Risiko Investasi RI Naik, Rupiah Masih Melorot
Bank Indonesia (BI) mencatat perang Rusia dan Ukraina membuat risiko investasi di di negara-negara berkembang termasuk juga Indonesia, meningkat tajam. Kondisi persepsi risiko investasi Indonesia tersebut tercermin dari premi Credit Default Swap (CDS) yang sempat meningkat tajam. Menurut Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti, premi CDS tersebut naik di pasar keuangan negara-negara berkembang, termasuk juga di Indonesia. "Indonesia naik sekitar 40 basis poin (bps)," ujar Destry dalam pembacaan hasil Rapat Dewan Gubernur BI Maret 2022 pekan waktu lalu." Destry mengungkapkan, pada Maret 2022 terkhusus sejak konflik kedua negara tersebut memanas, arus modal asing yang sudah keluar dari pasar Surat Berharga Negara (SBN) sekitar Rp 30 triliun. Dari jumlah arus modal yang keluar tersebut ada sekitar Rp 4 triliun yang berasal dari pasar saham.
Kabar baiknya, Destry menilai kaburnya investor asing ini tidak terlalu memberi dampak yang signifikan karena porsi kepemilikan investor asing sudah menyusut. Apalagi dalam catatan BI, dalam dua bulan terakhir, perusahaan asuransi dan dana pensiun masuk ke pasar SBN. Faktor inilah yang membuat nilai tukar rupiah pada 16 Maret 2022, menguat 0,01% secara rerata dibandingkan dengan level akhir Februari 2022. Jika dibandingkan secara point to point, nilai tukar rupiah menguat 0,38%. Tapi nilai tukar rupiah saat ini jika dibandingkan level akhir 2021 mengalami depresiasi sekitar 0,42%. Namun, ini lebih rendah dari negara sebaya seperti Malaysia yang melemah 0,76% ytd, India 2,53% ytd, dan Filipina 2,56% ytd.
Tags :
#RupiahPostingan Terkait
Anggaran 2025 Terancam Membengkak
Pemerintah akan Menjaga Laju Invetasi Asing
Perang Global Picu Lonjakan Utang
Waspadai Dampak Perang pada Anggaran Negara
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023