;
Kategori

Ekonomi

( 40554 )

Lolos dari Jerat Tekanan Krisis Ekonomi

22 Apr 2022

Hampir seluruh emiten anggota indeks LQ45 telah melaporkan kinerja keuangan tahun 2021. Mayoritas emiten LQ45 mencetak kinerja fantastis. Sebanyak 32 dari 45 emiten melaporkan kenaikan laba bersih. PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) mencetak pertumbuhan laba tertinggi. Ada juga emiten yang berhasil membalikkan kerugian menjadi keuntungan, seperti PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) dan PT Timah Tbk (TINS). Analis Henan Putihrai Sekuritas Steven Gunawan melihat, emiten telekomunikasi juga masih memiliki prospek cerah. Ia menyebut kinerja PT XL Axiata Tbk (EXCL) akan ditopang strategi akuisisi PT Link Net Tbk (LINK). Sedang kinerja PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) disokong oleh bisnis digitalnya, yang dijalankan Telkomsel dan IndiHome. Trafik Telkomsel juga masih jawara di antara peers.

Nasib Revisi UU Cipta Kerja Berada di Ujung Tanduk

22 Apr 2022

Pemerintah nampaknya mulai khawatir. Revisi Undang-Undang No: 11/2022 tentang Cipta Kerja bisa gagal mencapai target. Waktu dua tahun atau hingga November 2023 yang diberikan Mahkamah Konstitusi tak cukup untuk merevisi UU Cipta Kerja. Mahkamah Konstitusi pada November 2021 lalu, memutuskan kelahiran UU Cipta Kerja cacat hukum formil dalam penyusunannya. Konsekuensinya: pemerintah dan parlemen harus merevisi UU Cipta Kerja itu dengan jangka waktu 2 tahun agar bisa berlaku dan konstitusional.

SRTG Siapkan Dana Investasi Jumbo

22 Apr 2022

PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG) mengalokasikan belanja modal atau capital expenditure (capex) US$ 100 juta-US$ 150 juta tahun ini. Nilai ini setara Rp 1,4 triliun-Rp 2,1 triliun. Porsi untuk investasi ke sektor teknologi cukup besar. "Kami mengalokasikan sekitar 30%-40% capex untuk sektor teknologi," kata Devin Wirawan, Direktur Investasi SRTG, Kamis (21/4). Sektor lain yang jadi pilihan Saratoga yaitu pelayanan kesehatan dan energi terbarukan.

BUKA Masih Fokus Meningkatkan Take Rate

22 Apr 2022

PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) menargetkan pendapatan tahun 2022 bakal lebih tinggi dibanding dengan realisasi tahun 2021. Pendapatan Bukalapak tahun ini ditargetkan dapat meningkat antara 44% hingga 61% menjadi senilai Rp 2,7 triliun-Rp 3 triliun. Proyeksi kenaikan pendapatan ini sejalan dengan total processing value (TPV) yang diharapkan meningkat antara 39% hingga 47% menjadi Rp 170 triliun-Rp 180 triliun pada tahun ini. Sebagai gambaran, pendapatan Bukalapak di tahun 2021 tumbuh 38% menjadi Rp 1,87 triliun, dengan peningkatan TPV 44% menjadi Rp 122,6 triliun. Presiden PT Bukalapak.com Tbk Teddy Oetomo mengatakan, pertumbuhan TPV akan lebih terlihat pada semester II-2022. Sementara di semester I-2022, Bukalapak masih fokus meningkatkan pendapatan melalui strategi specialty vertical, yang memungkinkan emiten pengelola marketplace ini memperoleh take rate yang lebih tinggi. Tahun lalu, take rate BUKA sekitar 1,7%. "Dengan strategi specialty vertical, take rate bisa ke 4%, ada yang sampai 8%," kata Teddy di kantor pusat Bukalapak, Rabu (20/4). BUKA juga fokus melakukan monetisasi di kategori bisnis yang memberikan pendapatan lebih baik.

Awas, Investasi Modal Ventura Bisa Saja Gagal

22 Apr 2022

Anda masih ingat saat Masayoshi Son, Bos Sofbank menyesali investasinya yang gagal di startup We Work beberapa tahun lalu. Kegagalan bisnis We Work menyebabkan Softbank, perusahaan investasi asal Jepang ini sempat merugi. Nah, mari tengok modal ventura dalam negeri, dengan investasinya yang selama ini cukup gencar mendanai di banyak startup. Direktur Utama Mandiri Capital Indonesia (MCI), Eddi Danusaputro mengatakan, dari semua portofolio yang dimiliki, tidak semuanya memiliki kinerja yang bagus. Meskipun demikian, Eddi tak terlalu mengkhawatirkan kinerja yang kurang bagus dari beberapa portofolio milik MCI. Tahun ini, MCI belum memberikan pendanaan. Meski MCI sudah menyediakan dana segar sebesar Rp 50 miliar hingga Rp 100 miliar. Vice President of Investments MDI Ventures, Aldi Adrian mengungkapkan hal senada. Ia menyebutkan, tidak semua portofolio startup yang didanai MDI Ventures memiliki kinerja bagus.

Xendit Resmi Jadi Pemegang Saham Bank Sampoerna

22 Apr 2022

Kabar masuknya financial technology (fintech) gateway pembayaran xendit untuk menjadi pemegang saham PT Bank Sahabat Sampoerna (Bank Sampoerna) terjawab sudah. Xendit mengkonfirmasi telah melakukan investasi strategi di Bank Sampoerna, perusahaan ini tidak menyebutkan berapa persen saham yang diambil dalam aksi investasi strategis tersebut.

SDPC Membidik Penjualan Rp 3 Triliun Tahun Ini

22 Apr 2022

Manajemen PT Millennium Pharmacon International Tbk (SDPC) melihat prospek bisnis di tahun ini dengan positif dan cukup meyakinkan. Optimisme ini dibuktikan juga dengan kinerja perusahaan di sepanjang kuartal pertama 2022 yang terpantau tumbuh positif. Presiden Direktur Millennium Pharmacon International Ahmad bin Abu Bakar belum bisa bicara lebih detail terkait review kinerja di kuartal I-2022. Pada tahun ini, SDPC membidik angka penjualan di atas Rp 3 triliun. Sedangkan dari sisi laba bersih, ditargetkan angkanya dapat mencapai dua digit.

Summarecon Agung Meraih Rp 1,4 Triliun

22 Apr 2022

PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) sukses meraih marketing sales atau pra penjualan Rp 1,4 triliun selama kuartal I 2022. Raihan marketing sales tersebut didominasi penjualan dari segmen landed house atau rumah tapak. “Pencapaian marketing sales kami selama kuartal I 2022 adalah sebesar Rp 1,4 triliun atau 29% dari target tahun 2022 sebesar Rp 5 triliun. Pencapaian ini melebihi ekspektasi kami,” ungkap Sekretaris Perusahaan SMRA, Jemmy Kusnadi saat dihubungi Kontan, Kamis (21/4).


Magnet Kuat IPO Pasar Modal

22 Apr 2022

Tensi geopolitik yang membayangi aksi korporasi global ternyata tak mengendurkan niat sejumlah perusahaan di Tanah Air untuk go public. Sejumlah kalangan menilai pasar modal Indonesia memang masih punya magnet kuat untuk menarik korporasi lantaran kinerja indeks harga saham gabungan (IHSG) yang kian ciamik. Demikian pula dengan pertumbuhan signifikan jumlah investor di pasar modal Indonesia yang turut menjadi daya tarik. Menurut Bursa Efek Indonesia (BEI), sejauh ini terdapat 35 perusahaan yang berencana menggelar penawaran perdana saham alias initial public offering (IPO). Berdasarkan skala aset, dari jumlah tersebut, sebanyak enam perusahaan tercatat memiliki aset di bawah Rp50 Miliar. Sebanyak 13 perusahaan lainnya beraset antara Rp50 miliar-Rp250 miliar, kemudian 16 perusahaan lagi memiliki aset di atas Rp250 miliar. 

Jika terealisasi, aksi korporasi itu akan melanjutkan tren positif di BEI di mana sejak awal tahun sampai 20 April 2022, sudah ada 17 emiten go public. Salah satunya adalah PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. (GOTO) yang mencatatkan sahamnya di BEI pada 11 April lalu dan meraup dana tak kurang dari Rp13,7 triliun. Direktur Penilaian Perusahaan Bursa Efek Indonesia, I Gede Nyoman Yetna mengatakan pasar modal masih mampu menarik perusahaan yang ingin go public lantaran kinerja saham yang baik. IHSG terus menunjukkan pertumbuhan, bahkan hingga 20 April 2022 telah menyentuh angka 7.227,36. “Indikator lainnya yang mendukung adalah tren investor di pasar modal Indonesia yang terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir,” ujarnya, Kamis (21/4).


Industri Tekstil: Pengusaha Keluhkan Produk Ilegal

22 Apr 2022

Banyaknya barang impor yang membanjiri pasar dalam negeri membuat sejumlah pelaku tekstil hilang semangat menyambut momentum Idul fitri atau Lebaran untuk meningkatkan kinerjanya. Asosiasi Serat, Benang, dan Filament Indonesia (APSYFI) menyebut bahwa saat ini ada barang-barang impor ilegal yang masuk ke Indonesia melalui marketplace dan ikut menikmati pertumbuhan permintaan jelang Lebaran. Ketua Umum APSyFI Redma Gita Wirawasta mengatakan bahwa pihaknya mencurigai barang ilegal yang masuk ke Indonesia tidak memiliki label Standar Nasional Indonesia (SNI) karena harganya yang lebih murah. Apalagi, pemerintah juga telah menerbitkan sejumlah aturan terkait dengan bea masuk tindakan pengamanan (BMTP) atau safeguard. Dia menjelaskan bahwa sebenarnya sejumlah pelaku industri tekstil optimistis terhadap pertumbuhan pada tahun ini dengan memanfaatkan momentum Lebaran. 

Sayangnya, keberadaan barang impor ilegal membuat pengusaha khawatir apakah produk yang disimpannya bisa terserap sepenuhnya oleh pasar. Selain maraknya barang impor jelang Lebaran, Redma juga mencatat cuti bersama yang dinilai terlalu panjang ikut menggerus optimisme pelaku usaha tekstil. Sejauh ini, kata dia, kemacetan suplai bahan baku masih dapat diatasi dengan importasi, tetapi ke depannya dibutuhkan satu pabrikan baru produsen poliester dan purifi ed terephthalic acid (PTA).Hingga kini, Kementerian Perindustrian mencatat produsen PTA di dalam negeri hanya ada dua, salah satunya Mitsubishi Chemical yang mengalami kebakaran pada Februari 2022.