Pelaku Industri Rotan Tertekan Penyelundupan Bahan Baku
Penyelundupan rotan mentah menimbulkan ketidakpastian pasokan bahan baku bagi pelaku industri furnitur dalam negeri. Ketua Presidium Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia Abdul Sobur mengatakan, pasokan bahan baku untuk industri furnitur dan kerajinan berbahan baku rotan menurun 8-10 persen. ”Suplai bahan baku rotan terkendala dengan maraknya penyelundupan,” katanya di Jakarta, Rabu (30/8/2023). (Yoga)
Lokapasar Perlu Dukung UMKM Perluas Akses Pasar
Pemerintah berharap pengelola lokapasar mengutamakan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah atau UMKM produsen lokal agar memiliki akses pemasaran yang luas, termasuk ke pasar luar negeri. ”Melalui lokapasar, produsen sekaligus pedagang dapat terhubung langsung dengan pembeli secara lebih mudah. Lokapasar perlu membantu UMKM lokal agar punya akses pasar,” ujar Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan, Rabu (30/8/2023), di Jakarta. (Yoga)
Mendorong Hilirisasi ke Hilir
Saat ini semakin masif industri hilirisasi yang mengolah sumber daya mineral menjadi beragam komoditas, industri berbasis nikel paling maju dibandingkan mineral lainnya disebabkan nikel Indonesia memiliki keunggulan komparatif paling tinggi di dunia sehingga banyak negara memburunya, apalagi kebutuhan nikel sangat tinggi di era transisi energi untuk kebutuhan baterai. Indonesia kini menjadi produsen nikel terbesar di dunia. Produksi nikel 2022 tak kurang dari 1,8 juta ton, dua puluh kali lebih besar dibanding sepuluh tahun lalu di 90.000 ton. Bahkan pengolahan bijih nikel sudah menjadi baja tahan karat, produksinya nomor dua di dunia setelah China. Sudah waktunya dipikirkan kebijakan pembatasan produksi nikel, dan fokus pada industri lebih ke hilir.
Hilirisasi tembaga dan aluminium masih berproses,dan akan segera terwujud. Timah berpotensi dijadikan paduan logam dan berbagai kegunaan. Ke depan banyak jenis logam yang akan diekstrak di dalam negeri karena kebutuhan industri strategis. Keterbatasan infrastruktur energi memperlambat hilirisasi, terutama aluminium. Namun, tantangan masih besar, produk logam seperti feronikel, produk nikel lainnya, alumina, aluminium, dan tembaga yang dihasilkan saat ini masih merupakan bahan baku industri manufaktur. Mengalirkan produk logam ke hilir sangat dipicu oleh adanya kebutuhan di hilir. Artinya, industri strategis tersebut yang harus menarik industri logam ke hilir atau demand driven. Keterkaitan pertambangan dan industri manufaktur. Tantangan utama adalah mewujudkan keterkaitan sektor pertambangan dan industri manufaktur. Manakala industri manufaktur tidak siap, industri tambang, tidak ada jalan lain, harus mengekspor hasil olahan atau bahkan hasil tambangnya. (Yoga)
Pertaruhan Subsidi Energi dan Transportasi
Presiden Joko Widodo getol menggerojok aneka subsidi menjelang periode terakhir kepemimpinannya. Selain menambah cakupan penerima subsidi sepeda motor listrik, pemerintah juga berancang-ancang menghapus BBM jenis Pertalite dan mengganti dengan Pertamax.
Berlaku 30 Agustus, pemerintah memperluas sasaran penerima subsidi sepeda motor listrik. Di aturan teranyar, warga Indonesia berusia 17 tahun ke atas berkesempatan meraih subsidi motor listrik senilai Rp 7 juta, atau satu KTP berhak mendapat subsidi motor listrik.
Mengacu data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk Indonesia yang berusia di atas 20 tahun mencapai 187,42 juta jiwa. Jika subsidi motor listrik dilepas, dan dengan asumsi setengah penduduk tadi menerima subsidi (93,71 juta jiwa), maka pemerintah harus menyiapkan dana hingga Rp 655,97 triliun.
Direktur Jenderal Anggaran Kementerian Keuangan, Isa Rachmatarwata bilang, meski pemerintah memperluas penerima subsidi, anggaran saat ini masih tetap sama seperti sebelumnya.
Selain motor listrik, pemerintah juga membuka wacana subsidi Pertamax. Rencana itu diungkapkan Direktur Utama Pertamina, Nicke Widyawati dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi VII DPR, Rabu (30/8). "Pertamina menargetkan, produk Pertamax Green 92 menggantikan Pertalite di 2024 dan tetap dikategorikan sebagai produk BBM subsidi," kata dia.
Sejumlah ekonom menyoroti aneka kebijakan subsidi itu. Subsidi Pertamax, dinilai tak tepat sasaran. Perluasan subsidi motor listrik dianggap kurang efektif, selain boros anggaran. "Lebih baik, anggaran untuk subsidi bus listrik atau kendaraan publik lainnya agar banyak manfaat," ungkap Tauhid Ahmad, Direktur Eksekutif Indef. Ini sejalan keinginan Presiden Jokowi memberikan subsidi untuk tarif LRT dan Kereta Cepat.
Mengerem Obligasi Baru, Gerojok Saldo Anggaran
Pemerintah terus menyiasati penggunaan anggaran agar semakin efisien. Salah satunya dengan cara menggunakan Saldo Anggaran Lebih (SAL) di tahun ini.
Kementerian Keuangan sudah menggunakan SAL sebesar Rp 70 triliun pada tahun ini. Kepala Pusat Kebijakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Badan (APBN) Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan (Kemkeu) Wahyu Utomo menyampaikan, bujet tersebut digunakan untuk mengurangi issuance bond atau penerbitan obligasi, akibat risiko imbal hasil (yield) yang tinggi.
Adapun dalam UU APBN 2023 penggunaan SAL sebelumnya direncanakan sebesar Rp 70 triliun. Kemudian pemerintah memutuskan menambahkan penggunaan SAL tahun ini menjadi Rp 156,9 triliun sejalan dengan pengurangan penerbitan utang pada tahun ini.
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyebutkan dari SAL yang sebesar Rp 156,9 triliun tersebut, kemudian senilai Rp 100,9 triliun akan digunakan untuk penurunan pembiayaan utang, dan sebesar Rp 56 triliun untuk pembayaran kewajiban pemerintah di antaranya kurang bayar Dana Bagi Hasil (DBH), subsidi pupuk serta kompensasi energi.
Menkeu mengatakan, penerbitan SBN dikurangi dengan memanfaatkan SAL dan didukung dengan pengelolaan kas yang optimal. Sementara itu, pembiayaan utang melalui pinjaman diperkirakan mencapai Rp 43,4 triliun, meningkat 16,8% dibandingkan dengan periode 2022.
Mengutip Buku II RAPBN 2024, pemerintah mengalokasikan penggunaan SAL 2024 sebagai instrumen pengurang utang dan penyangga fiskal sebesar Rp 51,3 triliun dan alokasi hasil Pengelolaan Aset (HPA) sebesar Rp 649,2 miliar terkait konversi mengisi daya eks BPPN menjadi PMN nontunai kepada anak usaha PT Len Industri (yaitu PT Dirgantara Indonesia).
Menguji Efek Rotasi Emiten Big Caps
Emiten saham dengan nilai kapitalisasi pasar
(market cap)
jumbo mengalami rotasi. Saat ini, ada 15 emiten saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang tercatat memiliki market cap di atas Rp 100 triliun.
BBCA masih kokoh di puncak dengan market cap senilai Rp 1.140,29 triliun. BBRI membuntuti dengan kapitalisasi pasar sebesar Rp 848,73 triliun. Emiten saham berkode saham BYAN, BMRI, dan TLKM masih menghuni daftar lima besar
market cap
terbesar.
Sementara itu, emiten pendatang baru, AMMN langsung tancap gas merangsek ke jajaran emiten big caps. Bercokol di posisi keenam dengan kapitalisasi pasar mencapai Rp 321,46 triliun.
BRPT juga ikut ngebut. Hingga Rabu (30/8), market cap BRPT mencapai Rp 105,91 triliun. Padahal, hingga akhir Juli 2023, nilai kapitalisasi pasar BRPT masih berkisar di angka Rp 72,65 triliun.
Berbeda nasib dengan UNTR yang saat ini market cap-nya menciut ke level Rp 98,29 triliun. Sebagai perbandingan, hingga Juli market cap UNTR masih bernilai Rp 102,67 triliun.
Analis Ekuator Swarna Sekuritas, David Sutyanto melihat perubahan posisi market cap di bursa mencerminkan adanya dinamika pasar. Kondisi ini ikut menggambarkan rotasi sektor yang sedang terjadi secara industri maupun pergeseran saham pilihan dari pelaku pasar.
Equity Research Analyst Panin Sekuritas, Felix Darmawan menyoroti saham UNTR. Fluktuasi harga maupun market cap UNTR tak lepas dari segmen bisnis batubara yang melandai. Ketika sentimen negatif lebih dominan menerpa, maka harga sahamnya akan ikut terseret.
Berbeda dengan BRPT yang dalam sebulan terakhir sahamnya melejit hingga 41,14%. Pergerakan harga saham BRPT terpapar sentimen positif, termasuk dari prospek penyelenggaraan bursa karbon.
Head of Equity Research
Kiwoom Sekuritas Indonesia, Sukarno Alatas menimpali, market cap tidak menjadi parameter utama. Dalam menentukan keputusan berinvestasi, investor juga menimbang fundamental, prospek kinerja dan valuasi sahamnya.
Kredit Mikro Tumbuh 11,41%, BRI Makin Tangguh, Cetak Laba Rp29,56 Triliun
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. berhasil menjaga kinerja positif hingga akhir triwulan II/2023. Keberhasilan BRI mengorkestrasi strategi yang dijalankan perseroan tercermin dari kinerja yang sehat dan berkelanjutan, hal tersebut tercermin dari aset yang meningkat 9,21% year-on-year (YoY) menjadi Rp1.805,15 triliun sehingga BRI berhasil mencetak laba konsolidasian senilai Rp29,56 triliun atau tumbuh 18,83% secara YoY.Hal tersebut disampaikan oleh Direktur Utama BRI Sunarso pada pemaparan kinerja keuangan BRI triwulan I/ 2023 pada Rabu (30/8). Sunarso mengungkapkan bahwa faktor utama penopang kinerja BRI di antaranya adalah pertumbuhan kredit mikro dan CASA yang mencapai doubledigit, kualitas aset terjaga, rasio efisiensi yang membaik, proporsi fee-based income yang terus tumbuh konsisten, serta semakin solidnya kinerja perusahaan anak yang tergabung dalam BRI Group.
Dari sisi penyaluran kredit, hingga akhir triwulan II/2023, BRI berhasil menyalurkan kredit dan pembiayaan senilai Rp1.202,13 triliun dengan penopang utama pertumbuhan yakni pada segmen mikro yang tumbuh 11,41% YoY menjadi Rp577,94 triliun. Dengan demikian, porsi kredit mikro telah mencapai 48,08% terhadap total penyaluran kredit BRI.
Khusus untuk perkembangan Holding Ultra Mikro (UMi), hingga akhir triwulan I/2023 Holding UMi telah berhasil meng integrasikan lebih dari 36 juta nasabah pinjaman dan 162 juta nasabah simpanan mikro dengan didukung 1.013 unit kantor colocation SENYUM (Sentra Layanan Ultra Mikro).
Sementara itu, dari sisi penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK), BRI mencatatkan total DPK senilai Rp1.245,12 triliun. Penopang utama pertumbuhan DPK BRI bersumber pada dana murah (CASA) yang tercatat tumbuh 10,13% yoy menjadi Rp815,42 triliun. Porsi CASA (Giro dan Tabungan) BRI pun terus meningkat, dari semulai 65,12% pada triwulan II/2022 menjadi 65,49% pada triwulan II/2023.
EKSPANSI MANUFAKTUR : Ekonomi Indonesia Pikat Pemodal Asing
Geliat Perekonomian nasional berhasil memikat investor global untuk kembali menanamkan modalnya di Tanah Air. Pepsi yang sempat hengkang dari Indonesia, tahun ini kembali berinvestasi dengan membangun pabrik barunya senilai US$200 juta.PT PepsiCo Indonesia Food and Beverages atau PepsiCo Indonesia resmi merealisasikan investasinya dengan membangun pabrik di atas lahan seluas 60.000 meter persegi di Cikarang, Jawa Barat.CEO PepsiCo Indonesia Asif Mobin mengatakan, investasi tersebut bakal dilakukan secara bertahap hingga 10 tahun mendatang. Hal itu menjadi komitmen perusahaan terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia, keberlanjutan lingkungan, serta kontribusi terhadap pengembangan komunitas.
Di fasilitas tersebut, PepsiCo Indonesia bakal memproduksi sejumlah produk makanan ringan pada tahap pertama. Pabrik tersebut juga akan menjadi fasilitas manufaktur yang sepenuhnya menerapkan prinsip keberlanjutan.
“Melalui investasi baru dan pada kapasitas maksimalnya, Sharp berkontribusi sebesar 26,6% dari keseluruhan permintaan AC nasional,” kata Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika Kementerian Perindustrian Taufi ek Bawazier.
SIASAT CUAN BANK BUMN
Soal mencetak cuan, performa bank-bank milik negara memang masih mumpuni. Buktinya, hingga semester I/2023, bank-bank pelat merah sukses mencatatkan pertumbuhan laba.PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI), PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI), dan PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. (BBTN) kompak mencatatkan pertumbuhan laba secara tahunan (year-on-year/YoY). Secara nominal, BRI memimpin sedangkan secara bobot pertumbuhan, Bank Mandiri berada di urutan pertama.Demikian pula jika melihat kinerja intermediasi. Penyaluran kredit oleh Himpunan Bank Negara (Himbara) pun tergolong baik lantaran sanggup tumbuh 8,58% YoY, mengikuti tren industri perbankan yang tumbuh 7,76%.
Belum lagi dengan dampak ketidakpastian ekonomi global yang masih membayangi aktivitas bisnis. Situasi itu juga dapat berimbas pada pengetatan likuiditas perbankan.Walaupun begitu, optimisme bank-bank BUMN rupanya masih tinggi. Direktur Utama BRI Sunarso tidak menampik beragam tantangan tersebut. Namun, dia optimistis BRI sanggup mencapai target penyaluran kredit tahun ini.
Menurutnya, BRI masih mendapatkan rapor hijau pada paruh pertama berkat kinerja kredit mikro, dana murah, dan efi siensi. Demikian pula dengan kualitas aset yang terjaga, serta proporsi fee-based income yang tumbuh konsisten.
Sepanjang paruh pertama 2023, rasio kredit terhadap simpanan (loan-to-deposit ratio/LDR) BRI mencapai 87,83% dan ditargetkan dapat mencapai level optimal, yaitu 90%-95%.
Senada, Corporate Secretary Bank Mandiri Rudi As Aturridha mengatakan perusahaan masih menanti pengaturan lebih lanjut hapus buku kredit macet UMKM menjelang berakhirnya restrukturisasi kredit pada Maret 2024.
Kendati demikian, menurut Rudi, sejumlah tantangan itu tak menyurutkan optimisme perusahaan untuk mencapai target penyaluran kredit sebesar 10%-12% pada tahun ini.
Terkait kinerja pada paruh kedua, BNI juga masih melihat potensi akselerasi penyaluran kredit. Perusahaan menutup semester I/2023 dengan penyaluran kredit Rp650,77 triliun, tumbuh 4,89% Yo Y. Direktur Utama BNI Royke Tumilaar sebelumnya mengatakan penyaluran kredit yang tumbuh baik pada semester I/2023 akan diakselerasi pada semester II/2023.
Sementara itu, kalangan pengamat ekonomi menilai kinerja bank BUMN masih dibayangi risiko. Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira khawatir laba bank BUMN tahun ini bekal lesu karena tekanan likuiditas maupun utang jumbo BUMN Karya yang disebut OJK mencapai Rp46,21 triliun.
Optimisme Memacu Fungsi Intermediasi
Hasil Survei Perbankan Bank Indonesia mencatat penyaluran kredit baru pada kuartal II/2023 meningkat, yang tecermin dari saldo bersih tertimbang (SBT) penyaluran kredit baru sebesar 94,0%, lebih tinggi dibandingkan dengan kuartal sebelumnya 63,7%. Pertumbuhan kredit baru tersebut terjadi pada hampir seluruh jenis kredit, kecuali kredit investasi yang sedikit lebih rendah dibandingkan dengan kuartal sebelumnya. Namun, jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, peningkatan permintaan kredit baru pada kuartal II/2023, relatif stabil. Berdasarkan jenis penggunaan, pertumbuhan kredit baru yang meningkat terjadi pada hampir seluruh jenis kredit. Hal tersebut terindikasi pada kredit modal kerja (SBT 89,5%) dan kredit konsumsi (SBT 85,3%). Sementara itu, kredit investasi (SBT 54,4%) terindikasi sedikit lebih rendah dibandingkan dengan kuartal sebelumnya. Kredit baru untuk seluruh jenis kredit konsumsi tumbuh lebih tinggi dibandingkan dengan kuartal sebelumnya. Sementara itu, pada kuartal III/2023, kebijakan penyaluran kredit baru diproyeksikan tetap terjaga tumbuh positif, terindikasi dari SBT perkiraan penyaluran kredit baru sebesar 86,3%. Secara sektoral, pertumbuhan penyaluran kredit baru terutama terjadi pada sektor konstruksi (SBT 82,2%), diikuti oleh sektor pertanian, perburuan, dan kehutanan (SBT 79,5%), dan sektor industri pengolahan (SBT 77,9%). Survei BI menyebut kebijakan penyaluran kredit diperkirakan lebih ketat, antara lain pada suku bunga kredit dan premi kredit berisiko. Selanjutnya, hasil survei menunjukkan responden tetap optimistis terhadap pertumbuhan kredit ke depan, di mana responden memperkirakan pertumbuhan kredit sepanjang 2023 sebesar 10,9% (YoY), tumbuh positif meski tidak setinggi realisasi pertumbuhan kredit pada 2022 sebesar 11,4% (YoY).









