Ekonomi
( 40554 )Kinerja Keuangan Mayora Membaik Tahun Depan
PT Mayora Indah Tbk (MYOR) optimis kinerja keuangan membaik tahun depan, seiring tren penurunan kasus Covid-19. Hal ini juga didukung sejumlah strategi yang disiapkan untuk mendukung pertumbuhan. Ekspektasi membaiknya kinerja keuangan tahun depan juga didasarkan data ritel Nielsen yang berakhir September 2021.
"Kami optimistis tumbuh pada 2022. Sebab, industri FMCG, berdasarkan data Nielsen, juga tumbuh. Kami merasa akan bertahan tahun depan," ujar Global Marketing Director Mayora Group Ricky Afriyanto. Pertumbuhan bisnis perseroan, kata dia, juga akan didukung peningkatan harga komoditas, yang berimbas terhadap kenaikan daya beli masyarakat.
"Jika produk diluncurkan hingga market bergairah, tentu akan terlambat, jadi kuncinya adalah kami harus membangun bisnis itu dengan rasa optimisme. Kami harus membuat market itu menarik dengan cara memberikan value kepada konsumen," ujar dia. Selain berinovasi, dia melanjutkan, perseroan melakukan orientasi pasar dan memprioritaskan segmen usaha yang sedang tumbuh. (Yetede)
RI Kuasai Pasar Agen Perjalanan Online Asean
Indonesia menguasai pasar agen perjalanan online (online travel agent/OTA) yang sangat menggiurkan serta menjanjikan. George Hendrata, CEO Global Tiket Network (Tiket.com), menegaskan, pasar perdagangan digital di Asean sangat besar. Berdasarkan laporan riset Google dan Temasek, nilai ekonomi digital Asean diprediksikan mencapai US$ 120 milliar tahun ini.
Goerge melanjutkan, bisnis OTA di Indonesia berpeluang terus tumbuh, seiring geliat pariwisata, merujuk data IATA, Indonesia akan berada diperingkat empat dunia pada 2025. "Ini sangat menantang dan Tiket.com siap mendukung predikat tersebut. Sebab, semakin banyak turis, semakin banyak devisa yang masuk," kata dia dalam Economic Outlook 2021, Selasa (23/11).
Dia mengakui, sektor pariwisata termasuk OTA sempat terpukul hebat pandemi Covid-19. Ini bisa dilihat dari amblasnya jumlah penumpang udara pada Mei 2020, ketika pandemi masih merebak dan sejumlah pemerintah daerah menjalankan PSBB. Perusahaan ini bahkan harus menerima refund hingga 50 kali. Akan tetapi permintaan itu tetap dilayani. (Yetede)
Utang Macet Sritex Menghantui Bank
Kasus gagal bayar perusahaan tekstil semakin panjang. Setelah Duniatex dan Pan Brothers, industri perbankan harus kembali menghadapi restrukturisasi kredit dari debitur tekstil lain, yakni Sri Rejeki Isman Tbk (SRIL) alias Sritex. Nasib Sritex akan ditemukan pada 2 Desember 2021. Pada saat itu para kreditur akan menggelar pemungutan suara atas rencana perdamaian. Total pokok utang jatuh tempo dan terutang berdasar dokumen keuangan tanggal putusan PKPU Sritex adalah senilai sekitar Rp 19,96 triliun. Dalam proposal versi terakhir ini, Sritex akan menyelesaikan seluruh utang bilateral dan utang sindikasi senilai US$ 979,4 juta melalui alokasi Secured Working Capital Revolver US$ 275 juta, Secured Term Loan US$ 350 juta, dan Unsecured Term Loan atau Mandatory Covertible Loan US$ 354,4 juta.
IBC Evaluasi Utang Rencana Akuisisi StreetScooter
Rencana Indonesia Battery Corporation (IBC) mengakuisisi StreetScooter, produsen kendaraan listrik asal Jerman memasuki babak baru. Para pemegang sahaam IBC kini sedang mengevaluasi rencana pembelian itu. Beberapa unsur saham bahkan menolak pembelian StreetScooter. IBC adalah holding BUMN Baterai yang dimiliki empat BUMN: yakni PT Pertamina, PT PLN, PT Inalum dan PT Aneka Tambang Tbk. Dus, rencana akuisisi StreetScooter oleh IBC memantik kontroversi. Pasalnya, perusahaan ini masih menderita kerugian 318 juta pada 2020. Sejatinya, para pemegang saham IBC, seperti Mind Id, PLN dan Antam disebut-sebut keberatan dengan rencana akuisisi StreetScooter. "Bahkan karena mereka menolak, kepemilikan saham PLN akan dialihkan ke Pertamina dan posisi Antam digantikan oleh Perusahaan Pengelola Aset (PPA) di IBC," bisik sumber KONTAN, kemarin.
Kinerja Emiten Grup Triputra Ditopang CPO dan Logistik
Grup Tiputra berencana mengantarkan salah satu entitasnya yang bergerak di bidang otomotif ke Bursa Efek Indonesia (BEI), yaitu PT Dharma Polimetal. Di pasar modal, saham-saham Grup Triputra disebut memiliki prospek yang baik, bersamaan dengan kinerja dan prospek yang baik pula. Di sektor minyak sawit (CPO), Grup Triputra mencatatkan saham Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG) dan PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG). Kinerja penjualan dan laba kedua perusahaan ini positif hingga akhir kuartal III-2021 dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Kebutuhan Pembiayaan Korporasi Mulai Mendaki
Permintaan kredit korporasi sudah makin meningkat. Hal itu tercermin dari survei Bank Indonesia (BI) mengenai kebutuhan akan pembiayaan korporasi pada bulan Oktober 2021 yang tercatat meningkat. Saldo Bersih Tertimbang (SBT) segmen korporasi mencapai 16,7% pada Oktober 2021. Lebih tinggi dibandingkan bulan September sebesar 11,1%. Dalam survei tersebut, sektor konstruksi, perdagangan, reparasi mobil dan penyediaan makanan dan minuman terindikasi memiliki kebutuhan pembiayaan yang meningkat dibandingkan dengan bulan sebelumnya.
Teh Indonesia Terjual Rp 57 Miliar di Selangor
Kompas, Jakarta - PT Perkebunan Nusantara III Holding berhasil membukukan transaksi penjualan teh senilai 4 juta dollar AS atau Rp 57 miliar pada Selangor International ExpoFood and Beverage (SIE F&B) 2021. Pameran ini berlangsung secara hibrida pada 18-21 November 2021 di Kuala Lumpur, Malaysia. Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementrian Perdagangan menyatakan, partisipasi Kementrian Perdagangan dan PT Perkebunan Nusantara III Holding pada pameran ini bertujuan untuk terus mendorong kinerja ekspor Indonesia ke Malaysia, khususnya sektor makanan dan minuman pascapandemi Covid-19.
Mesin Penjualan Otomotif Kembali Berderum
Industri otomotif nasional mulai terlihat bangkit di pengujung tahun 2021. Ajang pameran otomotif, plus guyuran insentif PPnBM ikut memompa penjualan mobil di kuartal terakhir tahun ini. Salah satu pabrikan yang merajai pameran adalah Toyota. PT Toyota Astra Motor (TAM) mencatat penjualan mobil di GIIAS 2021 mencapai 3.818 unit. Direktur Pemasaran TAM, Anton Jimmy Suwandi menilai, industri otomotif mulai bangkit. Hal ini tidak hanya mengacu angka penjualan, tetapi juga antusiasme masyarakat yang datang ke pameran.
Persaingan Kian Sengit, Bank Besar Pertebal Modal
Perbankan berlomba meningkatkan amunisi permodalan untuk menghadapi makin sengitnya persaingan bisnis, termasuk menyiapkan diri untuk masuk era perbankan digital. Tak hanya bank kecil, bank besar juga rajin menambah modal inti. Gencarnya penambahan modal ini membuat sejumlah bank berhasil naik kelas Bank Umum Kegiatan Usaha (BUKU IV) dengan bermodal inti di atas Rp 30 triliun pada tahun ini. PermataBank Tbk (BNLI) pada Januari lalu sudah menjadi bank BUKU IV setelah rights issue dan mendapat suntikan modal dari Bangkok Bank. Modal inti bank ini sebesar Rp 43,14 triliun per September 2021. Bank ini akan gunakan modal untuk tingkatkan layanan digital.
Berharap Tumbuh 5% Hingga Tahun Depan
Pemerintah optimistis pemulihan ekonomi pada kuartal IV-2021 akan berlanjut hingga tahun depan. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menargetkan, pertumbuhan ekonomi kuartal IV-2021 sebesar 5,5% - 6% year on year (yoy) sehingga pertumbuhan 2021 mencapai 4% yoy. Optimisme Airlangga lantaran melihat beberapa indikator ekonomi makro kuartal IV ini juga mulai membaik dibandingkan kuartal III-2021. Misalnya, Purchasing Managers Index (PMI) Manufaktur Indonesia berada di level 57,2 pada bulan Oktober 2021 lalu. Pada bulan yang sama, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) bertengger di level 113,4 pada bulan lalu.
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









