Parlemen Ingin Kucuran Dana Desa Naik di 2024
Aturan Main dan Cuan di Bursa Karbon
Akan IPO, KOKA Incar Pendapatan Naik 40%
Prospek Menjanjikan dari Luar Jawa
Asing Masih Akan Hati-Hati di Pasar Obligasi Negara
Harga Naik, Saham Energi Mendaki
SRBI Terjual Rp 2,13 Triliun di Pasar Sekunder
SIAGA JAGA RUPIAH
Pelemahan nilai tukar rupiah dan kenaikan inflasi karena lonjakan harga beras membuat Bank Indonesia (BI) tak cukup punya ruang untuk segera menurunkan suku bunga. Kemarin, Kamis (21/9), BI untuk kedelapan kalinya mempertahankan BI-7 Day Reverse Repo Rate tetap di 5,75%, sesuai dengan ekspektasi pasar. Keputusan itu merespons kekhawatiran tentang stabilitas rupiah setelah Federal Reserve melempar sinyal akan menaikkan sekali lagi suku bunga pada tahun ini dan selanjutnya suku bunga akan tetap 'lebih tinggi untuk jangka waktu yang lebih lama'. Ini akan membuat suku bunga di AS dan Indonesia setara. Berdasarkan data transaksi 11–14 September 2023 yang dicatat BI, nonresiden di pasar keuangan domestik melakukan jual neto Rp4,45 triliun, yang terdiri atas jual neto Rp3,98 triliun di pasar Surat Berharga Negara (SBN) dan jual neto Rp0,47 triliun di pasar saham. Akibatnya, kekuatan rupiah terus berkurang dengan hanya menguat 1,2% year-to-date per 20 September dibandingkan dengan apresiasi 1,78% hingga 23 Agustus. Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan kebijakan moneter saat ini tetap difokuskan untuk mengendalikan stabilitas nilai tukar rupiah, sebagai langkah antisipasi atas efek berantai ketidakpastian pasar keuangan global. “Tekanan nilai tukar di negara berkembang meningkat, sehingga memerlukan penguatan respons kebijakan untuk memitigasi risiko rambatan global tersebut, termasuk di Indonesia,” katanya dalam konferensi pers seusai Rapat Dewan Gubernur BI, Kamis (21/9). BI bulan lalu meluncurkan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) yang mendulang dana sekitar Rp37 triliun pada dua kali lelang yang berlangsung pada 15 September dan 20 September. Bank sentral juga mencatat posisi Term Deposit Valas Devisa Hasil Ekspor US$1,33 miliar bulan ini, meningkat dua kali lipat dari outstanding bulan lalu, setelah aturan DHE SDA diperbarui melalui PP No 36/2023. Ekonom Bank Danamon Irman Faiz melihat BI akan mengoptimalkan upayanya di pasar valas untuk mendukung rupiah, dengan menggunakan instrumen yang sudah ada dan instrumen baru untuk mengatasi tantangan eksternal secara efektif. Presiden Direktur Kalbe Farma Vidjongtius mengatakan perseroan harus merogoh kocek lebih dalam untuk mengimpor bahan baku, terlebih lagi, hampir 90% bahan baku obat Kalbe Farma bergantung pada impor. Perseroan akan mengkaji penaikan harga produk jika rupiah terus melemah. Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Kimia Farma Lina Sari mengatakan perusahaan melakukan kontrak kesepakatan dengan pemasok tentang estimasi kebutuhan bahan baku dengan harga yang telah disepakati.
Utak-Atik Formula Gaharkan Rupiah
Volatilitas rupiah terhadap mata uang asing pada kuartal III/2023 terus disorot. Sepanjang bulan ini, pergerakannya bahkan mulai mirip dengan pelari amatir yang ngos-ngosan karena makin lunglai mengejar keperkasaan dolar AS.Rupiah memang berada dalam tekanan cukup serius karena bakal terus diintimidasi oleh potensi kenaikan suku bunga acuan The Fed hingga akhir tahun ini. Apalagi, kenaikan tajam harga minyak dunia masih menjadi ancaman paling nyata, yang korelasinya sangat besar ke rupiah. Kemarin, rupiah kembali ditutup melemah 0,02% menjadi Rp15.370 per dolar AS dibandingkan dengan sehari sebelumnya Rp15.368. Posisi rupiah kemarin merupakan yang terlemah sepanjang bulan berjalan ini. Pada 1 September, rupiah masih di posisi Rp15.225. Posisi rupiah pada 21 September 2023 memang bukanlah yang paling terpuruk sepanjang tahun berjalan 2023 (year-to-date/YtD). Rupiah pernah menyentuh titik nadir terhadap dolar AS pada 5 Januari 2023 senilai Rp15.627,50 dan posisi terkuatnya pada 30 April 2023 senilai Rp14.670.
Sejumlah analis berbeda pendapat ihwal posisi rupiah terkini. Sebagian menyatakan bahwa nilai rupiah saat ini masih cocok dengan posisi fundamental ekonomi nasional kalau diukur dari level transaksi berjalan (current account) dan inflasi.
Dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 20—21 September, BI tetap mempertahankan suku bunga acuan, yang berarti sudah 8 bulan beruntun sejak Januari 2023. Dengan demikian, suku bunga Deposit Facility juga tetap di level 5%, dan suku bunga Lending Facility juga tak ber ubah di posisi 6,5%. Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan keputusan mempertahankan suku bunga acuan tersebut sebagai langkah konsisten dengan stance kebijakan moneter untuk memastikan inflasi tetap rendah dan terkendali berkisar 3+/- 1% pada 2023 dan menurun jadi 2,5 +/- 1% pada 2024.
Padahal, di tengah gejolak ekonomi global, sektor-sektor seperti penghiliran industri, properti, pariwisata, dan konsep green economy berkembang cukup baik. Semua itu bisa makin terakselerasi bila ditopang kredit perbankan. Dinamika sektor riil akan membuat ekonomi dan tenaga kerja bergerak sehingga rakyat bisa memiliki pendapatan.
SIKAP THE FED : JALUR TERJAL PEMULIHAN PASAR SBN
Pemulihan pasar Surat Berharga Negara (SBN) bakal melewati jalur yang terjal akibat aliran dana asing tertahan sebagai imbas dari sikap hawkish Federal Reserve.
Federal Reserve (The Fed) telah mengambil keputusan untuk mempertahankan suku bunga tetap 5,25%—5,55%. Kendati demikian, bank sentral Amerika Serikat itu masih memiliki amunisi untuk menaikkan suku bunga acuan sekali lagi sepanjang tahun ini. Pelonggaran moneter pun baru dimulai pada tahun depan. Gelagat hawkish Federal Reserve pun membuat imbal hasil Surat Utang Negara (SUN) acuan tenor 10 tahun naik 0,67% secara harian ke 6,77%. SUN tenor 2 tahun justru turun 0,41% ke 6,2%. Kenaikan imbal hasil SUN menandai bahwa minat di pasar turun. Head of Fixed Income Research Mandiri Sekuritas Handy Yunianto mengatakan faktor global menunjukkan pengaruhnya pada kinerja imbal hasil SUN. Kala imbal hasil Tresuri Amerika Serikat naik, begitu juga dengan indeks dolar AS, aset di negara berkembang menjadi tak menarik.
Lebih lanjut dia mengatakan, koreksi yield SBN Indonesia juga disebabkan karena tekanan jual investor asing, sementara support dari domestik menurutnya masih cukup solid. Hal itu yang membuat pemulihan pasar SBN melalui jalan terjal. Dari data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan, porsi asing dalam SBN sebelum pandemi yakni 2019 misalnya hampir menyentuh 39% terhadap total SBN beredar. Namun, kondisi berubah kala pandemi datang. Investor asing meninggalkan SBN dan belum kembali sepenuhnya.
Dihubungi terpisah, Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk. Josua Pardede mengatakan ketidakpastian masih membayangi pasar surat utang. Tak heran bila untuk sementara pasar lebih memilih instrumen bertenor pendek karena terdapat risiko yang datang dari infl asi dan gejolak nilai tukar yang bisa menggerus imbal hasil nyata. Dia menilai risiko infl asi RI datang dari harga beras dan energi. Lalu, kinerja rupiah yang masih tertekan di hadapan greenback turut membebani aksi asing masuk ke Tanah Air.
Kepala Ekonom dan Kepala Riset Divisi Surat Utang BRI Danareksa Sekuritas Helmy Kristanto mengatakan dalam hasil risetnya bahwa di tengah pelemahan rupiah dan upaya BI mengendalikan nilai tukar melalui penerbitan sekuritas rupiah BI (SRBI) dia mengantisipasi dampaknya terhadap pasar surat utang. Dia menyebut bahwa penerbitan SRBI tenor pendek dengan SBN sebagai aset dasarnya bisa memicu gejolak pada tenor jangka panjang. Artinya, gerak kenaikan imbal hasil SUN tenor panjang bisa semakin volatil.









