;
Kategori

Ekonomi

( 40430 )

29 Nov 2019

Promosi besar yang sering disebut sebgai bakar uang perusahaan fintech transaksi pembayaran mulai menemui ujungnya. Lippo Group pemegang saham ovo harus meleps kepemilikan hingga 70%. Pendiri Lippo Group Mochtar Riady mengatakan saat ini saham Lippo di PT Visionet International hanya tersisa 30%.. Presiden Direktur Ovo Karaniya Dharmasaputra menyatakan perusahaan memang didirikan oleh Lippo,. Namun layaknya startup teknologi lainnya, Ovo terus mencari pendaan. Karaniya menyatakan proses promosi merupakan hal lumrah. Dia menyebut didunia teknologi, bisnis model baru tidak sama dengan bisnis konvensional. Sehingga dalam periode tertentu butuh pemasaran. E-commerce awalnya juga melakukan pemasaran yang besar. Di Ovo ada tiga transaksi paling besar dan menjadi fokus, yakni transportasi, e-commerce, dan ritel termasuk food and beverages. Di transportasi ovo menggandeng grab. Sedangkan di transaksi e-commerce Ovo bekerja sama dengan Tokopedia.


Pemerintah Janji Pangkas Regulasi

28 Nov 2019

Pemerintah berjanji memangkas regulasi disektor properti melalui mekanisme omnibus law. Menteri Agraria dan Tata ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional Sofyan Djalil menyatakan, perkembangan sektor properti dalam negeri sedang menurun. Ini tidak terlepas dari kondisi ekonomi global, namun di dalam negeri juga ada masalah yang harus diminimalkan antara lain :

  • ketersediaan infrastruktur yang banyak dikeluhkan pelaku usaha
  • regulasi yang terlalu banyak

Saat ini tim antar kementerian dan lembaga sedang membahas omnibus law. Di sektor properti hal yang dikaji adalah esensi dari regulasi. Jika regulasi cukup diganti dengan standardisasi misalnya soal kualitas bangunan, tidak perlu peraturan soal perizinan.

Pelet Berbahan Baku Gandum Diekspor

28 Nov 2019

Sebanyak 7.700 ton pelet senilai Rp 132 miliar diekspor Indonesia ke Filipina. Pelet berbahan baku gandum tersebut diproduksi oleh Divisi Bogasari PT Indofood Sukses Makmur Tbk. Ekspor pelet Wheat Bran Pellet mencapai 273.000 ton senilai Rp 726 miliar pada Januari sd November 2019.

Emiten Super Jumbo Masih Langka

28 Nov 2019

Usia Bursa Efek Indonesia (BEI) hampir setengah abad. Namun hingga saat ini, jumlah emiten dengan nilai kapitalisasi pasar lebih dari Rp 100 triliun hanya sebanyak 12 emiten per November ini. Tadinya, BEI sempat memiliki 14 saham dengan nilai kapitalisasi pasar di atas Rp 100 triliun. Akan tetapi, dua emiten yang semula berada di jajaran emiten dengan kapitalisasi pasar super jumbo tersebut terdepak gara-gara harga sahamnya merosot.

Dua emiten yang keluar adalah PT Gudang Garam Tbk (GGRM) dan PT United Tractors Tbk (UNTR). Kapitalisasi pasar GGRM merosot lantaran harga sahamnya merosot ke Rp 49.225 pada perdagangan Selasa (26/11). Sekadar info, itu harga terendah GGRM dalam tiga tahun terakhir. Keluarnya GGRM dari jajaran emiten berkapitalisasi pasar lebih dari Rp 100 triliun lantaran penerapan cukai hasil tembakau. Sementara UNTR disebabkan tren harga batubara yang terus menurun. Meski begitu, analis MNC Sekuritas Jessica Sukimaja menilai prospek saham GGRM masih menarik. Sebab kinerja GGRM di kuartal III masih tumbuh sesuai ekspektasi dan mampu menutup potensi risiko dengan baik. Selain itu, jumlah emiten berkapitalisasi pasar super jumbo tidak mempengaruhi kualitas bursa. Saham dengan kapitalisasi pasar menengah pun layak untuk investasi, sepanjang memiliki fundamental baik.

Direktur Eksekutif Asosiasi Emiten Indonesia (AEI) Samsul Hidayat menilai kinerja perusahaan di Indonesia masih berpotensi terus tumbuh. Otomatis, kapitalisasi pasar juga akan membesar. Saat ini, bisnis emiten tertekan faktor global seperti perang dagang antara Amerika Serikat dan China. Samsul berharap ada insentif dari pemerintah agar emiten nyaman berekspansi, sehingga dapat menggenjot kinerja.

 


Bulog Merambah Bisnis Komersial

28 Nov 2019

Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso mengatakan Bulog akan berfokus pada kegiatan usaha komersial dengan menyediakan beras premium. Pada Rabu lalu, Bulog baru saja membuka kanal dagang dalam jaringan (online) bernama Pangan.com. Platform e-commerce yang khusus disediakan oleh Shopee itu juga menggandeng PT Istoreisend Elogistic Indonesia dan PT JNE

Hingga 18 November lalu, Perum Bulog baru mengadakan 1,14 juta ton beras atau 63,6 persen dari target tahun ini yang sebesar 1,8 juta ton. Menurut Budi, Bulog mengalami kendala menyerap beras dalam negeri lantaran masalah utang. Dengan menyerap beras komersial yang juga leluasa diperdagangkan, menurut Budi, Bulog diharapkan tidak lagi terbebani utang hingga Rp 28 triliun seperti saat ini. Hingga akhir pekan lalu, Bulog mengklaim memiliki beras hingga 2,2 juta ton. Sedangkan stok beras komersial saat ini hanya di kisaran 100 ribu ton. Untuk jangka menengah, persentase beras komersial di Bulog ditargetkan menjadi 50 persen dari total stok beras bulog.


Pemerintah Kembali Pangkas Populasi Bibit Ayam

28 Nov 2019

Demi mendongkrak harga ayam hidup tingkat peternak, Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian mengurangi bibit ayam usia sehari untuk stok akhir sebanyak 8 juta butir selama bulan ini. Pengurangan itu dilakukan dengan menarik telur tertunas (hatching egg) umur 19 hari.

Berdasarkan rapat koordinasi pada 19 November lalu, Kementerian berencana mengurangi telur bertunas sebanya 7 juta butir per pekan mulai 1 Desember mendatang. Pengurangan itu ditargetkan mencapai 28 juta butir telur. Langkah itu, kata Sugiono, akan mengurangi penyediaan ayam hidup sebnayak 10.627 ton. Pengurangan populasi ini dilakukan menyusul anjloknya harga ayam hidup di tingkat peternak selama beberapa waktu terakhir. Saat ini harga ayam hidup berada di bawah harga acuan Rp 18 ribu per kilogram yang tertuang dalam Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 96 Tahun 2018.


Parlemen Segera Selesaikan RUU Mineral dan Batu Bara

28 Nov 2019

Komisi VII DPR bersama Kementerian ESDM sepakat membentuk panitia kerja nuntuk melanjutkan pembahasan RUU Minerba. Tim ini akan bekerja mulai Selasa pekan depan. Namun, Ketua Komisi VII DPR, Sugeng Suparwoto, tak dapat memastikan apakah parlemen akan melanjutkan hasil pembahasan RUU Minerba pada periode sebelumnya atau mengulang pembahasan dari awal sesuai dengan desakan masyarakat. Politikus Partai NasDem itu memastikan DPR akan memperhatikan masukan publik.

DPR memutuskan memutuskan menunda pengesahan RUU Minerba menjelang berakhirnya masa jabatan periode 2014-2019. Pembahasan selama ini terhambat koordinasi pemerintah, salah satunya akibat Kementerian ESDM dan Kementerian Perindustrian tak kunjung sepakat mengenai penghiliran. Manajer Advokasi Publish What You Pay Indonesia, Aryanto, mengatakan parlemen seharusnya tidak langsung melanjutkan pembahasan naskah RUU Minerba dan daftar inventarisasi masalah dari periode sebelumnya. Aryanto mengingatkan bahwa tuntutan masyarakat bukan sekadar penundaan pengesahan, melainkan menunda pembahasan lantaran minimnya keterlibatan publik dalam pembahasan RUU Minerba.


10 Korporasi Korsel Siap Berekspansi

27 Nov 2019

Sedikitnya 10 korporasi raksasa asal Korea Selatan menegaskan komitmenya untuk berkespansi di Indonesia. Kesepuluh raksasa tersebut adalah Hankokk Tire & Technology Group, Sk E&C, Doosan Group, Lotte Corporation, Kexim Bank, CJ Group, Posco, Daewoo Shipbuilding and Marine Engineering, LG International dan GS Global.

Hyundai Motor Company bahkan akan mulai membangun pabrik seluas 77,6 ha di Cikarang Desember 2019 sebagai basis produksi untuk pemasaran Asia Tenggara dan sekitarnya. Menurut Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartanto, Hyundai akan berinvestasi di Indonesia dengan nilai 1,55 miliar dollar AS. 

Tren Mutiara

27 Nov 2019

Penjualan perhiasan mutiara secara daring terus meningkat dan diminati pasar milenial. Sejumlah produk mutiara laut selatan (south sea pearl) asal Indonesia juga dipasarkan dengan harga puluhan ribu hingga ribuan dollar AS.

Dari data Kementerian Kelautan dan Perikanan nilai ekspor mutiara Indonesia pada 2018 sebesar 42,27 juta dollar AS atau peringkat kelima setelah Hongkong, Jepang, Tahiti dan China. Padahal kontribusi Indonesia terhadap produksi mutiara laut selatan dunia mencapai 50%.

Penawaran Obligasi Ritel Sukses Menggaet Investor Baru dari Kalangan Milenial

27 Nov 2019

Pemerintah telah mengakhiri penawarn obligasi ritel untuk tahun ini. Pemerintah menutup penawaran sukuk tabungan seri ST-006 sekaligus obligasi ritel terakhir yang ditawarkan tahun ini. Melihat hasil penawaran sepanjang tahuin ini, pemerintah cukup berhasil memperbesar basis investor. Jumlah investor baru yang masuk setiap penawaran obligasi ritel mencapai ribuan. Perolehan investor baru terjadi pada penawaran SR-011 pada Maret lalu. Jumlah investor baru yang masuk saat itu 20.630 investor. Selain itu tingkat keritelan di setiap penerbitan obligasi ritel terus meningkat. ST-006 menjadi obligasi ritel dengan tingkat keritelan terbaik sepanjang penerbitan SBN ritel online. Direktorat           Jendral Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan mencatat rata-rata volume pemesanan tabungan ini mencapai Rp 189 juta per investor.

Persentase investor milenial juga terus meningkat. Pada penerbitan ST-006, jumlah investor milenial mencapai 3.950 investor, setara 51,07% dari total investor. Bahkan, 56% investor baru adalah generasi milenial. Bulan sebelumnya, pada penerbitan ORI016 jumlah investor baru dari kalangan milenial 40,37%.