Ekonomi
( 40465 )IBC Evaluasi Utang Rencana Akuisisi StreetScooter
Rencana Indonesia Battery Corporation (IBC) mengakuisisi StreetScooter, produsen kendaraan listrik asal Jerman memasuki babak baru. Para pemegang sahaam IBC kini sedang mengevaluasi rencana pembelian itu. Beberapa unsur saham bahkan menolak pembelian StreetScooter. IBC adalah holding BUMN Baterai yang dimiliki empat BUMN: yakni PT Pertamina, PT PLN, PT Inalum dan PT Aneka Tambang Tbk. Dus, rencana akuisisi StreetScooter oleh IBC memantik kontroversi. Pasalnya, perusahaan ini masih menderita kerugian 318 juta pada 2020. Sejatinya, para pemegang saham IBC, seperti Mind Id, PLN dan Antam disebut-sebut keberatan dengan rencana akuisisi StreetScooter. "Bahkan karena mereka menolak, kepemilikan saham PLN akan dialihkan ke Pertamina dan posisi Antam digantikan oleh Perusahaan Pengelola Aset (PPA) di IBC," bisik sumber KONTAN, kemarin.
Kinerja Emiten Grup Triputra Ditopang CPO dan Logistik
Grup Tiputra berencana mengantarkan salah satu entitasnya yang bergerak di bidang otomotif ke Bursa Efek Indonesia (BEI), yaitu PT Dharma Polimetal. Di pasar modal, saham-saham Grup Triputra disebut memiliki prospek yang baik, bersamaan dengan kinerja dan prospek yang baik pula. Di sektor minyak sawit (CPO), Grup Triputra mencatatkan saham Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG) dan PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG). Kinerja penjualan dan laba kedua perusahaan ini positif hingga akhir kuartal III-2021 dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Kebutuhan Pembiayaan Korporasi Mulai Mendaki
Permintaan kredit korporasi sudah makin meningkat. Hal itu tercermin dari survei Bank Indonesia (BI) mengenai kebutuhan akan pembiayaan korporasi pada bulan Oktober 2021 yang tercatat meningkat. Saldo Bersih Tertimbang (SBT) segmen korporasi mencapai 16,7% pada Oktober 2021. Lebih tinggi dibandingkan bulan September sebesar 11,1%. Dalam survei tersebut, sektor konstruksi, perdagangan, reparasi mobil dan penyediaan makanan dan minuman terindikasi memiliki kebutuhan pembiayaan yang meningkat dibandingkan dengan bulan sebelumnya.
Teh Indonesia Terjual Rp 57 Miliar di Selangor
Kompas, Jakarta - PT Perkebunan Nusantara III Holding berhasil membukukan transaksi penjualan teh senilai 4 juta dollar AS atau Rp 57 miliar pada Selangor International ExpoFood and Beverage (SIE F&B) 2021. Pameran ini berlangsung secara hibrida pada 18-21 November 2021 di Kuala Lumpur, Malaysia. Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementrian Perdagangan menyatakan, partisipasi Kementrian Perdagangan dan PT Perkebunan Nusantara III Holding pada pameran ini bertujuan untuk terus mendorong kinerja ekspor Indonesia ke Malaysia, khususnya sektor makanan dan minuman pascapandemi Covid-19.
Mesin Penjualan Otomotif Kembali Berderum
Industri otomotif nasional mulai terlihat bangkit di pengujung tahun 2021. Ajang pameran otomotif, plus guyuran insentif PPnBM ikut memompa penjualan mobil di kuartal terakhir tahun ini. Salah satu pabrikan yang merajai pameran adalah Toyota. PT Toyota Astra Motor (TAM) mencatat penjualan mobil di GIIAS 2021 mencapai 3.818 unit. Direktur Pemasaran TAM, Anton Jimmy Suwandi menilai, industri otomotif mulai bangkit. Hal ini tidak hanya mengacu angka penjualan, tetapi juga antusiasme masyarakat yang datang ke pameran.
Persaingan Kian Sengit, Bank Besar Pertebal Modal
Perbankan berlomba meningkatkan amunisi permodalan untuk menghadapi makin sengitnya persaingan bisnis, termasuk menyiapkan diri untuk masuk era perbankan digital. Tak hanya bank kecil, bank besar juga rajin menambah modal inti. Gencarnya penambahan modal ini membuat sejumlah bank berhasil naik kelas Bank Umum Kegiatan Usaha (BUKU IV) dengan bermodal inti di atas Rp 30 triliun pada tahun ini. PermataBank Tbk (BNLI) pada Januari lalu sudah menjadi bank BUKU IV setelah rights issue dan mendapat suntikan modal dari Bangkok Bank. Modal inti bank ini sebesar Rp 43,14 triliun per September 2021. Bank ini akan gunakan modal untuk tingkatkan layanan digital.
Berharap Tumbuh 5% Hingga Tahun Depan
Pemerintah optimistis pemulihan ekonomi pada kuartal IV-2021 akan berlanjut hingga tahun depan. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menargetkan, pertumbuhan ekonomi kuartal IV-2021 sebesar 5,5% - 6% year on year (yoy) sehingga pertumbuhan 2021 mencapai 4% yoy. Optimisme Airlangga lantaran melihat beberapa indikator ekonomi makro kuartal IV ini juga mulai membaik dibandingkan kuartal III-2021. Misalnya, Purchasing Managers Index (PMI) Manufaktur Indonesia berada di level 57,2 pada bulan Oktober 2021 lalu. Pada bulan yang sama, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) bertengger di level 113,4 pada bulan lalu.
ADB Fasilitasi Utang US$ 500 Juta untuk Indonesia
Asian Development Bank (ADB) menyetujui pemberian pinjaman berbasis kebijakan senilai US$ 500 juta, setara Rp 7,11 triliun (kurs Rp 14.220 per dolar AS). Pinjaman itu untuk membantu Indonesia meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM), produktivitas tenaga kerja, dan reformasi di bidang pendidikan, pengembangan keterampilan, kesehatan, dan perlindungan sosial.
Pemulihan Ekonomi dalam Bayang-Bayang Konflik AS-RRT
Pertumbuhan ekonomi diperlukan agar ongkos pemulihan yang sebagian dibiayai dari utang dapat terbayar lunas. Ada harapan lain yang tidak kalah penting, yaitu dua raksasa ekonomi dunia saat ini (AS dan Tiongkok) diharapkan tidak main api. Pemulihan ekonomi membutuhkan peran kepemimpinan mereka ditingkat global dan di kawasan.
Mereka para pemimpin adidaya, tidak boleh bersifat egois, menjadi negara peradaban adalah hak mereka. Tapi kemajuan peradaban yang dicapai tidak patut untuk digunakan membuat senjata pemusnah massal karena konflik dua negara besar berebut pengaruh. Dalam konflik bilateral atau multiliteral yang akan berperang antar negara.
Indonesia sebenarnya punya kedekatan pada keduanya, sehingga Indonesia bisa bertindak sebagai juru damai. Hal ini penting dan dimungkinkan karena politik bebas aktif negeri kita. Hal penting lainnya adalah jika ekonomi Indonesia pada kuartal III/2021 mencapai 3,51% (year on year). Pemerintah optimis pertumbuhan ekonomi dikeseluruhan tahun mencapai kisaran 3,7%-4,5%. (Yetede)
2022 Ekonomi Pulih, Bank Mandiri Bidik Sektor Potensial
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk mulai tahun depan akan memprioritaskan pemberian kredit ke sejumlah sektor yang berpotensi tumbuh dan belum digarap oleh bank lain. Direktur Managemen resiko Bank Mandiri Ahmad Siddik Badruddin mengatakan, berdasarkan analisa perseroan, sektor yang potensial tersebut tercermin dari tren pertumbuhan ekonomi, pertumbuhan kredit, resiko kredit dan kontribusi terhadap produk domestik bruto (APBD)."Adapun,sektor yang sudah mencatatkan pertumbuhan kredit, didukung pertumbuhan ekonomi, NPL (non-performingloan) yang terjaga adalah sektor resilien, antara lain perdagangan besar dan eceran, reparasi, konstruksi, transportasi, pergudangan, dan komunikasi," ujar Siddik. Sementara itu terdapat pula sektor yang memiliki pertumbuhan PDB cukup tinggi, pertumbuhan kredit dibawah rata-rata nasional.Bank Mandiri mencatat, sejumlah sektor yang mampu bertahan selama pandemi, antara lain perusahaan perkebunan kelapa sawit dan CPO yang tumbuh 13,5% secara tahunan yoy per September 2021 dengan NPL terjaga 0,69%.
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









