;

Andaikan dulu Veddriq Leonardo Berhenti Memanjat

Andaikan dulu Veddriq Leonardo Berhenti Memanjat

Seperti teori efek kupu-kupu atau butterfly effect, satu keputusan yang diambil seseorang bisa berdampak besar dalam hidupnya. Nasib berbeda diyakini menanti peraih medali emas Olimpiade Paris 2024, Veddriq Leonardo, jika dulu memutuskan berhenti menekuni panjat tebing. Sembilan tahun lalu, Veddriq Leonardo berada di persimpangan antara berhenti dan lanjut menekuni panjat tebing. Veddriq kehilangan motivasi untuk memanjat setelah gagal berangkat ke Kejuaraan Nasional Yunior Panjat Tebing di Yogyakarta pada 2015, padahal, dia sudah berlatih keras. ”Waktu itu rasanya kurang dukungan. Latihan terus, tetapi enggak pernah lomba. Saya mulai mikir, apa saya fokus kuliah saja, tidak usah manjat lagi,” kata Veddriq. Saat itu Veddriq sudah menjadi mahasiswa tahun pertama Universitas Tanjungpura, Pontianak, Kalbar. Veddriq telah menjajal olahraga panjat tebing sejak duduk di bangku kelas 10 SMAN 6, Pontianak, pada 2011.

Dia mengenal panjat tebing lewat aktivitas ekstrakurikuler pencinta alam. Namun, Veddriq kecewa karena hasil latihan bertahun-tahun itu tidak pernah diuji di perlombaan. Wajar jika terbersit pikiran untuk berhenti. Namun, dukungan teman-temannya meyakinkan Veddriq untuk tetap berlatih. Setahun berselang, keputusan Veddriq berbuah manis. Ia memenangkan medali perunggu Kejuaraan Nasional Yunior Panjat Tebing 2016 di Bangka Belitung. Walau bukan medali tertinggi, namun, lebih dari cukup bagi Veddriq memantapkan hatinya pada panjat tebing. Dia berprestasi bukan hanya di level nasional, melainkan juga internasional.

Dalam debutnya di seri Piala Dunia 2018 di Moskwa, Rusia, Veddriq langsung membuat kejutan dengan meraih medali perunggu. Hanya butuh tiga tahun, Veddriq mengubahnya menjadi medali emas di seri Piala Dunia 2021 Salt Lake City, AS. Di situ Veddriq mencatatkan rekor dunia pertama  kalinya. Keran medali seolah terus terbuka dan selebihnya adalah sejarah. ”Kalau waktu itu berhenti, mungkin saya sekarang sudah jadi kepala sekolah, he-he-he,” ujar Veddriq, yang lulus program studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar.

Profesi itu paling mungkin dijalaninya andai tak jadi seorang atlet. Andai saat itu memilih berhenti memanjat, tak ada nama Veddriq yang terpampang abadi dalam daftar pemecah rekor dunia berkali-kali. Tidak ada juga medali-medali emas pada beragam kejuaraan dan Piala Dunia. Bisa jadi, tidak ada juga medali emas pertama Indonesia di Olimpiade Paris 2024 yang diraih di Le Bourget, Perancis, Kamis (8/8/2024), itu. Veddriq telah menorehkan sejarah sebagai atlet yang menjuarai panjat tebing nomor speed putra edisi perdana di Olimpiade. Dia juga mewujudkan harapan banyak pihak untuk kehadiran emas bagi kontingen Indonesia di Paris. (Yoga)


Download Aplikasi Labirin :