Ekonomi
( 40465 )LPS: Kebijakan Fiskal dan Moneter Jaga Pemulihan Ekonomi
Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan, pemerintah tidak perlu khawatir terhadap rencana tapering The Fed. Sebab, kebijakan fiskal dan moneter berjalan secara suportif dan akomodatif terhadap perubahan eksternal. Namun demikian tetap mengingatkan Indonesia harus tetap waspada dan tidak boleh lengah dalam mengantisipasi.
Gubernur The Fed Jerome Powell, kata dia, juga sudah mengatakan, tapering tidak akan diikuti dengan peningkatan Fed Fund Rate dalam waktu dekat. Sejumlah lembaga internasional memperkirakan, kenaikan FFR terjadi pada kuartal III atau IV tahun depan. The Fed menaikkan bunga bukan untuk membawa ekonomi kemasa resesi, tetapi mengendalikan ekonomi Amerika agar tidak kepanasan.
Sementara I-2021, dia menerangkan, LPS menurunkan tingkat bunga penjamin sebesar 50 basis poin (bps) untuk simpanan dalam rupiah di bank umum dan bank perkreditan rakyat (BPR), serta sebesar 50 bps serta untuk simpanan dalam valuta asing di bank umum sebesar 25 bps menjadi masing-masing 3,5%, 6%, dan 0,2%. Kebijakan tersebut mempertimbangkan arah suku bunga pasar yang menurun, kondisi likuiditas, perbankan yang stabil, dinamika resiko keuangan global yang relatif terkendali.(Yetede)
Program Akhir Tahun Akan Dorong E-Commerce
Transaksi e-commerce, ternyata, juga terkena dampak kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat pada Juli 2021. Namun, momentum akhir tahun diharapkan bisa kembali mendongkrak transaksi e-commerce. Bank Indonesia (BI) mencatat ada penurunan transaksi belanja secara daring lewat e-commerce pada kuartal III-2021. Gubernur BI Perry Warjiyo menyebut, total nilai transaksi e-commerce periode Juli - September 2021 sebesar Rp 58,2 triliun, turun 22,81% ketimbang kuartal II-2021 sebesar Rp 75,4 triliun.
Hujan Mulai Turun, Harga Minyak Sawit Mentah Naik
Produksi minyak sawit atau crude palm oil (CPO) kerap terganggu selama musim hujan. Tak heran, harga minyak sawit belakangan melambung. Jumat (19/11) lalu, harga CPO di Malaysia Derivatives Exchange menurun 0,10% ke RM 4.993 per ton. Sebelumnya, Kamis (18/11), harga CPO sempat menyentuh harga tertinggi di RM 4.998 per ton. Dalam sepekan, harga CPO menguat 5,04%.
Harga Mulai Naik, Namun Volatilitas Bitcoin Masih Tinggi
Harga bitcoin kembali naik setelah turun secara teknikal. Dalam jangka pendek, volatilitas harga bitcoin diproyeksikan masih tinggi. Berdasarkan laman coinmarketcap, Minggu (21/11), pukul 21.00, harga bitcoin naik 0,60% ke US$ 58.883 per btc. Sebelumnya, Jumat (19/11), harga btc anjlok ke US$ 55.978 per btc setelah sempat naik ke US$ 65.722 per btc pada Senin (15/11). Co-founder CryptoWatch Christopher Tahir mengatakan penurunan harga bitcoin sebelumnya disebabkan oleh pelaku pasar yang merealisasikan keuntungan dan merupakan hal yang wajar terjadi.
Penarikan Kredit Modal Kerja Semakin Ramai
Pemulihan ekonomi membuat bank semakin optimistis mengucurkan kredit modal kerja. Fasilitas kredit ini biasanya dipergunakan untuk membiayai aktiva lancar serta membiayai sementara kegiatan operasional rutin, uang muka, cadangan kas, atau komponen modal kerja lainnya. Permintaan kredit modal kerja mulai mampu mengejar pertumbuhan kredit konsumsi. Bank Indonesia (BI) mencatatkan kredit modal kerja naik 2,6% yoy menjadi Rp 2538,2 triliun per September 2021. Sedangkan pertumbuhan kredit konsumsi naik 2,9% yoy menjadi Rp 1638,2 triliun di sembilan bulan pertama 2021.
Keekonomian Jadi Penentu
Kompas, Jakarta - Harga kendaraan listrik dinilai masih terlalu mahal bagi konsumen di Tanah Air. Inovasi dan insentif diperlukan guna menekan harga kendaraan agar lebih terjangkau. Strategi mendorong permintaan dinilai penting guna mengembangkan ekosistem kendaraan listrik nasional. Oleh karena itu, selain mengolah hasil tambang serta merintis pabrik baterai dan komponennya, pemerintah dan pelaku industri perlu berstrategi untuk membangun pasar di dalam negeri.
Salah satu faktor yang menjadi pertimbangan utama konsumen di Tanah Air membeli kendaraan listrik adalah tingkat keekonomiannya. Harga kendaraa, pajak, dan biaya operasional menjadi indikatornya. Kendaraan listrik harus menarik dari sisi ekonomi agar dibeli dan diterima pasar secara luas. Sejumlah insentif memang sudah diberikan pemerintah, tetapi perlu insentif tambahan untuk melipatgandakan adopsinya. Penambahan infrastruktur, seperti tempat pengisian daya, juga penting guna menopang operasi kendaraan listrik untuk perjalanan ke luar kota. Insentif juga diberikan kepada industri kendaraan listrik berbasis baterai, seperti keringanan pajak, pembebasan bea masuk dan bea masuk ditanggung pemerintah, serta super tax deduction untuk kegiatan penelitian dan pengembangan.
Benang Kusut Perdagangan Maritim
Kompas, Jakarta - Pandemi Covid-19 turut membuat "benang kusut" perdagangan maritim global. Tidak mudah dan butuh waktu untuk mengurai kekusutan ini. Pandemi tidak hanya menurunkan permintaan ruang kapal dan mendongkrak biaya logistik laut. Harga barang impor dan barang di tingkat konsumen pun terkerek naik. Barang-barang di tingkat konsumen yang harganya naik itu terutama barang jadi impor dan produk olahan berbahan baku impor. Lima produk yang mengalami lonjakan harga tertinggi adalah komputer, elektronik, dan optik, furnitur, tekstil dan produk tekstil, produk dari karet dan plastik, serta produk dan perlengkapan farmasi.
Kenaikan biaya logistik itu juga menyebabkan kenaikan biaya produksi, produk setengah jadi, dan produk-produk terkait dengan investasi global. Hal ini diperkirakan memperlambat pemulihan industri manufaktur global. Kenaikan biaya logistik maritim sebesar 10 persen akan menurunkan produksi manufaktur di Amerika Serikat dan Uni Eropa sebesar 1 persen dan di China 0,2 persen. Laporan itu menggambarkan tekanan yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam rantai pasokan global. Di tengah pertumbuhan transportasi maritim sebesar 4 persen pada 2020-2021.
Pertumbuhan E-Dagang Kian Menjajikan
Kompas, Jakarta - Sektor e-dagang menjadi penopang utama ekonomi internet di Indonesia. Sektor ini mendorong pesatnya penggunaan layanan keuangan digital dan jasa logistik. Indonesia menjadi tujuan investasi paling menarik di Kawasan Asia Tenggara. Nilai ekonomi internet di Indonesia, sesuai laporan e-Economy SEA 2021, diproyeksikan tumbuh 49 persen dari 47 miliar dollar AS pada 2020 menjadi 70 miliar dollar AS pada akhir tahun 2021. Kontribusi terbesar datang dari perdagangan elektronik atau e-dagang sebesar 52 persen.
Selama pandemi Covid-19 tahun 2020 hingga semester I-2021, lebih banyak warga beradaptasi memakai layanan internet. Dalam laporan itu, Indonesia mendapat tambahan 21 juta konsumen baru layanan digital (consumer digital) sepanjang 2020 sampai semester I-2021. 72 persen diantaranya berasal dari non-kota besar. Hal itu merupakan penanda positif bagi ekosistem ekonomi internet. Sebanyak 99 persen konsumen baru layanan digital berniat terus menggunakan layanan berbasis internet setidaknya dari tujuh sektor yang menjadi obyek penelitian.
Ketika e-dagang menjadi penopang yang signifikan dalam ekonomi internet, sektor-sektor layanan digital lain ikut berkembang. Ini terutama dimulai dari layanan keuangan digital dan logistik. Penawaran pinjaman kepada konsumen, seperti bayar kemudian (pay later), yang dipopulerkan oleh Kredivo dan Akulaku, telah terhubung dengan lokapasar. Layanan keuangan digital seperti ini juga banyak diminati konsumen.
Lima Proyek Jalan Tol Ditawarkan ke Investor Asing
Pemerintah gencar menawarkan sedikitnya lima jalan tol kepada investor global di forum investasi Dubai. Sejatinya, ruas jalan tol itu diprakarsai pihak swasta nasional. Bahkan, Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) sudah merampungkan lelang lima jalan tol itu pada Agustus 2021. Misalnya Jalan Tol Semanan-Balaraja sepanjang 32,39 kilometer (km) yang akan digarap konsorsium PT Alam Sutera Reality-PT Perentjana Djaja. Hingga kemarin belum terkonfirmasi progres proyek tol tersebut, termasuk rencana pembiayaan. Kepala BPJT, Danang Parikesit tidak bersedia mengomentari kabar penawaran lima ruas jalan tol oleh pemerintah.
Proyeksi BI, Rupiah akan Lebih Berbobot di 2022
Bank Indonesia (BI) optimistis ruang penguatan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat terbuka di tengah rencana pengetatan stimulus bank sentral Amerika Serikat (The Fed). BI melihat fundamental ekonomi Indonesia kuat dan stabil. Seperti diketahui, The Fed awal November 2021 mengumumkan tapering off yang bakal dimulai akhir bulan ini. The Fed akan mengurangi pembelian aset sebesar US$ 15 miliar secara rutin, yakni sebesar US$ 10 miliar di US Treasury dan US$ 5 miliar di sekuritas beragun hipotek.
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









