Ekonomi
( 40465 )Risiko Investasi RI Naik, Rupiah Masih Melorot
Bank Indonesia (BI) mencatat perang Rusia dan Ukraina membuat risiko investasi di di negara-negara berkembang termasuk juga Indonesia, meningkat tajam. Kondisi persepsi risiko investasi Indonesia tersebut tercermin dari premi Credit Default Swap (CDS) yang sempat meningkat tajam. Menurut Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti, premi CDS tersebut naik di pasar keuangan negara-negara berkembang, termasuk juga di Indonesia. "Indonesia naik sekitar 40 basis poin (bps)," ujar Destry dalam pembacaan hasil Rapat Dewan Gubernur BI Maret 2022 pekan waktu lalu." Destry mengungkapkan, pada Maret 2022 terkhusus sejak konflik kedua negara tersebut memanas, arus modal asing yang sudah keluar dari pasar Surat Berharga Negara (SBN) sekitar Rp 30 triliun. Dari jumlah arus modal yang keluar tersebut ada sekitar Rp 4 triliun yang berasal dari pasar saham.
Kabar baiknya, Destry menilai kaburnya investor asing ini tidak terlalu memberi dampak yang signifikan karena porsi kepemilikan investor asing sudah menyusut. Apalagi dalam catatan BI, dalam dua bulan terakhir, perusahaan asuransi dan dana pensiun masuk ke pasar SBN. Faktor inilah yang membuat nilai tukar rupiah pada 16 Maret 2022, menguat 0,01% secara rerata dibandingkan dengan level akhir Februari 2022. Jika dibandingkan secara point to point, nilai tukar rupiah menguat 0,38%. Tapi nilai tukar rupiah saat ini jika dibandingkan level akhir 2021 mengalami depresiasi sekitar 0,42%. Namun, ini lebih rendah dari negara sebaya seperti Malaysia yang melemah 0,76% ytd, India 2,53% ytd, dan Filipina 2,56% ytd.
KKP Bangun Tambak Udang Terpadu Rp 2,25 Triliun
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) tengah berupaya mendongkrak produksi udang di dalam negeri untuk bisa bersaing dengan pemain udang lain di dunia. Salah satu upaya adalah dengan membangun percontohan kawasan budidaya udang terintegrasi di Kecamatan Moyo Utara, Kabupaten Sumbawa, Provinsi Nusa Tenggara Barat, Jumat (18/3). Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono mengungkapkan, pembangunan tambak modern ini bertujuan untuk mendorong produktivitas masyarakat di Kabupaten Sumbawa yang selama ini masih melakukan budidaya secara tradisional. Trenggono mengklaim bahwa proyek tambak udang senilai Rp 2,25 triliun tersebut bakal memperhatikan kelestarian lingkungan sekitar seperti hutan bakau.
Menghirup Aroma Prospek Saham Rokok
Pengendalian kasus baru Covid-19 yang diiringi pemulihan ekonomi berpeluang mengangkat daya beli masyarakat. Kondisi ini dapat menjadi katalis positif bagi emiten barang konsumsi, termasuk sektor rokok. Pendapatan emiten rokok pun diperkirakan masih dapat tumbuh satu digit pada tahun ini. Meski demikian, masih ada sejumlah sentimen negatif yang membayangi kinerja emiten rokok. Misalnya, dari sisi kampanye kesehatan, kian menyempitnya ruang iklan, serta kenaikan cukai yang bisa menggerus margin keuntungan. Sejak pandemi Covid-19 melanda, harga saham emiten rokok pun terus menurun. Ini membuat harga saham rokok terdiskon cukup besar jika dibandingkan sebelum pandemi. Analis Binaartha Sekuritas Ivan Rosanova mengatakan, selain adanya kenaikan cukai, beban pendapatan dari sisi produksi dan distribusi masih dapat menekan laba bersih emiten rokok. Analis B-Trade Raditya Krisna Pradana mengatakan, meski secara price earnings ratio (PER) sudah murah, saham-saham emiten rokok masih berada pada tren bearish. Melihat kondisi tersebut, Raditya menyarankan investor wait and see.
Emiten Tambang dan Bank Paling Cuan
Sekitar 23 emiten anggota indeks LQ45 telah melaporkan kinerja keuangan 2021. Mayoritas mengalami perbaikan kinerja, dengan emiten bank dan tambang memimpin pertumbuhan laba. Sementara emiten BUMN Karya seperti PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) dan PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) mencatatkan penurunan laba. Analis B-Trade Raditya Krisna Pradana menilai, perbaikan kinerja emiten perbankan besar selaras dengan pemulihan ekonomi. Dia memprediksi, kinerja emiten perbankan masih berpeluang naik, terdorong tren kenaikan suku bunga.
Bank Indonesia diperkirakan mengerek bunga tahun ini, mengekor bank sentral AS. "Apabila suku bunga acuan naik, maka suku bunga simpanan dan kredit akan berpotensi naik juga, sehingga ini menjadi katalis positif bagi perbankan,” terang Raditya, Minggu (20/3). Raditya juga menilai saham bank seperti BBTN dan BBNI masih menarik. Ia mematok target harga BBTN Rp 1.970 dan BBNI di Rp 8.700. Ia juga merekomendasikan ANTM dengan target Rp 2.800 dan ASII dengan target Rp 6.900. Sementara emiten rokok diperkirakan masih tertekan, terdampak kenaikan harga cukai dua tahun terakhir.
ESSA Siap Produksi Blue Amonia
PT Surya Esa Perkasa Tbk (ESSA) bersiap untuk memproduksi blue amonia pada tahun 2024. Wakil Presiden Direktur Utama PT Surya Esa Perkasa Tbk Kanishk Laroya mengungkapkan, pihaknya bakal mengkonversi fasilitas yang ada saat ini dari produksi amonia menjadi blue amonia. "Kalau untuk blue amonia estimasi di akhir 2024 kami berharap sudah bisa beroperasi sebagai pabrik blue amonia," ungkap Kanishk dalam diskusi virtual, Sabtu (19/3). Kanishk melanjutkan, sejumlah persiapan kini masih dilakukan termasuk untuk feasibility study atau studi kelayakan proyek. Untuk saat ini, kebutuhan investasi diperkirakan bakal mencapai US$ 100 juta hingga US$ 200 juta.
Sebagai tahapan awal, ESSA sebelumnya telah menandatangani nota kesepahaman dengan Japan Oil, Gas, and Metals National Corporation (JOGMEC), Mitsubishi Corporation (MC) dan Institut Teknologi Bandung (ITB) pada Maret 2021 lalu. Diketahui Jepang telah berkomitmen untuk mengambil blue amonia sebanyak 2 juta ton per tahun hingga 2025 mendatang. Jumlah ini ditargetkan meningkat menjadi 5 juta ton per tahun di 2030.
Siasat Emiten CPO Jaga Laba
Emiten produsen minyak sawit mentah alias crude palm oil (CPO) dan turunannya harus memutar otak lebih keras guna merespons perubahan kebijakan pemerintah yang sangat dinamis. Jika tak responsif, momentum kenaikan harga CPO bakal sulit dioptimalkan untuk memacu kinerja korporasi. Pemerintah menerbitkan beleid anyar pungutan ekspor produk CPO dan turunannya pekan lalu. Dalam Peraturan Menteri Keuangan No.23/PMK.05/2022, batas atas pengenaan pungutan ekspor CPO direvisi naik dari maksimal US$1.000 per ton menjadi US$1.500 per ton. Dampaknya, tarif maksimum ekspor yang mulanya flat US$175 per ton ketika harga CPO di atas US$1.000 per ton, akan bertambah secara progresif sampai menyentuh batas harga terbaru US$1.500 per ton.
Direktur Utama PT Austindo Nusantara Jaya Tbk. (ANJT) Lucas Kurniawan mengatakan kenaikan pungutan tersebut dapat dipahami, karena hasil pungutan direncanakan akan digunakan sebagai subsidi harga minyak goreng curah. Namun dia menilai, kenaikan tarif yang signifikan dan berlaku relatif singkat juga berpotensi menyebabkan koreksi harga beli tandan buah segar (TBS) dari petani secara signifikan pula. Pada 2021, sekitar 34,12% atau 434.123 ton TBS yang diolah ANJT berasal dari pembelian pihak ketiga. Menurutnya, sejak akhir 2021 ANJT menjual seluruh produk CPO yang diproduksi ke pasar dalam negeri guna mendukung pemenuhan pasokan domestik
Kuartal I, Indonesia Optimistis Pertumbuhan Ekonomi Menguat
Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara memproyeksikan pertumbuhan ekonomi kuartal I-2022 cukup baik. Optimisme ini akan didukung oleh faktor pemulihan ekonomi yang makin kuat dan adanya factor rebound lantaran pertumbuhan ekonomi yang kontraksi 0,74% (yoy) pada kuartal I-2021. Selain itu, beragam indikator pemulihan disebutnya meningkat. Salah satunya spending index yang berpotensi terus naik ditengah momentum Ramadhan dan Idul Fitri pada bulan depan, sehingga akan mendorong peningkatan konsumsi. Kemudian, indeks keyakinan konsumen (IKK) berada di zona optimis dengan posisi 113,1. "Aktivitas produksi masih tunjukkan perbaikan, dengan purchase manufacturing Index (PMI) diatas 51,2 atau di level ekspansi, dan itu sudah terjadi selama enam bulan berturut-turut. Kami yakini dunia usaha melihat situasi Covid-19 akan terus membaik, jadi mulai lakukan dan tingkatkan intensitas produksi dan penjualan, dan itu akan terus kami dorong," tutur Suahasil. (Yetede)
Manfaat G20, Pemerintah Kejar Target Investasi Rp 1.200 T
Deputi Bidang Kerjasama Penanaman Modal Kementerian Investasi/Badan Koordinator Penanaman Modal (BKPM) Riyatno optimis target investasi tahun ini sebesar Rp 1.200 triliun dapat tercapai menyusul momentum presidensi G20 Indonesia. Riyatno membeberkan sejumlah strategi yang diambil pemerintah untuk mencapai target tersebut. Pertama,meningkatkan koordinasi antara kementerian/lembaga dan pemerintah dareh (pemda). "Khusus untuk pemda, kita akan berkoordinasi dengan Dinas Penanaman Modal dan PTSP (Pelayanan Terpadu Satu Pintu) di provinsi dan kabupaten/kota," Imbuhnya. Berikutnya, pihaknya membuat daftar 100 besar invetasi di masing-masing provinsi yang dapat memfasilitasi perusahaan-perusahaan besar, baik asing maupun dalam negeri. (Yetede)
Prahara di Ukraina, Laba di Amerika
Perang di Ukraina memberi sedikit jeda atas tekanan terhadap pemerintahan Presiden AS Joe Biden. Perang di daratan Eropa itu juga membuat perusahaan produsen persenjataan AS memanen banyak laba. Dalam 3 pekan perang, Washington telah mengumumkan paket bantuan pertahanan senilai total 1,35 miliar USD untuk Kiev. Awalnya 350 juta USD, lalu 200 juta USD, dan terbaru 800 juta USD. Washington juga menjanjikan bantuan kemanusiaan 250 juta USD untuk Kiev. Tentu saja Ukraina tidak menerimanya dalam bentuk uang tunai, dana itu dipergunakan untuk membeli aneka produk persenjataan buatan AS, lalu dikirimkan ke Ukraina.
Industri pertahanan AS tidak hanya mendapat dana dari pesanan Washington. Finlandia membeli 64 jet tempur F-35 senilai 9,4 miliar USD. Meski dikembangkan bersama NATO, AS adalah pemilik utama jet tempur itu. Jerman pada Maret 2022 membeli 35 jet tempur F-35. Berlin juga akan membeli sistem pertahanan udara. Selain itu, Jerman menjajaki pembelian helikopter dari Lockheed Martin atau Boeing. Polandia menjajaki pembelian pesawat nirawak MQ-9. Negara-negara Eropa juga berminat pada Javelin dan Stinger. Javelin merupakan rudal panggul antitank. Adapun Stinger rudal panggul anti pesawat. Saham produsen persenjataan AS dilaporkan terus naik sejak perang Ukraina meletus. (Yoga)
Teladan Prima Agro Siapkan Capex Rp 300 Milliar
Calon emiten perkebunan sawit, PT Teladan Prima Agro, berencana menganggarkan belanja modal (capital expenditure/capex) sekitar Rp 200-300 miliar pada tahun ini. Dana capex akan digunakan untuk nonakuisisi. Direktur Utama Teladan Prima Agro Wishnu Wardhana mengatakan, belanja modal yang diperoleh perseroan selama ini bersumber dari kas internal. Namun jika dibutuhkan, perseroan saat ini memiliki fasilitas yang cukup besar dari beberapa bank yang ada. Jumlah dari capex tentu dari waktu ke waktu kita selalu melakukan adjusment berdasarkan kebutuhan. Capex perseroan pada 2022 mungkin dikisaran Rp 200-300 miliar, hanya untuk capex nonakusisi," ujar dia dalam paparan publik. Seiring dengan hal tersebut, perseroanpun akan menggelar aksi Initial Public Offering (IPO) atau penawaran umum berdana saham dengan melepaskan sebanyak-banyaknya 2,19 miliar saham. (Yetede)
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









