Rizki Juniansyah, Si Lifter ”Nakal” Ajaib
Bagi orang terdekat yang mengenal Rizki Juniansyah, kata pertama yang menggambarkannya adalah ”nakal”. Di usia muda, 21 tahun, dia masih senang bergaul dan melakukan berbagai aktivitas di luar pemusatan latihan nasional untuk aktualisasi diri. Hobinya beraktivitas ekstrem motokros atau touring, sering membuat orang terdekat khawatir. Seperti sang pelatih yang juga kakak ipar Rizki, Triyatno. ”Kadang takut juga, kalau motoran kenapa-kenapa. Jadi, kalau bisa saya temani, saya selalu ikut,” kata olimpian Beijing 2008 dan London 2012. Rizki suka bergadang, baru tidur saat hari berganti. Jika tidur cepat, kepalanya pusing saat berlatih pagi hari. Para pelatih terpaksa memaklumi kebiasaan tidur ”malam” itu demi suasana hati sang atlet. Dia juga tidak suka meminum suplemen penambah nutrisi yang diberikan untuk lifter. Rizki lebih suka ngopi dan minum minuman manis kalengan seusai latihan.
Triyatno harus mengawasi kebiasaan sang adik agar tak ada zat yang bisa terindikasi doping. ”Aku sukanya yang manis biar habis latihan bisa segar lagi. Tetapi, enak-enak saja badannya tiap latihan. Kalau lagi (suasana hati) enak sampai berjam-jam juga tidak capek. Malah mau nambah terus,” kata Rizki. Sulit mengatur Rizki. Dia adalah anak ajaib yang sudah seharusnya diperlakukan berbeda. Sang ibu, Yeni Rohaeni Durachim, mengandung 12 bulan sebelum melahirkan Rizki. Dokter sampai bingung, kenapa anak itu tak kunjung lahir, padahal sudah melewati masa kelahiran normal. Kondisi tubuhnya terbilang ajaib. Rizki selalu makan ”sembarangan”, tidak diet, tetapi kadar lemaknya terjaga di bawah 5 %. Sementara, lifter lain harus mati-matian diet untuk menjaga kadar lemak dan berat badan. Dia juga semakin kuat saat berlatih di sesi kedua pada sore hari, ketika banyak lifter lemas.
Keajaiban itu pula yang terpancar di Olimpiade Paris 2024. Atlet asal Kota Serang, Banten, itu menjadi lifter Indonesia pertama yang meraih emas di Olimpiade. Padahal, dia masih berjibaku dengan bekas operasi usus buntu dan tidak dijagokan lolos ke Paris pada awal 2024. Tapi, Rizki dikenal sebagai anak yang baik dan ramah kepada semua orang. Dia disenangi petinggi dan lifter-lifter lain di dunia angkat besi internasional, karena wataknya yang suka mengobrol dan murah senyum. Rizki memang gagah di atas panggung. Ratusan kg beban bisa diangkat dengan mudah. Namun, Rizki sangat seganan terhadap sang ayah. Yasin sangat disiplin mendidik Rizki untuk menjadi lifter nasional. Rizki memilih sendiri jalan itu. Sang ayah ingin anaknya berkomitmen. Saat dilatih sang ayah sejak kecil, Rizki tak pernah berani menawar atau mengeluh. Dia memilih memendam meski kadang latihan itu terasa sangat melelahkan. Rizki berkata, sang ibu merupakan sumber dukungan paling utama.
Sementara sang ayah merupakan sumber inspirasinya. Ia bergantung pada ibunya dan segan dengan sang ayah yang merupakan mantan lifter nasional Muhammad Yasin. Sebelum ke Paris, Rizki sempat meminta sang ibu untuk datang ke pelatnas Mess Kwini. Yeni menginap karena anaknya belum boleh pulang, sedang dalam persiapan intens jelang Olimpiade. Kata Yeni, Rizki masih seperti bocah saat bersamanya. Tidur saja harus Sambil memeluk. Bisa dibilang, dia ”anak mama”. ”Semua ada ditelapak kaki mama. Berkah bisa sukses di pertandingan. Mama adalah pendukung nomor satu. Aku di sini karena rencana yang sudah dibuat ayah. Hasil ini seperti yang sudah dicanangkan ayah di laptop. Aku hanya mengikuti itu,” kata Rizki yang dilatih sang ayah sampai akhir tahun lalu. Yasin keluar sebagai pelatih pelatnas karena kondisi kesehatan, digantikan Triyatno, yang berperan sebagai kakak dan teman saat bersamaan. Hasilnya Emas Olimpiade untuk si Anak “Nakal” yang ajaib. (Yoga)
Tags :
#VariaPostingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023