Ekonomi
( 40554 )Uyau Moris Menggaungkan Sape ke Dunia
Amoris (32) mengangkat status alat musik petik tradisional asal Kalimantan, sape, yang dulu dianggap kuno. Uyau Moris, nama beken musisi tersebut, memukau penonton hingga mancanegara. Ia merintis kiprahnya dengan merogoh kocek sendiri. Moris mengetengahkan penampilan teranyarnya untuk memeriahkan Pasar Indonesia yang dihadiri 11.000 pengunjung, nun jauh di Rijswijk, Belanda, selama dua hari yang berakhir Minggu (2/6/2024). Penampil berkostum hijau dan merah bertopeng mengiringi Moris dengan hudoq, tarian asal Kalimantan. Beberapa perempuan beranjak melenggang dan langsung memikat pengunjung, termasuk anak-anak, untuk ikut bergoyang. Sebagian audiens merekam dengan kamera ponselnya. Penonton membeludak hingga banyak yang rela berdiri. Pekikan khas Dayak, yang membuka lagu ”Menok Tawai Tuyang” tentang kerinduan terhadap sahabat, dituruti penonton tak kalah lantang. Bukan penghibur belaka, ia dan rekan-rekannya juga mengusung misi budaya.
Mereka memboyong sesepuh dengan tradisi telinga panjangnya yang menggelar ritual agar pergelaran berlangsung lancar. Pekan sebelumnya, Moris menyemarakkan Festival Budaya Meratus di Balangan, Kalsel. Seusai ”Menok Tawai Tuyang”, kemerduan sape yang melebur dengan musik kekinian menyusul berlagukan ”Laskar Pelangi”, ”Bercinta lewat Kata”, ”Kangen”, dan ”Sempurna”. Audiens dengan mayoritas anak muda yang berasak-asak melancarkan koor diselingi teriakan histeris untuk mengiringi nyanyian Moris. Ia menyuarakan sape dilengkapi dengan pakaian Dayak Kenyah berikut ikat kepalanya. Moris tak ingat jumlah pentas yang telah diramaikannya, tetapi ia sudah mengunjungi puluhan kota. Warga Malinau, Kaltara, tersebut telah melanglang buana di AS, Jepang dan Kazakhstan. Di Belanda, Moris berkelana selama dua pekan untuk berkonser di delapan lokasi. Ia bersiteguh menggaungkan sape ke dunia sekaligus pakaian adatnya dengan baju sapei, topi bluko, dan celana abet yang dipadu tenunan eksotisme Dayak.
Hasrat Moris menggeluti sape tumbuh bersama sang kakek yang mahir memainkannya. Moris kuliah etnomusikologi di Yogyakarta yang membuka jalan menuju beragam ajang untuk menggemakan sapenya. Ia memulai debutnya dengan menumpang kereta ke Jakarta tahun 2011. Demi menimba pengalaman, biaya harus keluar dari kantong pribadi. Tahun yang sama, Moris sudah menjejaki ajang mancanegaranya ke Malaysia, Thailand, dan Singapura. Ia sebenarnya nekat. Moris memanfaatkan liburan kuliah dengan mengontak pemilik kafe untuk mengenalkan sape. Pelancongan dengan biaya sehemat mungkin dilakoni dengan tiket pesawat yang dipesan berbulan-bulan sebelumnya demi tarif puluhan ribu rupiah. ”Enggak disangka, akhirnya kenalan sama musisi-musisi yang ngajak ikut festival. Jadi, terjalin network (jaringan) buat main lagi,” ucapnya.
Moris juga mengecap pahitnya memainkan sape sekadar melengkapi undangan mengobrol, salaman, dan bersantap. Untuk membetot perhatian khalayak, terutama anak muda. Moris memainkan lagu-lagu pop, rock, dan jazz untuk menautkan mereka dengan irama sape. Senar ditambah agar menjangkau nada-nada konvensional. Ia mengunggah kreasi-kreasinya ke media sosial yang disambut hangat penonton belia. Denting sape Moris semakin nyaring seiring kolaborasinya dengan musisi-musisi lain. Ia sudah menciptakan 80 lagu dan merilis tiga album. ”Liriknya Dayak Kenyah, ada yang berbahasa Indonesia dan instrumentalia. Ia menggencarkan animo masyarakat bermain sape dengan memproduksinya. Sape berjenama Uyau dengan harga mulai dari Rp 1,8 juta tersebut diproduksi di Yogyakarta dan Malinau, Kaltara. Moris juga menyediakan sape mini untuk anak-anak yang ingin belajar memainkannya dengan harga mulai dari Rp 1 juta. (Yoga)
Polemik Antarmenteri Picu Ketidakpastian
Polemik antarmenteri menjelang berakhir pemerintahan Jokowi memicu ketidakpastian di kalangan dunia usaha sekaligus mengikis kepercayaan publik terhadap pemerintah. Sebab, polemik itu melahirkan kebijakan inkonsisten yang merugikan dunia usaha. Ini terjadi dalam kasus kisruh regulasi impor yang kini tertuang dalam Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 8 Tahun 2024 tentang Kebijakan dan Pengaturan Impor. Beleid ini merupakan revisi ketiga dari aturan sebelumnya, yakni Permendag 36 Tahun 2023. Permendag 8/2024 dirilis untuk mengeluarkan 20 ribu lebih kontainer dari Pelabuhan Tanjung Priok dan Tanjung Perak. Intinya, dengan aturan itu, impor suatu barang tidak memerlukan pertimbangan teknis (pertek) dari Kementerian Perindustrian (Kemenperin). Kebijakan itu memang bisa mengeluarkan ribuan kontainer dari pelabuhan. Akan tetapi, asosiasi manufaktur memprotes keras kebijakan ini, lantaran bisa memicu banjir barang impor. Imbasnya, produksi, penjualan, dan utilisasi pabrik, seperti sektor TPT bakal merosot dan PHK massal sulit dihindari. Deindustrialisasi pun sulit dibendung jika sektor andalan seperti TPT terpukul impor. (Yetede)
Sambut Paruh Kedua, Perbankan Revisi RBB
Memasuki paruh kedua setiap tahunnya perbankan mulai melakukan perubahan rencana bisnis bank (RBB) dan akan disampaikan kepada OJK. Terdapat bank yang melakukan revisi naik dan juga revisi turun target pertumbuhan kreditnya. Adapun bank yang melakukan revisi yakni PT Bank mandiri (Persero) Tbk. Pada April 2024, bank dengan kode saham BMRI ini telah menyalurkan kredit sebesar Rp1.134,43 triliun, melesat 21,54% secara yoy. "Dengan realisasi pertumbuhan bisnis sampai dengan akhir April 2024 yang sangat baik tentunya BNRI memproyeksikan pertumbuhan sampai akhir 2024 akan lebih tinggi dari pada target RBB yang sudah dilaporkan ke OJK, sehingga akan ada revisi RBB tentunya," jelas Direktur Utama Bank Mandiri Darmawan Junaidi kepada Investor Daily. Bank berlogo pita emas ini sebelumnya memproyeksikan pertumbuhan kredit sepanjang tahun ini sebesar 13-15% (yoy). Melihat realisasi pertumbuhan kredit per April 2024 yang tinggi, Bank mandiri cukup pede di akhir tahun ini kredit bisa meningkat lebih dari RBB sebelumnya. "Detailnya belum dapat dipublikasikan," ujar Darmawan. (Yetede)
Menakar Prospek IPO di Tengah Volatilitas Pasar Saham
Volatilitas pasar yang tinggi dan tren bearish indeks harga saham gabungan (IHSG), tak menyurutkan langkah sejumlah perusahaan untuk melakukan penawaran umum perdana (initial publik offering/IPO) saham di penghujung semester satu tahun ini. Tercatat, saat ini sudah ada enam perusahaan yang melakukan penawaran awal (bookbuilding) IPO, yakni PT Soraya Berjaya Indonesia Tbk (SPRE), PT Superior Prima Sukses Tbk (BLES), PT Cipta Perdana Lancar Tbk (PART), PT Indo American Seafood Tbk (ISEA), PT UBC Medical Indonesia Tbk (LABS), dan PT Intra GolfLink Resorts Tbk (GOLF).
"Dalam kondisi saham volatile, tentu investor cenderung lebih berhati-hati untuk bertransaksi di pasar saham IPO. Namun, peluang tetap ada untuk perusahaan dengan fundamental yang kuat dan sektor yang dianggap defensif atau memiliki prospek pertumbuhan yang cerah," kata Analis Stocknow.id Muhammad Thoriq Fadila kepada Investaor daily. (Yetede)
Mata Uang Asia Primadona Saat Dolar AS Perkasa
Dolar Amerika Serikat (AS) semakin bertaji pasca The Federal Reserve (The Fed) memberikan sinyal pemangkasan suku bunga tidak akan dilakukan terburu-buru. Proyeksi Fed juga menunjukkan kemungkinan pemangkasan hanya satu kali di 2024, lebih sedikit dibandingkan ekspektasi pasar yang sebanyak dua kali. Penguatan dolar AS ini membuat mata uang Asia kian tertekan. Sebulan terakhir, rupiah menjadi mata uang Asia berkinerja terburuk dengan penurunan sebesar 2,36%. Menyusul won Korea (KRW) yang turun 1,86% dan baht Thailand (THB) yang terkoreksi 1,5%. Pengamat Komoditas dan Mata Uang Lukman Leong menuturkan, dolar AS ibarat safe haven dengan citarasa emerging currency. Artinya valuta ini aman, tapi berimbal hasil tinggi. Sedangkan China, juga memiliki kemampuan mengatur nilai tukar dan senantiasa menjaga volatilitas mata uangnya. Dengan begitu, dia menilai, bagi investor yang defensif maka kedua mata uang tersebut akan memiliki performa atau kinerja yang lebih baik beberapa bulan ke depan, kendati bukan berarti akan menguat terhadap dolar AS.
Sementara treasury bank asal Eropa di Singapura mengatakan, selain dolar Singapura sebagai "safe haven" Asia, saat ini rupee India menjadi favorit. Ada beberapa faktor. Yakni, India masuk Bloomberg Bond Index, banyak modal Amerika Serikat di negeri itu dan sebagai alternatif perusahaan global menempatkan basis produksi. Menurut Lukman, jika prospek pemangkasan suku bunga The Fed sudah mulai menguat, maka mata uang emerging market seperti ringgit Malaysia (MYR), rupiah (IDR) dan peso Filipina (PHP) yang selama ini tertekan oleh kebijakan The Fed, justru akan menguat lebih signifikan. "Juga akan terjadi dengan yen Jepang (JPY)," ujar Lukman, Rabu (19/6). Data penjualan ritel AS yang lebih lemah dari perkiraan menghidupkan kembali harapan penurunan suku bunga dalam waktu dekat. Situasi ini mendorong dolar AS sedikit terkoreksi. Prediksi Lukman, pada akhir tahun 2024, CNY akan berada pada kisaran 7,15-7,20 per dolar AS. Kemarin (19/6) pairing USD/CNY berada di 7,25.
Sedangkan SGD diproyeksikan berada di kisaran 1,335-1,345 per dolar AS pada akhir tahun ini. Pasangan USD/SGD kemarin naik 0,03% ke 1,3504. Sementara Direktur Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi mengatakan, mata uang Asia yang bisa dikoleksi di tengah menguatnya dolar AS yaitu SGD dan IDR. Menurut jajak pendapat Reuters, BI diperkirakan akan mempertahankan suku bunga pada rapat dewan gubernur (RDG) pekan ini. Namun, dengan pelemahan nilai tukar rupiah dan ketidakpastian mengenai transisi politik dan prospek fiskal yang sedang berlangsung, beberapa analis juga melihat potensi kenaikan suku bunga oleh BI. "Kenaikan suku bunga diperlukan untuk memenuhi janji BI dalam menggunakan kebijakan moneter untuk menahan volatilitas rupiah," kata Fakhrul Fulvian, ekonom di Trimegah Securities, seperti dikutip Reuters, Rabu (19/6).
Pangan ikut Memompa Kenaikan Impor Indonesia
Nilai impor perlahan mulai naik, setelah dalam tren penurunan sejak akhir tahun lalu. Kenaikan tersebut antara lain didorong lonjakan impor barang konsumsi atau bahan pangan. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, nilai impor pada Mei 2024 mencapai US$ 19,40 miliar, atau terbesar setelah November 2023 (lihat tabel). Angka ini tumbuh 14,82% month to month (mtm), setelah kontraksi secara bulanan sejak Desember 2023. Bukan hanya nilainya, volume impor Mei juga naik. Volume impor bulan lalu tercatat 19,25 juta ton, naik dari April sebesar 17,21 juta ton.
Bahkan volume impor tersebut menjadi yang terbesar sepanjang tahun berjalan 2024. Salah satu pendorongnya adalah impor barang konsumsi yang tercatat US$ 1,73 miliar, naik signifikan 20,59% mtm. Kinerja itu disebabkan lonjakan impor pangan, terutama beras. "Impor pangan jika dirinci, pertama beras naik 165,27% dibandingkan Januari hingga Mei 2023," ungkap Deputi Bidang Statistik Produksi BPS M. Habibullah dalam konferensi pers, Rabu (19/6). Kabar baiknya, porsi impor barang konsumsi hanya 9,49% dari total impor. Impor Indonesia masih didominasi bahan baku atau penolong sebesar 73,16% dan tumbuh dua digit mencapai 12,46% mtm. Selain itu, impor barang modal dengan porsi 17,35% dan tumbuh dua digit yakni 22,28% mtm. Di sisi lain, nilai ekspor Mei tercatat US$ 22,33 miliar atau naik masing-masing 13,82% mtm dan 2,86% yoy.
Kinerja ekspor terutama ditopang kenaikan ekspor besi dan baja yang meningkat masing-masing 1,22% mtm dan 8,30% yoy. Sementara ekspor batubara dan minyak sawit mentah menurun secara bulanan maupun tahunan. Surplus neraca perdagangan disokong oleh surplus pada komoditas nonmigas sebesar US$ 4,26 miliar. Di saat yang sama, neraca perdagangan komoditas migas tercatat defisit US$ 1,33 miliar. Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai, penurunan impor secara tahunan dipicu tingginya basis pada periode sama 2023. Selain itu, "Pertumbuhan ekspor China ke Indonesia yang mencapai dua digit secara bulanan," kata Josua, kemarin. Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual mengatakan, kenaikan impor sejalan dengan kembali normalnya aktivitas masyarakat setelah menurun pasca Idul Fitri lalu. Makanya, volume impor juga meningkat.
Bansos Sembako Sudah Mengalir Rp 22,5 Triliun
Bidik Dana Rp 713 Miliar, Golf SIap IPO
PT Intra GolfLink Resorts Tbk siap melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI). Calon emiten milik pengusaha nasional Tommy Soeharto ini akan menggelar penawaran umum perdana saham alias initial public offering (IPO). Mengutip prospektus IPO, calon emiten yang akan menggunakan kode saham GOLF ini akan melepas sebanyak-banyaknya 3,1 miliar saham baru. Jumlah tersebut setara 15,02% dari seluruh modal disetor setelah IPO, dengan nilai nominal Rp 25 setiap saham. Terhitung mulai Kamis (20/6), GOLF akan memasuki masa penawaran awal hingga 25 Juni 2024. Setelah itu, masuk masa penawaran umum (offering) pada 2 Juli–4 Juli 2024. Jika tak ada aral, GOLF akan mencatatkan sahamnya di BEI pada 8 Juli 2024.
Dalam masa penawaran awal, GOLF memasang harga Rp 200–Rp 230 per saham. Dus, GOLF berpotensi mengalap dana segar Rp 713 miliar dari IPO. Dari dana tersebut, sekitar 87,53% dialokasikan untuk setoran modal ke PT New Kuta Golf and Ocean View (NKG), entitas anak GOLF yang mengelola bisnis golf dan hotel di Bali. Selain itu, 5,34% untuk setoran modal ke entitas anak, yaitu PT Sentul Golf Utama (SGU). Sisa dana 7,13% akan dipakai sebagai biaya operasional. Komisaris Utama Intra GolfLink Resorts, Darma Mangkuluhur Hutomo mengungkapkan, prospek golf tourism menjanjikan, terutama setelah pandemi Covid-19. Direktur Utama Intra GolfLink Resorts, Dwi Febri Astuti optimistis, ekspansi hotel bintang enam di Bali berdampak positif terhadap kinerja GOLF ke depan.
GELISAH KARENA RUPIAH
Depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat lebih dari 6% sejauh ini, telah memukul banyak lini perekonomian, baik ketahanan fiskal dan moneter, maupun dunia usaha. Bagi pemerintah, penurunan nilai tukar rupiah bakal membuat belanja subsidi dan pembayaran bunga utang akan membengkak. Bagi bank sentral, cadangan devisa akan terkuras untuk mengintervensi pasar demi menstabilkan rupiah. Adapun, sektor manufaktur yang bergantung pada bahan baku impor, bakal menanggung beban produksi lebih besar. Tak ayal, sejumlah korporasi di dalam negeri pun keras memutar otak untuk mengamankan kinerja bisnisnya. Contohnya PT AirAsia Indonesia Tbk (CMPP) yang malah sudah mencatatkan rugi Rp304 miliar pada kuartal I/2024 akibat pelemahan rupiah di tengah fluktuasi harga bahan bakar pesawat. Melalui keterangan resmi, Direktur Utama AirAsia Veranita menuturkan bahwa jumlah tersebut mencakup sekitar 39% dari total kerugian perusahaan pada kuartal lalu. Dalam catatan AirAsia, rata-rata kurs rupiah Rp15.853 pada kuartal I/2024 melemah signifikan dari rata-rata kurs pada kuartal I/2023 yang hanya Rp15.062 per dolar AS.
Menurut Ketua Umum Gabungan Produsen Makanan Minuman Indonesia Adhi S. Lukman, potensi keuntungan eksportir makanan dan minuman akan terganjal harga bahan baku dan ongkos logistik yang meningkat.
Kemerosotan nilai tukar rupiah juga mendatangkan risiko bagi fiskal negara. Dengan nilai tukar rupiah yang sudah berada di kisaran Rp16.400 per dolar AS saat ini, rata-rata kurs rupiah sepanjang tahun berjalan Rp15.864 per dolar AS. Angka ini sudah meleset jauh dari asumsi kurs rupiah dalam APBN 2024 yang dipatok Rp15.000 per dolar AS.Rupiah yang lebih lemah di satu sisi dapat menambah pendapatan negara, khususnya dari penerimaan yang terkait dengan aktivitas perdagangan internasional.
Sisi pembiayaan anggaran pun terkena dampak, khususnya penambahan penarikan pinjaman luar negeri, baik pinjaman tunai maupun pinjaman kegiatan, penerusan pinjaman/subsidiary loan agreement(SLA), dan pembayaran cicilan pokok utang luar negeri.
Kalangan ekonom menilai depresiasi rupiah bisa mendorong BI kembali menaikkan suku bunga, apalagi Federal Reserve, yang merupakan bank sentral paling berpengaruh di dunia, sudah melempar sinyal kenaikan suku bunga hanya sekali pada tahun ini. Kepala Ekonom BCA David Sumual mengatakan bahwa jika dihitung secara fundamental, ekuilibrium rupiah saat ini sudah di atas Rp16.000, walaupun pergerakannya akan sangat dinamis, bergantung pada perkembangan eksternal dan internal.
Berkelit dari Gejolak Rupiah
Nilai tukar rupiah yang terus merosot lebih dari 6% sepanjang tahun ini memunculkan berbagai kekhawatiran bagi dunia usaha, fiskal, dan moneter akan datangnya krisis ekonomi yang lebih luas seperti 1998. Banyak prediksi bahwa tantangan ekonomi ke depan tampak jauh lebih berat. Kegundahan para pebisnis tersebut tak berlebihan. Kurs rupiah yang kini bertengger di kisaran Rp16.400 per dolar AS, sudah jauh menyimpang dari asumsi APBN 2024 yang hanya dipatok pada Rp15.000 per dolar AS. Pada saat yang sama, pemerintah dihadapkan pada ancaman meningkatnya beban belanja dan utang. Analisis sensitivitas APBN 2024 menunjukkan bahwa setiap pelemahan rupiah Rp100 per dolar AS akan menambah pendapatan negara sebesar Rp4 triliun, tetapi meningkatkan belanja hingga Rp10,2 triliun. Artinya, pelemahan rupiah dapat memperlebar defisit anggaran secara signifikan. Dalam 10 tahun terakhir atau sejak 13 Juni 2014, rupiah sudah tersungkur 39,13% dari posisi Rp11.796 per dolar AS. Jika dilihat lajunya dalam 15 tahun terakhir, nilai tukar rupiah saat ini bahkan sudah anjlok 63,01% dari posisi Rp10.068 per dolar AS pada 12 Juni 2009.
Dalam 15 tahun terakhir, nilai tukar rupiah sempat tertekan hingga Rp16.575 per dolar AS pada 23 Maret 2020 atau saat Indonesia dan dunia dilanda kasus Covid-19. Adapun, level terkuat rupiah pernah direngkuh pada 1 Agustus 2011 yaitu sebesar Rp8.464 per dolar AS. Pelemahan rupiah ini tetap saja memaksa dunia usaha memutar otak untuk menjaga kelangsungan bisnisnya. Sumber-sumber bahan baku alternatif sebagai pengganti impor mulai ramai diburu kalangan pengusaha. Industri farmasi, dengan ketergantungan bahan baku impor yang mencapai 90%, pasti menghadapi tantangan besar dari pelemahan rupiah. Keberlangsungan bisnis mereka terancam apabila tidak ada langkah inovatif yang diambil untuk meredam risiko kenaikan beban pokok produksi yang dapat menggerus laba. Di sisi lain, Bank Indonesia (BI) juga dihadapkan pada dilema untuk menyesuaikan kebijakan moneternya. Depresiasi rupiah kerap mendorong BI untuk memperketat kebijakan moneter dengan menaikkan suku bunga. Dengan The Fed yang sudah memberi sinyal kenaikan suku bunga satu kali tahun ini, tekanan bagi BI untuk mengikuti langkah serupa makin besar. Namun, seberapa efektif instrumen moneter dalam meredam tekanan superdolar? Pengalaman menunjukkan bahwa pengetatan moneter seringkali tidak cukup untuk mengatasi tekanan eksternal yang kuat. Sektor-sektor yang memiliki potensi ekspor tinggi harus diberi dorongan untuk meningkatkan produksinya. Selain itu, strategi diversifikasi pasar ekspor juga menjadi penting untuk mengurangi ketergantungan pada pasar tertentu.
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









