Sosial, Budaya, dan Demografi
( 10118 )Hukuman Bagi WNI Yang Mengelola Judol
Airlangga Mundur dari Jabatan Ketua Umum Partai Golkar
Jokowi Menyebut Anggaran untuk HUT RI Wajar
Anggaran peringatan HUT Ke-79 Republik Indonesia membengkak, mencapai 87 miliar karena dilangsungkan di Ibu Kota Nusantara dan Jakarta. Presiden Jokowi menilai hal tersebut wajar. ”Iya, namanya dulu (peringatan Proklamasi Kemerdekaan) hanya di satu tempat. Karena ada transisi menjadi (dilangsungkan) di dua tempat. Tapi, kan, bukan lompatan yang anu (Presiden mengangkat tangan ke atas). Saya kira anggaran biasa, wajar, dan juga anggarannya di Kemensetneg,” tutur Presiden Jokowi kepada wartawan seusai menyerahkan SK Hutan Sosial, TORA, dan Sawit Rakyat serta Sertifikat Layanan Dana Lingkungan untuk Masyarakat, di Jakarta, Jumat (9/8).
Mensetneg Pratikno menyampaikan, anggaran negara untuk pelaksanaan upacara bendera 17 Agustus 2024 di IKN membengkak. ”Ya, karena upacara sekarang diselenggarakan di dua tempat, anggarannya lebih besar dari sebelumnya, tapi tidak signifikan,” ujar Pratikno, di Kantor Setneg, Jakarta, Selasa (6/8). Selasa (6/8) pakar kebijakan publik dan ekonom UPN Veteran Jakarta, Achmad Nur Hidayat, menilai perayaan HUT Ke-79 RI di IKN terlalu ambisius dan menghamburkan uang negara.
Pengeluaran besar-besaran untuk mobilitas tamu VVIP dianggap tidak proporsional dengan kondisi ekonomi negara yang sedang berjuang pulih dari dampak pandemi Covid-19. ”Perayaan HUT RI di IKN seharusnya menjadi momen untuk menunjukkan solidaritas dan komitmen pemerintah terhadap pemulihan ekonomi rakyat,” tutur Nur secara tertulis. Dana tersebut bisa dialokasikan untuk program yang lebih berdampak langsung bagi masyarakat, seperti bansos, pembangunan infrastruktur yang mendukung perekonomian lokal, atau peningkatan pelayanan kesehatan dan pendidikan. (Yoga)
Emas Olimpiade Rizki Juniansyah
Lifter kebanggaan Indonesia, Rizki Juniansyah, membuktikan bahwa rezeki tidak akan tertukar. Tidak ada yang percaya pria 21 tahun itu akan tampil di Olimpiade Paris 2024 pada enam bulan lalu, termasuk dirinya. Namun, dia menjadi lifter pertama Indonesia yang meraih medali emas dalam sejarah panjang Olimpiade. Rizki langsung menjatuhkan diri, tidur telentang di panggung South Paris Arena seusai sukses memecahkan rekor Olimpiade angkatan clean and jerk 199 kilogram. Dia berteriak sekeras mungkin dengan mata terpejam. Medali emas sudah dalam genggamannya, tetapi dia masih terus memproses semua yang terjadi. Realita dan mimpi terasa begitu samar.
”Saya tidak menyangka bisa ke Olimpiade dan punya kesempatan meraih emas. Apalagi dengan musibah usus buntu, saya sempat putus asa beberapa bulan. Saya bangkit karena orang-orang di sekeliling saya, termasuk ayah dan mama,” kata lifter kelas 73 kg itu yang mencatat total angkatan 354 kg, termasuk snatch 155 kg. ”Indonesia Raya” berkumandang kedua kali pada Kamis (8/8) waktu Paris atau Jumat dini hari WIB. Rizki mengambil sikap hormat di podium tertinggi. Dia menyanyi dengan lantang. Selama prosesi sakral itu, matanya berkaca-kaca. Semua sakit, lelah, khawatir, ketidakpastian yang dijalani sang lifter selama setahun terakhir terbayar lunas.
Kegagahan Rizki ketika mengangkat beban berkuintal-kuintal luntur seketika. Tangisnya tumpah saat mendekap sang ibu, Yeni Rohaeni Durachim, yang duduk di tribune. Ibunya mencium kening, mengusap-usap rambut Rizki. Itulah sosok Rizki sebenar-benarnya, ”anak mama” yang selalu percaya rezeki ada di dalam restu ibu. Rezeki itu misterius. Tidak ada yang tahu bagaimana cara kerjanya. Siapa sangka, juara bertahan dua kali asal China, Shi Zhiyong, tersungkur di Paris. Shi begitu gagah dalam angkatan snatch dan sudah unggul 10 kg atas Rizki di sesi pertama. Namun, dia gagal mengeksekusi seluruh angkatan clean and jerk. Shi tereliminasi. Padahal, dia hampir pasti meraih emas jika mampu mengangkat sekali saja angkatan clean and jerk dari tiga kali percobaan.
”Dewi Fortuna” seolah membelai Rizki. ”Itu memang rezekinya Rizki,” kata manajer tim angkat besi Indonesia, M Rusli, yang juga merupakan teman akrab ayah Rizki, M Yasin. ”Terharu, sangat-sangat terharu,” kata Rizki saat ditanya perasaan seusai mengalahkan sang idola. ”Dia juga teman baik saya. Dia harus diakui lebih senior, sudah tiga kali Olimpiade dan dapat dua emas. Jadi saya tadi tidak mendoakan hal-hal jelek untuk dia, tetapi mendoakan yang terbaik untuk saya. Bismillah Allah beri kesempatan,” lanjutnya. Seusai memastikan emas, hal pertama yang dilakukan adalah mencium barbel. Lalu memberi hormat ke seluruh sisi tribune. Bagi orang-orang di dunia angkat besi, Rizki adalah sosok yang hangat dan bersahabat. Dia bagai Matahari yang selalu dinanti. (Yoga)
Rizki Juniansyah, Si Lifter ”Nakal” Ajaib
Bagi orang terdekat yang mengenal Rizki Juniansyah, kata pertama yang menggambarkannya adalah ”nakal”. Di usia muda, 21 tahun, dia masih senang bergaul dan melakukan berbagai aktivitas di luar pemusatan latihan nasional untuk aktualisasi diri. Hobinya beraktivitas ekstrem motokros atau touring, sering membuat orang terdekat khawatir. Seperti sang pelatih yang juga kakak ipar Rizki, Triyatno. ”Kadang takut juga, kalau motoran kenapa-kenapa. Jadi, kalau bisa saya temani, saya selalu ikut,” kata olimpian Beijing 2008 dan London 2012. Rizki suka bergadang, baru tidur saat hari berganti. Jika tidur cepat, kepalanya pusing saat berlatih pagi hari. Para pelatih terpaksa memaklumi kebiasaan tidur ”malam” itu demi suasana hati sang atlet. Dia juga tidak suka meminum suplemen penambah nutrisi yang diberikan untuk lifter. Rizki lebih suka ngopi dan minum minuman manis kalengan seusai latihan.
Triyatno harus mengawasi kebiasaan sang adik agar tak ada zat yang bisa terindikasi doping. ”Aku sukanya yang manis biar habis latihan bisa segar lagi. Tetapi, enak-enak saja badannya tiap latihan. Kalau lagi (suasana hati) enak sampai berjam-jam juga tidak capek. Malah mau nambah terus,” kata Rizki. Sulit mengatur Rizki. Dia adalah anak ajaib yang sudah seharusnya diperlakukan berbeda. Sang ibu, Yeni Rohaeni Durachim, mengandung 12 bulan sebelum melahirkan Rizki. Dokter sampai bingung, kenapa anak itu tak kunjung lahir, padahal sudah melewati masa kelahiran normal. Kondisi tubuhnya terbilang ajaib. Rizki selalu makan ”sembarangan”, tidak diet, tetapi kadar lemaknya terjaga di bawah 5 %. Sementara, lifter lain harus mati-matian diet untuk menjaga kadar lemak dan berat badan. Dia juga semakin kuat saat berlatih di sesi kedua pada sore hari, ketika banyak lifter lemas.
Keajaiban itu pula yang terpancar di Olimpiade Paris 2024. Atlet asal Kota Serang, Banten, itu menjadi lifter Indonesia pertama yang meraih emas di Olimpiade. Padahal, dia masih berjibaku dengan bekas operasi usus buntu dan tidak dijagokan lolos ke Paris pada awal 2024. Tapi, Rizki dikenal sebagai anak yang baik dan ramah kepada semua orang. Dia disenangi petinggi dan lifter-lifter lain di dunia angkat besi internasional, karena wataknya yang suka mengobrol dan murah senyum. Rizki memang gagah di atas panggung. Ratusan kg beban bisa diangkat dengan mudah. Namun, Rizki sangat seganan terhadap sang ayah. Yasin sangat disiplin mendidik Rizki untuk menjadi lifter nasional. Rizki memilih sendiri jalan itu. Sang ayah ingin anaknya berkomitmen. Saat dilatih sang ayah sejak kecil, Rizki tak pernah berani menawar atau mengeluh. Dia memilih memendam meski kadang latihan itu terasa sangat melelahkan. Rizki berkata, sang ibu merupakan sumber dukungan paling utama.
Sementara sang ayah merupakan sumber inspirasinya. Ia bergantung pada ibunya dan segan dengan sang ayah yang merupakan mantan lifter nasional Muhammad Yasin. Sebelum ke Paris, Rizki sempat meminta sang ibu untuk datang ke pelatnas Mess Kwini. Yeni menginap karena anaknya belum boleh pulang, sedang dalam persiapan intens jelang Olimpiade. Kata Yeni, Rizki masih seperti bocah saat bersamanya. Tidur saja harus Sambil memeluk. Bisa dibilang, dia ”anak mama”. ”Semua ada ditelapak kaki mama. Berkah bisa sukses di pertandingan. Mama adalah pendukung nomor satu. Aku di sini karena rencana yang sudah dibuat ayah. Hasil ini seperti yang sudah dicanangkan ayah di laptop. Aku hanya mengikuti itu,” kata Rizki yang dilatih sang ayah sampai akhir tahun lalu. Yasin keluar sebagai pelatih pelatnas karena kondisi kesehatan, digantikan Triyatno, yang berperan sebagai kakak dan teman saat bersamaan. Hasilnya Emas Olimpiade untuk si Anak “Nakal” yang ajaib. (Yoga)
Obat Generik dan Obat Paten Berkualitas Sama
Penyaluran Pembiayaan Multifinance
Prestasi yang Tidak Memuaskan Bulu Tangkis di Olimpiade Paris
Isu Korupsi Dana Haji
Andaikan dulu Veddriq Leonardo Berhenti Memanjat
Seperti teori efek kupu-kupu atau butterfly effect, satu keputusan yang diambil seseorang bisa berdampak besar dalam hidupnya. Nasib berbeda diyakini menanti peraih medali emas Olimpiade Paris 2024, Veddriq Leonardo, jika dulu memutuskan berhenti menekuni panjat tebing. Sembilan tahun lalu, Veddriq Leonardo berada di persimpangan antara berhenti dan lanjut menekuni panjat tebing. Veddriq kehilangan motivasi untuk memanjat setelah gagal berangkat ke Kejuaraan Nasional Yunior Panjat Tebing di Yogyakarta pada 2015, padahal, dia sudah berlatih keras. ”Waktu itu rasanya kurang dukungan. Latihan terus, tetapi enggak pernah lomba. Saya mulai mikir, apa saya fokus kuliah saja, tidak usah manjat lagi,” kata Veddriq. Saat itu Veddriq sudah menjadi mahasiswa tahun pertama Universitas Tanjungpura, Pontianak, Kalbar. Veddriq telah menjajal olahraga panjat tebing sejak duduk di bangku kelas 10 SMAN 6, Pontianak, pada 2011.
Dia mengenal panjat tebing lewat aktivitas ekstrakurikuler pencinta alam. Namun, Veddriq kecewa karena hasil latihan bertahun-tahun itu tidak pernah diuji di perlombaan. Wajar jika terbersit pikiran untuk berhenti. Namun, dukungan teman-temannya meyakinkan Veddriq untuk tetap berlatih. Setahun berselang, keputusan Veddriq berbuah manis. Ia memenangkan medali perunggu Kejuaraan Nasional Yunior Panjat Tebing 2016 di Bangka Belitung. Walau bukan medali tertinggi, namun, lebih dari cukup bagi Veddriq memantapkan hatinya pada panjat tebing. Dia berprestasi bukan hanya di level nasional, melainkan juga internasional.
Dalam debutnya di seri Piala Dunia 2018 di Moskwa, Rusia, Veddriq langsung membuat kejutan dengan meraih medali perunggu. Hanya butuh tiga tahun, Veddriq mengubahnya menjadi medali emas di seri Piala Dunia 2021 Salt Lake City, AS. Di situ Veddriq mencatatkan rekor dunia pertama kalinya. Keran medali seolah terus terbuka dan selebihnya adalah sejarah. ”Kalau waktu itu berhenti, mungkin saya sekarang sudah jadi kepala sekolah, he-he-he,” ujar Veddriq, yang lulus program studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar.
Profesi itu paling mungkin dijalaninya andai tak jadi seorang atlet. Andai saat itu memilih berhenti memanjat, tak ada nama Veddriq yang terpampang abadi dalam daftar pemecah rekor dunia berkali-kali. Tidak ada juga medali-medali emas pada beragam kejuaraan dan Piala Dunia. Bisa jadi, tidak ada juga medali emas pertama Indonesia di Olimpiade Paris 2024 yang diraih di Le Bourget, Perancis, Kamis (8/8/2024), itu. Veddriq telah menorehkan sejarah sebagai atlet yang menjuarai panjat tebing nomor speed putra edisi perdana di Olimpiade. Dia juga mewujudkan harapan banyak pihak untuk kehadiran emas bagi kontingen Indonesia di Paris. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









