Ekonomi
( 40733 )Peluang IHSG untuk Bangkit Kembali
Meskipun Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tengah menghadapi beberapa tekanan, prospeknya hingga akhir 2024 tetap cerah dengan peluang mencapai level 7.900. Terdapat sejumlah katalis yang diprediksi akan mendukung pergerakan IHSG ke depan, antara lain potensi penurunan suku bunga dari The Federal Reserve dan Bank Indonesia, kinerja emiten yang solid, dan adanya peluang window dressing menjelang akhir tahun.
Pada 12 November 2024, IHSG ditutup pada level 7.321,98, meskipun dalam sebulan terakhir mengalami koreksi sekitar 4%. Meskipun ada tekanan dari euforia kemenangan Donald Trump dalam Pemilu AS, yang memicu capital outflow dan penguatan dolar AS, investor asing tetap menunjukkan minat di pasar domestik dengan net buy YtD mencapai Rp31,11 triliun.
Menurut Rizkia Darmawan, Research Analyst dari Mirae Asset Sekuritas Indonesia, sektor-sektor yang akan mendongkrak IHSG antara lain perbankan, komoditas, dan konsumer, dengan laba bersih emiten-emiten besar yang tumbuh positif. Sektor energi dan perbankan diprediksi akan mendapat dorongan dari stabilitas ekonomi Indonesia dan kebijakan luar negeri AS yang cenderung mendukung penggunaan energi fosil, termasuk batu bara. Selain itu, sektor perkebunan, khususnya CPO, mendapat keuntungan dari harga komoditas yang terus melonjak.
Meskipun terdapat tekanan dari fenomena capital outflow dan penguatan dolar AS, sektor-sektor yang menunjukkan ketahanan seperti perbankan, energi, dan perkebunan memberikan optimisme. Beberapa sekuritas, seperti Maybank Sekuritas, memproyeksikan IHSG akan mencapai 7.900 pada akhir tahun 2024, sementara MNC Sekuritas menargetkan IHSG mencapai 7.700. Selain itu, potensi window dressing di akhir tahun dan rilis emiten jumbo yang berencana melakukan IPO turut meningkatkan prospek pasar saham Indonesia.
Dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tetap positif dan adanya katalis yang mendukung, IHSG berpeluang mencatatkan performa solid hingga tutup buku 2024, meskipun tantangan eksternal masih perlu diwaspadai.
Optimisme Pasar Saham Lokal Menguat
Pasar saham Indonesia, khususnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), berhasil melewati dua momentum besar dalam waktu 30 hari terakhir, yang masing-masing berhubungan dengan transisi pemerintahan dan perkembangan politik global.
Momentum pertama adalah transisi pemerintahan dari Presiden Joko Widodo ke Presiden Prabowo Subianto pada 20 Oktober 2024, yang berjalan lancar tanpa banyak menggoyahkan pasar saham. Pembentukan Kabinet Merah Putih oleh Presiden Prabowo, yang sebagian besar mempertahankan struktur perekonomian yang ada, dilihat oleh pelaku pasar sebagai kebijakan yang ramah terhadap pasar (friendly market). Hal ini tercermin dari kenaikan IHSG sebesar 3,47% pada 22 Oktober 2024. Meskipun setelah itu terjadi aksi ambil untung, pasar tetap mencatatkan tren positif.
Momentum kedua terjadi setelah kemenangan Donald Trump dalam Pemilihan Presiden Amerika Serikat pada 5 November 2024, yang memberikan dorongan sementara terhadap IHSG, meskipun hanya terungkit tipis sebesar 0,17%. Kemenangan Trump juga memengaruhi sentimen pasar, mengingat pengalaman sebelumnya yang menunjukkan kebijakan luar negeri Trump yang cenderung menghadirkan ketegangan perdagangan, terutama dengan China. Namun, langkah-langkah bank sentral global, seperti penurunan suku bunga oleh The Fed, dan keputusan Bank Indonesia untuk mempertahankan suku bunga acuan pada level 6%, turut mendukung optimisme pasar.
Selain faktor eksternal, sektor korporasi Indonesia juga menunjukkan kinerja positif, terutama di sektor perbankan besar, sementara pemain baru seperti anak usaha PT Adaro Energy yang akan melakukan IPO semakin memperkuat keyakinan pelaku pasar terhadap prospek pasar saham domestik.
Namun, meskipun ada optimisme, pelaku pasar diingatkan untuk berhati-hati terhadap potensi ketegangan global yang bisa mempengaruhi arah ekonomi domestik. Proyeksi untuk IHSG hingga akhir tahun 2024 masih berada di kisaran 7.900-8.000, dengan peluang untuk mencapainya dalam sisa waktu 1,5 bulan terakhir.
Ledakan NPL di Perbankan Milik Konglomerat
Bank Besar di Indonesia, seperti PT Bank MNC Internasional Tbk. (MNC Bank), PT Bank Ina Perdana Tbk. (Bank INA), dan PT Bank Mayapada Internasional Tbk. (Bank MAYA), mengalami peningkatan rasio Non-Performing Loan (NPL) pada kuartal III/2024. MNC Bank, yang dimiliki oleh konglomerat Hary Tanoesoedibjo, mencatatkan peningkatan NPL gross menjadi 4,69%, sedangkan NPL net meningkat menjadi 3,32%. Meskipun demikian, MNC Bank tetap optimis bisa mencapai target aset Rp30 triliun pada 2025 dengan fokus pada segmen kredit wholesale dan konsumer.
Sementara itu, Bank INA, yang dimiliki oleh taipan Anthoni Salim, juga mencatatkan lonjakan signifikan pada rasio NPL gross yang mencapai 4,46%, meningkat tajam dibandingkan tahun sebelumnya. Di sisi lain, meskipun terjadi peningkatan NPL, kedua bank ini berhasil menurunkan kerugian penurunan nilai aset keuangan (impairment), yang mendukung pencapaian laba perseroan.
Bank MAYA milik Dato’ Sri Tahir mencatatkan sedikit perbaikan pada rasio kredit bermasalah, namun tetap mengalami pembengkakan kerugian penurunan nilai aset yang berimbas pada penurunan laba bersih.
Meski mengalami peningkatan NPL, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melalui Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Dian Ediana Rae menegaskan bahwa hal ini bersifat siklikal dan tidak menjadi masalah serius, asalkan NPL bank-bank tersebut tetap di bawah ambang batas 5%. Dian menekankan bahwa fluktuasi laba dan kerugian dalam bisnis perbankan adalah hal yang normal, selama bank menjaga rasio keuangan yang sehat, seperti permodalan, likuiditas, dan rasio kredit bermasalah yang terkendali.
Sementara itu, dalam sektor investasi, Pemerintah Indonesia, melalui Menteri Investasi Rosan Roeslani, berfokus pada menarik minat investor asing, khususnya dari sektor energi, seperti energi terbarukan dan teknologi penangkapan karbon. Pemerintah juga mendorong sektor panas bumi (geothermal) untuk menjadi fokus investasi, dan perusahaan-perusahaan besar seperti ExxonMobil, Chevron, dan BP menunjukkan ketertarikan untuk berinvestasi di Indonesia, sejalan dengan target net zero emission (NZE) yang telah dicanangkan.
Upaya Pemerintah Kendalikan Distribusi Pupuk Demi Swasembada Pangan
Kementerian Pertanian (Kementan) akan memegang tanggung jawab penuh dalam penyaluran pupuk bersubsidi mulai tahun 2025 untuk mempercepat distribusi pupuk kepada petani. Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, mengungkapkan bahwa kebijakan ini akan diatur dalam Peraturan Presiden (Perpres) yang diperkirakan selesai tahun ini, dengan tujuan agar pada Januari 2025, distribusi pupuk tidak lagi menjadi masalah.
Kementan akan langsung mengatur penyaluran pupuk bersubsidi melalui PT Pupuk Indonesia (Persero), yang akan meneruskan distribusi ke gabungan kelompok tani (Gapoktan). Gapoktan bertanggung jawab untuk memastikan pupuk sampai ke petani yang berhak menerima. Pemerintah, melalui Kementerian Keuangan, akan membayar pupuk subsidi kepada PT Pupuk Indonesia. Dengan pemangkasan prosedur distribusi ini, diharapkan proses penyaluran akan lebih cepat dan tepat sasaran.
Peraturan Menteri Pertanian No. 1/2024 menetapkan bahwa petani yang berhak menerima subsidi adalah petani yang tergabung dalam kelompok tani dan terdaftar dalam Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok Tani (RDKK). Pada tahun 2024, kuota pupuk subsidi meningkat dari 4,7 juta ton menjadi 9,5 juta ton, dengan sekitar 52% dari total kuota sudah disalurkan per Juni 2024. Kebijakan ini bertujuan untuk memastikan ketersediaan pupuk bagi petani dan meningkatkan efisiensi distribusi di seluruh Indonesia.
Terbatasnya Modal untuk Mengejar Target Ambisius
Seleksi Ketat dalam Memilih Saham BUMN
Produk Derivatif Jadi Opsi Investasi Alternatif
Proyek Baru Angkat Performa Kinerja CTRA
Susu peternak sapi ditolak dan terpaksa dibuang
Pekan ini, dunia peternakan Tanah Air heboh seusai peternak di Pasuruan, Jatim, membuang susu yang tertolak masuk ke pabrik. Berikutnya, rentetan aksi protes serupa terjadi di Boyolali, Jateng. Aksi buang susu tidak sekali ini terjadi. Pernah karena penyakit mulut dan kuku atau karena kualitas produksi tak sesuai ketentuan. Namun, pembuangan karena ditolak oleh pabrik baru kali ini terjadi. Penolakan itu dikatakan karena kuota penerimaan dipotong atau dibatasi. Peternak yang susu produksinya tertolak pabrik berasal dari PT Nawasena Satya Perkasa (NSP) asal Purwodadi, Pasuruan. Disebutkan, 150 ton susu dibuang ke sungai sejak Sabtu (9/11). Kejadian bermula saat PT NSP menyetor susu ke pabrik di Jabar. Dikatakan bahwa kuota penerimaan pabrik dikurangi. PT NSP lalu memilih membuang susu karena sudah lewat masa aman konsumsi susu. ”Kalau (susu) diberikan kepada masyarakat, kondisinya cukup mengkhawatirkan.
Kalau dibawa balik ke Pasuruan, rugi di ongkos angkutan dan kondisi susu semakin rusak,” kata Manajer PT NSP Abednego Wahyu Adi Permana, di Pasuruan, Senin (11/11). Selama ini mereka memasok 70 ton susu pada pabrik per hari. Namun, sejak akhir September 2024, penerimaan susu pabrik di Jabar menjadi 40 ton per hari. Dengan adanya pembatasan, ia membatasi penerimaan susu dari peternak dan pengepul. Pilihan lain adalah mengalihkan penjualan susu pada usaha yang membutuhkan susu, misal permen rasa susu, dengan harga rendah. Rendahnya harga jual bakal berdampak pada turunnya harga beli susu dari peternak. Harga beli susu ke peternak, Rp 7.000-Rp 7.800 per liter. Ada 2.000 peternak di Pasuruan yang menyetor susu ke PT NSP. Selain PT NSP, penolakan susu saat disetor dialami Koperasi Peternakan Sapi Perah (KPSP) Setia Kawan, Nongkojajar, Pasuruan.
Biasanya mereka menyetor 100 ton susu segar per hari. Namun, sejak akhir September 2024, industri pengolahan susu membatasi pembelian. Per Minggu, jumlah susu belum disetor 80 ton. ”Kami memiliki sistem pendingin yang baik sehingga susu dari peternak bisa ditampung. Namun, tak bisa lama karena tiap hari datang susu baru. Butuh solusi bagi peternak sapi perah,” kata Sulistyanto, Ketua KPSP Setia Kawan. Dengan kebutuhan 17 kg per kapita, Indonesia masih mengimpor susu. Hingga 2022 sesuai data BPS, produksi susu segar dalam negeri 968.980 ton atau 20 % kebutuhan nasional 4,4 juta ton. Kementerian Koperasi menyebut, masuknya susu impor dipicu adanya negara pengekspor yang memanfaatkan perjanjian perdagangan bebas yang menghapuskan bea masuk produk susu, sehingga produk mereka 5 % lebih rendah dari harga global. Kondisi ini diperparah ulah pelaku industri pengolahan susu yang mengimpor bukan dalam susu segar, melainkan skim atau susu bubuk. (Yoga)
Kejagung Sita Rp 301,9 Miliar dari Grup Duta Palma terkait korupsi
Penyidik Kejagung kembali menyita uang ratusan miliar rupiah dalam kasus korupsi PT Duta Palma Group. Kali ini, uang yang disita Rp 301,9 miliar. Dalam kasus ini penyidik sudah tiga kali menyita uang yang diduga hasil korupsi dengan nominal mencapai Rp 1,1 triliun. Direktur Penyidikan Jakmpidsus Kejaksaan Agung, Abdul Qohar dalam jumpa pers di Kejagung, Jakarta, Selasa (12/11) menyampaikan, dari perkembangan perkara tindak pidana korupsi usaha perkebunan kelapa sawit yang dijalankan PT Duta Palma Group, penyidik menemukan adanya aliran dana dari lima perusahaan atau korporasi kelapa sawit yang sebelumnya ditetapkan sebagai tersangka korupsi dan pencucian uang.
Kelima perusahaan dimaksud adalah PT Palma Satu, PT Siberida Subur, PT Banyu Bening Utama, PT Panca Agro Lestari, dan PT Kencana Amal Tani. Menurut Abdul, lima perusahaan tersebut telah membuat perkebunan kelapa sawit dan mengelola di kawasan hutan tanpa disertai pelepasan kawasan hutan di Kabupaten Indragiri Hulu, Riau. Selain kelima perusahaan itu, penyidik Kejagung juga menetapkan dua perusahaan lainnya sebagai tersangka pencucian uang. Keduanya adalah PT Asset Pacific yang merupakan perusahaan properti dan PT Darmex Plantations yang merupakan induk usaha perkebunan. Menurut Abdul, dana dari lima perusahaan tersebut ditransfer ke rekening Yayasan Darmex.
”Dari hasil tindak pidana atas penguasaan dan pengelolaan lahan, kemudian dialihkan dan ditempatkan pada PT Darmex Plantations selaku holding perkebunan yang lalu disamarkan ke rekening Yayasan Darmex sebesar Rp 301,98 miliar sebagaimana yang ada di hadapan kita,” tutur Abdul seraya menunjukkan tumpukan uang pecahan Rp 100.000. Abdul menyebutkan, penyitaan tersebut merupakan pengembangan dari kasus korupsi dan pencucian uang yang menjerat Surya Darmadi selaku pemilik PT DutaPalma Group dan Raja Thamsir Rachman selaku bekas Bupati Indragiri Hulu. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









