;
Kategori

Sosial, Budaya, dan Demografi

( 10113 )

Jaket! Rata! Gelegar ”Thrifting” Tetap Menyala di Pasar Senen

09 Jun 2024

Jaket! Rata! Teriak laki-laki berkaus oblong bercelana jins belel itu memekakkan telinga. Teriakan yang terus diulang tersebut sekaligus aba-aba untuk memulai perburuan mencari baju bekas pakai. Ingat saja untuk selalu sabar, teliti, waspada, tetapi tetap santai, demi menemukan barang sesuai minat di antara lautan pakaian bekas, itu ilmu dasar berburu pakaian bekas di Lantai 2 Pasar Senen Blok III, Jakarta Pusat, itu. Pengumuman petugas dari pengeras suara berulang kali meminta kewaspadaan pengunjung terhadap copet yang menyaru sebagai sesama pembeli. Para pemilik dan penjaga kios berupaya mempermudah calon pembeli dengan mengatur barang dagangan sesuai kategori. Ada yang memisahkan jaket laki-laki dan perempuan, hoodie, kaus, rok, dan lainnya.

Ada pula kios-kios yang secara khusus menjual satu jenis barang, seperti hanya memajang aneka jas, sepatu, tas, atau pakaian dalam. Pembeli tidak perlu pusing tawar-menawar dengan pedagang. Penjaga kios dengan lantang berkata, ”Rata!” yang artinya semua barang di kios itu dijual dengan harga sama. Biasa dijumpai tulisan pada sesobek kertas atau kardus yang menginformasikan harga jual di setiap kios. Tak ketinggalan pesan tertulis ”Nawar Dosa”, ”Jangan ditawar. Dosa!”, ”Murah. Jangan Ditawar”, atau ”Kalau nawar gua cekek”. Disinilah seninya berbelanja di Pasar Senen Blok III. Alih-alih merasa terintimidasi, pengunjung harus tetap tenang dan fokus dengan tujuannya di tengah hawa yang panas.

Jika beruntung, bisa mendapat barang baru, tapi lama yang masih ada price tag dari toko di negeri asalnya. Tinggal telaten mencari dan bertanya. Nanti juga menemukan yang diidamkan meski tak menjamin selalu tersedia ukuran yang pas. Harga per helai pakaian paling murah Rp 10.000. Hoodie dan jaket dijual mulai Rp 50.000. Jaket untuk musim dingin dan kegiatan luar ruang paling murah Rp 150.000. Ada North Face, Salomon, Patagonia, dan merek ternama lain yang produknya dalam kondisi sangat baik. Pencinta tas kulit, sneakers, dan pernak-pernik pakaian lainnya juga berpeluang besar menemukan apa yang dicari.

Aktivitas di Blok III Pasar Senen menunjukkan jual beli pakaian bekas impor tak pernah mati. Kondisi yang tak terbayangkan, mengingat gencarnya penertiban impor pakaian bekas tahun lalu. Penertiban kala itu menjalankan Permendag No 40 Tahun 2022 tentang Barang Dilarang Ekspor dan Barang Dilarang Impor, demi melindungi pelaku UMKM yang bergerak di bidang produk tekstil. Pada 2023 itu, perekonomian beranjak pulih setelah pandemi Covid-19 mereda. Impor baju bekas dan penjualannya di berbagai kota di Indonesia meningkat, mencapai 26,2 ton pada 2022. Di sisi lain, nge-thrift makin menjadi gaya hidup kekinian, yaitu frugal atau hemat dan ramah lingkungan. Selain murah, membeli pakaian seken berarti menjalankan prinsip 3R (reduce, reuse, recycle). Saat ekonomi tak menentu seperti sekarang, baju seken bisa semakin menjadi pilihan. (Yoga)


Pencurian Kopi di Gayo Meresahkan Warga

09 Jun 2024

Pencurian kopi milik petani dan pedagang di dataran tinggi Gayo, Kabupaten Bener Meriah dan Aceh Tengah, Aceh, menimbulkan kegelisahan publik. Persoalan sosial dan ekonomi dinilai menjadi pemicunya. Reje atau Kades Paya Tumpi Baru, Takengon, Aceh Tengah, Idrus Saputra.pada Sabtu (8/6) menuturkan, pencurian kopi membuat warga gelisah. Sebab, kopi merupakan sumber penghidupan warga setempat. Idrus pernah menjadi korban pencurian. Pada 25 Mei 2024, sekitar 100 kg kopi miliknya yang disimpan di halaman raib digondol maling. Beberapa warga di desa itu mengalami kejadian serupa. ”Harga kopi sedang mahal, penjualan kopi juga mudah,” kata Idrus. Menurut Idrus, beberapa warganya juga mengalami peristiwa yang sama. Kopi yang disimpan di pekarangan rumah dicuri. Bahkan, beberapa petani kehilangan kopi di kebun. Buah kopi yang sudah masak dipetik pencuri.

Petani melaporkan kejadian tersebut ke pihak kepolisian. Sementara di Desa Paya Tumpi, warga telah sepakat untuk memasang kamera pemantau (CCTV). Bener Meriah dan Aceh Tengah merupakan sentra produksi kopi gayo. Sebagian besar warga di dua kabupaten itu bergantung hidup dari kopi. Kopi gayo jenis arabika umumnya diekspor ke luar negeri, sedangkan robusta banyak dipasarkan di dalam negeri. Ilham, warga Desa Kebet, Kecamatan Bebesan, Aceh Tengah, juga pernah kehilangan 60 kg kopi yang sedang dijemur di pekarangan rumah. Pencuri terekam di kamera pemantau. Namun, sang pencuri tidak tertangkap hingga kini. Harga kopi arabika gayo biji hijau (green bean) di tingkat petani mencapai Rp 90.000 per kg, sedang jenis robusta harganya Rp 60.000 per kg di tingkat petani di daerah itu. Hingga kini, harga kopi gayo di pasar dunia termasuk yang paling tinggi. (Yoga)


Jalan ”Ngenes” Berakhir Sukses

09 Jun 2024

Soimah Pancawati (44) anak kelima dari enam bersaudara, masa kecilnya di tengah keluarga nelayan serba susah di Pati, Jateng. ”Lucu dan ngenes karena kekurangan, sampai pakaian dalampun harus berebut dengan tiga kakak perempuan saya,” ujarnya. Ia tak menyangka mampu melaluinya dan sekarang sukses sebagai penyanyi di dunia seni dan hiburan. Perjuangan Soimah berawal dari ekonomi keluarga yang serba mepet serta gemblengan ibu yang galak. ”Kami semua harus membantu ibu membersihkan ikan yang dibeli dari pelelangan, lalu ada yang dipindang, diasap, dan dijemur menjadi ikan asin,” ujar Soimah di Jakarta, Selasa (4/6). Selain mengolah ikan, Soimah dan kakak-kakaknya harus mengerjakan rentetan pekerjaan berat lainnya.

Ketika SMP, Soimah menyadari hidupnya berbeda dibanding teman-temannya. Tidak ada namanya dunia bermain. Di tengah kepenatan itu, menari adalah kegemaran Soimah di masa kanak-kanak hingga remaja. Ia sering tampil sambatan atau pentas tanpa bayaran untuk berbagai perhelatan di desa. ”Gusti ora sare, Tuhan tidak tidur. Menari mengantar saya masuk SMKI (sekolah menengah karawitan Indonesia) di Yogyakarta periode 1995-1998. Semula saya ingin masuk jurusan menari, tetapi penuh,” ujarnya. Ibu Soimah dari dulu sudah mendorongnya untuk aktif di dunia seni dan hiburan. Ketika sudah lulus SMKI dan menetap di Yogyakarta, Soimah mengaku pada Ibunya, dia sudah beberapa kali tampil di TVRI Yogyakarta.

Tidak puas, ibunya meminta Soimah pentas ditelevisi Jakarta yang siarannya bisa menjangkau Pati. Kiprah Soimah makin bersinar setelah sempat mengikuti dalang terkenal dan menjadi sinden di Yogyakarta. Soimah pernah juga aktif di kelompok Jogja Hip Hop Foundation. Keinginan ibunya agar Soimah terus tampil di siaran televisi nasional di Jakarta, diwujudkan sejak 2009 sampai sekarang.Selain Soimah, banyak pula artis dan penyanyi hingga dosen dan pengusaha dengan masa kecil yang “ngenes” hingga akhirnya menjadi sukses, seperti Tantri Kotak atau Tantri Syalindri, vokalis band Kotak, Mereka tidak hanya berhasil menggapai mimpi untuk sukses, tetapi juga bermakna untuk keluarga. (Yoga)


Nestapa ABK di Kapal Ikan Asing

09 Jun 2024

Muslih, matanya sesekali berkaca-kaca saat menuturkan kisah muramnya menjadi anak buah kapal (ABK) selama dua bulan di kapal asing illegal, Run Zeng 03 yang ditahan di Pangkalan Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan Tual, Maluku, Senin (3/6). Bersama 10 ABK asal Indonesia lainnya, pria yang bertugas sebagai juru masak itu harus mengarungi lautan lepas dengan penuh tekanan. Iming-iming  agensi yang mengirimnya tak pernah terpenuhi hingga sekarang, termasuk gaji Rp 8 juta hingga Rp 11,5 juta yang seharusnya dibayarkan setiap bulan. Selain beban kerja yang tidak wajar, ABK asal Indonesia kerap mengalami perlakuan diskriminatif.

Kualitas bahan makanan yang mereka terima sering kali buruk, termasuk beras yang menjadi makanan pokok. Mereka juga dibatasi mengonsumsi ikan segar dan hanya boleh mengolah udang yang sudah terinjak. ”Kami bingung menuntut ke mana karena pimpinan di kapal orang China semua,” kata Muslih. Kisah pilu juga dituturkan Arifin, pria asal Pekalongan, Jateng, yang direkrut lewat agensi yang sama dengan Muslih. Pendapatan sebagai tukang ojek yang terus menurun memaksanya mengadu nasib di lautan. Dengan bekerja sebagai ABK, ia berharap bisa membawa pulang penghasilan yang cukup untuk melunasi biaya persalinan istri dan kebutuhan lainnya.

Namun, harapan itu pupus. Kapal ikan asing ilegal Run Zeng 03 justru membawa Arifin pada ketidakpastian.Seluruh ABK asal Indonesia di kapal tersebut harus tertahan sampai proses penyidikan selesai. ”Kalaupun enggak bisa dapat gaji, saya cuma berharap bisa pulang,” tutur Arifin. Penangkapan kapal ikan asing ilegal Run Zeng 03 oleh aparat pengawasan KKP justru menjadi hal yang melegakan para ABK asal Indonesia. Setidaknya, mereka memiliki kesempatan untuk pulang ke kampung halaman meski harus menunggu proses penyidikan selesai. (Yoga)


Nasib Dosen

08 Jun 2024

Martabat universitas di Tanah Air disorot publik setahun terakhir. Biaya studi melonjak. Gaji dosen sudah kecil, masih terancam dipotong tabungan wajib. Integritas mahasiswa dan dosen tercemar sejak terbongkarnya aneka pelanggaran etik, termasuk maraknya perjokian dan publikasi abal-abal. Industrialisasi dan kapitalisme berbuah neoliberalisme sering dituduh sebagai sumber bencana pendidikan. Pemerintah dituduh takluk pada arus global itu. Kaum elite dicurigai menikmati keadaan. Dua fakta perlu dicatat. Pertama, masalah akademik itu baru meledak beberapa tahun terakhir walau gejalanya tidak baru. Kedua, ada yang khas di Indonesia.

Di banyak negara lain, dampak neoliberalisme pada pendidikan tidak segaduh di sini. Rendahnya kesejahteraan dosen tak menjadi keprihatinan nasional berkelanjutan. Walau hidup pas-pasan, para dosen tidak terus-menerus meratapi nasibnya di muka publik. Potensi para dosen Indonesia untuk menghormati etika akademik bisa terwujud atau terkubur, bergantung kondisi. Jika ada dosen mengerjakan 100 publikasi abal-abal dalam satu semester, bisa diduga ada factor pendukungnya. Selain imbalan besar yang menggoda, tersedia peluang melakukannya. Apalagi jika didorong kebijakan negara. Di berbagai kampus di luar negeri, lingkungan akademiknya sangat berbeda. Dosen digaji memadai.

Tak ada insentif finansial bagi publikasi ilmiah seperti di Tanah Air karena hal itu dianggap sudah menjadi bagian dari tugas rutin dosen. Promosi kepangkatan dosen didasarkan pada sejumlah kriteria, termasuk publikasi ilmiah, tetapi bukan jumlahnya. Di banyak universitas tenar di dunia, para dosennya bukan pegawai negeri. Universitas mereka milik negara. Pemerintah memberi dana, tanpa mencampuri kerja administrasi universitas. Dosen universitas swasta di Tanah Air tidak menikmati otonomi akademik, apalagi yang pegawai negeri. Bagaimana nasib dosen di awal abad ke-21? Andaikan tahun ini ada anak bangsa meraih gelar doktor dari Universitas Harvard dan berniat pulang ke Tanah Air, maukah ia mempertaruhkan masa depannya dengan meniti karier sebagai dosen (Yoga)


Alarm Ketidakpastian Pasar Kerja Global

08 Jun 2024

Organisasi Buruh Internasional atau ILO memperingatkan bahwa berbagai krisis dan tantangan skala global masih akan menyebabkan ketidakpastian pasar kerja. Dalam laporan riset ILO berjudul ”World Employement and Social Outlook: May 2024 Update” pada akhir Mei 2024, ILO memperkirakan, dalam jangka menengah, situasi pasar kerja masih tidak menentu akibat penyesuaian kebijakan moneter dan fiskal skala global. Pasar tenaga kerja selama ini cenderung bereaksi lambat. Karena itu, kebijakan makroekonomi yang restriktif semakin berefek tunda pada pasar tenaga kerja. Meski agregat pertumbuhan ekonomi global masih relatif kuat dan inflasi global agregat menurun, banyak negara masih berada dalam situasi rentan.

Mereka menghadapi berbagai tantangan, seperti konflik, kerawanan pangan, krisis biaya hidup, meningkatnya utang, dan krisis fiskal. Berdasarkan laporan riset itulah, Dirjen ILO Gilbert F Houngbo mengungkapkan terjadinya ambivalensi terhadap kondisi pasar kerja saat ini. Semua negara, pada tingkat pemulihan yang berbeda-beda, relatif telah kembali ke tingkat aktivitas ekonomi seperti pada periode sebelum pandemi Covid-19. Namun, isu perang dan tantangan teknologi kecerdasan buatan akan semakin berpengaruh terhadap pasar kerja.

ILO, memproyeksikan tingkat pengangguran global 4,9 % pada 2024 dan 2025, turun sedikit dari angka 5 % pada 2023. Angka tingkat pengangguran global pada 2023 itu juga merupakan revisi dari perkiraan sebelumnya sebesar 5,2 %. ”Pada saat yang sama, sumber ketegangan semakin meningkat. Situasi yang memprihatinkan di Timur Tengah telah menambah krisis yang sudah ada,” ujarnya dalam pidato sambutan pembukaan Konferensi Perburuhan Internasional (ILC) Ke-112 yang diunggah di laman ILO dan dikutip pada Jumat (7/6).

Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics Indonesia Mohammad Faisal, pada hari Jumat berpendapat, ”Untuk negara dengan tingkat informalitas tinggi, seperti Indonesia, definisi kesenjangan pekerjaan seperti yang ILO sampaikan perlu didefinisikan ulang. Banyak angkatan kerja di Indonesia yang tidak bisa bekerja di sektor formal, lalu masuk ke lapangan kerja informal. Mereka ini tidak terhitung menganggur,” papar Faisal. Pekerja Indonesia yang akhirnya masuk ke lapangan kerja informal harus dilihat keberlanjutan upah layaknya. Tren yang terjadi pascapandemi Covid-19 sampai sekarang, jumlah pekerja informal di Indonesia masih lebih tinggi dibandingkan formal. (Yoga)


Dana Muhammadiyah dan Dominasi BSI di Perbankan Syariah

08 Jun 2024

Hubungan kemitraan organisasi Muslim terbesar kedua di Indonesia, Muhammadiyah, dengan bank syariah terbesar di Tanah Air, PT Bank Syariah Indonesia Tbk, tengah diuji. Pada 30 Mei 2024, Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah mengeluarkan memo tentang konsolidasi dana yang menyatakan permintaan penarikan dana simpanan dan pembiayaan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) dari BSI, untuk dialihkan ke unit usaha perbankan lain, seperti Bank Mega Syariah, Bank Bukopin Syariah, Bank Muamalat, dan beberapa perbankan syariah yang terikat kerja sama. Ketua PP Muhammadiyah Anwar Abbas pada Kamis (6/6) melalui rilis tertulis menyampaikan klarifikasi. Ia menyiratkan bahwa aksi itu dilakukan guna menciptakan persaingan yang sehat antar bank syariah, setelah sekian lama mereka mengandalkan BSI dalam mengelola dana umat.

”Muhammadiyah terus melakukan rasionalisasi dan konsolidasi terhadap masalah keuangannya agar Muhammadiyah bisa berkontribusi bagi terciptanya persaingan yang sehat di antara perbankan syariah yang ada. Terutama ketika dunia perbankan syariah tersebut berhubungan dengan Muhammadiyah,” kata Anwar. Corporate Secretary BSI Wisnu Sunandar dalam keterangannya menyampaikan bahwa pihaknya akan memenuhi ekspektasi PP Muhammadiyah sebagai mitra strategis mereka dalam hal pelayanan dan pengembangan ekonomi syariah di Indonesia. ”Terkait pengalihan dana oleh PP Muhammadiyah, BSI berkomitmen untuk terus menjadi mitra strategis dan siap berkolaborasi dengan seluruh stakeholder dalam upaya mengembangkan berbagai sektor ekonomi umat. Terlebih bagi UMKM yang merupakan tulang punggung ekonomi bangsa,” tutur Wisnu, Rabu (5/6). (Yoga)


Industri Batik Kontemporer

08 Jun 2024

Salah seorang pembatik, terlihat sedang menyelesaikan garapan di industri batik Farras di Desa Gulurejo, Lendah, Kulon Progo, DI Yogyakarta, Jumat (7/6/2024). Batik yang diproduksi dijual dengan harga Rp 100.000-Rp 2 juta per lembar, tergantung motif dan bahan kain yang dipergunakan. Semakin rumit motif batik tersebut semakin mahal harganya, begitu juga dengan bahannya, semakin baik bahan yang dipergunakan, semakin mahal pula harganya. (Yoga)

Sejumlah Daerah Alami Darurat Sampah

08 Jun 2024

Setelah Tempat Pemrosesan Akhir Regional Piyungan ditutup, 1 Mei 2024, DI Yogyakarta masih berada dalam bayang-bayang darurat sampah. Beberapa waktu terakhir, sampah menumpuk di sejumlah lokasi, terutama di Kota Yogyakarta. Karena darurat, TPA Piyungan sempat dibuka kembali. Sekda DIY Beny Suharsono di Yogyakarta, Kamis (6/6) mengatakan, TPA Piyungan sempat dibuka lagi untuk menampung sampah yang menumpuk di sejumlah lokasi di Kota Yogyakarta, salah satunya di dekat kompleks Kantor Gubernur DIY. Pembukaan kembali TPA Piyungan dilakukan pekan lalu. Volume sampah yang ditargetkan diangkut ke TPA Piyungan 750 ton. Namun, yang bisa diangkut hanya 500 ton. Sebelum ditutup, TPA Piyungan menampung sampah dari tiga wilayah di DIY, yakni Kota Yogyakarta, Kabupaten Bantul, dan Kabupaten Sleman.

TPA itu ditutup karena penuh. Setelah penutupan itu, Pemprov DIY memberlakukan desentralisasi pengelolaan sampah. Tiap kabupaten/kota harus bisa mengolah sampahnya secara mandiri. Masalah muncul karena fasilitas pengolahan sampah yang tersedia belum bisa mengolah seluruh sampah yang ada. Akibatnya, muncul tumpukan sampah. Kota Yogyakarta jadi daerah terdampak paling parah karena keterbatasan lahan untuk menampung sampah. Kini Pemkot Yogyakarta telah mengoperasikan dua tempat pengolahan sampah terpadu (TPST), yakni TPST Nitikan dan TPST Kranon. Sementara satu TPST lain, yakni TPST Karangmiri, sedang dalam pembangunan.

Persoalan sampah juga membayangi warga Batam, Kepri. Pada 30 Mei 2024, truk pengangkut sampah terguling karena bak truk yang lapuk tak kuatmenahan muatan. Bobroknya truk sampah sudah jadi rahasia umum di Batam. Setiap hari, warga disuguhi pemandangan truk kuning reyot mondar-mandir di jalan. Sampah sering berjatuhan karena bak truk keropos dan banyak lubang. Kabid Pengelolaan Persampahan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Batam Eka Suryanto, Jumat (7/6) mengatakan, ada 135 truk pengangkut sampah. Hampir semuanya berusia di atas 5 tahun. ”Truk yang terbalik itu pengadaan tahun 2014. Dari 135 unit yang kami punya, 30 unit di bengkel. Itu yang membuat pelayanan terganggu,” kata Eka.

Ketua Komisi III DPRD Batam Djoko Mulyono menyatakan, persoalan sampah di Batam dinilai amat pelik, setiap hari 1,2 juta warga Batam menghasilkan 1.200 ton sampah. Di wilayah Bandung Raya, Jabar, jumlah sampah yang masuk ke TPA dinilai tidak ideal. Kepala DLH Jabar Prima Mayaningtias menyatakan, jumlah sampah yang dibuang ke TPA Sarimukti mencapai 1.500 ton per hari, jauh dari angka ideal yang ditetapkan, yakni 1.000 ton per hari. Kelebihan itu dikhawatirkan membuat sampah makin menumpuk dan tidak terkendali. Selain itu, jatah pengiriman dari daerah-daerah Bandung Raya makin menipis. ”Yang masuk ke Sarimukti baru 25 % sampah di Bandung Raya dan daerah sekitar, seperti Sumedang dan Garut. Tak mungkin semuanya dibuang ke TPA sehingga sampah harus dikurangi,” ujarnya di Bandung, Jumat (7/6). (Yoga)


Abdul Rahim, Dari Penghijauan hingga Kopi

08 Jun 2024

Abdul Rahim tak hanya menjadi barista di kafe kecil miliknya. Dia juga pedagang kopi dan rutin mengirim kopi ke sejumlah kota hingga ke negara lain, juga membina petani kopi dan ikut andil dalam pengembangan desa wisata di lereng Gunung Latimojong, Enrekang, Sulsel. Saat bencana, Rahim rela menutup kafe, menjadi sukarelawan. Saat banjir bandang menerjang Enrekang April lalu, kafenya bahkan menjadi pengungsian warga yang rumahnya terdampak banjir. Bermula pada 2008, dia melihat hutan di lereng Gunung Latimojong di Kabupaten Enrekang ditanami kopi oleh warga, yang mengorbankan pohon besar atau hutan. Dia terusik. Perlahan dia melakukan pendekatan kepada warga hingga membentuk kelompok penyuluh kehutanan swadaya masyarakat. Bersama sejumlah warga,

Rahim aktif melakukan sosialisasi dan edukasi serta mendorong penanaman kembali hutan-hutan yang sudah ditebang, yang sekaligus berfungsi sebagai pelindung tanaman kopi. Saat program penghijauan berjalan tahun 2008, Latimojong sudah ramai jadi tujuan wisata minat khusus oleh pencinta alam. ”Saya mengajak warga duduk bersama, lalu membicarakan soal memungut retribusi masuk bagi setiap pengunjung. Dengan cara itu, mereka bisa mendapat nilai tambah destinasi wisata di wilayah mereka dan membuat mereka membenahi desa dan tak lagi menebang pohon di hutan,” katanya akhir April lalu. Sejak 2011 retribusi masuk ke Latimojong mulai berlaku, hasilnya kembali pada desa dan dikelola untuk kepentingan warga. Wisatawan pun tak merasa diberatkan karena nominalnya tidak besar.

Pembenahan terus dilakukan. Obyek-obyek wisata baru bermunculan. Bahkan, atraksi wisata, seperti arung jeram, dikembangkan oleh pemuda desa, yang berujung masuknya Latimojong dalam deretan desa wisata dan mendapat Anugerah Desa Wisata Indonesia. ”Desa wisata jalan. Petani kopi tetap menikmati hasil dari kopi, bahkan berlomba menghasilkan tanaman kopi terbaik karena kopi sudah jadi bagian dari wisata,” katanya. Perhatian Rahim pada soal lingkungan dan penghijauan mendapat penghargaan sebagai Juara Harapan Terbaik Wanalestari mewakili Sulsel, yang diterima di Istana Negara tahun 2012. Tahun 2016 pejabat Balai Besar Pengembangan Latihan Kerja Bandung berkunjung ke Enrekang, menawari Rahim ikut pelatihan barista di Bandung.  Setelah lulus ia mengirim 30-an pemuda untuk dilatih tentang kopi dan menjadi barista.

Pelatihan yang tak pernah dipikirkan atau direncanakan ini membuat Rahim akhirnya benar-benar terjun ke kopi. Dia belajar seluk-beluk kopi dan membentuk kelompok petani binaan. Dia juga merintis kafe kecil yang awalnya menempati sebuah rumah kontrakan dan akhirnya mulai berdagang kopi. Tak sekadar berdagang, ia mengajak petani bekerja sama. Petani tetap rutin diikutkan pelatihan untuk meningkatkan kapasitas. Dia membentuk kelompok binaan dan mencari pasar lebih luas. Jenama untuk kopinya dinamai Kopi Asik, bermakna Arabika Kalosi Enrekang dan menikmati kopi dengan asik. Sejak 2018 usahanya mendapat pendampingan BI dan kini menjadi salah satu binaan unggulan. Selain rutin membawa kopiEnrekang dalam berbagai pameran, dia juga tetap berusaha memperluas jaringan. Tujuannya kelak di Enrekang ada industri berbasis kopi. (Yoga)