;
Kategori

Ekonomi

( 40430 )

Penanaman Modal : Obral Insentif Tak Pacu Investasi

31 Jan 2019
Kendati pemerintah telah mengobral berbagai kemudahan dan insentif untuk menggaet investasi asing masuk, pertumbuhan investasi selama 2018 melambat dibandingkan dengan 2017 dan hanya mencapai 94,3% dari target yang dipatok. Data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menunjukan secara total realisasi investasi selama 2018 mencapai Rp 721,3 triliun. PMDN tercatat sebesar Rp 328,6 triliun (tumbuh 25,3%) dan PMA Rp 392,7 triliun (-8,8%). Transisi perizinan ke sistem OSS (Online Single Submission) juga mempengaruhi tren perlambatan investasi tahun ini. Menurut Kepala BKPM Thomas T Lembong untuk meningkatkan kinerja investasi tahun ini, pemerintah sepertinya harus lebih agresif dalam memikat investor asing melalui paket insentif. Apalagi negari jiran lainnya juga agresif menggaet investor asing. Hal senada diungkapkan oleh ekonom CORE M.Faisal, penurunan investasi juga disebabkan oleh melambatnya pertumbuhan ekonomi diberbagai negara dan secara tidak langsung berpengaruh di Indonesia. Ekonom Indef Bhima Yudhistira Adhinegara menambahkan koreksi investasi juga tak lepas dari persoalan domestik sendiri, yakni insentif yang kurang tajam, tarik ukur perizinan pusat dan daerah, maju mundur keputusan soal perluasan DNI serta rendahnya kualitas infrastruktur di kawasan industri. Sementara itu, Wakil Ketua Umum Kadin Johny Darmawan menilai penurunan PMA lebih disebabkan oleh masih banyaknya hambatan dari dalam negeri ketimbang luar negeri.

Industri Digital, Usaha Rintisan Teknologi Berkembang Pesat

31 Jan 2019
Perkembangan usaha rintisan bidang teknologi di Indonesia dinilai berkembang pesat. Ada kecenderungan anak-anak muda memilih terjun menjadi wirausaha yang memberikan solusi digital di beragam sektor. Potensi perkembangan teknologi finansial di Indonesia juga dinilai terbuka lebar. Sesuai data Bank Dunia, setiap tahun ada sekitar Rp 1.000 triliun permohonan kredit dari pelaku usaha kecil dang menengah di Indonesia tidak dapat dipenuhi oleh lembaga keuangan yang ada. Sehingga peluan ini digarap oleh oleh para pelaku usaha pinjam-meminjam uang antarpihak berbasis teknologi (peer to peer lending) yang tahun lalu menyalurkan sekitar Rp 22 triliun.

Membaca Sinyal Pembuka Bank Sentral Amerika

30 Jan 2019
The Fed akan mengadakan rapat perdana di 2019. Rapat ini penting lantaran pasar ingin melihat arah kebijakan moneter The Fed, terutama terkait suku bunga. Sejauh ini, analis yakin The Fed akan menahan suku bunga di kisaran 2,25%-2,50%. Jika benar The Fed tidak menaikkan bunga, saham sektor keuangan menarik dikoleksi. Bukan tidak mungkin, investor asing akan kembali memburu saham big caps. Dengan begitu, peluang IHSG menyentuh level 7.000 semakin besar. Pergerakan IHSG juga akan didukung pengumuman laporan keuangan emiten. Analis menilai, rata-rata kinerja emiten tahun 2018 masih positif dan fundamental masih oke.
Meski demikian, jelang pengumuman rapat Federal Open Market Committee (FOMC), asing menunjukkan gelagat mengurangi risiko di bursa Indonesia. Sepekan terakhir, akhir tiga kali mencetak jual bersih (net sell). Jika The Fed mempertahankan suku bunga, keadaan akan kembali normal dan pasar kembali bergairah. Tapi arah pasar bisa berbalik jika The Fed memberi pandangan hawkish atau bahkan menaikkan suku bunga. Capital outflow terutama akan terjadi di saham-saham big caps.
Tapi kenaikan Fed fund rate tak selamanya buruk. Jika The Fed menaikkan suku bunga, hal itu menjadi cerminan bahwa ekonomi global sedang membaik. Sektor-sektor yang berbasis ekonomi global, seperti emiten komoditas dan emiten berorientasi ekspor dapat menjadi pilihan investor.

Awas, Rasio Kredit Bermasalah Fintech Melejit

30 Jan 2019
Belum selesai urusan perusahaan tekfin tak berizin, industri tekfin menghadapi masalah lonjakan rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL). Per akhir tahun 2018, OJK mencatat rasio NPL tekfin naik menjadi 1,45% dari periode yang sama 2017 sebesar 0,99%. Ketua Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) menyebutkan kenaikan ini juga didorong jumlah penyaluran pinjaman tumbuh signifikan. Merujuk data OJK, penyaluran pinjaman tekfin lending tahun lalu mencapai Rp 22,67 triliun, naik sekitar 784% year on year.Ketua AFPI menilai kenaikan NPL wajar dan masih di bawah rata-rata industri jasa keuangan.
Direktur Pengaturan, Perizinan, dan Pengawasan Fintech OJK mengatakan bahwa fintech lending sangat bergantung pada mesin kecerdasan (artificial inteligent). Seiring bertambahnya jumlah transaksi, diharapkan kemampuan teknologi ini dalam membaca perilaku pinjam-meminjam akan semakin tepat. Dengan demikian, risiko kredit macet akan turun pada kisaran 1%.
Meski begitu, pemantauan OJK dan kewajiban perusahaan untuk memberikan laporan bulanan dapat melecut perusahaan tekfin lending agar selalu menjaga resio kredit tetap aman.

Bisnis Ritel Bertransformasi

30 Jan 2019
Perubahan cara berdagang dari luring ke daring membuat sejumlah toko ritel berguguran. Ketua Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Mandey menuturkan, sekitar 95% pelaku usaha yang terdaftar dalam asosiasi telah mengalihkan sistem jual beli dari luring menjadi daring. Saat ini 600 anggota Aprindo dengan jumlah toko fisik mencapai 40 ribu mayoritas telah memiliki online store. Dia juga berpendapat, pengusaha saat ini tidak mungkin bisa menolak digitalisasi. Pasalnya, selain pelaku usaha harus mengikuti tren yang ada, digitalisasi dinilai dapat mendongkrak pertumbuhan atau pencapaian target omzet ritel.
Beberapa waktu lalu ritel besar di Indonesia, Hero Supermarket harus menutup 26 gerainya.Terbaru, Centro Departement Store menutup gerainya di Plaza Semanggi per 31 Desember 2018 setelah 15 tahun beroprasi. Menurut Senior Manager Advertising and Promotions PT Tozy Sentosa Pelly Sianova, penutupan toko di plaza semanggi dipengaruhi faktor eksternal yang tidak bisa dihindari. Diantaranya penurunan antusiasme masyarakat untuk ke pusat perbelanjaan. Dia menambahkan, plaza semanggi masih menunjukan daya beli masyarakat yang baik pada momen tertentu, misalnya : saat late night sale ketika konsumen masih berbelanja hingga tutup toko. Artinya daya beli masyarakat masih baik tapi sebagai tempat kunjungan daily masih banyak faktor penentunya.

Menkeu Janji Beleid DHE Kelar Pekan Ini

30 Jan 2019
PP Nomor 1/2019 tentang DHE dari Kegiatan Pengusahaan, Pengelolaan dan/atau Pengolahan Sumber Daya Alam sudah diteken Presiden Joko Widodo. Menkeu mengatakan akan mengeluarkan aturan pelaksanaannya pekan ini. Menurut Menkeu, pengusaha yang menyimpan DHE di Indonesia mendapatkan potongan PPh atas bunga deposito. Besarmya potongan tarif PPh tergantung dari jangka waktu penyimpanan. Sebelumnya Kepala BKF mengutarakan tidak ada perubahan potongan tarif PPh final bagi deposito DHE.
Sebagai gambaran, DHE yang disimpan dalam mata uang USD dikenai PPh final 10% dari jumlah bruto untuk jangka waktu 1 bulan. Lalu 7,5% untuk jangka waktu 3 bulan, 2,5% untuk jangka waktu 6 bulan, dan 0% untuk jangka waktu di atas 6 bulan. Sementara, deposito dalam mata uang rupiah dikenai tarif PPh final 7,5% untuk jangka waktu 1 bulan, 5% untuk jangka waktu 3 bulan, dan 0% untuk jangka waktu 6 bulan atau lebih. Meski dari sisi tarif tak berubah, Kemkeu memberikan kelonggaran insentif bagi eksportir yang memperpanjang deposito hasil DHE, maupun yang memindahkan DHE ke bank dalam negeri.
Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) mengapresiasi insentif ini, namun menganggapnya belum tentu menarik bagi eksportir. Sementara itu, Ketua Umum Apindo menganggap insentif yang ditawarkan pemerintah sudah cukup menarik. Demikian halnya dengan sanksi yang akan dikenakan bagi eksporti yang tidak memasukkan DHE ke dalam negeri.

Industrial Bank of Korea Kuasai 71,68% Saham Bank Mitraniaga

30 Jan 2019
Direktur Utama Bank Mitraniaga, M Nurcahyono, menyatakan bahwa pihaknya telah mendapatkan tambahan investor baru, yakni Industrial Bank of Korea. Investor tersebut mengambl alih 71,68% saham emitan bank ini dengan harga pelaksanaan Rp 409 per saham pada 28 Januari 2019. "
" Aksi Industrial Bank of Korea yang mengambil alih mayoritas saham Bank Mitraniaga, terpaut dengan akasi korporasi sebelumnya yang telah mengambil alih kepemilikan 95,79% saham PT Bank Agris Tbk yang nilai transaksinya mencapai Rp 1,7 triliun.

RI Siap Jadi Basis Produksi Mobil Listrik

30 Jan 2019
Indonesia siap menjadi basis produksi mobil listrik, dengan antara lain didukung ketersediaan pasokan nikel untuk bahan baku baterai kendaraan ramah lingkungan ini. Investor Tiongkok, Jepang dan RI sudah berkolaborasi mebangun pabrik komponen baterai di Morowali senilai US$ 700 Juta, dengan ekspor tahun pertama diperkirakan US$ 800 juta. Kemenperin masih mangundah investor Jepang lain untuk memproduksi baterai yang terus meningkat permintaanya di pasar global. Program mobil listrik di Indonesia yang juga bertujuan mengurangi impor minyak dan BBM dan menekan defisit di Indonesia. "
" Insentif dibutuhkan utamanya terkait tax holiday terkait dengan teknologi baru.

Jaga Likuiditas Bank, Sokong Pertumbuhan

30 Jan 2019
Bank Indonesia bersiap diri menyikapi hasil rapat Federal Open Market Commitee (FOMC). Gubernur BI memproyeksi, The Fed bisa mengerek kembali suku bunga di tahun ini demi mengantisipasi gejolak ekonomi di negaranya. The Fed menaikkan suku bunga paling banyak dua kali tahun ini. Kenaikan pertama, diprediksi terjadi Maret 2019. Kenaikan inilah yang akan menjadi pertimbangan BI dalam menentukan suku bunga acuan 7 day reverse repo rate yang saat ini 6%. Kenaikan kedua jika The Fed menaikkan lagi suku bunga acuannya, maka BI juga akan menaikkan pada puncak kenaikan suku bunga acuan.
Agar kenaikan suku bunga tak ikut kenaikan suku bunga simpanan dan kredit. Pertama, melonggarkan aturan giro wajib minimum (GMW) rat-rata dari semula 2% menjadi 3%. Kedua, menaikkan rasio penyangga likuiditas makroprudensial (PLM).