;
Kategori

Ekonomi

( 40753 )

Diuji Daya Beli Yang Belum Pulih

30 Mar 2022

Emiten konsumer primer (consumer non-cyclical) belum kompak mencatatkan kenaikan kinerja di tahun 2021 lalu, baik pendapatan maupun laba dibanding tahun 2020. Harga saham-saham sektor ini pun belum semuanya ikut semringah. Datangnya bulan suci Ramadan yang berlanjut pada hari raya Idul Fitri dinilai bakal menjadi angin segar bagi emiten konsumer dan ritel. Analis Kanaka Hita Solvera Andhika Cipta Labora melihat, kinerja emiten konsumer di tahun lalu masih tertahan. Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana juga memprediksi, terbukanya lagi pintu mudik dan kegiatan keagamaan bisa mengangkat kinerja emiten sektor ini, meski masih cenderung selektif. Sementara Analis Panin Sekuritas William Hartanto mengingatkan, prospek kinerja emiten konsumer masih tergantung pada harga produk dan daya beli masyarakat.

Di sisi lain, analis Henan Putihrai Sekuritas Liza Camelia Suryanata mengingatkan, kenaikan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) menjadi 11% masih akan terasa oleh sejumlah sektor. Daya beli konsumen juga masih tertekan akibat harga minyak goreng. Sedangkan kenaikan harga komoditas seperti CPO menambah beban bahan baku produsen barang konsumer.

Peminat Turun, Pemerintah Tambah Lelang SUN Lagi

30 Mar 2022

Partisipasi investor dalam lelang Surat Utang Negara (SUN) menurun. Pemerintah mulai gencar melakukan alternatif pendanaan. Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan mengumumkan jumlah penawaran yang masuk pada lelang SUN Selasa (29/3) sebesar Rp 41,62 triliun. Jumlah tersebut lebih rendah dibandingkan hasil lelang SUN dua pekan lalu yang sebesar Rp 49,16 triliun. Lantaran target penyerapan lelang SUN yang tidak terpenuhi, akhirnya membuat pemerintah kembali melakukan lelang SUN tambahan dengan jenis greenshoe option pada Rabu (30/3). Pemerintah menargetkan penyerapan maksimal di Rp 2,95 triliun.


Strategi Bisnis 2022: KEJU Amankan Bahan Baku

30 Mar 2022

Berlarutnya ketegangan antara Rusia dan Ukraina mulai berdampak terhadap pasokan bahan baku produsen keju PT Mulia Boga Raya Tbk. (KEJU). Direktur Utama Mulia Boga Raya Bobby K Gandasaputra mengatakan bahwa kendala suplai dan kenaikan harga akibat konflik tersebut hampir merata dirasakan oleh pelaku usaha di dalam negeri. Pihaknya pun mulai mengupayakan kecukupan pasokan bahan baku sejak akhir tahun lalu untuk menjaga utilitas kapasitas produksi tak turun. “Tentunya pasokan bahan baku selama konflik Rusia-Ukraina ber-impact ke semua perusahaan, tetapi tentunya kami sudah mempunyai banyak rencana efisiensi, memastikan supplier bahwa bahan baku tersedia dengan jumlah yang kami sudah order,” kata Bobby dalam public expose, Selasa

Pemilik merek Prochiz itu membukukan penjualan bersih Rp1,04 triliun sepanjang tahun lalu dengan pertumbuhan 8,4%. Bobby mengatakan, volume produksi perseroan sepanjang tahun lalu juga tumbuh di atas 10%. Mayoritas penjualan KEJU masih dalam produk keju blok, yaitu sekitar 85,1%. Sisanya, dari keju lembaran 13,6%, dan kategori lainnya 1,3%.



DPR : Ada Kebun Sawit Ilegal 1,8 Juta Ha di Riau

29 Mar 2022

Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) mengungkap modus praktik perkebunan ilegal di Provinsi Riau. Berdasarkan informasi yang diperoleh DPR ada kebun sawit seluas 1,8 juta hektare (ha) ilegal. Perusahaan ini tak pernah membayar pajak maupun menyetorkan Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) kepada negara. Maka, Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Dedi Mulyadi mendesak Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) segera mengatasi masalah ini.

Minim, Peluang Nelayan Manfaatkan Sistem Kontrak

29 Mar 2022

Kebijakan penangkapan ikan terukur melalui sistem kontrak penangkapan berbasis kuota dinilai tidak berpihak pada nelayan kecil dan menengah. Zona industri perikanan yang menerapkan sistem kontrak penangkapan ikan meliputi empat zona di tujuh wilayah pengelolaan perikanan (WPP). Dalam sistem kontrak itu, kuota penangkapan ikan yang ditawarkan kepada setiap badan usaha perikanan minimal 100.000 ton per tahun dengan masa kontrak 15 tahun dan dapat diperpanjang. Pelaku usaha perorangan disyaratkan membentuk badan usaha, koperasi, atau berbentuk konsorsium. Dengan sistem itu, negara menargetkan PNBP dari perikanan tangkap meningkat hingga Rp 4 triliun pada 2023.

Pengurus Asosiasi Tuna Indonesia Muhammad Bilahmar mengemukakan, sistem kontrak masih membingungkan pelaku usaha. Dengan keterbatasan kapal, pilihannya adalah membentuk koperasi atau konsorsium. Namun, pembentukan koperasi tidak mungkin dilakukan perusahaan atau perseroan terbatas karena koperasi menaungi perorangan. Sementara itu, pembentukan konsorsium memerlukan kerja sama antar perusahaan swasta, sedangkan alat tangkap berbeda-beda, ukuran kapal dan jenis tangkapan ikan berbeda, dan daerah tangkapan beragam sehingga sulit menyatukan perusahaan dalam badan hukum.

Koordinator Destructive Fishing Watch (DFW) Indonesia Muhammad Abdi Suhufan menilai, pemerintah kerap menyebutkan akan mengutamakan nelayan lokal untuk mendapatkan sistem kontrak. Namun, persyaratan sistem kontrak penangkapan terukur sangat memberatkan nelayan lokal dan pelaku usaha skala menengah. Di antaranya, persyaratan modal usaha minimal Rp 200 miliar. Tidak ada kemudahan persyaratan bagi nelayan lokal yang bergabung dalam koperasi perikanan untuk mengikuti sistem kontrak, padahal kapasitas koperasi perikanan di Indonesia masih sangat terbatas jika dibandingkan perusahaan besar atau investor asing. (Yoga)


Target Bangkit seperti Prapandemi

29 Mar 2022

Sebelum pandemi, 5 juta wisatawan mancanegara (wisman) berkunjung ke Bali. Tahun 2019 menjadi puncak jumlah kedatangan wisman ke Bali, 6,275 juta turis asing masuk ke Bali  atau 40 % dari total turis asing yang masuk ke Indonesia. Begitu pandemi melanda dunia, pergerakan manusia di berbagai belahan dunia melambat. Pembatasan perjalanan diberlakukan di banyak negara, termasuk Indonesia. Pemerintah melarang warga negara asing masuk ke Indonesia pada 2 April 2020. Akibatnya, jumlah kunjungan wisman ke  Indonesia anjlok 75 %. Dari 16,1 juta orang di tahun 2019 menjadi 4 juta orang tahun 2020. Penurunan jumlah kunjungan wisman ke Bali 83 % dari 6,25 juta orang pada 2019 menjadi 1,07 juta orang pada 2020. Tahun 2021, BPS mencatat hanya 51 wisman yang berkunjung ke Bali. Dengan berkurangnya tingkat hunian hotel di Bali karena minimnya jumlah tamu yang datang, roda perekonomian Bali pun melambat. Pertumbuhan ekonomi Bali 2020 menjadi minus 9,33 %, jauh lebih rendah dibandingkan kondisi nasional yang minus 2,07 %.

Perekonomian Bali 2021 sebenarnya sudah membaik dilihat dari indikator pertumbuhan ekonomi hanya minus 2,47 persen, namun lebih rendah dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional yang positif 3,69 %. Perbaikan itu tak lepas dari kebijakan pemerintah meningkatkan kunjungan wisatawan ke Bali melalui beberapa program, antara lain mengajak masyarakat, khususnya aparatur sipil negara, untuk work from Bali serta adanya kegiatan internasional di akhir tahun. Perekonomian Bali 2022 diperkirakan akan lebih baik seiring membaiknya perekonomian global dan lalu lintas perjalanan internasional yang sudah lebih tinggi. Jika pengendalian pandemic tetap berlangsung baik di Bali, serta tidak ada varian baru Covid-19, sektor pariwisata akan segera pulih. Bukan tidak mungkin, satu atau dua tahun ke depan, kejayaan pariwisata Bali sudah kembali seperti sebelum pandemi. (Yoga)


Cetak Sawah ”Food Estate” Hampir Rampung

29 Mar 2022

Perluasan lahan baru untuk cetak sawah dalam program food estate (lumbung pangan) di Kalteng masih berjalan, 16.644 hektar lahan  sudah dibuka untuk ditanami padi. Namun, baru 146 hektar yang bakal ditanami. Kadis Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Peternakan Kalteng Riza Rahmadi, Senin (28/3) menjelaskan, target ekstensifikasi lahan sudah tercapai oleh Korem 102/Panju Panjung bersama instansi terkait. (Yoga)

APR Dukung Peluncuran Melayu Merindu

29 Mar 2022

Produsen serat viscose, Asia Pacific Rayon (APR) mendukung peluncuran kampanye Melayu Merindu untuk memajukan  fesyen Indonesia sekaligus melestarikan kekayaan budaya khususnya wastra melayu. Program tersebut digagas oleh Asosiasi Pertextilan Indonesia (API) BPD Riau, berkolaborasi dengan APR, Wiyasa TFA, Tokopedia, dan Swara Gembira, dalam mengembangkan potensi UMKM fesyen dengan memaksimalkan potensi budaya wastra Riau, dalam kreasinya, "Kami akan selalu mendukung setiap upaya dan aspirasi untuk memajukan UKM di bidang tekstil  dan fesyen serta memperkenalkan budaya Riau Melayu kepada generasi yang akan melestarikan budaya ini kedepannya. (Yetede)

Timbul Tenggelam Nama Grup Salim di Bank Mega

29 Mar 2022

Sudah lama beredar kabar bahwa Anthoni Salim, petinggi Grup Salim, turut berada di balik imperium bisnis milik Chairul Tanjung, pemilik CT Corp. Keduanya juga kerap terlibat kongsi bisnis bersama.   Sebagai contoh di bisnis keuangan. Selain sama-sama memiliki Allo Bank Indonesia (BBHI), sejumlah korporasi di bawah Grup Salim rupanya juga tercatat memiliki saham di Bank Mega yang dikendalikan oleh CT Corp. Pekan lalu, Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) mengumumkan beberapa perusahaan Grup Salim yang tercatat sebagai pemegang saham di atas 5% di emiten berkode MEGA (Harian KONTAN, 28 Maret 2022). Nama INDF, ICBC, Indolife, Megah Eraraharja dan Asuransi Central Asia merupakan perusahaan di bawah Grup Salim. Sementara nama PT Lintas Sejahtera Langgeng dikendalikan oleh Axton Salim, anak Anthoni Salim. Kemunculan nama-nama Grup Salim di MEGA terungkap seiring proses pembagian dividen saham dan saham bonus Bank Mega yang menerbitkan 4,77 miliar saham baru. Alhasil, total saham ditempatkan dan disetor penuh Bank Mega yang semula berjumlah 6,96 miliar bertambah menjadi 11,74 miliar.


Go Public April 2022: Enam Calon Emiten Antre IPO

29 Mar 2022

Setelah kedatangan 12 emiten baru hingga pengujung kuartal I/2022, sebanyak enam calon perusahaan terbuka sedang menuntaskan initial public offering (IPO) agar dapat melantai di Bursa Efek Indonesia pada April 2022. Para calon emiten itu ialah PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. (GOTO), PT WIR Asia Tbk. (WIRG), PT Teladan Prima Agro Tbk. (TLDN), PT Winner Nusantara Jaya Tbk. (WINR), PT Murni Sadar Tbk. (MTMH), dan PT Sigma Energy Compressindo Tbk. (SICO).WIR Asia baru saja menetapkan harga pelaksanaan IPO di level Rp168 per saham. Harga itu berada di level tengah harga penawaran awal di kisaran Rp150—Rp175 per saham.Dalam IPO, perusahaan sektor teknologi informasi itu bakal melepas 2,33 miliar saham biasa sehingga berpotensi menggalang dana segar Rp392,63 miliar dari aksi go public tersebut. Apabila terjadi kelebihan pemesanan dalam penjatahan terpusat, WIR Asia bakal mengeluarkan saham tambahan maksimal 233,7 juta. Dengan begitu, dana hasil IPO dapat meningkat menjadi Rp431,89 miliar.