INSTRUMEN SURAT UTANG : DANA JUMBO SIAP MASUK PASAR
Penggalangan dana jumbo melalui instrumen surat utang korporasi senilai Rp41,5 triliun yang berasal dari 37 perusahaan, siap masuk ke pasar. Berdasarkan mandat penerbitan surat utang korporasi yang dikantongi PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) hingga 31 Januari 2023, sejumlah perusahaan telah merencanakan aksi penggalangan dana. Kepala Divisi Pemeringkatan Korporasi Pefindo Niken Indriarsih mengatakan mandat penerbitan surat utang korporasi kali ini mulai menunjukkan perbedaan dengan masuknya sektor seperti pengelolan jalan tol dan bandara. Meskipun, dari sisi nilainya, rencana penerbitan surat utang korporasi terbesar berasal dari sektor bank dan pembiayaan. Adapun, realisasi penerbitan surat utang per Januari 2023 mencapai Rp4,23 triliun dengan Rp3,99 triliun di antaranya berasal dari perusahaan swasta. Sementara itu, berdasarkan sektornya industri bubur kertas dan tisu menggalang dana Rp1,74 triliun dan disusul oleh sektor multifinance dengan Rp1,1 triliun serta energi dengan Rp600 miliar. Kedua sektor yang memimpin penerbitan surat utang korporasi pada Januari 2023 mencerminkan kinerja pada 2022. Dari total penerbitan obligasi korporasi senilai Rp163,63 triliun pada 2022, sektor multifinance berkontribusi sebesar Rp27,08 triliun dan industri bubur kertas dan tisu dengan Rp26,25 triliun. Dalam kesempatan yang sama, Ekonom Pefindo Suhindarto mengatakan kondisi tahun ini bakal lebih positif dibandingkan tahun lalu sehingga mendukung bagi aksi penerbitan surat utang. Dia mengemukakan suku bunga pada 2023 tetap tinggi seiring dengan berlanjutnya kebijakan moneter ketat sejumlah bank sentral dunia. Meski demikian, laju peningkatan tidak akan sesignifikan 2022. Dihubungi terpisah, Vice President Credit Analyst Fixed Income Research Mandiri Sekuritas Teddy Hariyanto mengatakan obligor atau penerbit surat utang akan memanfaatkan peluang pemulihan ekonomi domestik yang berlanjut. Di sisi lain, imbal hasil surat utang pemerintah dan risiko premium turut menurun.
PASOKAN PUPUK : Kebutuhan DomestikJadi Pertimbangan
Badan usaha milik negara holding Pupuk, PT Pupuk Indonesia (Persero) memastikan bakal mengutamakan pasokan di dalam negeri sebelum mengekspor pupuk Nitrogen, Fosfor, dan Kalium atau NPK yang diproduksi oleh PT Pupuk Iskandar Muda ke sejumlah negara di Asia Selatan.Wijaya Laksana, Sekretaris Perusahaan Pupuk Indonesia, mengatakan bahwa ekspor pupuk NPK baru akan dilaksanakan setelah pihaknya memastikan kebutuhan domestik tercukupi.“[Ekspor pupuk NPK] sifatnya adalah potensi. Pupuk Indonesia tetap akan memprioritaskan kebutuhan pupuk domestik. Artinya, bila memang kebutuhan [pupuk] subsidi sudah tercukupi, baru kami akan melakukan ekspor,” katanya saat dihubungi Bisnis, Senin (13/2).
Untuk diketahui, Juru Bicara Pupuk Iskandar Muda Dedi Ikhsan sebelumnya menyebut, pihaknya akan mengalokasikan pupuk NPK hasil produksi pabrik barunya yang berkapasitas 500.000 juta ton per tahun untuk ekspor ke Asia Selatan, selain untuk memenuhi kebutuhan di area Sumatra Bagian Utara (Sumbagut).
Sementara itu, saat meresmikan pabrik baru PIM, Presiden Joko Widodo mengingatkan bahwa saat ini hampir seluruh negara di dunia mengalami krisis pangan yang salah satunya disebabkan oleh masalah pupuk.Presiden menjelaskan, tingginya harga pupuk disebabkan oleh banyak hal, salah satunya adalah konflik Rusia dengan Ukraina.
KUE LEZAT BERNAMA PANAS BUMI, PT PERTAMINA GEOTHERMAL ENERGY (PGE): PROSPEK BISNIS PANAS BUMI SANGAT BESAR
Potensi panas bumi di Tanah Air masih memiliki ruang lebar untuk dimanfaatkan. Pasalnya, dengan potensi sekitar 40% dari potensi panas bumi dunia, Indonesia baru memanfaatkan kurang dari 10% sumber daya panas bumi.
Direktur Utama PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) Ahmad Yuniarto mengatakan bahwa pemanfaatan panas bumi di Tanah Air saat ini baru sebatas untuk Pembangkitan Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP). “Maka prospek bisnis panas bumi di Indonesia sangat besar. Value chain panas bumi juga belum dikembangkan secara optimal,” katanya kepada Bisnis baru-baru ini. Ahmad menuturkan potensi pengembangan panas bumi ke depan makin kuat dengan arah pembangunan pemerintah yang mengarah pada keberlanjutan dengan pengembangan bisnis energi baru terbarukan (EBT).
Pemerintah, katanya, telah menargetkan bauran EBT menjadi 23% dari total kebutuhan energi nasional pada tahun 2025. Hal ini sejalan dengan ambisi mencapai net zero emission pada tahun 2026.Hal itu, katanya, sejalan dengan perkiraan Wood McKenzie salah satu konsultan energi terkemuka di dunia. Wood McKenzie memperkirakan bahwa pada 10 tahun ke depan, kapasitas listrik terpasang dari panas bumi Indonesia bertambah sebesar 3,4 GW, dengan rata-rata produksi tahunan listrik sekitar 46,08 TWh atau 9,6% dari produksi listrik nasional.
Dengan potensi dan peluang besar itu, PGE optimistis dapat menjadi salah satu pemain utama sektor EBT khususnya panas bumi. Tambah lagi, PGE telah memiliki pengalaman panjang merintis dan membangun bisnis geothermal.
Ahmad mengatakan sebagai bagian dari subholding Pertamina Power Indonesia atau Pertamina New and Renewable Energy, PGE mendapatkan dukungan yang sangat kuat dari Pertamina sebagai perusahaan holding. PGE, katanya, menjadi ujung tombak dari upaya besar transisi energi di Pertamina. PGE berdiri sejak 12 Desember 2006, tetapi aktivitas bisnis geothermal sejatinya sudah dilakukan sejak 1974.
Generasi Muda : Siapakah Mereka?
Generasi muda seringkali mencuri banyak perhatian dari berbagai kalangan. Perilakunya yang acap kali berbeda dengan generasi-generasi pendahulunya menjadi fenomena tersendiri. YOLO (you only live once) dan FOMO (fear of missing out) seolah menjadi dua mantra utama yang menggambarkan generasi muda. Mereka seringkali terjebak dalam pola konsumsi yang boros dan takut ketinggalan tren. Kebutuhan untuk menikmati pengalaman melalui traveling, kuliner, hangout, menonton konser, perawatan kecantikan hingga membeli barang yang sedang tren merupakan kebutuhan yang dikedepankan oleh generasi muda. Selain itu, menjadi fashionable dan memiliki gaya yang menarik juga menjadi bagian dari lifestyle mereka. Munculnya selebgram maupun influencer lainnya seakan menjadi kiblat dalam pemenuhan lifestyle generasi muda. Tak hanya itu, bahkan generasi muda juga sangat ingin menjadi selebgram, influencer, tiktokers, dan youtuber.
Karakter generasi muda yang digital savvy dan menyukai hasil instan membuat mereka lebih berani dalam mengambil risiko berinvestasi pada instrument high risk hgh return. Misalnya, memutar uang di aplikasi peer to peer lending atau investasi saham melalui gadget. Data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) sampai dengan Oktober 2022 menunjukan sebanyak 81,29% jumlah investor didominasi oleh generasi muda. Meskipun secara total aset terbesar tetap dimiliki oleh generasi baby boomers. Generasi muda memang lebih memiliki literasi keuangan yang jauh lebih baik dibandingkan generasi sebelumnya, selain itu juga lebih mengharap kekayaan yang instan. Mereka juga mengedepankan work life balance dalam memilih jenis pekerjaan.
Tentu saja perilaku generasi ini merupakan tantangan tersendiri bagi demografi Indonesia, karena saat ini piramida penduduk Indonesia didominasi oleh generasi muda. Terlebih lagi kedepannya generasi muda ini akan menjadi penggerak utama dalam perekonomian.
Mewaspadai Ancaman PHK di 2023
Di Indonesia, pemutusan hubungan kerja (PHK) mengintai
industri manufaktur (khususnya padat karya), akibat penurunan permintaan ekspor, sebagai dampak perlambatan ekonomi global. Ledakan PHK perusahaan teknologi di seluruh
dunia juga dialami perusahaan rintisan (startup) di Indonesia.
Beberapa terpaksa melakukan PHK, bahkan ada yang tutup.
Pemerintah mencatat angka pengangguran sebenarnya
turun dua tahun terakhir, sejalan dengan mulai pulihnya
ekonomi. Tingkat pengangguran terbuka (TPT) Agustus 2022
tercatat 5,86 persen, turun dibandingkan 6,49 persen Agustus
2021. Tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) juga membaik
ke 68,63 persen per Agustus 2022, tertinggi sejak 1986.
Namun, resesi global dikhawatirkan membalikkan progres
ini dan memukul industri berorientasi ekspor. PHK di industri
tekstil dan produk tekstil (TPT) dan alas kaki, diprediksi
Apindo, masih berlanjut hingga triwulan I-2023, dengan
turunnya permintaan ekspor hingga 30-50 persen. Sejauh ini,
sudah terjadi PHK 87.236 pekerja di 163 perusahaan. Untuk
start up, PHK bahkan diperkirakan berlanjut sampai 2024,
meski sektor ini tetap menarik investor. (Yoga)
Hilirisasi dan Paradoks Daya Saing
Pertumbuhan ekonomi Indonesia 2022 sebesar 5,31
persen lebih baik dari perkiraan banyak pihak.
Kegiatan ekspor yang meningkat 16,28 persen sepanjang tahun lalu menjadi penyokong utama kinerja
ekonomi. Sementara kegiatan konsumsi masyarakat hanya
tumbuh 4,93 persen dan investasi tumbuh 3,87 persen.
Meski mengagumkan, pertumbuhan ekonomi cenderung berfluktuasi seiring naik turunnya harga serta
permintaan komoditas ekspor di pasar global. Ekspor kita
masih didominasi dua komoditas utama, yaitu batubara
dan minyak sawit. Harga serta permintaan kedua komoditas ini sangat fluktuatif (supercycle commodities).
Pada 2023, permintaan dan harga komoditas ekspor
diperkirakan tak akan sebaik tahun lalu sehingga pertumbuhan ekonomi berpotensi turun. Diperlukan mitigasi agar perlambatan ekspor terkompensasi dengan
pertumbuhan bidang lain. Potensinya adalah mendorong
investasi, selain menjaga konsumsi domestik. Pengeluaran pemerintah sudah waktunya kembali konservatif
dengan defisit anggaran di bawah 3 persen.
Kebijakan larangan ekspor beberapa mineral mentah
dan penerbitan Peraturan Pemerintah. (Yoga)
Selamatkan Petani dari Residu Pahit
Selamatkan Petani
dari Residu Pahit
Pasar gula konsumsi tahun ini diprediksi suram bagi
petani. Sebab, stok gula ditaksir berlebih, sementara
kuota impor gula mentah dialokasikan lebih tinggi.
Rembesannya dikhawatirkan membuat pasar ”banjir” gula
sehingga menekan harga gula dan tebu petani.
Kementerian Perdagangan menetapkan alokasi impor gula mentah (raw sugar) 3,6 juta ton untuk produksi gula
tahun 2023. Angka itu lebih tinggi dari kebutuhan impor
tahun 2022 yang 3,2 juta ton setara gula rafinasi atau 3,36
juta ton gula mentah.
Ketua Umum Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia
(APTRI) Soemitro Samadikoen mengkhawatirkan kenaikan
alokasi itu karena berpeluang meningkatkan rembesan gula
rafinasi ke pasar gula konsumsi. Situasi 2018 dikhawatirkan
terjadi lagi. ”Petani akan babak belur karena gula impor
berpotensi membanjiri pasar. Ini mimpi suram bagi kami,”
ujarnya, Minggu (22/1/2023).
Sinyal banjir gula impor tahun 2023, menurut dia, sudah
terendus dari rencana importasi untuk konsumsi (gula kristal putih/GKP) tahun lalu. (Yoga)
Hilirisasi Perlu Melibatkan Nelayan
JJAKARTA, KOMPAS — Upaya Indonesia mendorong hilirisasi
perikanan diharapkan memperkuat nilai tambah dan daya
saing sektor kelautan dan perikanan. Selama ini, nilai ekspor perikanan Indonesia cenderung meningkat karena pengaruh harga komoditas, bukan karena peningkatan nilai
tambah produk perikanan.
Ketua Dewan Pembina Kesatuan Nelayan Tradisional
Indonesia (KNTI) Riza Damanik menilai, dorongan pemerintah untuk hilirisasi perikanan merupakan solusi tepat untuk meningkatkan nilai
tambah. Perikanan merupakan sektor unggulan nasional.
Sektor ini memiliki volume
produksi beberapa komoditas
yang lebih unggul dibandingkan dengan komoditas serupa
dari negara lain.
Akan tetapi, kenaikan nilai
ekspor perikanan Indonesia
lebih ditopang oleh kenaikan
harga komoditas. ”Titik berat
pengembangan sektor perikanan masih sebatas produksi dan belum peningkatan nilai tambah,” kata Riza dalam
”Outlook KNTI 2023: Akselerasi Pertumbuhan dan Peningkatan Kesejahteraan Nelayan Kecil dan Tradisional di
Indonesia”, di Jakarta, Senin
(13/2/2023). (Yoga)
Arogansi Koboi Jalanan di Jaksel
Vokasi Perlu Lebih Terarah









