Mutiara Indonesia Makin Tak Terjangkau
Indonesia tercatat sebagai penghasil terbesar komoditas
mutiara laut selatan (south sea pearl) di dunia. Mutiara asal Indonesia dikenal
dengan mutiara berwarna emas dan putih. Selama ini, mutiara laut itu diekspor
gelondongan dalam bentuk butiran. Selain Indonesia, mutiara laut selatan juga
dihasilkan oleh Australia, Filipina, dan Myanmar. Selama pandemi, ekspor
mutiara laut selatan asal Indonesia sempat merosot. Namun, sejak tahun 2022
ekspor mutiara laut terus melesat dengan nilai fantastis. Permintaan konsumen dunia
semakin besar, terutama dari China, Korea Selatan, dan India. Berdasarkan data
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), volume ekspor mutiara pada tahun 2022
sebesar 13.493 kg atau naik 300 % dibandingkan masa pandemi. Adapun nilai
ekspor mutiara tahun 2022 sebesar 54,65 juta USD, melampaui masa sebelum
pandemi. Sementara itu, selama Januari-Agustus 2023, ekspor komoditas mutiara
laut Indonesia mencapai 7.132 kg dengan nilai 74,47 juta USD.
”Harga jual mutiara saat ini merupakan tertinggi sepanjang
sejarah budidaya mutiara. Nilai jual diprediksi masih akan terus naik karena
permintaan dunia besar, sedangkan produksi (mutiara) masih terbatas” kata pemilik
CV Rosario Mutiara di Jakarta, Ambrosius Kengrry Retanubun, saat dihubungi,
Senin (9/10). Sebagai ilustrasi, harga gelondongan mutiara kualifikasi terbaik,
yakni kelas AAA berukuran 8-12 milimeter (mm), menembus 200-300 USD per gram.
Adapun mutiara kelas AAA berukuran 12-15 mm, laku dijual seharga 500 USD per
gram. Sementara itu, harga mutiara kualitas rendah berkisar 30 USD per gram.
Mutiara kelas rendah itu pun dinilai laku keras. Apabila dijadikan perhiasan,
harga sepasang anting mutiara laut selatan berukuran 8 mm mencapai Rp 10,5
juta. Harga itu jauh lebih mahal dibandingkan sepasang anting mutiara air tawar
asal China yang dibanderol di kisaran Rp 3 juta-Rp 4 juta. (Yoga)
Garuda Jajaki Penggunaan Bioavtur
Maskapai Penerbangan Garuda Indonesia telah berhasil melakukan rangkaian uji penerbangan dengan menggunakan bioavtur berbasis bahan bakar nabati dari minyak kelapa sawit. Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra, Selasa (10/10/2023), mengatakan, dirampungkannya uji coba penggunaan bahan bakar penerbangan berkelanjutan tersebut menjadi cara perseroan mendukung inisiatif dekarbonisasi. (Yoga)
Perbankan Berkomitmen Terlibat dalam Mitigasi Perubahan Iklim
Industri perbankan berkomitmen untuk terlibat dalam aksi
mitigasi perubahan iklim melalui program dan pembiayaan yang mendukung ekonomi
berkelanjutan. Di sisi lain, saat ini pemerintah tengah menyusun revisi taksonomi
hijau Indonesia di sector keuangan sebagai bentuk mitigasi perubahan iklim. Presdir
PT Bank Central Asia Tbk (BCA) Jahja Setiaatmadja mengatakan, ekonomi
berkelanjutan dapat tercapai apabila para pemangku kepentingan memiliki
pemahaman yang sama tentang dampak perubahan iklim. Oleh sebab itu, pihaknya
kembali menyelenggarakan Indonesia Knowledge Forum (IKF) XII 2023 sebagai wadah
pertemuan antarpemangku kepentingan yang membahas aspek keberlanjutan dan upaya
menjaga stabilitas ekonomi jangka panjang.
”Melalui IKF XII 2023, kami bertekad menggali potensi
kolaborasi lintas sektor dan inovasi berbasis teknologi digital dalam
menghasilkan solusi ramah lingkungan untuk pembangunan ekonomi berkelanjutan,”
katanya saat membuka IKF XII 2023, di Jakarta, Selasa (10/10). Selain program
yang berorientasi pada keberlanjutan lingkungan, BCA juga turut menyalurkan
pembiayaan hijau sebesar Rp 76 triliun pada triwulan I-2023 atau meningkat 4,9
% secara tahunan. Adapun penyaluran pinjaman paling besar pada sektor sumber daya
alam dan penggunaan lahan berkelanjutan sebesar Rp 60,4 triliun, sektor transportasi
berkelanjutan Rp 7 triliun, dan untuk pembiayaan energi terbarukan Rp 2,9
triliun. (Yoga)
Dilema Hilirisasi di Era Transisi Energi
Indonesia masih meniti langkah untuk mewujudkan hilirisasi
atau industrialisasi tambang yang lebih utuh dari hulu ke hilir. Konsekuensinya,
dibutuhkan jaminan pasokan energi terjangkau yang sejauh ini baru bisa didapat
dari tenaga batubara.Pengembangan energi terbarukan yang terjangkau dan ”menghijaukan”
batubara menjadi tantangan besar mewujudkan cita-cita tersebut. Sampai saat
ini, batubara masih menjadi sumber energi utama di sektor pembangkit listrik di
Indonesia. Berdasarkan data Kementerian ESDM untuk tahun 2022, batubara berperan
67,21 % dalam bauran energi primer pembangkit listrik di Indonesia. Angka itu
naik dari 2021 di 66,01 %. Adapun porsi energi baru dan terbarukan di 2022
sebesar 14,11 % atau naik dari 2021 yang 13,65 %.
Menurut Ketua Umum Indonesian Mining Association (IMA)
Rachmat Makkasau, komitmen menekan emisi karbon lewat sektor pembangkit listrik
itu akan semakin menantang seiring dengan kebutuhan konsumsi yang tinggi di sektor
industri. Apalagi, Indonesia sedang menggenjot industrialisasi tambang yang
lebih utuh dari hulu ke hilir, yang otomatis akan ikut menyumbang kenaikan
emisi karbon. ”Dengan meningkatnya industrialisasi itu, konsekuensinya adalah
peningkatan power. Kita pasti akan membutuhkan banyak energi. Pemerintah dan
industri harus sama-sama memikirkan bagaimana batubara tetap bisa dipakai,
tetapi dengan emisi yang ditekan,” katanya dalam acara Indonesia Mining Summit
(IMS) yang digelar IMA bersama harian Kompas di Nusa Dua, Badung, Bali, Selasa
(10/10). (Yoga)
Insentif Nol Persen BBNKB di Jakarta hingga Akhir Tahun
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memberikan insentif fiskal berupa kebijakan bea balik nama kendaraan bermotor (BBNKB) dengan tarif nol persen untuk penyerahan kedua dan seterusnya. Kebijakan ini berlaku pada 10 Oktober-31 Desember 2023. Kepala Badan Pendapatan Daerah Provinsi DKI Jakarta Lusiana Herawati, Selasa (10/10/2023), menyampaikan, kebijakan ini untuk menertibkan data kepemilikan kendaraan bermotor di Jakarta serta mendorong wajib pajak mendaftarkan penyerahan kepemilikan kendaraan bermotornya. (Yoga)









