Ekonomi
( 40460 )Bantu Start-up Bertemu Investor, Kemenkominfo Luncurkan HUB.ID
Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) meluncurkan program
HUB.ID untuk membantu perusahaan rintisan
teknologi (startup) bertemu calon investor. HUB.ID
merupakan perluasan dari program Kemenkominfo
untuk mendukung perusahaan rintisan berbasis
digital di Indonesia. Program ini juga merupakan
kelanjutan Nexticorn yang sempat diadakan pada
2018.
“HUB.ID ini memfasilitasi start
up supaya berkembang lebih cepat,”
kata Dirjen Aplikasi Informatika
Komenkominfo, Semuel Abrijani
Pangerapan pada konferensi pers
virtual di Jakarta, Rabu (28/7).
Menurut Semuel Abrijani, dalam
program ini, startup diberikan kesempatan untuk mendapatkan akses
ke pendanaan dan kerja sama melalui
berbagai pelatihan, jejaring, dan demo
day atau memperkenalkan produk.
Dia menjelaskan, HUB.ID fokus
pada business matchmaking atau
perjodohan bisnis. Startup digital
akan dipertemukan dengan BUMN,
perusahaan swasta, dan institusi pemerintah yang dikurasi sesuai sektor
bisnis (vertikal) perusahaan rintisan.
“Untuk HUB.ID, Komenkominfo
memberi kesempatan bergabung kepada startup di bidang pertanian dan
kemaritiman, pendidikan, kesehatan,
pariwisata, logistik, keuangan, dan
smart city,” tutur dia
Pendaftaran HUB.ID dibuka mulai
28 Juli hingga 13 Agustus, bisa diikuti
startup di tahap pra-seri A sampai
lanjut (later stage). “Komenkominfo
memberi kuota untuk 50 startup yang
sudah siap dengan strategi bisnis,
sudah menjalankan bisnis lebih dari
enam bulan,” ujar dia.
Dia menambahkan, startup yang
terpilih akan mengikuti pelatihan speed
mentoring secara online dari mentor
yang merupakan pendiri atau pimpinan
perusahaan rintisan, pelaku usaha, dan
perusahaan modal ventura. “Setelah
mengikuti serangkaian program, startup terpilih akan mempresentasikan
bisnis dan produk di hadapan investor
dari berbagai negara,” papar dia
(Oleh - HR1)
KKP Target Lumbung Ikan Sumbang Rp 3,71 T ke Negara
Kementerian Kelautan dan Perikanan
(KKP) menargetkan penerimaan
negara bukan
pajak (PNBP)
dari aktivitas perikanan pada program Lumbung
Ikan Nasional
(LIN) di wilayah
Maluku mencapai
Rp 3,71 triliun. Di
sisi lain, potensi
penyerapan tenaga kerja untuk industri perikanan
di LIN pun cukup banyak, diperkirakan lebih dari
5.500 orang.
Demikian disampaikan Menteri KP Sakti Wahyu
Trenggono dalam rapat koordinasi lintas kementerian/lembaga (K/L) dan pemerintah daerah (pemda)
yang dipimpin Menko Kemaritiman dan Investasi
Luhut Binsar Pandjaitan secara virtual, Rabu (28/7).
“Apabila keseluruhan ini kita implementasikan akan
ada penerimaan negara sekitar Rp 3,71 triliun per
tahun dari Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP)
718. Artinya, LIN ini sangat proven," ujar Trenggono.
Untuk memastikan skema itu berjalan dengan
baik, KKP akan memperkuat sistem pengendalian
dan pengawasan ruang laut dengan menggunakan
teknologi berbasis satelit. Sistem ini tidak sebatas
memantau pergerakan kapal penangkap ikan pengguna VMS maupun yang tidak, tapi juga dapat
memonitoring stok ikan, tumpahan minyak, kondisi
terumbu karang, kawasan budidaya udang dan
rumput laut, hingga memantau kawasan-kawasan
pesisir yang terintegrasi.
(Oleh - HR1)
Investasi Manufaktur Melonjak 29%
Nilai investasi industri manufaktur
sepanjang semester I-2021 mencapai Rp 167,1
triliun, melonjak 29% dibanding periode sama
tahun lalu Rp 129,6 triliun. Jumlah tersebut
berkontribusi 37,7% terhadap total investasi
nasional Rp 442,8 triliun.
“Adapun dua sektor manufaktur
primadona yang menjadi penyumbang terbesar investasi adalah
logam dasar, barang logam, bukan
mesin dan peralatannya sebesar Rp 57,6 triliun dan makanan
Rp 36,6 triliun (8,3%),” kata Menteri Perindustrian (Menperin) Agus
Gumiwang Kartasasmita dalam
keterangan resminya, Rabu (28/7).
Agus menjabarkan, sepanjang
enam bulan 2021, penanaman
modal dalam negeri (PMDN)
sektor industri mencapai Rp 46,3
triliun atau berkontribusi 21,6%
dari total PMDN yang menembus
Rp 214,3 triliun. Adapun penanaman modal asing (PMA) di industri
mencapai Rp 120,8 triliun atau
berkontribusi 52,9% dari total PMA
Rp 228,5 triliun.
Sebelumnya, Ekonom Core
Indonesia Ina Primiana meminta
pemerintah menjaga momentum
bagus sektor manufaktur. Sebab,
di tengah pandemi Covid-19, manufaktur masih menggeliat.
Dia mencatat, kontribusi manufaktur ke produk domestik bruto
(PDB) masih 19,84%, sama seperti
sebelum pandemi. Indeks manajer
pembelian (purchasing managers
index/PMI) juga dalam tren positif. Bahkan, pada Mei 2021, PMI
mengukir rekor baru, sebesar
55,3 poin
(Oleh - HR1)
Sepuluh MI Ditetapkan Jadi Tersangka Kasus Asabri
Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejagung Leonard Eben Ezer Simanjuntak menyampaikan, tersangka Korporasi MI yang dimaksud adalah PT IIM, PT MCM, PT PAAM, PT RAM, PT VAM, PT ARK, PT.OMI, PT MAM, PT AAM, dan PT CC. Penetapan tersangka terhadap MI itu dilakukan berdasarkan gelar perkara yang diketahui dari hasil pemeriksaan para pengurus MI. Hasil pemeriksaan terhadap pengurus manajer investasi telah menemukan fakta reksa dana yang dikelola oleh manajer investasi, yang pada pokoknya tidak dilakukan secara profesional serta independen karena dikendalikan oleh pihak-pihak tertentu untuk kepentingan pihak pengendali tersebut, sehingga mengakibatkan kerugian keuangan negara yang digunakan/dimanfaatkan oleh manajer investasi, Leonard dalam keterangan resmi, Rabu . Dia menjelaskan, tindakan dari sejumlah MI itu bertentangan dengan ketentuan peraturan pasar modal dan fungsi MI, serta peraturan lainnya yang terkait.
Pertumbuhan Sektoral, Industri Farmasi Fokus Penanganan Covid-19
Sektor farmasi akan fokus pada produksi obat terkait Covid-19 ketimbang mengejar pertumbuhan secara industri pada tahun ini.Tahun lalu, pertumbuhan industri farmasi hanya didorong oleh produk berkaitan dengan imunomodulator, sedangkan serapan obat di luar Covid-19 tercatat minus hingga 11%.Alhasil, sulit mengejar pertumbuhan dari produk yang tak berkaitan dengan penanganan Covid-19.Sekretaris Jenderal Gabungan Pengusaha Farmasi Indonesia (GPFI) Andreas Bayu Aji mengatakan dengan lonjakan kasus Covid-19 saat ini, fokus industri membantu masyarakat dan pemerintah dari sisi penyediaan obat.Sementara itu, berbeda dengan keluhan industri, data pemerintah dan Badan Pusat Statistik (BPS) justru mengelompokkan industri kimia dan farmasi pada sektor yang bertumbuh paling baik.Direktur Industri Kimia Hilir dan Farmasi Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Muhammad Taufiq mengatakan saat ini industri farmasi telah menjadi industri prioritas pemerintah yang terus tumbuh di tengah pandemi Covid-19.
(Oleh - HR1)Ekspor Daerah, Kaltim Susun Ulang Program Pengapalan Langsung
Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur tengah menyusun sejumlah langkah agar pengapalan langsung atau direct call menjadi lebih profesional dalam menunjang ekspor daerah itu.Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi UKM (Disperindagkop) Kaltim Yadi Robyan Noor menyatakan ekspor Kaltim akan jelas mendapatkan keuntungan dengan menggunakan fasilitas tersebut.“Direct call bagus dan penting untuk mendorong dari negara buyer langsung dan nggak kemana-mana,” ujarnya, Rabu (28/7).Pertama, memastikan besaran jumlah kapasitas ekspor dari Kaltim.Kedua, menyusun penjadwalan ekspor menggunakan direct call yang berkaitan dengan wilayah Kaltim. Ketiga, mempersiapkan produk ekspor yang memiliki daya saing harga
(Oleh - HR1)
Vaksin Sinovac : Antibodi Menurun Setelah Enam Bulan
Studi terbaru menunjukkan, pada sebagian besar penerimanya, antibodi yang dipicu oleh vaksin Covid-19 buatan Sinovac Biotech turun di bawah ambang batas sekitar enam bulan setelah dosis kedua. Selain pentingnya mempersiapkan suntikan ketiga, temuan ini menekankan pentingnya monitoring penularan dan keparahan Covid-19 setelah vaksinasi. Di Indonesia, vaksin Sinovac digunakan pada awal-awal vaksinasi pertama pada pertengahan Januari 2021 hingga kini.
Temuan tentang penurunan antibodi dari vaksin Sinovac ini dilaporkan peneliti China dalam sebuah makalah yang diterbitkan di medRxiv pada hari Minggu (25/7/2021), yang belum ditinjau oleh rekan sejawat. Menjadi penulis pertama makalah tersebut adalah Hongxing Pan, peneliti dari Vaccine Evaluation Institute, Jiangsu Provincial Center for Disease Control and Prevention, China. Dalam kajian ini, peneliti meneliti antibodi dari orang yang menerima dua dosis vaksin Sinovac, dua atau empat minggu terpisah. Hasilnya, hanya 16,9 persen dan 35,2 persen masing-masing masih memiliki antibodi penetralisir di atas apa yang peneliti anggap sebagai tingkat ambang batas terdeteksi pada enam bulan setelah suntikan kedua. Analisis dilakukan terhadap dua kelompok yang melibatkan masing-masing 50 peserta dan mereka juga memberikan dosis ketiga vaksin atau plasebo kepada total 540 peserta.
Para peneliti tidak menjelaskan bagaimana dampak penurunan antibodi ini pada efek proteksinya terhadap Covid-19. Hal ini karena para ilmuwan belum mengetahui secara tepat ambang batas tingkat antibodi untuk vaksin agar dapat mencegah penyakit ini. Namun, terlepas dari antibodi yang tahan lama, komponen lain dalam sistem kekebalan manusia, seperti sel T dan memori sel B, yang ditimbulkan oleh vaksin juga dapat berkontribusi pada perlindungan. Dalam kajian ini, orang yang menerima dosis ketiga suntikan Sinovac sekitar enam bulan setelah yang kedua menunjukkan peningkatan 3-5 kali lipat tingkat antibodi setelah 28 hari. Kadar antibodi ini setara dengan tingkat yang terlihat empat minggu setelah suntikan kedua.Donasi Konglomerat Indonesia Melawan Covid-19
Pandemi Covid-19 juga menyudutkan kehidupan sosial masyarakat Indonesia. Angka pengangguran dan kemiskinan di negeri ini berpotensi bertambah akibat hantaman wabah korona. Di tengah program bantuan sosial dari pemerintah yang belum maksimal, muncul tangan-tangan dermawan yang turut membantu. Sebagian kelompok masyarakat, mulai dari tingkat RT hingga para konglomerat, berduyun-duyun mengucurkan bantuan. Maka tak heran jika Indonesia didaulat menjadi negara paling dermawan di dunia. Penilaian itu mengacu pada Charities Aid Foundation (CAF) World Giving Index 2021.
Di sepanjang 2020, Indonesia mencatatkan total skor 69%, naik dari skor pada 2018 sebesar 59%. Angka penilaian CAF World Giving Index berdasarkan tiga aspek, yakni membantu orang asing, donasi uang dan waktu volunteer. Masyarakat Indonesia, termasuk para pengusaha, sudah terlibat dalam donasi terkait penanggulangan efek Covid-19 sejak tahun lalu. Sederet perusahaan konglomerasi itu antara lain Grup Djarum, Sinarmas, Astra, Salim, Lippo, Barito, Mayapada, Indika dan sederet pengusaha lainnya. Aneka bantuan tersebut terus mengalir, mulai dari alat-alat kesehatan, masker, APD, obat-obatan, vaksinasi, pasokan oksigen konsentrator hingga bahan pangan bagi kelompok masyarakat terdampak Covid-19.
Director of Public Affairs Djarum Indonesia, Mutiara Asmara menjelaskan, Grup Djarum turut mendukung pemerintah dan membantu masyarakat yang terdampak Covid-19, baik secara langsung maupun melalui kolaborasi dengan berbagai pihak. "Hingga kini Djarum telah menyalurkan bantuan lebih dari Rp 150 miliar. Bantuan ini masih berlanjut selama masa pandemi Covid-19," ungkap dia, Selasa (27/7).
Grup Sinar Mas juga memelopori gerakan donasi lintas sektor industri di bawah naungan Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) yang disalurkan melalui Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia. Gerakan tersebut bernama Pengusaha Peduli NKRI. Inisiator dan Koordinator Pengusaha Peduli NKRI yang juga eks-Managing Director Sinar Mas, Gandi Sulistiyanto mengatakan, total donasi lebih dari Rp 650 miliar. Jumlah itu melampaui target yang sebesar Rp 500 miliar.
Sementara PT Barito Pacific Tbk (BRPT) telah menyalurkan bantuan kemanusiaan lebih dari Rp 76 miliar untuk berbagai keperluan penanggulangan pandemi, di luar bantuan kemanusiaan lainnya. "Sejak Maret 2020 sampai Juli 2021 kami telah mendistribusikan berbagai bantuan untuk penanggulangan Covid-19," jelas Agus Salim Pangestu, Presiden Direktur PT Barito Pacific Tbk, kemarin.
Ketua Umum Kadin Indonesia Arsjad Rasjid mengapresiasi para pengusaha yang selama ini bahu-membahu turut membantu pemerintah dan masyarakat. "Kami akan terus mengajak para pengusaha di Indonesia untuk bergerak bersama meredam dampak pandemi yang belum kunjung berakhir," ucap dia, kepada KONTAN, kemarin.Peta Persaingan E-Wallet Semakin Panas
Pangsa pasar di Indonesia yang gurih membuat para perusahaan teknologi terus mengembangkan ekosistem digitalnya. Awal pekan ini, Grab dan PT Elang Mahkota Teknologi (Emtek) menjalin kerjasama bisnis di bidang digitalisasi Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM). Grab punya saham di dompet digital Ovo. Sementara Emtek punya saham di dompet digital Dana dan di e-commerce Bukalapak.
CEO sekaligus co-founder Dana, Vince Iswara hanya bilang, Ovo dan Dana merupakan inisiasi positif yang bisa membangkitkan kembali perekonomian tanah air khususnya di sektor UMKM. Sementara Head of Corporate Communication OVO, Harumi Supit mengatakan, Ovo juga sudah lama berkolaborasi dengan Bukalapak. "Kerjasama ini sejalan dengan prioritas kami mendukung UMKM melalui peningkatan akses terhadap layanan kredit yang masih sulit dijangkau lebih dari 60% UMKM, ujar Harumi. Bisnis dompet digital memang menggiurkan, terlebih pada masa pandemi seperti sekarang. Pada separuh pertama 2021 rata-rata transaksi di Dana melonjak dari 3 juta menjadi 5 juta transaksi per hari. Dana berhasil menjaring 250.000 UMKM untuk bergabung dalam fitur Dana Bisnis, dengan peningkatan transaksi 35% sejak awal 2021.
LinkAja juga siap menghadapi persaingan disokong perbankan pelat merah, kinerja LinkAja selama masa Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) mampu menambah 1 juta pengguna. Dibandingkan tahun lalu pada periode yang sama, volume transaksi meningkat hampir 2 kali lipat di 2021, ujar Direktur Utama LinkAja Haryawati Lawidjaja.
ShopeePay juga gencar memperluas akses jaringan dengan menggandeng Google Play, Indomaret dan merchant lain. Jangan lupakan GoPay yang berada di dalam hasil merger Gojek-Tokopedia yang melahirkan GoTo. "Fitur ShopeePay agar membantu mengakomodasi kebutuhan para merchant dan pengguna kami," kata Head of Campaigns and Growth Marketing ShopeePay, Rabu (28/7). Transaksi paling banyak dari pembayaran antar makanan, jasa berbelanja di supermarket dan telemedice.Sederet IPO Jumbo Antre di Semester II
Di semester kedua tahun 2021 ini, bakal lebih banyak perusahaan besar menggelar penawaran umum perdana saham ke publik atau initial public offering (IPO). Kedatangan korporasi gede tersebut akan menambah daya tarik bursa saham Tanah Air. Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat, setidaknya terdapat 25 perusahaan dalam pipeline rencana IPO. Sebanyak 14 di antaranya, merupakan perusahaan dengan kepemilikan aset berskala besar atau beraset di atas Rp 250 miliar. Sementara tujuh perusahaan di antaranya beraset skala menengah, atau dengan nilai aset antara Rp 50 miliar sampai Rp 250 miliar. Sedangkan empat perusahaan lainnya, merupakan calon emiten dengan aset skala kecil, di bawah 50 miliar.
Salah satu perusahaan yang akan IPO dengan nilai jumbo adalah Bukalapak (BUKA). Menawarkan IPO dengan harga Rp 850 per saham, BUKA akan IPO pada 6 Agustus 2021 mendatang, dengan target emisi Rp 21,9 triliun. Direktur Penilaian BEI I Gede Nyoman Yetna mengatakan, saat Bukalapak tercatat nanti, maka kapitalisasi pasar bursa saham akan bertambah Rp 77,3 triliun-Rp 87,6 triliun. "Penambahan kapitalisasi pasar itu tergantung dari pricing di harga antara Rp 750-Rp 850 per saham. Harga ini adalah angka yang besar bagi peningkatan market cap," ucap Nyoman. Nyoman menambahkan, setelah Bukalapak, ada dua unicorn lain yang kemungkinan tercatat pada tahun ini. Meski tak gamblang, perusahaan ini adalah merger dua unicorn, sehingga kapitalisasi pasarnya lebih besar dari BUKA. "Kalau dari sisi jumlah, sebenarnya tahun ini bisa ada tiga unicorn, tetapi yang dua ini sudah bergabung jadi satu," kata Nyoman. Meskipun begitu, pihak BEI menyatakan belum menerima pernyataan pendaftaran IPO dari perusahaan itu.
Mengutip Bloomberg Senin (26/7), unicorn hasil merger Gojek dan Tokopedia, GoTo, dikabarkan bakal IPO tahun ini. GoTO terlebih dahulu akan IPO di Indonesia, sebelum melantai di bursa saham Amerika Serikat. Diperkirakan IPO GoTo bernilai deantara US$ 1 miliar-US$ 2 miliar, atau sekitar Rp 14,5 triliun hingga Rp 29 triliun. IPO di kedua negara ini bisa menjadikan valuasi GoTo mencapai US$ 25 miliar-US$ 30 miliar, atau maksimal Rp 435 triliun. Selain itu, ada juga rencana IPO perusahaan besar lainnya di tahun ini. Misalnya, Adhi Commuter Properti (ADCP) yang berencana IPO di kuartal IV-2021. PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) juga ditargetkan IPO pada November 2021, setelah pembentukan Holding BUMN Geothermal dan mendapatkan transaksi aset hilir PLN.Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









