Ekonomi
( 40554 )Tekanan Inflasi Berpotensi Mereda Lagi
Laju inflasi pada Desember 2021 ini berpotensi kembali melambat, setelah ada tren menanjak sejak Oktober. Meredanya tekanan inflasi ini sejalan dengan kebijakan pengetatan aktivitas masyarakat untuk mencegah penyebaran Covid-19 pada libur Natal dan Tahun Baru. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, laju inflasi November 2021 sebesar 0,37%. Laju inflasi meningkat lebih tinggi setelah Oktober naik sebesar 0,12%, dibandingkan dengan deflasi pada September.
Pasar Saham Lebih Optimistis Tahun Depan
Tahun depan, pasar saham berpeluang bergerak bullish, seiring dengan peluang membaiknya perekonomian. Meski demikian, pelaku pasar tetap akan mencermati dampak varian baru Covid-19 yang berpeluang membuat lonjakan kasus infeksi korona secara global. Analis Binaartha Sekuritas Ivan Rosanova mengatakan, peningkatan kasus Covid-19 global bisa menjadi pemberat laju IHSG tahun depan. Namun, pasar masih optimistis pertumbuhan ekonomi tahun depan akan lebih baik dari tahun ini.
BI Waspadai Risiko Inflasi dan Nilai Tukar Rupiah
Bank Indonesia (BI) menyebut pemulihan ekonomi Indonesia masih menghadapi sejumlah risiko pada tahun depan. Risiko tak hanya dari dalam negeri tapi juga datang dari global. Sebab itu, BI menyatakan, Indonesia perlu menyiapkan kuda-kuda untuk menangkalnya. "Kami melihat adanya permasalahan-permasalahan yang harus diantisipasi karena ada perubahan lanskap dalam kebijakan tapering dan juga ketidakpastian global," kata Gubernur BI Perry Warjiyo, Senin (29/11). Perry kemudian memerinci risiko tersebut. Pertama, adanya tekanan dan kemungkinan peningkatan inflasi dalam negeri, khususnya di paruh kedua tahun depan. Kedua, risiko terhadap pergerakan nilai tukar rupiah karena adanya risiko tapering off dari bank sentral dunia khususnya bank sentral Amerika Serikat Federal Reserve (The Fed).
Kredit Korporasi Mulai Membaik
Penyaluran kredit perbankan mulai membaik seiring terkendalinya virus Covid-19. Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso bilang, pandemi menghantam bisnis korporasi terutama pada pariwisata, hotel, transportasi, dan restoran. Namun saat ini sebagian sektor korporasi mulai bangkit. Kredit ke 200 korporasi besar naik Rp 52,56 triliun atau tumbuh 4,7% year to date (ytd). PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), misalnya, mencatat outstanding kredit ke segmen infrastruktur dan konstruksi tumbuh paling tinggi, mencapai Rp 9,9 triliun secara year on year (yoy). Segmen ini mendominasi dengan kontribusi hingga 67% dari total kredit korporasi. Sementara permintaan kredit dari sektor telekomunikasi tumbuh terbesar kedua, yaitu Rp 4,7 triliun yoy.
Varian Baru Covid-19 Mencemaskan Bursa Saham Lagi
Bursa saham global kembali bergejolak. Varian baru Covid-19, omicron, memicu kekhawatiran baru yang menekan laju bursa saham global. Indeks Harga Saham Gabungan IHSG pun terseret penurunan tersebut. Pada penutupan pasar saham Jumat (26/11), IHSG merosot -2,06% menjadi 6.561,55. Padahal, bursa saham dalam negeri tengah dalam tren kenaikan dan berpotensi mengukir rekor baru
Nasib SWF Indonesia Berada di Ujung Tanduk
Nasib sovereign wealth fund (SWF) Indonesia atau Lembaga Pengelola Investasi (LPI) sedang di ujung tanduk. Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) terkait Undang-Undang Nomor 11/2020 tentang Cipta Kerja menyandera langkah LPI untuk menarik investasi asing maupun mengelola dana bernilai puluhan triliun rupiah. Sebagai catatan akhir pekan lalu, MK memutuskan bahwa penyusunan UU Cipta Kerja cacat formil karena mengabaikan prosedur ideal penyusunan UU. MK pun menitahkan pemerintah dan DPR segera memperbaikinya dalam dua tahun usai putusan tersebut.
Cermati Sejumlah Fitur Baru di Sistem Perdagangan Bursa
Bursa Efek Indonesia (BEI) akan menerapkan beberapa ketentuan baru dalam perdagangan saham. Selain menutup informasi kode broker dan domisili investor, BEI akan menyesuaikan mekanisme pre-opening dan pre-closing, dan memperpanjang jam perdagangan saham di pasar negosiasi. Penyesuaian mekanisme pre-opening dan pre-closing dilakukan dengan menambah informasi Indicative Equilibrium Price (IEP) dan Indicative Equilibrium Volume (IEV), serta fitur random closing. BEI juga menambahkan fitur market order untuk meningkatkan potensi terjadinya transaksi sehingga mendorong likuiditas pasar.
Pekan Lalu, Dua Obligasi dan Tiga Saham Masuk Bursa
Aktivitas pencatatan di Bursa Efek Indonesia (BEI) terus berlanjut. Di pekan ini, terdapat dua obligasi dan tiga saham baru tercatat di bursa.
Pada Senin (22/11), PT Indomobil Finance Indonesia menerbitkan Obligasi Berkelanjutan IV Indomobil Finance Indonesia Dengan Tingkat Bunga Tetap Tahap II Tahun 2021 dengan nilai nominal Rp 1,92 triliun.
Pada hari yang sama, saham PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) listing sebagai perusahaan tercatat ke-41 sepanjang tahun 2021.
Kemudian pada Rabu (24/11), Obligasi Berkelanjutan IV Medco Energi Internasional Tahap II Tahun 2021 yang diterbitkan oleh PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) mulai dicatatkan dengan nilai nominal sebesar Rp 1 triliun.
Pada Kamis (25/11), terdapat pencatatan saham dan waran perdana PT Perma Plasindo Tbk (BINO) sebagai perusahaan tercatat ke-42, serta pencatatan saham PT Caturkarda Depo Bangunan Tbk (DEPO) sebagai perusahaan tercatat ke-43.
Sekadar informasi, dengan adanya aktivitas pencatatan tersebut, total emisi Obligasi dan Sukuk yang sudah tercatat sepanjang tahun 2021 adalah 87 emisi dari 52 emiten senilai Rp 91,01 triliun.
Produsen Smartphone Semakin Gencar Berbisnis Mobil Listrik
Niat raksasa ponsel pintar China, Xiaomi, masuk ke bisnis kendaraan listrik tampaknya tak mainmain. Xiaomi akan membangun pabrik di Beijing yang berkapasitas 300.000 kendaraan listrik per tahun. Akhir pekan lalu Reuters memberitakan, pihak berwenang Beijing mengungkapkan, pabrik tersebut akan dibangun dalam dua fase, Sementara Badan Pembangunan Ekonomi di Beijing, E-Town, di akun resmi WeChat menyatakan, Xiaomi juga akan membangun kantor pusat unit mobil, kantor penjualan dan penelitian di Zona Pengembangan Ekonomi dan Teknologi Beijing.
Harga Minyak Dunia Terendah dalam 2 Bulan
Harga minyak mentah acuan Brent pada pukul 10.35 GMT dilaporkan turun US$4,68 atau 5,6% menjadi US$ 77,45 per barel. Sedangkan harga minyak acuan West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat (AS) turun UAD 5,20 atau 6,6% menjadi US$ 73,19 per barel,pasca liburan perayaan Hari Thanskgiving, pada Kamis (25/11) di AS.
Harga minyak dunia tersebut merosot bersamaan dengan pasar saham global ditengah kekhawatiran varian baru Covid-19. Di sisi lain, para investor juga mengamati respon Tiongkok terhadap pelepasan jutaan barel minyak AS dari cadangan stratregisnya melalui koordinasi dengan negara-negara konsumen besar lainnya. Langkah ini merupakan upaya untuk meredam kenaikan harga.
"Pelepasan semacam itu kemungkinan bakal membengkakkan pasokan dalam beberapa bulan mendatang," kata sumber di Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC), berdasarkan temuan panel ahli yang memberi nasihat kepada para menteri anggota OPEC, yang dilansir Reuters. (Yetede)
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









