Ekonomi
( 40473 )BERBURU PENOPANG BARU EKSPOR
Kinerja moncer ekspor nasional selama April 2022 menjadi angin segar bagi pemulihan ekonomi Indonesia. Namun, dominasi komoditas batu bara perlu diantisipasi dengan mencari produk unggulan ekspor lain, jika tak ingin kinerja dagang melorot saat pamor si emas hitam meredup. Apalagi, belakangan pemerintah juga mengambil kebijakan tegas dengan melarang ekspor sejumlah komoditas penting salah satunya crude palm oil (CPO), kendati dampak pada kinerja dagang periode April 2022 belum signifikan. Mengacu pada data termutakhir Badan Pusat Statistik (BPS), batu bara masih menjadi kontributor utama ekspor Indonesia yang tercatat mengalami surplus US$7,55 miliar pada April 2022. Meski secara volume ekspor batu bara pada April 2022 turun 9,46% ketimbang bulan sebelumnya, tetapi harga si emas hitam yang terus menanjak membuat ekspor pada bulan lalu naik 3,11% month-to-month (MtM).
Wanti-wanti dikemukakan Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Mohammad Faisal. Menurutnya Indonesia mesti segera mencari substitusi batu bara untuk menjaga kinerja ekspor nasional. Alasannya, komoditas fosil, seperti batu bara, gas, produk pertambangan lain memiliki cadangan yang bisa habis. Senada, Koordinator Wakil Ketua Umum III Kadin Shinta Widjaja Kamdani menilai momentum neraca perdagangan yang masih surplus merupakan saat yang tepat untuk melakukan diversifikasi pasar ekspor dengan memanfaatkan kekurangan pasokan di pasar global. Menurutnya, pemerintah perlu menggenjot diversifikasi ekspor produk manufaktur ke pasar-pasar baru untuk mengurangi dominasi batu bara di neraca dagang nasional. Indonesia, katanya, dapat mengekspor produk pangan serta makanan dan minuman ke negara-negara yang mengalami krisis pasokan.
STRATEGI PORTOFOLIO : PAMOR SAHAM TEKNOLOGI MEMUDAR
Tekanan terhadap saham-saham sektor teknologi terus berlangsung sepanjang tahun berjalan 2022. Fase bearish sektor teknologi dapat menjadi momentum bagi investor untuk menata ulang portofolio dengan strategi akumulasi untuk jangka panjang, diversifikasi, hingga rotasi ke sektor lain. Merosotnya pamor saham-saham teknologi di Bursa Efek Indonesia tecermin dalam kinerja indeks IDX Sector Technology. Sepanjang tahun berjalan 2022, indeks tersebut anjlok 21,83%.
Kinerja IDX Sector Technology merupakan yang paling buruk di antara 11 indeks sektoral di BEI. Koreksi terjadi saat indeks harga saham gabungan (IHSG) masih melaju di zona hijau dengan ke level 6.644,47 atau menguat 0,96% year-to-date (YtD) pada akhir perdagangan Selasa (17/5). Berdasarkan data Bloomberg, saham penekan IDX Sector Technology secara YtD antara lain saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. (GOTO), PT DCII Indonesia Tbk. (DCII), PT Bukalapak.com Tbk. (BUKA), dan PT NFC Indonesia Tbk. (NFCX). Tajamnya penurunan beberapa saham teknologi juga direspons oleh otoritas pasar modal.
KINERJA INDUSTRI : Permintaan Dorong Pertumbuhan Baja
Asosiasi Industri Besi dan Baja Indonesia atau The Indonesian Iron and Steel Industry Association (IISA) optimistis kinerja industri besi dan baja tahun ini bisa tumbuh hingga 20% seiring dengan meningkatnya permintaan domestik dan ekspor. Ketua Klaster Baja Lapis Aluminium Seng IISA Henry Setiawan mengatakan bahwa sejak kuartal I/2022, harga baja dunia mengalami kenaikan. Kondisi tersebut juga diiringi dengan kenaikan permintaan. “Seperti yang kita ketahui, perang Rusia dan Ukraina ternyata berdampak pada permintaan besi dan baja sekaligus berperan terhadap kenaikan harga baja dunia,” jelasnya, Selasa (17/5).
Menurutnya, kebutuhan besi dan baja nasional saat ini mencapai 15 juta ton. Sebanyak 60% kebutuhannya disuplai oleh produksi dalam negeri, sedangkan 40% sisanya masih harus impor. “Namun begitu, untuk dalam satu hingga dua tahun terakhir ini banyak industri baja kita yang ekspor dan sangat dibanggakan oleh pemerintah, terutama ekspor yang non karbon. Tujuan ekspor ini adalah untuk mengurangi suplai dalam negeri yang melimpah karena ada produk impor yang juga terus masuk,” katanya.
Angkutan Kargo AP II Tumbuh 11%
PT Angkasa Pura II (Persero) atau AP II membukukan pertumbuhan volume angkutan kargo sekitar 11% pada periode angkutan Lebaran 2022 dibandingkan periode angkutan Lebaran 2019. Selama 22 hari (22 April-13 Mei 2022), volume angkutan kargo di bandara AP II secara kumulatif tercatat sekitar 41.500 ton, terdiri dari angkutan kargo domestik sebanyak 23.856 ton dan angkutan kargo ekspor-impor sebanyak 17.644 ton. Bandara kelolaan AP II yang paling sibuk menangani angkutan kargo selama angkutan Lebaran 2022 adalah Bandara Soekarno-Hatta dengan total volume kargo sebanyak 2.817 ton, kemudian Supadio (Pontianak) sebanyak 1.816 ton. "Dari total angkutan general cargo itu, porsi paling besar yakni sebesar 70% adalah angkutan kargo yang merupakan pengiriman barang-barang dari e-commerce," terang Awaludin. (Yetede)
Volume Pengiriman Lion Parcel Meningkat 30%
PT Lion Express atau Lion Parcel mencatatkan peningkatan volume pengiriman pada Ramadan ini dan Lebaran 2022 sekitar 30% dibandingkan rata-rata per bulan sebelumnya. Permintaan layanan pengiriman tetap tumbuh meski tahun ini diperbolehkan mudik. CEO Lion Parcel Farian Kirana mengatakan, realisasi volume pengiriman tersebut telah melampaui target yang dibidik perusahaan sebesar 10%. "Demi mengantisipasi lonjakan ini, kami telah melakukan beberapa persiapan matang untuk menjaga kualitas layanan," ujar Farian di Jakarta. Ia memaparkan,kunci keberhasilan Lion Parcel menghadirkan layanan prima ditengah lonjakan permintaan pelanggan adalah kesiapsiagaan infrastruktur dan jaringan yang menjangkau 98% area di Indonesia. Lebih dari 15.000 kurir antar dan 3.000 armada turut mendukung kelancaran pengantaran yang mereka jalani. Lion parcel juga diperkuat oleh lebih dari 7.000 agen yang tersebar di penjuru Indonesia untuk mempermudah akses pelanggan pada layanan ekspedisi mereka. (Yetede)
Harga dan Pelemahan Permintaan
Dampak kenaikan harga dapat diuraikan menjadi dua bagian, yaitu efek substitusi dan efek pendapatan. Dampak yang paling ekstrem adalah hilangnya permintaan atau demand destruction akibat efek substitusi dan efek pendapatan, yang membuat konsumsi suatu barang menjadi tidak terjangkau lagi. Kenaikan harga suatu barang punya batas. Jika terlalu tinggi, pelanggan akan berhenti membeli dan beralih sepenuhnya pada alternatif lain. Akibat serangan Rusia ke Ukraina, harga minyak WTI (West Texas Intermediate) sempat mencapai 123 USD per barel., kemudian turun ke 99 USD per barel, meski situasi geopolitik yang belum menentu membawanya ke 107 USD per barel. Faktor-faktor lain yang menahan harga minyak WTI di kisaran 100-110 USD per barel adalah kekhawatiran dampak penguncian (lockdown) di China dan potensi resesi di AS. Tampaknya, para pedagang di bursa berjangka mulai mengerti bahwa permintaan akan rontok sendiri jika harga tak terjangkau. Namun, para spekulan tetap butuh fluktuasi harga guna memperoleh keuntungan. Efek dari perubahan perilaku ini adalah pasar minyak berfluktuasi di kisaran harga yang lebih sempit, dibandingkan dengan awal konflik Ukraina-Rusia. Walakin, kisaran itu tampaknya belum dapat menenangkan harga bahan bakar minyak (BBM) di AS. Di tingkat SPBU rata-rata harga BBM melonjak ke 4,37 USD per galon atau 1,19 USD atau Rp 17.255 per liter.
Secara paradoks, demand destruction ini diperlukan untuk menurunkan tekanan inflasi walau akibatnya adalah pertumbuhan yang negatif di triwulan I-2022, yakni minus 1,4 %. Namun, bank sentral AS menganggap inflasi masih terlalu tinggi sehingga perlu menaikkan suku bunga 50 basis poin pada 4 Mei 2022. Langkah itu dibarengi dengan pengurangan kepemilikan surat berharga 95 miliar USD per bulan. Kasus anekdotal perubahan perilaku lain terjadi di Inggris akibat konflik Ukraina-Rusia serta sanksi ekonomi terhadap Rusia yang membuat harga energi dan pangan melambung. Survei YouGov akhir April 2022 menemukan, 14 % dari 10.674 responden terpaksa mengurangi frekuensi makan sehari-hari dari tiga kali menjadi kurang dari itu. Jika tetap makan tiga kali sehari, mereka mengurangi porsinya. Untuk menghemat tagihan listrik dan gas, sebagian masyarakat juga beralih ke makanan siap saji beku karena memasak sendiri dari bahan mentah menjadi mahal. (Yoga)
KTT Khusus ASEAN-AS dan Peluang Investasi di Indonesia
Dengan populasi gabungan 667 juta dan PDB agregat 3 triliun USD, ASEAN adalah ekonomi terbesar keempat di dunia pada 2030, membuat AS memiliki kepentingan yang besar untuk memperdalam hubungan dagang dan investasi di wilayah Asia Tenggara. Posisi sebagai negara terbesar di ASEAN, dengan proyeksi 200 juta populasi di kelas konsumsi pada 2030, menjadikan Indonesia sebagai mitra strategis bagi AS untuk memperkuat posisinya di ASEAN. Sayangnya, selama ini AS memiliki kebijakan perdagangan yang lemah dengan Asia Tenggara dan lebih fokus dalam membahas isu pertahanan dan keamanan dibandingkan kerja sama ekonomi sehingga tidak heran China dapat menyalip pengaruh AS dalam ekonomi ASEAN. Sumbangsih China dalam perekonomian Indonesia pun lebih besar daripada AS. Tahun 2020, AS menyumbang 11 % dari total ekspor dan 5,4 % total impor Indonesia, sedangkan China menyumbang 18,3 % ekspor dan 29 % impor Indonesia. Dalam aspek investasi, China sekali lagi membalap AS, dengan nilai investasi langsung asing (FDI) / PMA di Indonesia pada 2020 lebih tinggi sebesar 904,34 juta USD atau 47,55 %, dibandingkan FDI dari AS. Kerja sama militer dan keamanan AS dengan Indonesia dan negara-negara ASEAN lainnya sangat dihargai, tetapi masih banyak peluang lain yang bisa dibuka, terutama di bidang ekonomi.
Indonesia, di bawah kepemimpinan Presiden Jokowi, telah membuktikan dirinya sebagai salah satu negara yang paling ramah terhadap investasi melalui pengesahan UU No 11 Tahun 2020. Begitu banyak peluang investasi yang dapat ditawarkan Indonesia ke AS. Pertama, melalui potensi besar Indonesia dalam hal nikel, yang merupakan komoditas idola saat ini. Seiring perkembangan ekosistem electric vehicle (EV) atau kendaraan listrik, permintaan produk baterai juga meningkat, membuat harganya naik sehingga industri penambangan nikel akan sangat menguntungkan. Indonesia berambisi menjadi pusat produksi baterai dan EV melalui kebijakan hilirisasi untuk memproses nikel di dalam negeri. Hal ini telah menarik investasi dari sejumlah investor China, Jepang, dan Korea, termasuk Hyundai dan Foxconn, untuk membangun baterai dan mobil listrik di Indonesia. Sangat disayangkan bagi AS apabila melewatkan peluang ini. Kedua, AS memiliki potensi besar berinvestasi di infrastruktur digital, servis digital, ataupun platform digital. Pasalnya, sektor digital Indonesia saat ini telah berkembang pesat, menjadi negara dengan ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara. Pada tahun 2021 pasar digital Indonesia tumbuh 50 % mencapai 70 miliar USD. Saat ini, Indonesia sudah memiliki sembilan unicorn perusahaan rintisan (start-up). Ke depan, Pemerintah Indonesia akan menjadikan sektor digital sebagai sektor prioritas untuk dikembangkan, terutama di bidang seperti teknologi kesehatan dan teknologi pendidikan. Ketiga, Indonesia berpotensi menjadi alternatif kapasitas bagi manufaktur China yang terganggu oleh pandemi. (Yoga)
Larangan Ekspor Gandum India Bisa Sumbang Inflasi
Keputusan India melarang ekspor gandum karena gangguan produksi yang diakibatkan gelombang panas dapat memperkeruh krisis rantai pasok dunia. Kebijakan itu dikhawatirkan berdampak pada pasokan bahan baku gandum di sektor makanan dan minuman. Hal ini juga berpotensi menambah buruk inflasi kebutuhan pokok di dalam negeri. India sebagai produsen gandum terbesar kedua dunia mengeluarkan kebijakan larangan ekspor tersebut sejak Jumat (13/5). Gelombang panas yang sedang melanda India membuat produksi terhambat dan mendorong harga gandum domestik negara tersebut melonjak ke level tertinggi. Larangan ekspor itu keluar di tengah tingginya permintaan global atas gandum India untuk menggantikan pasokan dari Rusia dan Ukraina yang sampai sekarang masih berperang. Setelah Pemerintah India mengeluarkan kebijakan tersebut, harga gandum dunia pun ikut melonjak. Mengutip data Trading Economics, harga komoditas tersebut pada Senin (16/5) menyentuh level 12,47 USD per bushel (gantang) atau mencapai level tertinggi dalam dua bulan terakhir. Sebelum larang- an ekspor keluar, harga gandum dunia ada di kisaran 11,65 USD per bushel.
Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia Adhi S Lukman mengatakan, larangan ekspor itu akan memberatkan industri makanan dan minuman dalam negeri yang saat ini menjadikan India sebagai alternatif sumber bahan baku impor gandum yang murah akibat terganggunya pasokan dari Ukraina. Indonesia adalah salah satu importir gandum terbesar di dunia. Pada 2021, Indonesia mengimpor 40,9 % kebutuhan gandumnya dari Australia sebanyak 4,69 juta ton. Importir gandum kedua terbesar adalah dari Ukraina (26,8 %) sebanyak 3 juta ton. Adapun impor dari India hanya 318.467 ton atau 2,8 % kebutuhan gandum nasional. Namun, sejak awal tahun 2022, volume impor gandum Indonesia dari India meningkat setelah pasokan dari Ukraina terganggu akibat perang. Pasokan bahan baku yang terganggu dan harga yang semakin mahal itu pun akan berdampak pada harga produk akhir bagi konsumen. Minggu lalu, pelaku industri makanan dan minuman baru saja menaikkan harga jual sejumlah produk berbahan baku gandum hingga 3 % untuk Mei 2022, seperti roti, biskuit, dan mi instan. Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics Mohammad Faisal mengatakan, dampak dari kebijakan larangan ekspor gandum India akan memengaruhi harga produk turunan gandum di dalam negeri setelah terjadinya kenaikan harga gandum di level global. Namun, ia meyakini hal itu bisa segera diatasi dengan mencari negara importir lain. Meski demikian, inflasi pangan di dalam negeri tetap perlu diantisipasi. Pasalnya, beberapa produk turunan gandum telah menjadi salah satu kebutuhan pokok masyarakat, khususnya masyarakat dari kelas ekonomi menengah ke bawah, seperti mi instan, tepung terigu untuk memasak, dan roti. Untuk meredam dampak inflasi terhadap daya beli masyarakat, Faisal mengatakan, pemerintah harus mengontrol kenaikan harga sejumlah komoditas yang ada di bawah kendali negara, seperti subsidi elpiji, bahan bakar minyak pertalite, dan tarif listrik. (Yoga)
PERIKANAN, Sanksi Perlu Transparan
Penerapan sanksi administratif terhadap pelanggaran kapal perikanan diminta transparan. Transparansi pengenaan sanksi dan besaran denda administrative terhadap pelaku pelanggaran dinilai perlu guna memberikan kepastian iklim berusaha. Koordinator Nasional Destructive Fishing Watch (DFW) Indonesia Mohammad Abdi Suhufan mengatakan, pemerintah menerapkan asas ultimum remedium yang mengedepankan sanksi administratif terhadap pelanggaran kapal perikanan. ”Perlu ada transparansi terkait rujukan aturan pengenaan dan besaran sanksi agar (denda) tidak membuat terkejut pelaku usaha,” ujarnya saat dihubungi, Senin (16/5). Di sisi lain, Abdi menilai, penerapan sanksi administratif tidak menjamin akan mencegah tindakan pidana perikanan serta menyelamatkan sumber daya ikan dan ekosistem. Selama Januari-April 2022, Kementerian KP menangani pelanggaran terhadap 60 kapal perikanan, meliputi peringatan atau teguran tertulis untuk enam kapal dan pengenaan denda administratif terhadap 47 kapal. Kemudian, pembekuan perizinan berusaha untuk dua kapal, pencabutan perizinan berusaha terhadap empat kapal, dan proses pidana untuk satu kapal.
Pengurus Asosiasi Tuna Indonesia (Astuin), Muhammad Bilahmar, meminta agar pemerintah mengumumkan dan menyosialisasikan hitungan denda sanksi administratif kepada seluruh pelaku usaha perikanan. Seperti halnya pengenaan denda terhadap pelanggaran lalu lintas, tarif denda terkait pelanggaran kapal perikanan perlu dirinci agar tidak menimbulkan keresahan bagi pelaku usaha. ”Hitungan denda sanksi administratif yang jelas dan rinci perlu diumumkan ke pelaku usaha. Tarif denda perlu dibuka agar transparan,” ujar Bilahmar. (Yoga)
Oleh-Oleh Jokowi dari Negeri Uwak Syam
Inilah sebagian oleh-oleh hasil lawatan Presiden Joko Widodo (Jokowi) ke Amerika Serikat (AS) pada pekan lalu. Dari hasil pertemuannya dengan sejumlah pebisnis asal Negeri Uwak Sam, Presiden Jokowi mendapatkan komitmen tambahan investasi dari pebisnis AS bagi Indonesia.
Pertama, tambahan komitmen investasi US$ 3 miliar dari Air Products & Chemicals Seifi Ghasemi. Presiden Jokowi bertemu CEO Air Products & Chemicals Seifi Ghasemi di Hotel Ritz Carlton, Washington DC, Kamis (12/5). Tambahan komitmen investasi setara Rp 43,78 triliun tersebut, akan digunakan untuk membangun fasilitas produksi hidrogen di Indonesia. Nilai ini di luar dari total rencana investasi US$ 15 miliar. Komitmen investasi kedua, berasal dari Chevron yang akan menggarap potensi geotermal dengan Pertamina. Chevron menjanjikan investasi US$ 10 miliar atau setara Rp 146 triliun untuk 10 tahun ke depan.
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









