;
Kategori

Ekonomi

( 40600 )

Atur Strategi Investasi

07 Feb 2024

Para investor pasar modal mulai mengatur ulang belanja investasi memasuki musim laporan keuangan kinerja tahun lalu. Emiten berkinerja bagus dan rajin membagi dividen menjadi incaran para pemilik dana.Utak-atik portofolio saham dan instrumen investasi lainnya dilakukan sebagai upaya meminimalisir kerugian dan diharapkan mendatangkan keuntungan. Untuk itu, laporan keuangan emiten menjadi acuan dalam menentukan rencana investasi.Dari laporan ke Bursa Efek Indonesia, sejumlah emiten bank terlihat sudah menyampaikan kinerja keuangan dan hampir sebagian besar mencatatkan kinerja positif. Sebagai salah satu emiten paling rajin membagi keuntungan kepada investornya, beberapa saham bank pun merangkak naik dalam pekan ini.Sebut saja saham Bank Mandiri (BMRI) naik Rp175 dari Rp6.675 pada 31 Januari menjadi Rp6.850 pada 6 Februari. Kenaikan serupa juga dialami oleh saham Bank Rakyat Indonesia (BBRI), naik dari Rp5.725 menjadi Rp5.825.Di lantai Bursa, IDX High Dividend 20 pada Senin (5/2) bergerak di teritori hijau sepanjang tahun berjalan 2024 dengan mencetak return 1,91%. Performa itu mengungguli kenaikan indeks bergengsi LQ45 dan IDX30 yang masing-masing naik tipis 0,51% dan 0,01% secara year-to-date (YtD). Prospek IDX High Dividend 20 diyakini makin berwarna setelah rebalancing konstituen yang berlaku efektif mulai 5 Februari 2024 hingga 4 Februari 2025. Saham BRPT, ICBP, INKP, KLBF, SMGR, TPIA dan UNVR resmi masuk dalam IDX High Dividend 20 untuk menggantikan posisi BJBR, BJTM, BNGA, BSSR, HEXA, HMSP, dan MPMX.Aksi buru dividen para investor pun turut membuat indeks harga saham gabungan (IHSG) bergerak menguat. Aksi bagi dividen dan laporan positif dari emiten diharapkan dapat menopang kinerja indeks di tengah langkah menunggu pemodal karena menjelang pemilihan presiden dan wakil presiden pada 14 Februari. Kestabilan pelaksanaan pemilihan umum sampai dengan pelantikan presiden baru menjadi tantangan gerak IHSG. Kita tentu berharap indeks akan terus melaju sehingga para pemodal dapat menikmati keuntungan dari investasi yang ditanamkannya.

Kualitas Pertumbuhan Belum Beranjak Naik

07 Feb 2024
Badan Pusat Statistik (BPS) kemarin mengirim kabar baik!  Ekonom Indonesia 2023 tumbuh 5,05% year-on-year (yoy). Capaian mengesankan di tengah ekonomi global yang tak baik-baik saja. Tak urung Menteri Keuangan Sri Mulyani  senang dengan capaian ini. "Ini cerita positif dari ekonomi Indonesia di 2023. Meski ekonomi dunia melambat, Alhamdulillah ekonomi masih tetap tumbuh positif," tulis Menkeu di instagram, Senin (5/2). Meski begitu, ada baiknya jika kita menelisik lebih dalam capaian ekonomi kita. Produk domestik bruto (PDB) per kapita semisal. Capaiannya oke dengan naik menjadi ke Rp 75 juta setahun atau Rp 6,25 juta per bulan. Sebelumnya di 2022, PDB per kapita tercatat Rp 71,03 juta atau setara Rp 5,92 juta per bulan. Di atas kertas, ini kabar baik yakni secara rata-rata PDB masyarakat membaik. Hanya saja, membandingkan dengan rata-rata upah minimum provinsi (UMP) di Indonesia tidak sampai dengan PDB per kapita per bulan. Capaian PDB ini bisa jadi lantaran kualitas ekonomi Indonesia belum mampu menunjukkan kualitas yang mumpuni. Selain ketimpangan yang makin melebar, guyuran bantuan sosial (bansos) juga jadi tanda bahwa ekonomi ketimpangan makin lebar. Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution (ISEAI), Ronny P. Sasmita menilai, rasio gini tahun ini berpeluang stagnan di 0,388, atau sama seperti Maret 2023. Meski, rasio gini tahun lalu sudah melampaui masa pandemi Covid-19 di level 0,385 (September 2020). Masifnya bansos tak lantas menekan rasio gini. Bahkan ketimpangan bisa saja semakin memburuk. "Bansos tak sustainable,  tidak meningkatkan kapasitas ekonomi masyarakat, hanya menahan daya beli dalam jangka waktu tertentu," kata dia. Ekonom Center of Reform on Economic (Core) Yusuf Rendy Manilet menilai, kenaikan pendapatan per kapita tak bisa mendorong konsumsi rumah tangga.

Emiten Projogo Pangestu Masih Merajai Bursa

07 Feb 2024
Kiprah taipan Prajogo Pangestu di pasar modal membetot perhatian.  Tahun lalu, dua perusahaan afiliasinya PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) dan PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) melantai di bursa. Harga saham keduanya meroket. Bahkan BREN sempat menduduki takhta emiten dengan kapitalisasi pasar atau market capitalization (market caps) terbesar, walau cuma sekejap. Kedua emiten Grup Barito ini  juga rajin akuisisi. Terbaru, CUAN akan mencaplok saham  kontraktor pertambangan, PT Petrosea Tbk (PTRO). Rencananya, CUAN akan membeli 342,92 juta saham PTRO. Jumlah ini mewakili 34% saham PTRO. Nilainya mencapai Rp 940 miliar. Bila CUAN mendapat restu mengakuisisi PTRO, portofolio bisnis Prajogo di  bursa bertambah. Prajogo dominan memiliki lima emiten terafiliasi di Bursa Efek Indonesia (BEI) yakni CUAN, PTRO, BREN, PT Barito Pacific Tbk (BRPT), dan PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA). Kapitalisasi pasar grup emiten Prajogo juga terbesar di bursa. Kemarin, total kapitalisasi pasar Grup Barito itu sebesar Rp 1.413 triliun atau 12,22% dari total kapitalisasi  bursa saham Indonesia yang sebesar Rp 11.563,03 triliun. 
Direktur Sumber Daya Manusia dan Urusan Korporat Chandra Asri Tbk, Suryandi mengatakan, untuk mendukung pembangunan pabrik ini, TPIA menyiapkan belanja modal atau capital expenditure (capex) senilai US$ 300 juta. Sementara BREN terus melebarkan sayap di luar bisnis panas bumi. Awal Januari 2024, BREN merampungkan akuisisi saham Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) Lombok dan Sukabumi. BREN juga mengakuisisi PLTB Sidrap, Sulawesi Selatan. "Tujuannya pengembangan usaha dan memperkuat posisi bisnis grup di bidang energi terbarukan," terang Merly, Sekretaris Perusahaan BREN. Berkaca pada tangan ajaib Prajogo, Kepala Riset Kiwoom Sekuritas Indonesia, Sukarno Alatas menilai saham PTRO berpotensi naik tinggi mengikuti jejak CUAN dan BREN. Head of Investment Reswara Gian Investa, Kiswoyo Adi Joe menilai di antara emiten Grup Barito, bisnis TPIA dinilai paling rentan. Sebab, bisnis petrokimia sangat dipengaruhi volatilitas minyak bumi sebagai bahan baku produksi. 

Minyak Dunia Naik, Subsidi BBM Aman

07 Feb 2024
Pergerakan harga minyak mentah di pasar global mulai merangkak, meski masih dalam batas wajar. Pemerintah pun optimistis subsidi bahan bakar minyak (BBM) tidak akan membengkak pada tahun ini. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan kapasitas fiskal pada awal tahun ini masih cukup luas sehingga belum terbebani kenaikan harga minyak. Oleh karena itu, dia memastikan pemerintah belum akan menaikkan harga BBM subsidi dalam waktu dekat. "Pertama ini masih Januari, jadi ruang fiskalnya masih cukup luas. Jadi tidak ada kenaikan dalam waktu dekat," ujar dia, kemarin. Airlangga menyadari harga minyak mentah dunia memang sedang berada dalam tren kenaikan. Hanya saja, kenaikan itu belum bisa menjadi acuan lantaran baru terjadi pada satu bulan pertama di 2024. Dalam sebulan terakhir, harga minyak WTI dan Brent naik masing-masing sebesar 3,66% dan 3,16% menjadi US$ 73 dan US$ 78 per barel. Pemerintah akan terus memantau perkembangan harga minyak mentah. Airlangga bilang, evaluasi terhadap anggaran subsidi BBM baru dilakukan dalam kurun waktu enam bulan pertama di 2024.

Kredit untuk Anak Usaha ENRG

07 Feb 2024
Anak perusahaan PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) yakni EMP Bentu Limited menerima pinjaman dengan total nilai sampai dengan US$ 150 juta. Dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia, Selasa (6/2), kredit ini dari sejumlah pihak. Antara lain Deutsche Bank AG, Singapore Branch, Indies Special Opportunities III Ltd, dan Indies Special Opportunities IV Ltd. Pinjaman ini berbunga 5,5% + secured overnight financing rate (SOFR) 1 bulan, per tahun. Tanggal pelunasan akhir dari pinjaman ini jatuh pada 3 Desember 2027.

WSKT Berharap Bisa Meraup Kontrak

07 Feb 2024
Emiten badan usaha milik negara (BUMN karya relatif mudah mendapatkan kontrak baru. Termasuk PT Waskita Karya Tbk (WSKT). Meski salah satu emiten BUMN karya ini berupaya menyehatkan finasialnya, WSKT masih sanggup mencatatkan kontak baru. Sepanjang 2023, WSKT mencatatkan kontrak baru Rp 16,9 triliun. Direktur Keuangan WSKT, Wiwi Suprihatno menjelaskan saat ini pihaknya telah menerapkan komite risiko. Salah satu tugasnya adalah menjaga pemilihan proyek-proyek baru agar lebih menguntungkan dan berkelanjutan. Dari pencapaian nilai kontrak baru 2023 itu, berdasarkan kepemilikan proyek didominasi oleh proyek pemerintah 61,66%. Lalu  proyek BUMN/BUMD sebesar 21,75%, pengembangan anak usaha 16,00% dan swasta 0,60%. Sementara, berdasarkan segmentasi proyek adalah untuk proyek konektivitas infrastruktur sebesar 55,24%, proyek gedung 16,95%, proyek sumber daya air 13,28%, dan anak usaha 14,27%. Agar bisa mencapai target tersebut, WSKT masih berharap dari proyek pemerintah yang  ditargetkan bisa mencapai 50%. Sisanya dari proyek swasta dan lainnya. Selain itu, WSKT masih bakal menyasar proyek dengan skema pembayaran bulanan dan ada uang muka. Pengamat Pasar Modal, Teguh Hidayat menilai manajemen WSKT butuh perombakan agar bisa memperbaiki kinerja. Ini terkait adanya dugaan pelanggaran tata kelola perusahaan. Ini  berkaca pada hasil audit Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) di periode 2015-2019.

Bertumpu pada Pinjaman Mikro

07 Feb 2024

PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) mencetak kinerja solid di tahun 2023. Strategi yang berfokus pada penyaluran kredit dengan imbal hasil tinggi mendorong laba bersih BBRI. Emiten bank pelat merah itu mencetak pertumbuhan laba bersih 17,5% year on year (yoy) di tahun lalu menjadi Rp 60,1 triliun. Meskipun terdapat dampak kenaikan biaya dana atau cost of fund (CoF), net interest margin (NIM) BBRI meningkat 10 basis poin yoy menjadi 7,95%. Raihan ini didorong oleh perluasan basis aset produktif dan pergeseran komposisi portofolio mikro yang didukung oleh pertumbuhan laa operasional pra-pencadangan (PPOP) sebesar 16,7%. Analis RHB Sekuritas Andrey Wijaya mengatakan, digitalisasi turut mengurangi biaya operasional. Pada 2023 lalu, inisiatif digitalisasi BBRI telah mendorong rasio biaya terhadap pendapatan (CIR) konsolidasi sebesar 298 bps menjadi 41,9% dari 44,9% pada tahun 2022. Hal ini disebabkan oleh peningkatan infrastruktur digital dan kapasitas agen perbankan. Karena itu, Andrey menilai wajar saja return on equity (ROE) Bank BRI meningkat. Dia menilai, metrik profitabilitas BBRI berada pada posisi yang baik karena ROE meningkat 232 bps yoy menjadi 19,9% pada tahun 2023. Analis Ciptadana Sekuritas Erni Marsella Siahaan juga bilang, kinerja BBRI tahun 2023 masih mengesankan.

Hal itu terlihat dari capaian laba bersih persis dengan estimasi Ciptadana Sekuritas untuk BBRI dan melampui perkiraan konsensus sebesar 102,5%. Pada tahun 2024 ini, Andrey menilai bahwa BBRI memiliki prospek yang masih menjanjikan. Meskipun ada ketidakpastian mengenai tahun pemilihan umum (pemilu), BBRI optimistis pebisnis UKM akan mendapat manfaat dari peningkatan pengeluaran pemerintah pada saat periode pesta demokrasi tersebut. Analis OCBC Sekuritas Budi Rustanto juga meyakini, NIM BBRI masih bisa berada di kisaran 8% tahun 2024, didorong oleh perbaikan bauran aset produktif dan CoF. Tapi, Budi mengantisipasi, BBRI kemungkinan akan berhati-hati terhadap biaya pendanaan di semester pertama 2024. Kepala Riset Aldiracita Sekuritas Agus Pramono menilai, tahun politik semestinya menjadi berkah untuk penyaluran kredit BBRI. Oleh karena itu, wajar jika BBRI menargetkan penyaluran dana Kredit Usaha Rakyat (KUR) senilai Rp 165 triliun di tahun 2024. "Belanja pemilu yang diharapkan dan insentif pemerintah untuk UMKM, yang diluncurkan selama masa kampanye, harusnya menguntungkan BBRI, kata Agus.

Tetap Tumbuh Cantik di Tengah Tahun Politik

07 Feb 2024
Penyaluran kredit korporasi bank-bank besar sepanjang tahun 2023 cukup ekspansif. Pertumbuhan outstanding kredit korporasi bahkan mampu melampaui pertumbuhan total kredit. Tahun ini, perbankan optimistis penyaluran kredit korporasi tetap tumbuh positif meski ada perhelatan politik. Namun, lajunya diproyeksi lebih landai, karena para pebisnis akan cenderung menunggu dan melihat dulu hasil pemilihan presiden. Optimisme salah satunya datang dari Bank Mandiri. Bank pelat merah ini mengakui konstelasi politik bisa mempengaruhi prilaku pebisnis dalam melakukan investasi. Namun, perseroan ini meyakini akan selalu ada peluang pertumbuhan pada beberapa sektor industri. "Peluang pertumbuhan kredit korporasi akan ada di beberapa sektor, seperti industri makanan minuman dan manufaktur, seiring dengan naiknya permintaan," papar Susana Indah Kris Indriati, Direktur Korporasi Bank Mandiri, Selasa (6/2). Sementara itu, Bank Mandiri menargetkan total kredit bisa tumbuh sekitar 13%-15% tahun ini. Tahun lalu, kredit bank ini tumbuh 16,3% secara tahunan. Pertumbuhan ini ditopang oleh segmen korporasi, yang berhasil meningkat agresif sebesar 18,3%. BCA juga optimistis permintaan kredit korporasi tahun ini tetap besar meski ada Pilpres. Ini ditandai oleh total pertumbuhan kredit BCA di kuartal IV yang naik 5,8% dari kuartal sebelumnya. Kenaikan ditopang kredit investasi. Jahja Setiaatmadja, Presiden Direktur BCA, menyebut, capaian di kuartal IV ini menjadi penanda bahwa peluang bisnis di tahun politik tetap ada. "Kami melihat peluang bisnis masih besar,"ujarnya. Hera F Haryn, EVP Corporate Communication BCA, menyebut, kontributor terbesar pertumbuhan berasal dari sektor jasa keuangan, transportasi dan logistik. NPL kredit korporasi masih terjaga baik sehingga NPL BCA secara keseluruhan ada di 1,9%.

LTLS Mengincar Pertumbuhan 12%

07 Feb 2024
Emiten saham distributor bahan kimia, PT Lautan Luas Tbk (LTLS), berharap meraih kinerja yang lebih baik sepanjang tahun 2024 dibandingkan tahun sebelumnya. Optimisme ini tak lepas dari kondisi perekonomian Indonesia yang diproyeksikan tetap tumbuh di tahun ini. Investor Relation Manager Lautan Luas, Eurike Hadijaya mengatakan, tahun ini pihaknya menargetkan dapat meraih pertumbuhan pendapatan hingga 12%. Proyeksi ini naik dari target pertumbuhan pendapatan LTLS tahun 2023 yang dipatok sekitar 10%. Meningkatnya proyeksi ini juga tak lepas dari terbukanya peluang bisnis baru di berbagai sektor industri. Alhasil, kondisi pasar di setiap lini bisnis perseroan masih berpotensi tumbuh. "Kami memproyeksikan kenaikan pendapatan 10%-12% dari tahun sebelumnya. Kami prediksi hasil kinerja yang membaik, seiring dengan perbaikan ekonomi Indonesia," kata Eurike kepada KONTAN, Senin (5/2). Yang jelas, perseroan ini menyiapkan anggaran belanja modal atau capital expenditure (capex) senilai Rp 200 miliar hingga Rp 300 miliar untuk pembangunan gudang di kawasan Jabodetabek. Sebagai informasi, Lautan Luas mengumumkan pengkonsolidasian semua kegiatan industri pengolahan air di dalam grup, beserta pergantian nama dari salah satu anak usahanya. Aksi ini telah dilakukan pada 1 Januari 2024. Sebagai perusahaan yang bergerak di bidang impor dan distribusi bahan kimia untuk industri, bisnis LTLS turut terdampak konflik yang terjadi di Laut Merah. Sebagai gambaran, kinerja  Lautan Luas mengalami penurunan pada kuartal III-2023  jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Tercatat, pendapatan perseroan berada pada angka senilai Rp 5,38 triliun, turun 10,16% jika dibandingkan dengan pendapatan hingga akhir September 2022 yang berada di angka Rp 6 triliun. 

RAMUAN CUAN NAGA KAYU

07 Feb 2024

Tahun baru Imlek 2575 yang jatuh pada 10 Februari 2024 menandai lembaran awal tahun bershio Naga Kayu. Meski diwarnai ketidakpastian dan gejolak, ramuan investasi yang fokus pada saham emiten dengan elemen api dan logam diramal bakal membawa cuan.Dari kacamata pakar fengsui, tahun Naga identik dengan berbagai ketidakpastaian dan gejolak. Pakar Fengsui Suhu Hong Xiang Yi menjelaskan tahun Naga menjadi momentum yang baik untuk berspekulasi. "Jadi, artinya yang penting adalah investor harus mengamati dengan baik dan bisa menangkap kesempatan dengan baik," ujar Xiang Yi saat berbincang dengan Bisnis, Selasa, (6/2). Secara sektoral, Xiang Yi memperkirakan saham yang terkait dengan elemen api akan menguat pada tahun Naga Kayu 2024. Selain itu, saham emiten di bidang usaha berelemen logam juga diproyeksi mengilap. Sebaliknya, Xiang Yi menilai saham emiten berelemen air seperti sektor transportasi, logistik, perkapalan, dan penerbangan kurang moncer pada tahun ini. Adapun, elemen kayu dan tanah yang meliputi emiten sektor kertas dan properti diprediksi relatif landai pertumbuhannya. 

Setali tiga uang, Ahli Fengsui Master Ken Koh dalam riset yang dirilis oleh Maybank Investment Banking Group, juga mengungkapkan hal yang relatif sama. Menurutnya, gejolak konflik di Timur Tengah yang berdampak ke pasar diprediksi akan mereda dan berganti dengan potensi pemulihan ekonomi. Dengan pendekatan fengsui, Ken Koh memperkirakan saham-saham di sektor emas, perbankan, pertambangan, dan otomotif, yang memiliki elemen logam, akan mendapat angin positif dan berpotensi mencetak cuan. Selanjutnya, saham emiten dengan elemen api di sektor teknologi, farmasi, hingga media juga dinilai moncer pada Tahun Naga Kayu. Prospek yang lebih baik juga disebut bakal menghampiri saham-saham di elemen tanah seperti properti. Pendapat dua pakar fengsui itu diamini oleh Pengamat Pasar Modal sekaligus Co Founder Pasardana Hans Kwee. Dia menilai pasar saham dan reksa dana akan sangat fl uktuatif pada tahun Naga Kayu. Menurutnya, investor perlu mengatur waktu yang tepat untuk masuk ke tiap instrumen investasi tersebut. Di sektor teknologi dan media, Hans merekomendasikan investor untuk mencermati saham GOTO, SCMA, BMTR, dan MNCN. Sementara itu, saham BSDE, DMAS, dan CTRA dinilai menarik untuk dilirik investor pada tahun Naga Kayu. "Sektor emas bisa pilih saham AMMN, MDKA, ANTM, UNTR, sedangkan perbankan ada BMRI, BBRI, BBNI, dan BBCA," katanya. Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menambahkan pendekatan investor dalam menentukan saham pilihan perlu diperkaya dengan analisis fundamental, tata kelola perusahaan, laporan keuangan, analisis teknikal dan likuiditas perdagangan.