;
Kategori

Ekonomi

( 40430 )

Pemda Diperbolehkan melakukan Kegiatan di Hotel

09 Jun 2025

Suasana libur panjang hari raya Idul Adha 1446 Hijriah, yang bersambung dengan akhir pekan dan cuti bersama, cukup terasa di simpang empat Kampung Heritage Kayutangan, Malang, Jatim, Minggu (8/6). Sejumlah destinasi wisata ramai dikunjungi wisatawan. Tak hanya di pusat Kota Malang, denyut wisatawan terasa di Kota Batu, 20 km di sisi barat. ”Cukup banyak wisatawan yang datang. Pada libur panjang Idul Adha ini tingkat hunian hotel rata-rata 52 persen,” ujar Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Batu, Sujud Hariadi. Selain kunjungan pelancong, pelaku wisata, khususnya hotel dan restoran, di Batu tengah mendapat angin segar setelah Mendagri, Tito Karnavian memperbolehkan pemda menggelar kegiatan di hotel dan restoran. ”Kami menyambut baik kebijakan Mendagri terbaru dengan memperbolehkan instansi pemerintahan kembali menggelar rapat di hotel,” kata Sujud.

Kebijakan itu akan sedikit mendongkrak pendapatan dan hunian hotel yang terpuruk selama semester I-2025. Setidaknya, langkah yang ditempuh Mendagri membuat pendapatan hotel tidak terpaut jauh disbanding pendapatan periode yang sama tahun 2024. Pendapatan hotel di Batu pada semester I-2025 turun hingga 20 % dibanding tahun lalu. Begitu pula okupansi rata-rata harian, yang turun dari 60 % pada 2024, jadi hanya 40 %. Menurut Sujud, penurunan pendapatan hotel dan restoran tak hanya dipengaruhi kebijakan efisiensi anggaran pemerintah, tapi juga karena kondisi ekonomi masyarakat yang lesu. Sumber penghasilan hotel dan restoran di Batu dari unsur pemerintahan hanya 30 %, sedangkan 20 % dari perusahaan dan swasta, 30 % dari wisatawan dan 20 % dari unsur lain. (Yoga)


Transportasi Umum Kembali Jadi Andalan

09 Jun 2025

Stimulus transportasi yang diluncurkan pemerintah selama libur sekolah pertengahan tahun menjadi langkah strategis untuk mendorong konsumsi domestik dan memperkuat daya beli masyarakat. Insentif berupa diskon tarif pada moda transportasi darat, laut, dan udara diharapkan tidak hanya meringankan beban masyarakat, tetapi juga memberikan efek berganda bagi sektor pariwisata dan aktivitas ekonomi di daerah.

Tokoh penting dalam dinamika ini adalah pelaku usaha transportasi, yang menyambut baik kebijakan tersebut, meskipun mereka menyoroti sejumlah tantangan seperti tingginya beban operasional dan kurangnya dukungan fiskal yang konsisten. Mereka menilai bahwa stimulus ini menunjukkan pengakuan pemerintah atas peran krusial sektor transportasi dalam menjaga konektivitas dan distribusi ekonomi nasional.

Namun demikian, agar stimulus ini tidak hanya menjadi solusi jangka pendek, para pengamat menegaskan perlunya reformasi struktural secara simultan. Ketidakseimbangan tarif, tingginya biaya operasional, serta kebijakan fiskal yang belum holistik perlu dibenahi untuk memastikan sektor transportasi mampu pulih dan memberikan kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi jangka panjang.

Dengan demikian, kebijakan ini merupakan langkah awal yang positif, namun keberhasilannya sangat tergantung pada keberlanjutan insentif dan perbaikan mendalam di tataran struktural.

Stimulus Ekonomi: Akurasi Menentukan Hasil

09 Jun 2025

Penetapan total 27 hari libur nasional dan cuti bersama oleh pemerintah pada 2025 memunculkan pro dan kontra di tengah masyarakat. Sebagian pihak khawatir produktivitas nasional menurun, sementara lainnya berharap hari libur dapat mendorong konsumsi melalui aktivitas pariwisata dan belanja. Namun, data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan deflasi dalam tiga bulan terakhir, mengindikasikan lemahnya daya beli masyarakat meskipun libur panjang telah berlangsung.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati membantah bahwa deflasi menandakan penurunan daya beli, dan menegaskan bahwa hal tersebut lebih disebabkan oleh intervensi harga dari pemerintah, seperti subsidi pangan dan transportasi. Pemerintah pun menggulirkan lima stimulus besar, termasuk diskon tarif transportasi, bantuan pangan, subsidi upah, hingga potongan iuran jaminan sosial, dengan total anggaran triliunan rupiah. Kebijakan ini mendapat apresiasi dari pelaku usaha, khususnya di sektor transportasi, meski mereka tetap menyoroti beban operasional dan ketidakseimbangan fiskal.

Kritik juga muncul terhadap tingginya jumlah masyarakat yang memilih liburan ke luar negeri. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun stimulus digelontorkan, multiplier effect terhadap ekonomi dalam negeri belum optimal karena daya saing destinasi wisata lokal masih tertinggal dalam hal kenyamanan dan biaya.

Oleh karena itu, meskipun stimulus jangka pendek dan hari libur panjang dimaksudkan untuk mengungkit pertumbuhan ekonomi, pemerintah perlu melakukan evaluasi menyeluruh dan berbenah di sektor pariwisata domestik agar momentum libur panjang benar-benar berdampak pada perputaran ekonomi nasional, bukan justru menyalurkan konsumsi ke luar negeri.


Meningkatkan Kepercayaan Investor Asing

09 Jun 2025

Pada paruh pertama tahun 2025, pasar saham Indonesia—terutama saham perbankan berkapitalisasi besar—mengalami tekanan dari aksi jual signifikan oleh sejumlah hedge fund global, seperti JP Morgan, Blackrock, Vanguard Group, dan FMR LLC. Total aksi jual bersih investor asing tercatat mencapai Rp 49,89 triliun, meskipun Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih tumbuh tipis sebesar 0,47% secara YtD.

Penurunan peringkat saham Indonesia oleh Morgan Stanley (MSCI) dari equal weight menjadi underweight turut memperlemah kepercayaan investor asing terhadap prospek ekonomi Indonesia. Dampaknya terlihat jelas pada saham Bank Rakyat Indonesia (BBRI), di mana JP Morgan mengurangi kepemilikannya sebesar 53% dan FMR LLC sebesar 43,14% dalam setahun terakhir. JP Morgan juga menurunkan rekomendasinya untuk BBRI menjadi netral, mengutip masalah kualitas aset akibat kredit Kupedes.

Namun demikian, manajemen BBRI yang dipimpin oleh Hery Gunardi bergerak aktif memulihkan kepercayaan investor global, termasuk dengan mengikuti acara US Investor Meeting di kantor pusat JP Morgan, New York. Hery memaparkan strategi lima tahun ke depan BBRI, yang meliputi transformasi dari sisi pendanaan, peningkatan dana murah dari segmen konsumer dan UKM, serta penguatan penghimpunan DPK dari sektor wholesale banking.

Dari sisi regulator, Direktur Utama BEI Iman Rachman juga proaktif menjumpai investor institusi di Hong Kong untuk menarik kembali minat investasi terhadap saham-saham domestik.

Sementara itu, Nafan Aji Gusta, Senior Investment Information dari Mirae Asset Sekuritas, tetap optimis terhadap prospek jangka panjang sektor perbankan Indonesia. Ia merekomendasikan beli untuk saham BBRI, BBCA, BMRI, BBNI, dan akumulasi beli untuk BRIS.

Meskipun aksi jual hedge fund global memberi tekanan terhadap saham-saham perbankan Indonesia, langkah proaktif dari pihak regulator dan manajemen emiten seperti BBRI menunjukkan upaya nyata dalam mengembalikan kepercayaan pasar. Tokoh kunci dalam dinamika ini adalah Hery Gunardi (BBRI), Iman Rachman (BEI), dan Nafan Aji Gusta (Mirae Asset).

Industri Otomotif Masih Terjebak Perlambatan

09 Jun 2025
Sektor otomotif nasional masih menghadapi tekanan berat akibat kondisi makroekonomi domestik dan global yang belum stabil. Sepanjang kuartal I-2025, Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat penurunan penjualan mobil sebesar 4,8% dan roda dua sebesar 3% secara tahunan. Analis Jason Sebastian dari Samuel Sekuritas Indonesia menilai, prospek sektor ini hingga akhir 2025 masih suram, utamanya karena lemahnya daya beli masyarakat dan pertumbuhan PDB yang rendah.

Dampak perlambatan ini terasa pada emiten besar seperti PT Astra International Tbk (ASII). Tim riset Ajaib Sekuritas Asia memproyeksikan penurunan penjualan roda empat ASII sebesar 8,8% dan pertumbuhan roda dua yang hanya naik tipis 2%. Emiten komponen seperti PT Dharma Polimetal Tbk (DRMA) juga terdampak, dengan pendapatan turun 1,6% kuartalan pada kuartal I-2025. Jason menambahkan, depresiasi rupiah turut menekan margin DRMA karena 30% harga pokok penjualannya berbasis dolar AS.

Namun, PT Selamat Sempurna Tbk (SMSM) justru mendapat angin segar dari depresiasi rupiah karena 60%-70% pendapatannya berasal dari ekspor. Meski demikian, Tim Riset Sinarmas Sekuritas tetap mewaspadai gangguan perdagangan global yang bisa memukul pendapatan ekspor SMSM.

Sektor otomotif juga mulai tersentuh sentimen kendaraan listrik. Penjualan battery electric vehicle (BEV) tumbuh pesat 211% (Januari–April 2025). SMSM dinilai oleh Sinarmas sebagai salah satu emiten yang paling siap menyambut pertumbuhan EV karena memiliki 70 jenis komponen khusus EV dan fasilitas produksi yang bisa diadaptasi tanpa investasi besar. Sebaliknya, ASII menghadapi tantangan karena harus mengalokasikan belanja modal signifikan tanpa jaminan laba jangka pendek.

Di tengah tekanan ini, Miftahul Khaer dari Kiwoom Sekuritas tetap optimistis akan pemulihan di paruh kedua 2025 jika daya beli masyarakat membaik. Ia merekomendasikan trading buy untuk saham AUTO, sementara Jason menyarankan hold untuk saham DRMA.

Sektor otomotif Indonesia masih dalam tekanan akibat ekonomi lesu, namun peluang tetap ada lewat pertumbuhan EV dan potensi pemulihan daya beli. Tokoh-tokoh seperti Jason Sebastian, Miftahul Khaer, dan tim riset Sinarmas dan Ajaib Sekuritas menjadi penyorot utama dalam analisis kinerja dan prospek emiten sektor ini.

Waspadai Valuasi Saham BSI Sebelum Masuk

09 Jun 2025

Saham PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) tengah mengalami tekanan akibat rumor rencana akuisisi oleh Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara atas saham BRIS yang saat ini dimiliki oleh Bank Mandiri, BNI, dan BRI. Meskipun Menteri BUMN Erick Thohir menyatakan bahwa rencana spin-off BRIS masih dalam tahap kajian awal, sumber internal menyebut bahwa Danantara sudah memulai negosiasi dengan direksi BRIS, bahkan dengan harga di bawah pasar.

Sentimen negatif ini tercermin dari penurunan harga saham BRIS dalam sepekan sebesar 14,33%. Namun, investor asing masih mencatat aksi beli bersih sebesar Rp 62,8 miliar, menunjukkan adanya minat jangka panjang.

Indy Naila, Investment Analyst dari Edvisor Profina Visindo, menilai bahwa kurangnya transparansi dari pihak Danantara memicu kekhawatiran terhadap masa depan BRIS, terutama jika akuisisi dilakukan di bawah harga pasar. Menurutnya, ini bisa menekan valuasi BRIS dalam jangka pendek, meskipun ada peluang positif dalam jangka panjang seiring ekspansi bisnis.

Sementara itu, Andrey Wijaya, Analis dari RHB Sekuritas Indonesia, berpandangan bahwa aksi jual BRIS lebih disebabkan oleh aksi ambil untung setelah lonjakan harga saham. Ia percaya bahwa prospek jangka panjang BRIS tetap menarik, terutama jika akuisisi dilakukan dengan valuasi yang tepat. Ia memperkirakan harga wajar BRIS berada di kisaran Rp 3.500 per saham berdasarkan PBV 2,6x.

Nafan Aji Gusta, Senior Market Analyst dari Mirae Asset Sekuritas, juga menilai bahwa meskipun terjadi aksi jual, posisi BRIS tetap strategis sebagai satu-satunya bank syariah nasional dengan kapitalisasi besar. Ia melihat bahwa akuisisi ini justru dapat memperkuat posisi BRIS dalam membangun ekosistem keuangan syariah nasional.

Rumor akuisisi BRIS oleh Danantara menimbulkan tekanan jangka pendek terhadap harga saham karena kekhawatiran soal transparansi dan valuasi. Namun, tokoh-tokoh seperti Indy Naila, Andrey Wijaya, dan Nafan Aji Gusta menilai bahwa dalam jangka panjang, prospek BRIS tetap solid, apalagi jika akuisisi mendukung ekspansi dan penguatan peran BRIS dalam sektor perbankan syariah nasional.

PHK Merambah Perhotelan dan Pariwisata

09 Jun 2025
Gelombang PHK di Tanah Air belum menunjukkan tanda-tanda mereda, bahkan kian meluas ke lebih banyak sektor usaha. PHK yang pada 2024 mayoritas menimpa sektor industri manufaktur, awal tahun ini mulai menjamah sektor media massa, perhotelan, dan pariwisata. Tak hanya dialami hotel-hotel di daerah, hal yang sama juga mulai menerpa hotel-hotel di Ibu Kota. Survei Badan Pimpinan Daerah (BPD) Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DKI Jakarta pada April 2025 terhadap anggotanya menunjukanm sebanyak 96,7% hotel melaporkan terjadinya penurunan okupansi. Sebanyak 66,7% hotel melaporkan terjadinya penurunan tertinggi berasal dari segmen pasar pemerintahan, seiring dengan kebijakan pengetatan anggaran yang diterapkan oleh pemerintah oleh pemerintah sejak awal 2025. PHRI Jakarta mencatat, keterisian kamar (okupansi) hotel di Jakarta saat ini tidak lebih dari 50%, yakni 47% untuk hotel berbintang dan lebih rendah lagi untuk hotel nonbintang. Sementara itu, menurut data statistik, okupansi hotel Jakarta sebelum efisiensi dilakukan oleh pemerintah adalah sekitar 55%. Padahal, tamu pemerintahan selama ini berkontribusi 20-40 dari total tamu hotel di Jakarta. (Yetede)

Dua Kementerian Melakukan Pembahasan Mengenai Kelanjutan Operasional PT Gag Nikel

09 Jun 2025
Dua kementerian akan melakukan pembahasan mengenai kelanjutan operasional PT Gag Nikel. Wilayah konsesi perusahaan yang berada di Pulau Gag, Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat Daya itu dihentikan  operasinya oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral  (ESDM) sejak Kamis (5/6/2025). Penghentian sementara ini seiring dengan beredarnya unggahan di media sosial mengenai kerusakan lingkungan akibat kegiatan pertambangan pada destinasi wisata kelas dunia tersebut. Dari empat perusahaan tambang  di wilayah Raja Ampat, hanya Gag Nikel yang saat ini melakukan produksi. Menteri ESDM Bahlil Lahadahlia mengatakan permasalahan lingkungan  merupakan  ranah Kementerian Lingkungan Hidup (KLH). Pihaknya berwenang dalam pengawasan kegiatan pertambangan. "Kami akan melakukan evaluasi menyeluruh. Saya akan konsultasi, saya akan minta rapat nanti dengan Menteri LHK karena urusan lingkungan memang domain dari Menteri LHK untuk mengecek sedetailnya," kata Bahlil. Pemerintah bertindak cepat dalam merespon keresahan masyarakat akan situasi di Raja Ampat. Bahlil bersama Gubernur Papua Barat Saya Elisa Kambu meninjau langsung kondisi  Piaynemo dan Pulau Gag pada Sabtu (7/6/2025). Piaynemo merupakan ikon Raja Ampat dengan gugusan pulau karst yang menjulang dari perairan biru. (Yetede)

Paket Stimulus Ekonomi Disiapkan Pemerintah untuk Mendorong Daya Beli Masyarakat

09 Jun 2025
Paket stimulus ekonomi periode Juni-Juli 2025 yang disiapkan pemerintah dapat mendorong daya beli masyarakat apabila direalisasikan ini tepat sasaran dan cepat. Di samping itu, pemerintah perlu menjalankan pendekatan berkelanjutan yang dapat menciptakan aktivitas ekonomi baru, memperbaiki iklim investasi, dan mendorong efisiensi logistik. Adapun pada Senin (2/6/2025), pemerintah meluncurkan  paket stimulus ekonomi selama Juni hingga Juli 2025 dengan total anggaran yang dialokasikan sebesar Rp24,44 triliun. Pada saat jumpa pers, Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengatakan bahwa tujuan diberikannya insentif ini adalah untuk menjaga pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal 11-2025  mendekati 5%. Pemerintah berharap seluruh stimulus dapat menjaga konsumsi rumah tangga ddi tengah potensi perlambatan ekonomi global, sekaligus pemerataan kesejahteraan masyarakat. Paket stimulus tersebut adalah diskon transportasi yang terdiri  atas diskon kereta sebesar 50%, dan fasilitas PPN ditanggung pemerintah (DTP) untuk tiket pesawat sebesar 6%.  Kedua, diskon tarif tol sebesar  20% dengan target penerima 110 juta pengendara selama libur sekolah ppada Juni hingga 2025(Yetede)

Peta Persaingan Bank Syariah Bakal Memanas di tahun Depan

09 Jun 2025
Peta persaingan perbankan syariah akan semakin menarik di tahun depan, dengan hadirnya dua pemain bank umum syariah usai spin off dari induknya. Dominasi PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) sebagai pemain utama tidak pernah memiliki pesaing yang benar-benar sepadan sejak merger pada 2021. Dengan total aset BSI yang menembus Rp400,88 triliun pada kuartal 1-2025, bank bersandi saham BRIS ini seperti berada di menara gading yang jauh dari jangkauan bank syariah lainnya. Meskipun, kondisi ini akan berubah tidak lama lagi. Dua nama besar, PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN dan PT Bank CIMB Niaga Tbk siap melepaskan unit usaha syariah (UUS) sebagai entitas bank umum syariah (BUS). Persaingan akan menarik, apalagi, bank-bank syariah ini akan menyasar segmen yang sama, yaitu konsumer dan kan saling berebut tahta kedua. Berdasarkan laporan keuangannya, BSI pada kuartal 1-2025 telah menyalurkan pembiayaan Rp287,22 triliun, tumbuh 16,21% secara (yoy). Dari nilai tersebut, pembiayaan konsumer BSI terbesar, senilai Rp 156,71 triliun atau  setara 54,56% dari total pembiayaan. Artinyan segmen konsumer menjadi fokus utama perseroan, selain pembiayaan ke segmen wholesale sebesar 28,07% dari UMKM 17,37% dari total pembiayaan. (Yetede)