PRINGGASELA DALAM SENAMPAN KEKAYAAN PANGAN LOKAL
Keriuhan ibu-ibu Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga atau PKK
memecah ketenangan sore di Kampung Gubuk Lauq, Pringgasela Selatan, di Kecamatan
Pringgasela, Kabupaten Lombok Timur, NTB. Rumah ibu Kades Siti Wijayanti
kedatangan para kader PKK desa. Sore itu mereka bergotong royong membuat jajan
pasar. Beraneka ragam bahan pangan disediakan untuk membuat cerorot, jagung
urap, klepon ubi, orog-orog, bantal, dan jajanan lawas lain khas Pringgasela
Selatan. Keseluruhanjajananitu disuguhkan untuk menyambut para tamu yang datang
ke Pringgasela Selatan dalam acara Festival Dongdala pada Desember 2023.
Dongdala berarti pelangi. Dikaruniai tanah yang subur dan air jernih yang
melimpah, Pringgasela Selatan, termasuk Kecamatan Pringgasela, mandiri di
bidang pangan.
Warga tak pernah risau dengan harga cabai yang mahal di
kota-kota besar atau kekeringan seperti daerah lain. Sejauh mata memandang,
hijau sawah, jernihnya air, dan rimbunnya kebun mendominasi pemandangan.
Berdasar data BPS, produksi padi setahun di Pringgasela, termasuk Desa
Pringgasela Selatan 14.000 ton. Ubi kayu 1.700 ton. Jagung 200 ton. Di
perempatan tugu, tengah desa Pringgasela Selatan, setiap pagi hingga sore
banyak berjajar penjual makanan tradisional. Ada jajanan pasar, buah-buahan
lokal, hingga makanan khas kampung tersebut. Dalam kios-kios itu buah local mendominasi.
Ada Manggis, pisang, nanas, alpukat, rambutan, hingga durian. Karena diambil
dari kebun sendiri, harganya sangat terjangkau. Durian lokal, bisa didapatkan
dengan harga Rp 25.000 per buah. ”Bahkan, ada yang harganya hanya 5.000 per
buah,” kata Sri Hartini, warga Gubuk Lauq, Pringgasela Selatan.
Pringgasela Selatan identic dengan makanan tradisional. Kedai
LHC yang jadi favorit warga untuk berbelanja makanan, menjual berkeranjang-keranjang
jajanan tradisional. Harganya pun ramah di kantong, mulai Rp 1.000 per makanan.
Pada pagi hari, jajanan penuh mengisi etalase, menjelang siang mulai berkurang,
dan ludes terjual di sore hari. Begitu seterusnya siklus jual beli makanan
tradisional di kedai itu. Barry Perdana Putra, pemilik Aranka guest house,
selalu memperkenalkan kuliner lokal kepada tamunya dari mancanegara. Mereka
dijamu dengan lumpia, singkong goreng, pisang goreng, serta suguhan teh serai, wedang
jahe, teh bunga telang, hingga pinacolada yang dibuat dari pangan lokal
Pringgasela. ”Semua yang terhidang di sini diambil dari sini juga,” katanya.Mia
Lee (30), tamu asal Australia, terkagum-kagum dengan apa yang dilihatnya. Ini
pertama kali ia datang ke Lombok dan mencicip teh serai dengan kudapan singkong
goreng serta lumpia. ”Saya rasa petualangan di kaki Rinjani mulai dari gorengan
ini,” katanya. (Yoga)
Sapi yang Mahal dan Masa Depan Bumi
CEO Meta Mark Zuckerberg belum lama ini memamerkan foto
dirinya menikmati daging steak medium-rare di sebuah restoran pinggir pantai,
di akun Instagramnya, Rabu (10/1). Steak itu dihasilkan dari peternakan
miliknya di Ko’olau, kompleks seluas 1.400 hektar di Kauai, Hawaii. Miliarder
itu mengaku ingin memproduksi daging sapi kualitas terbaik di dunia, dengan fokus
pada sapi wagyu dan angus, yang biasa diternakkan secara spesial untuk menghasilkan
daging jenis premium. Unggahan ini ramai dikomentari pengguna Instagram.
Mayoritas dari belasan ribu pemberi komentar mengecam bisnis
Musk yang mereka nilai tidak hanya menghancurkan binatang berkaki empat itu
tetapi juga kelangsungan bumi. Seiring menguatnya kesadaran tentang perubahan
iklim, semakin banyak masyarakat mengenal dampak industri peternakan sapi bagi
lingkungan. Hal ini didukung sejumlah penelitian ilmuwan dunia terkait industri
tersebut yang berhubungan dengan emisi gas rumah kaca penyebab krisis iklim. Selama
siklus hidupnya, sapi melepaskan metana dalam jumlah besar. Metana dikenal sebagai
salah satu gas rumah kaca selain karbon dioksida (CO2), yang menurut studi menyebabkan
pemanasan sekitar 85 kali lebih banyak dibandingkan CO2 selama 20 tahun.
Seekor sapi dewasa mengeluarkan 500 liter metana per hari,
menyumbang 3,7 % dari seluruh emisi gas rumah kaca. Kotoran sapi juga mengeluarkan
gas rumah kaca, yakni CH4 dan dinitrogen oksida (N2O). Produksi pakan ternak, yang
terkait pengelolaan tanah dan tanaman, juga menghasilkan CO2 dan N2O. FAO di
situs resminya menyerukan agar negara-negara berpendapatan tinggi mengurangi
konsumsi daging guna menjaga kelangsungan bumi. Sebaliknya, mereka
mengampanyekan produksi daging untuk mengatasi tantangan kesehatan
negara-negara miskin. Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian
Peternakan, memperkirakan konsumsi daging sapi 2,62 kg per kapita per pada 2022,
sementara rata-rata tingkat konsumsi dunia mencapai 6,4 kg per kapita per
tahun. (Yoga)
Kemensos Akui Kesulitan Cegah Politisasi Bansos
Kementerian Sosial mengakui, proses penyaluran bantuan sosial
dalam Program Keluarga Harapan atau PKH menghadapi tantangan di tahun politik
menuju Pemilu 2024. Berbagai upaya pencegahan dan imbauan sudah dilakukan,
tetapi politisasi bansos tetap terjadi. Staf Khusus Mensos Bidang Pengembangan
SDM dan Program, Suhadi Lili, Jumat (19/1) di Jakarta, mengatakan, pihaknya tidak
bisa menjatuhkan sanksi langsung kepada dinas sosial yang membawahkan pendamping
sosial. Secara struktur birokrasi, Kadis berada di bawah pemda yang otonom.
Kemensos hanya bisa mengimbau agar penyaluran bansos sesuai aturan. Sebelumnya,
laporan tim investigasi Kompas menemukan, terjadi politisasi bansos oleh
sejumlah calon anggota legislatif (caleg) di sejumlah daerah.
Modusnya beragam, mulai dari menggandeng pendamping sosial
dan dinas-dinas di daerah untuk menyisipkan bahan kampanye dalam penyaluran
bansos hingga aparat desa yang mengancam memutus bansos masyarakat jika tidak
mendukung caleg tertentu (Kompas, 18/1). Upaya mencegah penyimpangan penyaluran
bansos sudah dilakukan Kemensos melalui penyaluran bansos langsung lewat
transfer bank ke rekening keluarga penerima manfaat (KPM) bekerja sama dengan bank
Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) atau PT Pos Indonesia, sesuai Perpres No
63 Tahun 2017 tentang Penyaluran Bansos secara Nontunai. Kemensos juga
membangun aplikasi Cek Bansos yang memungkinkan penerima bansos atau orang yang
belum masuk dalam daftar bisa mengusulkan atau menyanggah diri.
Upaya ini untuk meminimalkan kemungkinan kesalahan verifikasi
data penerima kesejahteraan sosial (DTKS). ”Kami semua yang bekerja di kementerian
ini, kan, ASN. ASN diwajibkan netral. Kalaupun ada politisasi, kan, kita ini
tidak bekerja di ruang steril. Jadi, kesempatan itu pasti ada dan kami berusaha
meminimalkan. Salah satu penyalurannya secara nontunai sehingga tidak bisa dikumpul-kumpulkan
untuk kampanye,” kata Suhadi. Namun, proses pendampingan dan pelatihan kepada
keluarga penerima bansos terkadang disusupi oleh kepentingan politis. Suhadi
menyatakan sudah ada beberapa pendamping sosial yang dibebastugaskan karena
terbukti memolitisasi bansos. (Yoga)
Seabrek Masalah Energi bagi Calon Presiden
Compang-camping Penghiliran
Ekonomi & Industri Indonesia Masih Rapuh
Perekonomian Indonesia masih rapuh karena lebih banyak bergantung pada faktor musiman, terutama momentum perayaan hari besar keagamaan. Investasi yang menjadi harapan belum unjuk gigi. Tahun ini, investor masih menantikan hasil pemilu umum. Kondisi ini pula yang menyebabkan ekonomi kita kembali melempem setelah momentum perayaan berlalu. Lihat saja, kuartal I-2024 bertepatan dengan perayaan Imlek, Ramadan dan Idulfitri, juga pemilihan umum (pemilu). Aktivitas dunia usaha diperkirakan lebih menggeliat dan berdampak positif terhadap perekonomian. Hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) Bank Indonesia (BI) menunjukkan, Saldo Bersih Tertimbang (SBT) dunia usaha kuartal I-2024 sebesar 15,38%. Angka ini lebih tinggi setelah pada kuartal IV-2023 melambat ke level 13,17%. SBT dunia usaha mengindikasikan perkembangan kegiatan ekonomi di sektor riil secara kuartalan. Asisten Gubernur BI Erwin Haryono mengungkap, peningkatan itu seiring upaya pelaku usaha, khususnya menjelang Ramadan. Sejumlah sektor ekonomi diperkirakan ketiban berkah dari beberapa momentum tersebut.
Peningkatan juga tampak di sektor pertanian, kehutanan dan perikanan dengan SBT 1,46%, setelah pada kuartal sebelumnya mencatat SBT minus 0,81%. "Ini sejalan dengan musim panen komoditas pangan di sejumlah wilayah seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, serta sebagian Sumatra dan Sulawesi," kata Erwin dalam laporan BI, Kamis (18/1). Namun demikian, Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution, Ronny P Sasmita melihat, aktivitas usaha sebenarnya menunjukkan tren penurunan yang konsisten sejak beberapa kuartal lalu. Di sektor manufaktur nampak dari sisi impor, lantaran industri manufaktur Indonesia bergantung bahan penolong dan belanja modal dari impor. Sementara potensi kenaikan permintaan di masa Lebaran hanya bersifat sementara. Sebab itu, dia menduga ekonomi kuartal I-2024 berpeluang melanjutkan tren penurunan pada kuartal IV-2023 meski ada momen Lebaran. Meski begitu, Ekonom Bank Syariah Indonesia (BSI) BSI Kurniawati Yuli Ashari optimistis, tren dunia usaha pada tahun ini masih sedikit meningkat. Peningkatan itu sejalan dengan ruang fiskal untuk memberi stimulus fiskal pada perekonomian yang masih besar, di tengah kenaikan tarif cukai.









