Ekonomi
( 40600 )Antisipasi Kerawanan Pemilu di Luar Negeri
Pemungutan suara di mayoritas tempat pemungutan suara luar
negeri (TPSLN) telah dimulai sejak Kamis (8/2) dan akan berlangsung hingga 14
Februari mendatang. Potensi kerawanan, seperti membeludaknya pemilih saat pemungutan
suara hingga adanya pemilih yang tak terdaftar dalam daftar pemilih, perlu
diantisipasi oleh penyelenggara pemilu. Mengacu Keputusan KPU No 122 Tahun 2024
tentang Hari dan Tanggal Pemungutan Suara di TPSLN pada Perwakilan RI di Luar
Negeri untuk Pemilu 2024, pemungutan suara di 125 dari 128 perwakilan RI di
luar negeri berlangsung pada 8-14 Februari 2024. Sementara di tiga perwakilan
RI lainnya telah memulai lebih dulu, yakni Hanoi dan Ho Chi Minh di Vietnam
pada 5 Februari dan di Panama pada 6 Februari 2024. TPSLN biasanya didirikan di
kantor perwakilan kedutaan, konjen, wisma duta, dan sekolah Indonesia.
Selain dengan metode pemungutan suara di TPSLN, pemungutan
suara di luar negeri juga dilakukan dengan dua metode lainnya, yaitu metode pos
dan metode kotak suara keliling (KSK). Untuk metode pos, surat suara sudah
dikirimkan oleh Panitia Pemilihan Luar Negeri (PPLN) ke pemilih, 2-11 Januari 2024.
Sementara metode KSK telah dimulai pada 4 Februari. Berdasarkan data KPU, total
ada 1,75 juta pemilih luar negeri yang masuk daftar pemilih tetap. Terkait
pemungutan suara di luar negeri, Migrant Care, organisasi masyarakat sipil yang
fokus pada advokasi isu pekerja migran Indonesia, mengingatkan, penyelenggara
pemilu untuk mengantisipasi kemungkinan banyaknya pekerja migran yang tak masuk
daftar pemilih.
”Ini terjadi karena kualitas DPTLN (daftar pemilih tetap luar
negeri) tidak akurat. Misalnya, jumlah pekerja migran kita 6,5 juta, tetapi
DPTLN hanya 1,7 juta. Akibatnya, banyak pekerja migran atau warga negara Indonesia
di luar negeri, yang harusnya punya hak pilih, tak masuk DPTLN,” kata Direktur
Eksekutif Migrant Care Wahyu Susilo, Kamis (8/2). Masalah lain yang perlu diantisipasi
karena lazim ditemui di Timur Tengah adalah para pekerja rumah tangga yang
kerap tidak mendapat izin majikan untuk menggunakan hak pilihnya. Anggota Dewan
Pembina Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem), Titi Anggraini,
mengingatkan, pemungutan suara dengan metode KSK dan pos kerap menjadi sumber kecurangan
akibat status dan alamat pemilih yang tak bisa dipastikan validitasnya secara pasti.
Belum lagi adanya makelar suara yang sering beroperasi memanfaatkan kelemahan
metode KSK dan pos. (Yoga)
Uji Materi Diharapkan Hasilkan Win-Win Solution
Harita Nickel Gelar Private Placement dan Rights Issue Jumbo
Pembiayaan Berkelanjutan BRI Capai Rp 777 Triliun
Bayar Utang Luar Negeri, Cadev Turun Jadi US$ 145,1 Miliar
KAI Commuter Angkut 2 Juta Penmpang di 2025
Ekspor Konsentrat Tembaga Disesuaikan Daya Serap Smelter
Iklim Investasi Industri Sawit RI harus DIjaga
Kredit Mikro Non Subsidi Bank Terus Mengembang
PERIKANAN BUDI DAYA : MEMOMPA PRODUKSI UDANG NTT
Modernisasi tambak udang di Kabupaten Sumba Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur menjadi katalis baru guna memompa produksi perikanan budi daya wilayah ini. Langkah ini sekaligus dapat menjadi penopang baru perekonomian daerah lantaran terbukanya lapangan pekerjaan bagi masyarakat lokal. Dengan alokasi anggaran senilai Rp7,5 triliun, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) akan membangun tambak udang modern atau budi daya udang terintegrasi atau integrated shrimp farming di Desa Palakahembi, Kabupaten Sumba Timur. Pembangunan modeling tambak udang modern ini akan dimulai pada 2024 hingga 2027, seiring adanya kesepakatan perjanjian kerja sama pinjam pakai barang milik daerah antara KKP dengan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumba Timur pada Selasa (6/2). Perjanjian tersebut menyangkut lahan tandus di Desa Palakahembi, Sumba Timur, NTT seluas 2.085 hektare (ha) yang bakal disulap jadi sentra budi daya udang. Direktur Jenderal Perikanan Budi Daya KKP Tb. Haeru Rahayu menjelaskan bahwa modeling tambak udang ini akan dibangun dengan menerapkan good aquaculture practices dari hulu sampai dengan hilir dalam satu pengelolaan. Dia mengatakan bahwa hadirnya tambak udang modern ini akan memberikan nilai tambah bagi perekonomian nasional kurang lebih Rp3,4 triliun per tahun. Selain itu, imbuhnya, langkah ini dipandang mampu menyerap sekitar 4.730 orang tenaga kerja lokal untuk kebutuhan di hulu hingga hilir. Sementara itu, Bupati Sumba Timur Khristofel Praing berharap bahwa pembangunan tambak udang modern ini dapat berdampak positif terhadap perekonomian daerah dan membuka lapangan kerja bagi masyarakat lokal.
Selain Sumba Timur, pemerintah pusat juga sudah terlebih dahulu membangun tambak udang modern di sejumlah wilayah a.l Kebumen, Cilacap, Lampung Timur, dan Sumbawa Barat.
Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) sebelumnya justru memandang bahwa program shrimp estate, skema budi daya udang berskala besar, mengancam ekosistem mangrove di Indonesia hingga berujung pada kerusakan lingkungan. Manajer Kampanye Pesisir dan Laut Walhi, Parid Ridwanuddin, mengatakan, program tersebut tidak jauh berbeda dengan food estateyang terbukti telah merusak lingkungan.
Program budi daya udang, utamanya difokuskan untuk udang jenis vaname atau litopenaeus vannamei. Udang jenis ini dianggap memiliki pasar yang besar, baik di luar negeri maupun dalam negeri sehingga pemerintah kemudian mendorong program shrimp estate.
Menurutnya, program tersebut tentu berbanding terbalik dengan apa yang kerap kali digaungkan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi). Dalam sejumlah agenda internasional, Kepala Negara kerap membawa isu pelestarian mangrove. Indonesia bahkan ditunjuk sebagai ketua bersama Climate Action pada Konferensi Tingkat Tinggi Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bang-sa 2023 (Conference of the Parties/COP) 28 di Dubai, Uni Emirat Arab, lantaran dianggap sebagai negara dengan ekosistem mangrove terluas.
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









