Iming-iming yang Terus Berkelindan di Rempang
Sampai saat ini, warga masih tak habis pikir. ”Mengapa warga
yang harus digusur untuk sebuah proyek yang
belum pasti? Ada apa di balik itu?” ujar Marsita, warga Sembulang, Rempang,
Minggu (8/10). Masyarakat Rempang sudah kenyang dengan janji politik dan
iming-iming pembangunan, Presiden Jokowi pernah menjanjikan sertifikat tanah di
kampung-kampung tua Pulau rempang, April 2019. Presiden juga menjanjikan pembangunan
jembatan penghubung Pulau Batam dan Pulau Bintan. Janji itu masih dinantikan
warga. Namun, yang terjadi sekarang malah warga terancam digusur dari kampung
tua akibat proyek Rempang Eco City. Meski rencana penggusuran itu diikuti
iming-iming penggantian rumah dan tanah, warga tidak mudah percaya lagi. ”Betul
tak cerita pemerintah tu mau bangun rumah untuk kami,” ucap Didi, warga Pasir
Panjang. Didi dan Marsita menolak pindah, baik itu relokasi maupun pergeseran.
”Ini kampung kami. Tanah kelahiran dan sumber kehidupan kami. Tidak ada pindah
walau sejengkal pun,” kata Marsita.
Dalam catatan Kompas, iming-iming pembangunan kerap berkelindan
di Pulau Rempang. Proyek Rempang Eco City digaungkan sejak dua dasawarsa lalu.
PT Makmur Elok Graha dan Pemerintah Kota Batam juga telah meneken nota
kesepahaman pada 2004. Namun, tak terwujud jua. Pada 2006, pemerintah merencanakan
proyek penelitian dan pengembangan bioteknologi komersial berupa kawasan bioisland
di Pulau Rempang (Kompas, 6/1/2006). Ada pula rencana pengembangan pariwisata
khusus di Pulau Rempang yang diketahui warga empat atau lima tahun silam. Kedua
rencana itu tak jelas realisasinya. Pertengahan 2023 terdengar lagi rencana
pembangunan Rempang Eco City demi terwujudnya kawasan industri terpadu. Warga
sebenarnya tak menghalangi pembangunan itu, asal tidak menggusur penduduk. Penggusuran
menimbulkan ketidakpercayaan pada pemerintah. Apalagi, tempat tinggal baru yang
dijanjikan belum tuntas dibangun. (Yoga)
Data Produksi Beras Masih Bermasalah
Kemendagri meminta Kementan merekonsiliasi data data realisasi tanam padi dan produksi beras dengan kementerian atau lembaga terkait untuk membuktikan kecocokan data dengan kondisi riil di lapangan. Hal itu mengemuka dalam rapat pengendalian inflasi daerah yang dipimpin Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian secara daring di Jakarta, Senin (9/10). Tito mengatakan, persoalan klasik terkait data produksi beras perlu diselesaikan. Kementan menyatakan tetap ada surplus beras tahun ini meskipun produksinya diperkirakan turun sebagai dampak El Nino. Namun, NFA, BPS, dan Bulog menyatakan produksi beras berkurang cukup signifikan sehingga harga beras melonjak tinggi. Bulog dan penggilingan kecil menengah bahkan kesulitan menyerap gabah petani.
”Saya berharap ada rekonsiliasi data produksi beras antara Kementan dengan kementerian/lembaga terkait dan pemerintah daerah. Produksi beras di sejumlah daerah yang ada dalam data perlu dicek, bahkan dobel cek dengan mendatangi lokasi,” ujarnya. Permintaan Tito itu terkait pernyataan Kementan tentang data Perkiraan Prognosis Neraca Beras Indonesia Tahun 2023 yang bersumber dari hasil kerangka sampel area yang dirilis BPS. Selain itu, Kementan juga menilai kenaikan harga gabah dan beras yang terjadi tidak terkait dengan hukum permintaan dan penawaran. (Yoga)ASEAN Tetap Tangguh di Era Suku Bunga Tinggi
Tren kenaikan suku bunga di negara maju pascapandemi
Covid-19 membuat perekonomian banyak negara di dunia terguncang. Namun,tidak
denganAsia Tenggara. Peningkatan nilai tambah dari produk ekspor dan digitalisasi
menjadi dasar kekuatan negara-negara ASEAN, termasuk Indonesia. Ekonom Senior
United Overseas Bank Limited (UOB) Enrico Tanuwidjaja menjelaskan, di tahun
keempat pascapandemi Covid-19, konsumsi masyarakat dunia terus meningkat dan
mengakibatkan kenaikan inflasi. Sayangnya, ini belum bisa diimbangi dengan
kuantitas produksi. Untuk mengendalikan hal ini, banyak negara di dunia, khususnya
negara maju, seperti AS dan Eropa, menaikkan suku bunga mereka.
”Era suku bunga tinggi akan berlangsung cukup lama, sepanjang
9-12 bulan ke depan. Tetapi, ASEAN tetap tangguh dan punya resiliensi.
Perekonomian ASEAN tidak perlu menaikkan suku bunga secara drastis,” ujar
Enrico dalam konferensi pers UOB Gateway to ASEAN Conference 2023 di Jakarta,
Senin (9/10). Tren suku bunga tinggi memukul perdagangan ekspor dan impor
belasan negara ASEAN pada 2023 setelah bangkit dari krisis akibat pandemi
Covid-19 pada 2020 dan 2021. Namun, data menunjukkan, kejatuhan ekonomi yang
difaktori perdagangan eksternal tidak sedalam pada krisis ekonomi global 2008
dan 2015. Menurut Enrico, hal ini ditopang 10 sektor komoditas perdagangan
unggulan ASEAN. Yang teratas, di antaranya, produk dari sektor mesin dan
kebutuhan kelistrikan yang unggul di Singapura, Malaysia, dan Thailand. Lalu,
ada Indonesia dengan komoditas mineral, agrikultur, dan karet. (Yoga)
BREN Rajai Sektor Energi Terbarukan di Bursa Saham
PT Barito Renewables Energy Tbk resmi melantai di Bursa Efek
Indonesia dengan kode emiten BREN, Senin (9/10). Perusahaan yang memproduksi listrik
dari tenaga panas bumi ini mengalami kelebihan penawaran setelah mencetak
kapitalisasi terbesar di bursa untuk sektor energi terbarukan saat penawaran
saham perdana. Barito Renewables merupakan perusahaan induk energy dari Grup
Barito Pacific yang didirikan Prajogo Pangestu, orang terkaya ketujuh di RI
versi Forbes. Pada perdagangan perdana
saham BREN pagi ini, harga satuan saham melonjak 25 % ke level Rp 975 per saham
dari harga penawaran awal Rp 780 per saham.
Dirut Barito Renewables Hendra Soetjipto Tan, dalam acara
peluncuran saham di BEI, Jakarta, menyampaikan, penawaran saham perdana
(initial public offering/IPO) ini merupakan komitmen mereka untuk mendukung
Pemerintah Indonesia dalam mewujudkan tranisi energi yang berkelanjutan. ”IPO
ini tidak hanya terbatas pada industri tenaga panas bumi, tetapi juga menuju ke
teknologi terbarukan lainnya, dengan didukung oleh keunggulan operasional yang
kuat,” kata Hendra. Dana IPO ini akan mereka gunakan untuk mengonsolidasikan
Star Energy Geothermal Group, yang sahamnya dipegang BREN, dengan teknologi canggih
dan tenaga ahli yang berpengalaman. (Yoga)
Penetrasi 5G Butuh Frekuensi dan Insentif
Sejak jaringan 5G pertama kali digelar pada Mei 2021,
penetrasi ponsel pintar 5G masih 5 %. Tingkat adopsi baru tumbuh di atas 30 % pada 2027. Pelaku industri telekomunikasi mendorong
pemerintah mendukung segera terbentuknya ekosistem layanan berteknologi akses
seluler 5G, termasuk ketersediaan lebar pita spektrum frekuensi yang memadai
beserta insentif pemakaiannya. Presdir & CEO PT XL Axiata Tbk Dian
Siswarini, Senin (9/10) di Jakarta, menyampaikan realitas itu. Menurut dia,
minimal lebar pita spektrum frekuensi yang membuat layanan berteknologi
akses seluler 5G berjalan optimal adalah 100 megahertz (MHz). Jumlah minimal
lebar pita semestinya dimiliki oleh setiap operator telekomunikasi seluler di
Indonesia dan tidak dicampur untuk pemakaian 4G ataupun teknologi di bawahnya. Oleh
karena itu, pemerintah disarankan segera melepas lelang spektrum frekuensi
baru. Saat ini kalangan operator telekomunikasi seluler gencar mengembuskan
saran agar pemerintah juga memberikan insentif untuk pemakaian spektrum
frekuensi.
Dian menyebut, harga spektrum frekuensi di Indonesia tergolong
tinggi dibandingkan negara tetangga. Tingginya harga itu akan membuat bisnis
layanan telekomunikasi yang memakai teknologi akses seluler baru tidak akan berkelanjutan.
Investasi penggelaran layanan telekomunikasi berteknologi 5G butuh biaya besar.
Sebab, penggelaran infrastruktur mensyaratkan kabel fiber. Jarak menara
pemancar satu dengan lainnya juga harus dekat sehingga akan butuh banyak menara.
”Tender terakhir adalah spektrum frekuensi 2,1 gigahertz (GHz) dengan lebar
pita 5 MHz. Harganya di atas Rp 600 miliar. Jika mengacu harga itu dan
pemerintah mempertahankan formula lama bayar biaya hak penggunaan (BHP)
frekuensi, lalu pemerintah menawarkan lebar 50 MHz untuk kebutuhan 5G, operator
berarti harus bayar mahal sekali,” ujar Dian yang juga anggota Dewan Pengawas
Asosiasi Penyelenggara Telekomunikasi Seluruh Indonesia (ATSI) itu. Dian
mengusulkan adanya mekanisme cicil bayar BHP spectrum frekuensi. (Yoga)
Sektor Jasa Keuangan Tetap Stabil
OJK menilai sektor jasa keuangan terjaga stabil di tengah
era tingginya tingkat suku bunga dalam jangka waktu lama (higher for longer).
Stabilitas itu salah satunya ditunjukkan industri perbankan yang tetap resilien
dan mencatatkan pertumbuhan penyaluran kredit hingga Agustus 2023. ”Sektor jasa
keuangan nasional terjaga stabil didukung permodalan yang kuat, kondisi likuiditas
yang memadai, dan profil risiko yang terjaga sehingga meningkatkan optimisme
bahwa sektor jasa keuangan mampu memitigasi risiko higher for longer suku bunga
global,” kata Ketua Dewan Komisioner Otoritas OJK Mahendra Siregar saat
menyampaikan hasil Rapat Dewan Komisioner Bulanan OJK September secara daring, Senin
(9/10/2023).
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae
menjelaskan, pertumbuhan dana pihak ketiga pada Agustus 2023 tercatat 6,24 % secara
tahunan menjadi Rp 8.082 triliun. ”Fungsi intermediasi perbankan berjalan
dengan normal dalam menopang perekonomian, baik di sisi pembiayaan maupun dalam
penghimpunan dana. Pada Agustus 2023, pertumbuhan penyaluran kredit meningkat
9,06 % secara tahunan dari sebelumnya pada Juli 2023 sebesar 8,54 % menjadi Rp 6.739,40
triliun. Pertumbuhan tertinggi ada pada kredit investasi sebesar 11,25 %,”
lanjut Dian. (Yoga)
Genjot Penagihan Kewajiban Pengembang
Pemprov DKI Jakarta menerima 62 fasilitas sosial dan
fasilitas umum yang menjadi kewajiban pengembang sepanjang tahun ini. Kewajiban
itu terbit seiring keluarnya surat izin penunjukan penggunaan tanah, izin
peruntukan penggunaan tanah, atau izin prinsip pemanfaatan ruang. Akan tetapi, tak semua pengembang tertib menunaikan
kewajibannya. Ada kewajiban yang tertunda selama bertahun-tahun. Oleh karena
itu, Pemprov DKI Jakarta didorong mengoptimalkan penagihan serta menerapkan
sanksi bagi pengembang yang menunda kewajibannya. Pada Senin (9/10) Pemprov DKI
Jakarta menerima penyerahan 44 kewajiban pengembang selama April-September
2023, terdiri dari lahan seluas 424.000 meter persegi dan konstruksi seluas
414.181 meter persegi. Nilainya mencapai Rp 4,8 triliun. Selama Januari-Maret
2023, ada 18 kewajiban yang ditunaikan, yakni lahan seluas 119.403 meter persegi
dan konstruksi seluas 77.001 meter persegi dengan nilai Rp 1,7 triliun.
Pj Gubernur DKI Jakarta Heru Budi Hartono menyebutkan, saat
ini perizinan di DKI Jakarta sudah lebih mumpuni sehingga pengembang lebih
mudah melaksanakan kewajibannya. Pengembang bisa sesegera mungkin menyerahkan
kewajiban tanpa menunda terlalu lama. ”Kami tagih kewajiban yang realistis
sehingga pengembang bisa menyerahkannya dengan cepat. Tidak menjadi terutang terus,”
katanya seusai serah terima di Balai Kota Jakarta. Heru meminta Bappeda dan
Asisten Pembangunan Pemprov DKI Jakarta untuk giat menagih kewajiban
pengembang. Sementara itu, Badan Pengelolaan Aset Daerah sebisa mungkin
melakukan serah terima kewajiban dua kali sepekan, misalnya, setiap Selasa dan
Kamis. Terkait itu, DPRD DKI Jakarta meminta Pemprov DKI Jakarta mempercepat
penagihan kewajiban pengembang. Selain sanksi tegas, percepatan itu bisa dengan
perjanjian dan memperkuat peran wali kota. (Yoga)
PLN Mulai Produksi Hidrogen Hijau
PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) mulai memproduksi hidrogen hijau dari Green Hydrogen Plant yang diresmikan pada Senin (9/10/2023) di kawasan PLTU Muara Karang, Jakarta. Dengan kapasitas produksi hidrogen hijau 51 ton per tahun saat ini, menurut Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo, pengembangan hidrogen hijau berikutnya bakal diterapkan pada sejumlah PLTU milik PLN. (Yoga)
Wapres Amin Kawal Pembangunan di Papua
Wakil Presiden Ma’ruf Amin, Senin (9/10/2023), kembali berkunjung ke Papua. Staf Khusus Wapres Bidang Komunikasi dan Informasi Masduki Baidlowi mengatakan, Wapres akan mengawal percepatan pembangunan Papua dengan tetap berpaku pada perlindungan HAM, terutama bagi orang asli Papua. Selama lima hari, Wapres akan beraktivitas di Provinsi Papua, Papua Pegunungan, dan Papua Selatan. (Yoga)









