-19 pada kuartal II tahun 2023. Langkah itu akan membuat konsumsi rumah tangga pulih ke tingkat sebelum pandemic (2017-2019). Stephen Innes dari SPI Asset Management menilai, langkah China membuka kembali membantu memicu optimisme pasar tentang kemungkinan percepatan pertumbuhan pada 2023, terutama aset sensitif China. Pembukaan kembali China juga mengangkat harga minyak karena ekspektasi permintaan membaik, sementara keputusan OPEC dan produsen utama untuk tidak menaikkan produksi juga mendorong komoditas. (Yoga)
OPEC+ Sepakat Kurangi Produksi Minyak
Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) bersama negara mitra sepakat memangkas produksi minyak hingga akhir tahun 2023. Langkah ini dilakukan karena merosotnya harga minyak dunia, terutama setelah sanksi dari Uni Eropa, G7, dan Australia berlaku per Senin (5/12/2022). Setiap anggota dan mitra hanya memproduksi 2 juta barel per hari hingga akhir 2023. (Yoga)
Penyerapan Berisiko Susut
Asosiasi Pengusaha Indonesia memperkirakan serapan tenaga kerja akan tumbuh lambat pada 2023. Selain itu, penyusutan tenaga kerja juga bakal terjadi menyusul berkurangnya kapasitas produksi dan profit usaha serta kenaikan upah minimum. Dalam Kompas 100 CEO Forum pada 3 Desember 2022, Menko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan, upah minimum 2023 adalah kenaikan upah minimum signifikan yang pertama kali dalam tiga tahun terakhir sejak pandemi Covid-19. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi Sukamdani, Senin (5/12) mengatakan, ketidakpastian ekonomi global pada tahun depan masih tinggi. Dampaknya akan merembet ke perekonomian nasional kendati tidak akan resesi.
Perlambatan ekonomi di sejumlah pasar ekspor utama Indonesia tahun ini bakal berpengaruh ke kinerja industri. Trennya akan berlanjut tahun depan sehingga akan memengaruhi profit dan efisiensi usaha, termasuk tenaga kerja. ”Sejumlah industri pengolahan nonpangan berbasis ekspor dan padat karya, seperti tekstil dan produk tekstil, mebel, dan alas kaki, mulai bertumbangan dan merumahkan pekerja pada tahun ini,” ujar Hariyadi dalam Seminar Proyeksi Ekonomi Indonesia 2023 ”Mengelola Ketidakpastian Ekonomi di tahun Politik” yang digelar Institute for Development of Economics and Finance (Indef) secara hibrida di Jakarta. Berdasarkan hasil riset dan survei internal Apindo Research Institute, perekonomian Indonesia pada 2023 diperkirakan tumbuh 5,1-5,65 %. Sebanyak 39,4 responden memperkirakan industri masih tumbuh 5 %. (Yoga)
Bank Indonesia Siapkan Rupiah Digital
Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, seiring berkembangnya teknologi dan dunia digital, muncul kebutuhan akan mata uang rupiah yang bisa digunakan sebagai alat pembayaran transaksi di dunia digital. ”Rupiah digital itu sudah menjadi keniscayaan untuk transaksi digital di masa depan,” ujar Perry dalam bincang-bincang bertajuk Birama (BI Bersama Masyarakat) dengan judul ”Meniti Jalan Menuju Rupiah Digital”, Senin (5/12) di Jakarta. (Yoga)
Target Ekspor Tak Tercapai
KKP memproyeksikan nilai ekspor perikanan tahun 2022 sekitar 6 miliar USD atau Rp 93,6 triliun, di bawah target tahun ini 7,13 miliar USD. Peluang ekspor perikanan dan pasar dalam negeri perlu terus digarap menghadapi kelanjutan resesi ekonomi global tahun depan. Selama Januari-September 2022, nilai ekspor perikanan tercatat 4,61 miliar USD atau 64,65 % dari target 2022. Beberapa hambatan ekspor perikanan tercatat masih berlangsung, antara lain ke pasar Australia, serta hambatan tarif untuk pasar Uni Eropa. Sekretaris Dirjen Penguatan Daya Saing Kelautan dan Perikanan KKP Machmud mengungkapkan, proyeksi nilai ekspor perikanan tidak mencapai target karena dipengaruhi dampak pandemi Covid-19 dan resesi ekonomi global. Meski demikian, peluang pasar komoditas perikanan masih terbuka untuk bertumbuh dan memenuhi kebutuhan konsumsi pangan protein global. ”Ikan sebagai salah satu sumber pangan protein dengan ragam jenis dan produk tetap menjadi pilihan masyarakat global, termasuk pasar domestik,” katanya saat dihubungi, Senin (5/12/2022), di Jakarta. Guna menghadapi resesi ekonomi global tahun depan, perlu dilakukan penguatan pasar dalam negeri dan perluasan pasar ekspor, juga penguatan hulu dan sinergi hulu-hilir untuk efisiensi dan daya saing produk perikanan.
Salah satu hambatan ekspor yang berusaha diurai saat ini adalah terkait ekspor ke Australia. Selama ini, pasar ekspor ke negara tetangga itu masih terbuka bagi produk perikanan Indonesia. Meski demikian, sistem biosekuriti Australia sangat ketat, terutama prosedur karantina di perbatasan. Akibatnya, produk ekspor yang dikirim dari Indonesia kerap tertahan dan tertunda untuk masuk. Pemerintah tengah berupaya meyakinkan otoritas Australia untuk mengadakan kesepakatan saling pengakuan (mutual recognition arrangement/MRA). Melalui perjanjian ini, diharapkan komoditas perikanan Indonesia bisa bebas masuk ke Australia untuk bersaing dengan produk Thailand dan Vietnam. Kepala Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan Pamuji Lestari mengemukakan, ekspor produk perikanan Indonesia tidak ada masalah terkait kualitas dan keamanan. Namun, produk Indonesia selalu tertunda masuk ke pasar Australia karena kewajiban uji histamin. Sebaliknya, negara-negara yang sudah memiliki MRA dengan Australia, seperti Thailand dan Vietnam, bisa langsung memasukkan produk perikanan ke pasar Australia karena pihak Australia telah percaya produk tersebut lolos uji histamin di negara asal. (Yoga)
Ekspor Olahan Nikel Sultra Capai Rp 71 Triliun
Nilai ekspor besi dan baja Sulawesi Tenggara, terutama dari pengolahan nikel, sepanjang Januari-Oktober 2022, mencapai 4,7 miliar USD atau Rp 71 triliun. Meski terus naik, ekspor olahan nikel dinilai belum berpengaruh besar terhadap ekonomi daerah dan masyarakat. Data BPS Sultra, periode Januari hingga Oktober 2022 menunjukkan, total ekspor Sultra 4,8 miliar USD. Adapun total volume ekspor mencapai 2,2 juta ton. Nilai dan volume ini meningkat masing-masing 36 % dan 24 % dibandingkan periode sama tahun 2021. Sebanyak 99,53 % atau 4,7 miliar USD (Rp 71 triliun) berasal ekspor fero nikel (feNi), nickle pig iron (NPI), dan baja tahan karat yang diproduksi sejumlah pabrik peleburan (smelter) nikel di wilayah ini.
Adapun 1 % lainnya adalah komoditas ikan, udang, dan olahan daging. Saat ini, ada tiga smelter nikel di Sultra, yakni PT Aneka Tambang (Tbk) di Kabupaten Kolaka dan Virtue Dragon Nickel Industry (VDNI) serta PT Obsidian Stainless Steel (OSS) di Kecamatan Morosi, Kabupaten Konawe. PT DNI dan PT OSS merupakan investasi asing asal China. Kadis Perindustrian dan Perdagangan Sultra Siti Saleha mengungkapkan, ekspor Sultra memang terus didominasi bidang pertambangan. ”Yang paling besar itu memang bidang pertambangan, khususnya pengolahan nikel. Setelahnya baru sektor kelautan dan perikanan, yaitu udang, ikan, dan olahan lainnya. Persentasenya sangat timpang,” kata Saleha, di Kendari, Senin (5/12/2022). (Yoga)
Telkom Masih Komit Pegang Saham GOTO
JAKARTA, ID -- PT TelkomIndonesia Tbk (TLKM) dinilai masih komit memegang saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk(GOTO). Investasi Telkom di GoTo melalui anak usahanya,Telkomsel, telah memperkuat ekonomi digital nasional secara berkelanjutan. Riset dari CLSA Sekuritas Indonesia menyebutkan, Telkom berniat untuk mempertahankan investasinya di GoTo dan hal ini berpotensi menurunkan laba utama Telkom hingga dua digit. CLSA menyebutkan pada kuartal III-2022, investasi Telkom di GoTo dipatok pada harga Rp 246 per saham. Dengan harga tersebut bisa diasumsikan investasi Telkom di GoTo berjumlah Rp 5,83 triliun, atau setara dengan 23,7 miliar saham. “Ini juga menegaskan kembali bahwa pembayaran dividen akan didasarkan pada laba inti,”tulis riset CLSA Sekuritas yang dikutip Investor Daily, Senin (5/12/202). Sementara itu, Vice President Corporate Communications PT Telekomunikasi Seluler (Telkomsel) Saki Hamsat Bramono mengungkapkan, investasi yang dilakukan oleh Telkomsel di GoTo menjadi bagian dari strategi investasi dari perusahaan dengan latar belakang pengembangan bisnis yang bertujuan untuk terus menghadirkan potensi new revenue generator beyond connectivity. (Yetede)









