;

Akan IPO, KOKA Incar Pendapatan Naik 40%

Hairul Rizal 22 Sep 2023 Kontan
Calon emiten yang akan melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI), PT Koka Indonesia Tbk (KOKA) membidik pertumbuhan pendapatan sekitar 30%-40% hingga akhir tahun 2023. KOKA adalah perusahaan yang bergerak dalam bidang kontraktor umum, proyek konstruksi, teknik mesin, teknik geoteknik, desain interior dan furnitur. Direktur Keuangan Koka Indonesia, Michael Albert mengatakan, pendapatan itu berasal dari enam kontrak baru KOKA pada tahun 2023. Keenam kontrak tersebut didominasi oleh bisnis infrastruktur pertambangan. "Kontrak itu sesuai dengan kapasitas perseroan ini. Pendapatan kami incar naik 40% dan laba bersih lebih besar dari itu," ujar Michael, Kamis (21/9). Saat ini, KOKA telah memegang sejumlah kontrak proyek strategis di Indonesia, terutama dari klien yang berasal dari China. Sejauh ini, KOKA memiliki kualifikasi pada bidang konstruksi bangunan, konstruksi industri pabrik, jembatan dan terowongan selama lebih dari 10 tahun. Beberapa portofolio KOKA di antaranya, pembangunan PT Hua Ching Aluminium Indonesia, Pabrik Oppo di Tangerang, PT Chengtong Lithium, serta PT Kinsiang. Saat ini, pemegang saham utama KOKA adalah Gao Jing asal China. Gao Jing yang juga menjabat sebagai direktur utama KOKA menguasai 57% saham atau 42,75% setelah IPO. Lalu, PT Kreatif Konstruksi Indonesia memegang 33% atau 24,75% setelah IPO. Kemudian, Gao Jinfeng menguasai 7,20% (5,40% usai IPO) dan Pei Yaxing 2,80% (2,10% setelah IPO). Head of Corporate Finance UOB Kay Hian Sekuritas, Daud Gunawan mengatakan, valuasi harga IPO KOKA mencerminkan price earning ratio (PER) sebesar 9,9 kali. Angka ini lebih murah ketimbang PER perusahaan konstruksi rata-rata sebesar 15 kali sampai 20 kali.

Prospek Menjanjikan dari Luar Jawa

Hairul Rizal 22 Sep 2023 Kontan
Kinerja keuangan PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) diprediksikan tetap solid hingga akhir tahun 2023. Analis Samuel Sekuritas, Daniel Aditya Widjaja memperkirakan, pendapatan INTP setahun penuh 2023 dapat mencapai sebesar Rp 17,1 triliun dengan laba bersih Rp 1,9 triliun. Proyeksi tersebut menunjukkan potensi kenaikan pendapatan sebesar 4,8% secara tahunan atau year on year (yoy) dan pertumbuhan laba bersih 3,3% yoy. Tahun 2022, INTP membukukan pendapatan Rp 16,32 triliun dengan laba bersih Rp 1,84 triliun. Sementara itu, pada semester I-2023, INTP sudah mencatatkan pendapatan Rp 7,9 triliun dan laba bersih Rp 698,4 miliar. Lebih lanjut, permintaan dari proyek-proyek pemerintah, terutama Ibu Kota Nusantara (IKN), akan turut mendorong volume penjualan emiten ini. Daniel memprediksikan, pertumbuhan permintaan semen masih terjadi hingga tahun 2024, terutama dari jenis bulk cement. Dalam riset 4 Agustus 2023, Analis Ciptadana Sekuritas Muhammad Gibran memperkirakan, volume penjualan semen INTP tahun 2023 hanya tumbuh 2% menjadi 15,6 juta ton. Per semester I-2023, volume penjualan semen INTP tumbuh 5,5% yoy menjadi 7,5 juta ton di tengah penurunan volume penjualan industri yang sebesar 6,5% yoy. Sejalan dengan itu, pangsa pasar INTP meningkat menjadi 27,4% pada Juni 2023, dari 24,7% pada Juni 2022. Ada kenaikan pangsa pasar di Luar Jawa secara signifikan dari 14,5% menjadi 20,6%, sementara pangsa pasar di Jawa relatif stabil di 33,9%. Dalam riset tanggal 22 Agustus 2023, Analis MNC Sekuritas, Muhammad Rudy Setiawan menambahkan, volume penjualan INTP diperkirakan akan mencapai 17 juta-18 juta ton. INTP juga berencana memperluas penetrasi pasar Maros ke Indonesia bagian timur dan meningkatkan pangsa pasar ekspor. Di sisi lain, konsumsi batubara di musim dingin yang lebih tinggi diperkirakan akan memperketat pasokan dan menaikkan harga komoditas tersebut. Ini akan jadi tekanan biaya untuk produsen semen yang  mengandalkan batubara sebagai sumber energi. Ketiga analis tersebut merekomendasikan buy INTP. Daniel menetapkan target harga  INTP di posisi Rp 12.625 per saham, Gibran memasang target harga Rp 12.500, dan Rudy memberikan target harga  Rp 12.700 per saham. 

Asing Masih Akan Hati-Hati di Pasar Obligasi Negara

Hairul Rizal 22 Sep 2023 Kontan
kebijakan moneter ketat yang diberlakukan bank sentral di sejumlah negara maju telah menyedot keluar dana asing dari obligasi atau Surat Berharga Negara (SBN) di Tanah Air. Aliran dana keluar (outflow) sudah terjadi selama dua bulan terakhir. Menteri Keuangan, Sri Mulyani dalam konferensi pers APBN KITA secara virtual menyebutkan, sentimen global suku bunga tinggi yang ditahan lebih lama atau higher for longer dan laju inflasi yang relatif tetap tinggi mempengaruhi seluruh negara berkembang. Pasar SBN domestik mencatat outflow hingga mencapai Rp 17,7 triliun. Pada bulan Agustus, outflow sebesar Rp 8,9 triliun dan outflow sebanyak Rp 8,8 triliun per tanggal 14 September 2023. "Kita lihat pengaruh suku bunga di AS dan Eropa yang tinggi secara historis merespons inflasi yang terburuk dalam 40 tahun terakhir," ujar Sri Mulyani. Walaupun demikian, Sri Mulyani menilai pasar SBN setahun ini masih solid di tengah kondisi suku bunga tinggi di sejumlah negara maju. Chief Dealer Fixed Income & Derivatives Bank BNI, Fudji Rahardjo menilai, sikap hawkish The Fed masih menjadi pemicu utama atas berkurangnya minat investasi asing terhadap pasar surat utang Indonesia. Fudji berujar, meskipun fed funds rate (FFR) masih dipertahankan sesuai perkiraan pasar, namun potensi kenaikan suku bunga Bank Sentral AS masih sangat terbuka. Proyeksi penurunan suku bunga pun masih sangat kecil terjadi di tahun depan.

Harga Naik, Saham Energi Mendaki

Hairul Rizal 22 Sep 2023 Kontan
Setelah sempat lesu, harga komoditas energi seperti batubara dan energi mulai bergairah.  Batubara misalnya. Harga batubara Newcastle untuk kontrak pengiriman November 2023 senilai US$ 167,90 per ton pada perdagangan Rabu (20/9). Harga batubara sudah naik 3,32% sejak awal bulan. Demikian juga harga minyak mentah yang cenderung menguat di bulan ini. Harga minyak jenis West Texas Intermediate untuk pengiriman November 2023 stabil di atas US$ 80, tepatnya di US$ 88,70 per barel. Harga minyak WTI sudah menguat 6,91% sejak awal bulan. Penguatan harga komoditas energi menyulut pergerakan harga sejumlah saham berbasis energi, yang tercermin dari pelemahan indeks sektor energi (IDX energi) yang semakin menipis. Per Rabu (20/9), indeks yang berisi saham-saham komoditas energi ini hanya melemah 5,83% sejak awal tahun. Bandingkan  IDX Healthcare yang turun 7,31%  sementara IDX teknologi loyo hingga sekitar 16,65%. Kepala Riset Kiwoom Sekuritas Indonesia, Sukarno Alatas menilai, kenaikan saham-saham ini sejalan dengan penguatan harga komoditas batubara dan minyak. Ia memperkirakan, kenaikan harga komoditas bisa berlanjut, terutama harga minyak seiring dengan pengetatan produksi. Senada, Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rizkia Darmawan menilai, penguatan harga minyak kini lebih dikarenakan pemangkasan supply minyak oleh OPEC+. Alhasil Mirae Asset Sekuritas menyematkan hold saham ADRO, PTBA, dan ITMG dengan target harga masing-masing Rp 2.795, Rp 2.875, dan Rp 30.400. HRUM buy dengan target Rp 2.150. Sedang analis Samuel Sekuritas Indonesia Muhammad Farras Farhan merekomendasi buy MEDC dengan target harga 2.200. Prediksi harga minyak hingga akhir tahun US$ 85 per barel.

SRBI Terjual Rp 2,13 Triliun di Pasar Sekunder

Hairul Rizal 22 Sep 2023 Kontan
Instrumen baru milik Bank Indonesia (BI) yang bernama Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) tampaknya disambut baik para investor. Tak hanya di pasar perdana, instrumen tersebut sudah mulai diperdagangkan di pasar sekunder. Sebagai catatan, instrumen baru tersebut sudah dilelang dua kali dan hasilnya selalu melebihi target. Pada lelang pertama, targetnya Rp 7 triliun, tetapi permintaan mencapai Rp 29,9 triliun. Selanjutnya, pada lelang kedua, BI menargetkan permintaan hanya Rp 5 triliun. Tetapi penawaran yang masuk mencapai Rp 15,6 triliun. Ini berarti, oversubscribed mencapai 3,12 kali lipat. Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti menyebut, dari yang sudah dilelang di pasar perdana, transaksi di pasar sekunder sudah mencapai Rp 2,13 triliun. Sekitar 82% pembeli di pasar sekunder tersebut merupakan investor asing. "Bahkan di pasar sekunder, kami melihat non bank sudah mulai melakukan pembelian," ungkap Destry di Jakarta, Kamis (21/9). Bank DBS Indonesia jadi salah satu bank yang sudah berpartispasi dalam lelang SRBI. Hanya saja, Executive Director, Head of Trading, Treasury & Markets Bank DBS Indonesia Ronny Setiawan tak mau menyebutkan berapa nominal yang diserap bank tersebut. EVP Treasury Division Head Bank BTN Sindhu Rahadian menyebutkan, BTN juga sudah berpartisipasi dalam lelang tersebut. Tujuan BTN terlibat dalam lelang instrumen baru ini adalah sebagai upaya melakukan rekomposisi portofolio pasar uang yang dimiliki. "Ini diharapkan meningkatkan imbal hasil investasi," kata dia.

SIAGA JAGA RUPIAH

Hairul Rizal 22 Sep 2023 Bisnis Indonesia (H)

Pelemahan nilai tukar rupiah dan kenaikan inflasi karena lonjakan harga beras membuat Bank Indonesia (BI) tak cukup punya ruang untuk segera menurunkan suku bunga. Kemarin, Kamis (21/9), BI untuk kedelapan kalinya mempertahankan BI-7 Day Reverse Repo Rate tetap di 5,75%, sesuai dengan ekspektasi pasar. Keputusan itu merespons kekhawatiran tentang stabilitas rupiah setelah Federal Reserve melempar sinyal akan menaikkan sekali lagi suku bunga pada tahun ini dan selanjutnya suku bunga akan tetap 'lebih tinggi untuk jangka waktu yang lebih lama'. Ini akan membuat suku bunga di AS dan Indonesia setara. Berdasarkan data transaksi 11–14 September 2023 yang dicatat BI, nonresiden di pasar keuangan domestik melakukan jual neto Rp4,45 triliun, yang terdiri atas jual neto Rp3,98 triliun di pasar Surat Berharga Negara (SBN) dan jual neto Rp0,47 triliun di pasar saham. Akibatnya, kekuatan rupiah terus berkurang dengan hanya menguat 1,2% year-to-date per 20 September dibandingkan dengan apresiasi 1,78% hingga 23 Agustus. Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan kebijakan moneter saat ini tetap difokuskan untuk mengendalikan stabilitas nilai tukar rupiah, sebagai langkah antisipasi atas efek berantai ketidakpastian pasar keuangan global. “Tekanan nilai tukar di negara berkembang meningkat, sehingga memerlukan penguatan respons kebijakan untuk memitigasi risiko rambatan global tersebut, termasuk di Indonesia,” katanya dalam konferensi pers seusai Rapat Dewan Gubernur BI, Kamis (21/9). BI bulan lalu meluncurkan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) yang mendulang dana sekitar Rp37 triliun pada dua kali lelang yang berlangsung pada 15 September dan 20 September. Bank sentral juga mencatat posisi Term Deposit Valas Devisa Hasil Ekspor US$1,33 miliar bulan ini, meningkat dua kali lipat dari outstanding bulan lalu, setelah aturan DHE SDA diperbarui melalui PP No 36/2023. Ekonom Bank Danamon Irman Faiz melihat BI akan mengoptimalkan upayanya di pasar valas untuk mendukung rupiah, dengan menggunakan instrumen yang sudah ada dan instrumen baru untuk mengatasi tantangan eksternal secara efektif. Presiden Direktur Kalbe Farma Vidjongtius mengatakan perseroan harus merogoh kocek lebih dalam untuk mengimpor bahan baku, terlebih lagi, hampir 90% bahan baku obat Kalbe Farma bergantung pada impor. Perseroan akan mengkaji penaikan harga produk jika rupiah terus melemah. Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Kimia Farma Lina Sari mengatakan perusahaan melakukan kontrak kesepakatan dengan pemasok tentang estimasi kebutuhan bahan baku dengan harga yang telah disepakati.

Utak-Atik Formula Gaharkan Rupiah

Hairul Rizal 22 Sep 2023 Bisnis Indonesia

Volatilitas rupiah terhadap mata uang asing pada kuartal III/2023 terus disorot. Sepanjang bulan ini, pergerakannya bahkan mulai mirip dengan pelari amatir yang ngos-ngosan karena makin lunglai mengejar keperkasaan dolar AS.Rupiah memang berada dalam tekanan cukup serius karena bakal terus diintimidasi oleh potensi kenaikan suku bunga acuan The Fed hingga akhir tahun ini. Apalagi, kenaikan tajam harga minyak dunia masih menjadi ancaman paling nyata, yang korelasinya sangat besar ke rupiah. Kemarin, rupiah kembali ditutup melemah 0,02% menjadi Rp15.370 per dolar AS dibandingkan dengan sehari sebelumnya Rp15.368. Posisi rupiah kemarin merupakan yang terlemah sepanjang bulan berjalan ini. Pada 1 September, rupiah masih di posisi Rp15.225. Posisi rupiah pada 21 September 2023 memang bukanlah yang paling terpuruk sepanjang tahun berjalan 2023 (year-to-date/YtD). Rupiah pernah menyentuh titik nadir terhadap dolar AS pada 5 Januari 2023 senilai Rp15.627,50 dan posisi terkuatnya pada 30 April 2023 senilai Rp14.670. Sejumlah analis berbeda pendapat ihwal posisi rupiah terkini. Sebagian menyatakan bahwa nilai rupiah saat ini masih cocok dengan posisi fundamental ekonomi nasional kalau diukur dari level transaksi berjalan (current account) dan inflasi.  Dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 20—21 September, BI tetap mempertahankan suku bunga acuan, yang berarti sudah 8 bulan beruntun sejak Januari 2023. Dengan demikian, suku bunga Deposit Facility juga tetap di level 5%, dan suku bunga Lending Facility juga tak ber ubah di posisi 6,5%. Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan keputusan mempertahankan suku bunga acuan tersebut sebagai langkah konsisten dengan stance kebijakan moneter untuk memastikan inflasi tetap rendah dan terkendali berkisar 3+/- 1% pada 2023 dan menurun jadi 2,5 +/- 1% pada 2024.  Padahal, di tengah gejolak ekonomi global, sektor-sektor seperti penghiliran industri, properti, pariwisata, dan konsep green economy berkembang cukup baik. Semua itu bisa makin terakselerasi bila ditopang kredit perbankan. Dinamika sektor riil akan membuat ekonomi dan tenaga kerja bergerak sehingga rakyat bisa memiliki pendapatan.

SIKAP THE FED : JALUR TERJAL PEMULIHAN PASAR SBN

Hairul Rizal 22 Sep 2023 Bisnis Indonesia

Pemulihan pasar Surat Berharga Negara (SBN) bakal melewati jalur yang terjal akibat aliran dana asing tertahan sebagai imbas dari sikap hawkish Federal Reserve. Federal Reserve (The Fed) telah mengambil keputusan untuk mempertahankan suku bunga tetap 5,25%—5,55%. Kendati demikian, bank sentral Amerika Serikat itu masih memiliki amunisi untuk menaikkan suku bunga acuan sekali lagi sepanjang tahun ini. Pelonggaran moneter pun baru dimulai pada tahun depan. Gelagat hawkish Federal Reserve pun membuat imbal hasil Surat Utang Negara (SUN) acuan tenor 10 tahun naik 0,67% secara harian ke 6,77%. SUN tenor 2 tahun justru turun 0,41% ke 6,2%. Kenaikan imbal hasil SUN menandai bahwa minat di pasar turun. Head of Fixed Income Research Mandiri Sekuritas Handy Yunianto mengatakan faktor global menunjukkan pengaruhnya pada kinerja imbal hasil SUN. Kala imbal hasil Tresuri Amerika Serikat naik, begitu juga dengan indeks dolar AS, aset di negara berkembang menjadi tak menarik.  Lebih lanjut dia mengatakan, koreksi yield SBN Indonesia juga disebabkan karena tekanan jual investor asing, sementara support dari domestik menurutnya masih cukup solid. Hal itu yang membuat pemulihan pasar SBN melalui jalan terjal. Dari data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan, porsi asing dalam SBN sebelum pandemi yakni 2019 misalnya hampir menyentuh 39% terhadap total SBN beredar. Namun, kondisi berubah kala pandemi datang. Investor asing meninggalkan SBN dan belum kembali sepenuhnya.  Dihubungi terpisah, Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk. Josua Pardede mengatakan ketidakpastian masih membayangi pasar surat utang. Tak heran bila untuk sementara pasar lebih memilih instrumen bertenor pendek karena terdapat risiko yang datang dari infl asi dan gejolak nilai tukar yang bisa menggerus imbal hasil nyata. Dia menilai risiko infl asi RI datang dari harga beras dan energi. Lalu, kinerja rupiah yang masih tertekan di hadapan greenback turut membebani aksi asing masuk ke Tanah Air.  Kepala Ekonom dan Kepala Riset Divisi Surat Utang BRI Danareksa Sekuritas Helmy Kristanto mengatakan dalam hasil risetnya bahwa di tengah pelemahan rupiah dan upaya BI mengendalikan nilai tukar melalui penerbitan sekuritas rupiah BI (SRBI) dia mengantisipasi dampaknya terhadap pasar surat utang. Dia menyebut bahwa penerbitan SRBI tenor pendek dengan SBN sebagai aset dasarnya bisa memicu gejolak pada tenor jangka panjang. Artinya, gerak kenaikan imbal hasil SUN tenor panjang bisa semakin volatil.

GROUNDBREAKING HOTEL NUSANTARA : Langkah Swasta di IKN Nusantara

Hairul Rizal 22 Sep 2023 Bisnis Indonesia

Langkah awal keterlibatan investor swasta dalam negeri dalam pembangunan Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara terwujud dengan peletakan batu pertama pembangunan Hotel Nusantara yang diresmikan langsung Presiden Joko Widodo.Saat peletakan batu pertama atau groundbreaking pembangunan Hotel Nusantara, Presiden Jokowi mengapresiasi peran pengusaha-pengusaha lokal papan atas yang berkomitmen terlibat dalam menanamkan modalnya di kawasan tersebut.“Saya mengucapkan terima kasih kepada Pak Aguan [Sugianto Kusuma] dan kawan-kawan yang hadir. Ini memberikan confidence, memberikan rasa percaya diri pada Nusantara bahwa ini sangat diminati oleh investor,” ujar Kepala Negara, Kamis (21/9).Pengembangan Hotel Nusantara diperkirakan menarik investasi senilai Rp20 triliun melalui konsorsium Agung Sedayu Group milik Sugianto Kusuma yang beranggotakan 10 perusahaan. Sejumlah pengusaha papan atas dalam negeri yang turut hadir dalam kegiatan peresmian itu di antaranya Prajogo Pangestu (Barito Pasifi c) dan Franky O. Widjaja (Sinar Mas Group).Hadirnya kalangan swasta dalam proyek IKN Nusantara, kata Presiden akan terus berlanjut di sejumlah proyek infrastruktur seperti rumah sakit, pusat latihan untuk sepak bola, dan pusat belanja. enurut Presiden, prioritas investor dalam negeri merupakan komitmen awal atas pembangunan Nusantara. Sejak dulu, Kepala Negara telah menawarkan investasi di Nusantara lebih dulu kepada investor swasta lokal daripada investor luar negeri.  Bahkan, Kepala Negara mengeklaim bahwa investor dari Uni Emirat Arab (UEA) belum lama ini juga menunjukkan ketertarikan berinvestasi di IKN. Kepala Negara juga optimistis bahwa investor akan berbondong-bondong datang untuk melakukan investasi di IKN seusai groundbreaking sejumlah proyek perusahaan swasta. Deputi Bidang Pendanaan dan Investasi Otorita IKN Agung Wicaksono menjelaskan selain hotel, konsorsium Agung Sedayu Group berencana menggarap proyek kebun raya (botanical garden). Total nilai investasi yang diguyurkan oleh Aguan Cs. di IKN bakal mencapai Rp40 triliun.

BAGI HASIL MIGAS : SKEMA LAMA ‘JERAT’ KKKS

Hairul Rizal 22 Sep 2023 Bisnis Indonesia

Persoalan keekonomian pengembangan wilayah kerja kembali menyelimuti industri hulu minyak dan gas bumi atau migas. Sejumlah kontraktor kontrak kerja sama meminta pemerintah melakukan perubahan kontrak agar sektor tersebut bisa melaju lebih kencang. Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) membeberkan bahwa sebagian pengembangan lapangan migas terkendala oleh persoalan keekonomian akibat rezim kontrak bagi hasil dengan skema gross split lama. Untuk diketahui, pemerintah tahun ini memang merevisi aturan mengenai gross split yang telah berlaku sejak 2018 menjadi new simplified gross split agar bisa mendorong pengembangan bisnis hulu migas menjadi lebih sederhana, cepat, kompetitif, efektif, dan akuntabel. Skema gross split baru itu memungkinkan KKKS mendapatkan bagi hasil dalam rentang 80%—90% sebelum pajak, sesuai dengan profil risiko lapangan migas yang digarap. Deputi Eksplorasi, Pengembangan, dan Manajemen Wilayah SKK Migas Benny Lubiantara mengatakan, sebagian besar lapangan migas yang menggunakan skema gross split lama adalah wilayah kerja pengembangan yang dikelola oleh PT Pertamina Hulu Energi.SKK Migas bersama Pertamina Hulu Energi pun terus melakukan diskusi ihwal tambahan insentif atau kemungkinan lain untuk mengubah kontrak bagi hasil itu menjadi cost recovery. Hanya saja, SKK Migas cenderung lebih berhati-hati untuk mengubah ketentuan kontrak bagi hasil tersebut. Direktur Pembinaan Usaha Hulu Migas Kementerian ESDM Noor Arifin Muhammad mengatakan, lebih dari lima production sharing contract (PSC) mesti jalan di tempat lantaran terganjal isu keekonomian. Saat ini beberapa KKKS juga diketahui tengah mengajukan permohonan insentif tambahan, dan kemungkinan peralihan kontrak dari gross split lama menjadi cost recovery.Di sisi lain, Kementerian ESDM juga tengah memfinalisasi dua aturan yang mengatur PSC dan fasilitas perpajakan pada industri hulu migas, yakni Peraturan Pemerintah (PP) No. 27/2017 dan PP No. 79/2010. Sementara itu, Ketua Komite Investasi Asosiasi Perusahaan Minyak dan Gas (Aspermigas) Moshe Rizal mengatakan, yang menjadi persoalan dari skema bagi hasil di Indonesia adalah tidak mempromosikan kepastian pengembalian investasi.

Pilihan Editor