Ekonomi
( 40460 )Baru 95 Hari Kerja, INA Sudah Berhasil Gaet 3 Investor Asing
Jakarta - Baru bekerja 95 hari, Lembaga Pengelola Investasi atau Indonesia Investment Authority (INA) sudah berhasil mengajak tiga investor asing untuk berkomitmen menanamkan modal senilai US$ 3,75 miliar di aset jalan tol. Dari total komitmen US$ 3,75 miliar itu, senilai US$ 750 juta di antaranya berasal dari INA dan masing-masing dari tiga investor asing itu US$ 1 miliar. Setelah MoU, tahap berikutnya adalah due diligence agar komitmen ini bisa terealisasi ke dalam transaksi.
Selain itu, INA telah meneken kerja sama dengan PT Pertamina (Persero) untuk menjajaki investasi di sektor energi. Kerja sama juga dilakukan dengan Kementrian BUMN serta BUMN, antaralain Telkom, Angkasa Pura, Pelindo, Pertamina, dan Kimia Farma. Saat ini, INA sedang menindaklanjuti 8-10 aset yang berpotensi untuk diadakan kerja sama dengan lembaga ini. Semua proyek tersebar di berbagai sektor, mulai jalan tol, bandara, pelabuhan, hingga healthcare services.
(Oleh - IDS)
Subsektor Kurir dan Pos Pulih lebih Cepat
Jakarta - Subsektor kurir dan pos bakal pulih lebih cepat dari hantaman pandemi Covid-19, dibandingkan subsektor logistik lainnya. Sebab, kurir dan pos terdongkrak booming bisnis perdagangan elektronik (e-commerce). Masih ada peluang di sektor logistik di tengah pandemi, terutama untuk pergudangan, pos, dan kurir. Hal ini ditopang juga oleh pembangunan infrastruktur yang memicu efisiensi sektor logistik.
Perusahaan yang terdampak berat pandemi Covid-19 kini menerapkan tiga strategi untuk bertahan. Pertama, kolaborasi dengan perusahaan lain untuk menjangkau konsumen ritel. Kedua, adaptasi model bisnis. Ketiga, memacu efiesiensi dengan menerapkan teknologi informasi (TI). Perusahaan logistik yang terimbas positif pandemi juga akan menghadapi tantangan, seperti tuntutan mengirim barang tepat waktu dan kualitas tetap baik.
Sektor logistik juga berkontribusi dalam pemulihan ekonomi nasional. Sektor ini mendorong pertumbuhan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) dengan membangun kolaborasi ekosistem logistik. Kemudian, memanfaatkan teknologi untuk melakukan inovasi layanan logistik, serta meningkatkan efisiensi supply chain dalam mendukung berbagai industri lainnya dalam konsep track, trace, dan timeliness.
(Oleh - IDS)
Turunkan Harga Tes Covid-19
Indonesia masih kedodoran menghadapi wabah Covid-19. Jumlah testing dan tracing yang belum maksimal dinilai menjadi salah satu pemicu lonjakan kasus Covid-19 hari-hari ini. Apalagi, sejumlah pihak menilai, tarif tes Covid-19 secara mandiri di Indonesia masih memberatkan sehingga angka testing masih jalan di tempat. Sebagai catatan, Selasa (13/7), kasus baru infeksi Covid-19 di Indonesia mencapai 47.899 dengan jumlah kematian 865 orang. Ini adalah angka kasus baru dan kematian harian tertinggi di dunia. Bahkan, kasus harian Covid-19 di Indonesia sudah melampaui India.
Berdasarkan data Covid19.go.id, total spesimen diperiksa hingga kemarin mencapai 22,13 juta. Perinciannya, jumlah tes PCR dan tes cepat molekuler (TCM) sebanyak 1796 juta dan tes antigen sebanyak 4,17 juta. Jumlah tes Covid-19 bahkan lebih rendah dibandingkan jumlah total vaksinasi dosis pertama yang mencapai 36,91 juta. Salah satu penyebabnya rendahnya jumlah testing di Indonesia adalah masih tingginya biaya tes Covid-19. Saat ini, harga tes antigen di Indonesia berkisar antara Rp 100.000-Rp 250.000. Memang, harga tersebut dalam rentang harga tes antigen yang ditetapkan Kementerian Kesehatan, yakni maksimal Rp 250.000 di Jawa dan Rp 275.000 di Luar Jawa. Namun, biaya tersebut relatif mahal jika dibandingkan biaya tes di negara lain, kecuali di sejumlah negara maju. UNICEF mencatat, rata-rata biaya tes antigen di dunia berkisar US$ 4-US$ 4,20 atau Rp 58.000 hingga Rp 60.900 (kurs Rp 14.500 per dollar AS).
Epidemiolog dari Griffith University Australia, Dicky Budiman berharap, pemerintah bisa menekan harga alat tes Covid-19 menjadi lebih terjangkau. Tingginya biaya tes ini menyebabkan testing, tracing dan treatment (3T) di Indonesia belum berjalan maksimal. Menurut dia, testing tidak harus melalui tes swab PCR. Tes antigen pun cukup ideal sesuai standar dan rekomendasi WHO. Apalagi teknologi PCR dan antigen semakin berkembang, sehingga hasil tes menjadi lebih akurat dengan harga yang lebih murah.Potensi Pajak Korporasi Merugi Rp 8 Triliun
Rencana pemerintah menggali sumber-sumber penerimaan pajak baru, masih dalam pembahasan. Salah satunya, rencana pemungutan pajak terhadap korporasi yang merugi lewat skema Alternative Minimum Tax (AMT). Dalam draf Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Perubahan Kelima atas Undang-Undang Nomor 6 tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (KUP). Dirjen Pajak berencana mengenakan tarif pajak sebesar 1% dari peredaran usaha atau omzet.
Dalam Naskah Akademik RUU KUP, Kemkeu mencatat setidaknya terdapat 9.496 wajib pajak yang mengalami kerugian fiskal lima tahun berturut-turut sejak tahun 2015 hingga 2019. Jumlah penghasilan bruto wajib pajak tersebut pada tahun 2019 sekitar Rp 830 triliun. Menurut pemerintah, penerapan AMT bisa meminimalisasi terjadinya penghindaran pajak (tax avoidance) dengan memanfaatkan fasilitas. Modusnya, memanipulasi pengurang penghasilan serta melakukan perencanaan pajak yang agresif (aggressive tax planning).Industri Makanan Minuman Kebal Pandemi Covid-19
Sebagai sektor yang berkaitan dengan kebutuhan dasar masyarakat, industri makanan dan minuman masih mampu bertahan di tengah pandemi Covid-19. Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) Adhi S Lukman mengatakan, industri makanan dan minuman terkait erat dengan konsumsi rumah tangga. Selama masa pandemi, konsumsi rumah tangga Indonesia turun 2,63% pada 2020, kemudian level penurunannya sedikit berkurang jadi minus 2,23% di kuartal I-2021.
Meski konsumsi rumah tangga terkoreksi dan Indonesia turun kelas, sektor makanan dan minuman masih bisa bertahan meski terdapat banyak tekanan. Tahun lalu, industri makanan dan minuman masih bisa tumbuh positif 1,58%, sementara di kuartal I-2021, industri ini tumbuh 2,45%. Semoga tahun 2021 industri makanan dan minuman bisa tumbuh 5%-7% di tengah pandemi Covid-19. Kami juga yakin perekonomian Indonesia tumbuh 4%-5% tahun ini, ujar Adhi dalam acara Investor Daily Summit 2021 secara virtual, Selasa (13/7). Dia juga menyebutkan, industri makanan minuman masih memiliki daya tarik bagi investor, terutama investor asing. Terbukti, total foreign direct investment (FDI) di sektor makanan minuman senilai US$ 0,97 miliar di kuartal I-2021 atau tumbuh 224% (yoy). Angka ini juga mendekati realisasi FDI industri makanan minuman pada tahun lalu US$ 1,60 miliar. Di sisi lain, permintaan ekspor makanan minuman tak menurun saat pandemi. Di 2020, ekspor produk makanan minuman Indonesia naik 14,14% menjadi US$ 31,09 miliar.Suntik 7,9 Triliun untuk Waskita Karya
Pemerintah akan menyuntikkan dana sebesar Rp 7,9 triliun untuk PT Waskita Karya (Persero) Tbk lewat skema penyertaan modal negara (PMN) pada semester kedua tahun ini. Injeksi modal tersebut bakal digunakan untuk penyelesaian pembangunan tujuh ruas jalan Tol Trans Jawa dan Trans Sumatra. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, pembiayaan investasi pemerintah PT Waskita Karya diharapkan dapat menyokong kondisi keuangan Waskita. Namun demikian, harus disertai dengan perbaikan bisnis perusahaan, seperti divestasi ruas tol potensial untuk mengurangi beban utang. "Kami meminta Kementerian BUMN (Badan Usaha Milik Negara) agar keduanya (Waskita Karya dan Hutama Karya) melakukan reformasi agar neracanya bisa sehat dan menjalankan fungsi pembangunan namun tetap bisa akuntabel dari sisi keuangannya," kata Sri Mulyani saat rapat kerja dengan Badan Anggaran (Banggar) DPR, Senin (12/9) lalu.
Direktur Jenderal Kekayaan Negara Kementerian Keuangan (Kemkeu) Rio Silaban mengatakan, suntikan dana tersebut menggunakan mekanisme PMN. Sebab, dana yang diberikan kepada PT Waskita Karya untuk menjalankan penugasan dari proyek pemerintah. Nantinya perusahaan harus melaporkan pemanfaatannya dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Dari sisi kas pemerintah, rencana pemberian PMN kepada PT Waskita Karya tidak akan menambah beban belanja negara di tahun ini. Sebab, otoritas fiskal mengalokasikannya dari cadangan anggaran Program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) 2021. Suntikan modal ke PT Waskita Karya berlanjut 2022. Kementerian BUMN mengajukan PMN sebesar Rp 3 triliun di 2022 untuk pelat merah tersebut. Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo menyebut, utang Waskita Karya naik Rp 64,94 triliun pada 2020 akibat karena mengambil alih proyek-proyek jalan Tol Trans Jawa yang tidak diselesaikan swasta.Tingkatkan Lapangan Kerja Berkualitas
Indonesia kekurangan pekerjaan berkualitas untuk mendorong pertumbuhan kelas menengah. Reformasi kebijakan perlu dilakukan secepatnya dengan memprioritaskan investasi yang dapat menciptakan pekerjaan dengan upah dan perlindungan layak. Secara paralel, angkatan kerja juga disiapkan untuk mengisi pekerjaan baru itu. Laporan Bank Dunia ”Prospek Ekonomi Indonesia Mempercepat Pemulihan” edisi Juni 2021 menyoroti bahwa porsi pekerjaan untuk mendorong pertumbuhan kelas menengah di Indonesia turun 5,2 persen dalam waktu satu tahun setelah pandemi Covid-19. Awalnya, pada 2019, persentase pekerjaan kelas menengah masih mencapai 15,4 persen. Namun, setelah pandemi, porsinya menurun menjadi 10,2 persen.
Ekonom Bank Dunia Maria Monica Wihardja, Selasa (13/7/2021), mengatakan, penurunan pertumbuhan pekerjaan yang layak ini sesuatu yang patut diantisipasi secara serius. Menurut dia, untuk mengantisipasi dampak ekonomi Covid-19, pemerintah juga harus mengimplementasikan reformasi kebijakan jangka menengah dan panjang. Hal itu juga mendesak untuk menekan kemiskinan dan mendorong pertumbuhan kelas menengah yang akan berperan banyak dalam perputaran roda ekonomi. Salah satunya dengan memprioritaskan masuknya investasi baru yang akan mendorong penyerapan tenaga kerja, bukan hanya secara kuantitas, tetapi juga kualitas. ”Jangan pekerjaan seadanya seperti sebelumnya. Ini harus dimulai secepatnya,” ujarnya.
Laporan Bank Dunia mencatat, dalam satu dekade terakhir ini, pemerintah memang gencar menciptakan lapangan kerja dengan rata-rata 2,4 juta pekerjaan baru per tahun.Namun, lapangan kerja yang tercipta itu tidak cukup untuk mengangkat status pekerja dari miskin dan rentan miskin menjadi masyarakat kelas menengah. Terkait tantangan menciptakan angkatan kerja yang siap mengisi pekerjaan berkualitas itu, Maria menegaskan pentingnya transfer teknologi dan keahlian lewat masuknya investasi asing. Untuk itu, tenaga kerja asing harus selalu didampingi oleh tenaga kerja lokal dan pada satu periode, posisi yang dipegang itu harus beralih ke pekerja lokal.
Peneliti di Pusat Penelitian Ekonomi LIPI, Endang Soesilowati, mengatakan, standar pekerjaan berkualitas tidak bisa lepas dari kebijakan upah minimum bagi pekerja. Bank Dunia menetapkan standar upah kelas menengah adalah Rp 3,75 juta per bulan berdasarkan perhitungan garis kemiskinan di tahun 2018. Sementara, per Februari 2021, rata-rata upah pekerja Indonesia secara nasional adalah Rp 2,86 juta. Kondisi itu pun berbeda-beda di setiap provinsi. Terjadi disparitas yang tinggi antara rata-rata upah pekerja antarprovinsi. Endang mengatakan, seiring dengan upaya menarik lebih banyak investasi, aspek pengupahan yang layak untuk pekerja ini patut diperhatikan pemerintah melalui kebijakan upah minimum yang memadai. Sementara, akibat pandemi Covid-19 serta konsekuensi penerapan UU Cipta Kerja, kebijakan upah minimum tahun ini diputuskan tidak naik.Harum Aroma Rempah Indonesia di India
Pecinta masakan India atau penggemar film India pasti tidak asing lagi dengan beragam masakan khas India. Ya, kekhasan mayoritas kuliner India adalah kaya rempah nan beraroma kuat, seperti rogan josh, tikka masala, kofta, atau chole bhature. Dan rempah bagi rakyat India adalah budaya. Rempah hadir di beragam hal, mulai dari makanan hingga obat-obatan. Tak heran, ketika gelombang pandemi menerjang, kebutuhan rempah-rempah kian melonjak. Sebagai salah satu pengekspor rempah, diantaranya cengkeh, Indonesia merasakan efek positifnya. ”Permintaan akan cengkeh melonjak saat pandemi dan cengkeh merah populer dan paling dicari di India. Bagi India, cengkeh merah itu komoditas premium. India juga impor dari Afrika, tetapi utamanya dari Indonesia,” kata Konsul Jenderal RI di Mumbai Agus Prihatin Saptono dalam satu sesi wawancara khusus, Sabtu (10/7/2021).
Selain cengkeh, rempah-rempah seperti lada, pala, jahe, kayu manis, dan vanila termasuk dalam 20 besar komoditas ekspor Indonesia ke India. Pada tahun 2020 total impor rempah-rempah India sekitar 206.000 ton. ”Kue” itu begitu besar. Namun, dari total impor itu, Indonesia baru memasok sekitar 31.000 ton saja, dengan nilai sebesar 111 juta dollar AS. Di pasar rempah India, Indonesia merupakan eksportir rempah terbesar ke-2 di India setelah Vietnam.
Pada tahun 2020 total impor rempah-rempah India sekitar 206.000 ton. ”Kue” itu begitu besar. Namun, dari total impor itu, Indonesia baru memasok sekitar 31.000 ton saja, dengan nilai sebesar 111 juta dollar AS. Di pasar rempah India, Indonesia merupakan eksportir rempah terbesar ke-2 di India setelah Vietnam. Tingginya kebutuhan India akan rempah-rempah, kata Agus, merupakan pasar potensial bagi Indonesia. Apalagi, jumlah penduduk India besar lebih dari 1,3 miliar dan pada tahun 2040-2050 India diprediksi menjadi kekuatan ekonomi terbesar kedua setelah China. ”Potensi ini belum dilirik Indonesia. Untuk itu, kami dorong terus. Kami berusaha menghubungkan UKM dan berbagai organisasi terkait rempah untuk meningkatkan industri domestik kita,” kata Agus.Ekonomi China Membaik
Perekonomian China membaik di tengah pandemi Covid-19. Hal ini ditandai dengan meningkatnya ekspor dan impor walau belum drastis.Meskipun demikian, para pakar ekonomi di dalam dan di luar negeri tetap mewanti-wanti agar Pemerintah China jangan berpuas diri. Situasi masih belum menentu. Kasus penularan masih tinggi di banyak negara.
Pengumuman tentang perkembangan ekonomi itu disampaikan juru bicara Bea dan Cukai Pemerintah China, Li Kuiwen, Selasa (13/7/2021), melalui berbagai media utama negara tersebut. Ia mengatakan, faktor semakin masifnya proses imunisasi Covid-19 secara global membuat banyak negara mulai melonggarkan pembatasan sosial. Ini berpengaruh positif pada perdagangan China.
Ekspor China pada Juni 2021 naik 32,2 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu menjadi 281,4 miliar dollar AS. Ini lebih tinggi dari kenaikan ekspor sebesar 28 persen pada Mei 2021 dibandingkan dengan Mei 2020. Impor juga tumbuh 36,7 persen pada Juni 2021 menjadi 229,9 miliar dollar AS meskipun turun dibandingkan dengan kenaikan 51 persen pada Mei 2021 dari Mei 2020. Namun, hal ini tetap dipandang positif. Impor minyak pada semester pertama 2021 turun 3 persen dari periode serupa 2020. Ini penurunan semesteran pertama sejak 2013. Namun, impor gas alam, bijih besi, dan kedelai naik.
Virus Covid-19 pertama kali muncul di China pada akhir 2019. Pembatasan ketat mampu menurunkan penularan dan virus bisa dikendalikan. Langkah itu membuat China menjadi satu-satunya negara dengan perekonomian besar yang bisa berkembang sepanjang 2020. Selama pandemi, mitra dagang terbesar China adalah negara-negara anggota ASEAN. Secara kumulatif, jumlah ekspor dan impor China-ASEAN relatif seimbang dibandingkan dengan negara ataupun kawasan lain. Ekspor China ke ASEAN naik 33,1 persen pada semester pertama 2021 dibandingkan dengan periode serupa tahun lalu. Impor China dari ASEAN juga naik 33,69 persen. Uni Eropa merupakan mitra dagang terbesar kedua China. Ekspor China ke UE naik 27,2 persen dan impornya naik 34,1 persen. Peringkat ketiga sebagai mitra dagang terbesar China diduduki Amerika Serikat. Hubungan dagang kedua negara memang lebih kompleks karena Presiden AS periode 2017-2021, Donald Trump, menerapkan tarif yang tinggi terhadap produk-produk impor dari China. Secara keseluruhan, China mencatatkan surplus perdagangan sebesar 51,53 miliar dollar AS pada Juni 2021.Industri Pengolahan, Pelaku Usaha Mamin Bidik Pertumbuhan 7%
Di tengah gelombang baru pandemi Covid-19 saat ini, pelaku industri makanan dan minuman atau mamin optimistis mampu mencatatkan pertumbuhan bisnis hingga 7% persen pada tahun ini.Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) Adhi S. Lukman mengatakan pada tahun lalu kendati ekonomi resesi, industri mamin masih mencatatkan kinerja positif 1,58%. Adapun, per kuartal I/2021 pertumbuhan mamin tercatat di level 2,45%."Kami masih yakin akan tumbuh 5%-7% seiring dengan konsumsi rumah tangga yang penurunannya perlahan berkurang jika dibanding tahun lalu, juga kelas menengah yang mulai berani berbelanja,” katanya, Selasa (13/7).
Di sisi lain, Adhi menyebut peluang industri mamin ke depan adalah berbagai produk dengan nilai tambah serta fungsi dan kualitas yang baik.Sementara itu, pemerintah optimistis surplus perdagangan tahun ini akan melampaui perolehan tahun lalu yang tercatat senilai US$20,7 miliar dengan didukung oleh ekspor sejumlah produk hasil pengolahan yang masih prospektif.Adapun, hingga Mei 2021, surplus perdagangan Indonesia telah mencapai US$10,17 miliar atau naik 2,36 secara year on year (yoy).Wakil Menteri Perdagangan Jerry Sambuaga mengatakan pada periode yang sama, peningkatan surplus perdagangan Mei 2021 tersebut merupakan yang tertinggi dalam satu dekade terakhir.
(OLeh - HR1)Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









