Ekonomi
( 40733 )Ketergantungan Impor Tinggi, Harga Obat Sulit Turun
Ekspor Kontraksi, Surplus Neraca Dagang Turun 18 %
Rasio Kredit UMKM Terus Melandai
Indeks Parekraf Dapat Bantu Pertumbuhan Ekonomi
Zyrex Naikkanlah Kapasitas Produksi 3 Kalo Lipat
RI-Korsel Sepakat Menghubungkan QR Code Pembayaran Antarnegara
Sengkarut Kebijakan Impor Industri Jangan Jadi Korban
Silang pendapat antara Kementerian Perdagangan (Kemendag) dan Kementerian Perindustrian (Kemenperin) atas kebijakan importasi kian terbuka. Kini kian meluas dengan menyeret Kementerian Perekonomian. Alih-alih menyelesaikan masalah, ketiga kementerian itu memilih saling melempar tanggung jawab atas kebijakan importasi. Jika terus dibiarkan tanpa solusi, sengkarut ini bisa memakan lebih banyak korban industri. Bukan hanya industri tekstil yang terkapar dan melakukan pemutusan hubungan kerja, tapi bisa meluas. Kemenperin menuding, Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) No 8/ 2024 yang merupakan Perubahan Ketiga atas Permendag Nomor 36 Tahun 2023 tentang Kebijakan dan Pengaturan Impor jadi biang keladi membanjirnya impor, khususnya Tekstil dan Produk Tekstil (TPT). Sejak aturan itu keluar, impor TPT naik jadi 194.870 ton pada Mei dari 136.360 ton di April 2024. Lantaran Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan di Peru, revisi tetap dilakukan sebagai hasil tindak lanjut rapat di Istana. Kata Bara, saat itu, Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengumpulkan menteri-menteri terkait yakni Menko Perekonomian, Menteri Keuangan, dan Menteri Perindustrian untuk mengatasi tumpukan impor itu. Pemerintah memilih akan membentuk Satgas Pemberantasan Impor Ilegal untuk melindungi industri dalam negeri.
Satgas melibatkan banyak pihak, termasuk penegak hukum seperti Kepolisian serta Kejaksaan Agung.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto juga bilang, pemerintah belum akan merevisi Permendag 8/2024. Perubahan terbesar di Permendag 8/2024 adalah menghapus pertimbangan teknis (Pertex) sebagai syarat impor mayoritas komoditas. Beleid itu memicu banjir impor hingga menekan industri lokal dan mengancam PHK.
Ketua Asosiasi Industri Olefin, Aromatik dan Plastik (Inaplas) Fajar Budiono menyatakan, saat ini utilitas industri yang tergabung di Inaplas sudah di bawah 50%.
Ketua Umum Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen Indonesia (APSyFI) Redma Gita Wirawasta menyebut, pemerintah harus cepat bertindak. Pembentukan Satgas bisa jadi salah satu cara mengatasi impor ilegal.
Anggota Komisi VI DPR RI, Amin Ak menilai pembentukan Satgas Pemberantasan Impor Ilegal adalah upaya pemerintah menghalau impor ilegal tidak maksimal.
Ekspor Sawit Menahan Penurunan Kinerja Ekspor
Kinerja ekspor impor tercatat melemah pada Juni 2024. Hal ini yang menyebabkan surplus neraca perdagangan Indonesia kembali menyusut. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor pada Juni tahun ini mencapai US$ 20,84 miliar. Nilai itu menurun 6,65% month to month (mtm), meski tumbuh 1,17% year on year (yoy). Perkembangan tersebut sejalan dengan pelemahan ekspor sejumlah komoditas andalan, yakni batubara serta besi dan baja. Pada Juni lalu, ekspor batubara tercatat senilai US$ 2,49 miliar, turun 0,36% mtm dan ekspor besi dan baja tercatat US$ 2,1 miliar, turun 4,32% mtm. Pelaksana Tugas (Plt) Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti menyampaikan, penurunan ekspor batubara karena di beberapa negara tujuan ekspor seperti China telah memasuki musim panas yang membuat permintaan batubara menurun.
"Penurunan ekspor batubara secara bulanan juga disebabkan menurunnya secara volume maupun harga," kata Amalia dalam konferensi pers, Senin (15/7).
Di sisi lain, nilai impor Juni tercatat US$ 18,45 miliar, turun 4,89% mtm. Secara tahunan, nilai impor juga masih tumbuh 7,58% yoy. Penurunan impor secara bulanan, sejalan dengan penurunan impor bahan baku dan barang modal yang masing-masing sebesar 3,41% dan 14,51% mtm. Sedangkan impor barang konsumsi masih tercatat naik 2,48% mtm.
Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan, perkembangan harga komoditas secara signifikan berefek terhadap kontraksi nilai ekspor bulan lalu. Harga sejumlah komoditas ekspor utama RI tercatat menurun. "Harga batubara Juni 2024 turun 4,9% mtm, nikel turun 10,7% mtm dan tembaga turun 4,8% mtm," kata dia, kemarin.
Ekonom Bank Danamon, Hosianna Evalia Situmorang memperkirakan, kinerja ekspor Indonesia ke depan masih diliputi tantangan. "Ekspor kita masih akan challenging selama suku bunga di global masih tinggi dan jika China juga masih belum pulih," kata Hosianna.
Berharap Indeks Baru Bisa Menjadi Acuan
Bursa Efek Indonesia (BEI) meluncurkan indeks baru bernama IDX Cyclical Economy 30 atau IDX Economy30. Indeks ini berisi saham-saham dari berbagai sektor siklikal ( cyclical ) yang kinerja keuangannya dipengaruhi siklus ekonomi. Indeks tersebut mengukur kinerja harga dari 30 saham siklikal yang diambil dari subsektor dari IDX Industrial Classification (IDXIC). Sebanyak 30 saham yang dipilih memiliki likuiditas tinggi dan kapitalisasi pasar besar, serta didukung fundamental perusahaan yang baik. Pada tahap awal, penentuan konstituen IDX Cyclical Economy 30 mengecualikan saham yang tercatat pada Papan Pemantauan Khusus. Kemudian, 30 saham ini punya kriteria telah diperdagangkan selama 12 bulan.
Penghitungan indeks IDX Cyclical Economy 30 menggunakan metode
adjusted market capitalization weighted
yang disesuaikan berdasarkan rasio
free float
dan menerapkan pembatasan bobot saham (
cap
) paling tinggi sebesar 25%.
Direktur Pengembangan Bursa Efek Indonesia, Jeffrey Hendrik menjelaskan, hasil kajian BEI menunjukan bahwa sektor
cyclical
dapat memberikan imbal hasil atau
return
yang lebih baik.
Reza Fahmi,
Head of Retail, Product Research & Distribution Division
Henan Putihrai Asset Management mengatakan, pihaknya dapat mempertimbangkan indeks baru ini sebagai referensi atau
benchmark
produk reksadana.
Direktur Infovesta, Edbert Suryajaya mengatakan, dengan kondisi ekonomi terkini, indeks baru Economy30 cukup menarik. Sebab, secara makro, siklus ekonomi dan investasi akan masuk ke zona ekspansi.
Head of Research
Kiwoom Sekuritas, Sukarno Alatas mengatakan, semua saham yang masuk dalam ke indeks ini menarik untuk dicermati, khususnya saham perbankan dan properti.
Prospek Kupon Sukuk Ritel Seri 021 Bisa Sampai 6,7%
Di tengah ekspektasi pemangkasan suku bunga acuan, penawaran Surat Berharga Negara (SBN) ritel tetap menarik. Jika tidak ada aral melintang, pemerintah akan kembali menawarkan Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) seri SR021 mulai 23 Agustus 2024. Associate Director Fixed Income Anugerah Sekuritas, Ramdhan Ario Maruto mengatakan, penawaran SBN ritel akan terus diminati. Bahkan, ia menilai akan terus berkembang lantaran penetrasi pasar terus dilakukan pemerintah. "Apalagi dengan rate suku bunga saat ini yang masih tinggi," ujarnya kepada KONTAN, Minggu (14/7). Berdasarkan penerbitan seri SR020, sukuk ritel ini akan ditawarkan dalam dua tenor, yakni tiga tahun dan lima tahun.
Ramdhan memperkirakan, kupon yang akan ditawarkan pemerintah berkisar 6,4% untuk tiga tahun dan 6,5% untuk lima tahun.
Namun memang, saat ini pasar berekspektasi adanya pemangkasan suku bunga The Federal Reserve. Berdasarkan CME Fedwatch Tool, probabilitas pemangkasan suku bunga The Fed di September naik menjadi 90,3% yang naik signifikan dari pekan lalu di level 72,2%.
Terlepas dari besaran kupon, Ramdhan memprediksi minat SR021 akan tetap tinggi. Ia memperkirakan, penjualan pemerintah akan berkisar Rp 15 triliun - Rp 20 triliun.
Senior Economist KB Valbury Sekuritas, Fikri C. Permana juga sepakat, pemangkasan suku bunga Federal Reserve dapat memberikan pengaruh terhadap penawaran kupon dari pemerintah. Namun begitu, ia juga meyakini penawarannya masih akan lebih tinggi dibandingkan seri sebelumnya.
Terkait permintaan, Fikri menilai untuk investor lama akan tetap tinggi. Namun, untuk investor baru jumlahnya akan lebih terbatas. Sebab investor baru lebih terbatas karena sedang tidak ada momentum pendapatan tambahan tertentu, seperti dividen atau Tunjangan Hari Raya (THR) untuk diinvestasikan.
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









