;
Kategori

Ekonomi

( 40487 )

Mengantisipasi Resesi Akut Global

28 Jul 2022

Dana Moneter Internasional (IMF) mengonfirmasikan, perekonomian global terus memburuk dengan cepat. Selasa  (26/7) IMF memangkas lagi proyeksi pertumbuhan global pada 2022, dari 3,6 % menjadi 3,2 %. Pada triwulan II-2022, menurut IMF, perekonomian global sebenarnya sudah mengalami kontraksi akibat melemahnya ekonomi China dan Rusia. Tiga perekonomian terbesar dunia, AS, China, dan UniEropa, kini stagnasi akibat inflasi tinggi. Tingginya inflasi dan perang Ukraina bisa menyeret perekonomian dunia ke ambang resesi. Dunia, menurut IMF, memasuki masa yang berbahaya dan gelombang baru ketidakpastian. Problema yang ada sebelum pandemi belum berlalu, sementara krisis utang global mengancam banyak negara berkembang.

Direktur European Institute Columbia University Adam Tooze mengingatkan, dunia dihadapkan pada polycrisis, terjadinya berbagai krisis secara simultan, yang bisa memicu badai penuh dampak sosial ekonomi, mulai dari krisis pangan, ledakan wabah, stagflasi, krisis utang, hingga kemungkinan perang nuklir, dalam 6-18 bulan ke depan. Ekonom Nouriel Roubini juga meyakini resesi kali ini bersifat akut. Tidak hanya dalam, tetapi juga akan bertahan selama beberapa waktu. Dia menyebut krisis kali ini stagflationary debt crisis, kombinasi situasi stagflasi 1970-an dan krisis utang 2008, dengan tingkat utang pemerintah dan swasta terhadap PDB global meningkat tajam dari 200 % (2019) ke 350 % (2022), terutama akibat pandemi.

Dalam kondisi seperti ini, normalisasi kebijakan moneter dan kenaikan suku bunga yang terlalu cepat akan memicu gelombang gagal bayar dan kebangkrutan rumah tangga, korporasi, lembaga finansial, dan juga pemerintah. Stagflasi tak hanya mengancam negara maju, seperti AS dan Eropa, tetapi juga banyak negara miskin. Miliaran penduduk kian kesulitan mengakses kebutuhan pokok dan pelayanan kesehatan dasar, memicu tensi sosial di sejumlah negara. IMF menyerukan kerja sama global untuk mengatasi krisis ini. Memperkuat daya tahan ekonomi domestik lewat koordinasi dan bauran berbagai kebijakan kembali menjadi kunci bagi Indonesia untuk menekan dampak resesi akut global kali ini. (Yoga)


Strategi Atasi Inflasi Pangan Diusulkan

28 Jul 2022

Sejumlah cara mengatasi inflasi pangan diusulkan Institute of Development on Economics and Finance dan Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO). Cara-cara tersebut mencakup diversifikasi negara asal impor, pembukaan restriksi pangan melalui kerja sama perdagangan, membuat kebijakan pro pangan, dan budidaya pangan yang lebih tahan terhadap anomali cuaca. Hal itu mengemuka dalam Gambir Trade Talk 2022 #6 bertajuk ”Inflasi Global: Pangan Dunia untuk Indonesia Kestabilan Harga Bahan Pokok” yang digelar Badan Kebijakan Perdagangan (BKP) Kemendag secara hibrida di Jakarta, Rabu (27/7).

Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Tauhid Ahmad mengatakan, inflasi di Indonesia lebih didominasi komoditas pangan, baik lokal maupun impor. Hal itu tidak terlepas dari kenaikan harga pangan global dan masalah tahunan di dalam negeri berupa gangguan produksi pangan akibat cuaca. Ia mengusulkan beberapa langkah mengatasi inflasi pangan. Pertama, kemandirian pangan lokal seperti kedelai, daging sapi, dan gula. Untuk merealisasikannya, dibutuhkan perbaikan produktivitas dan luas tanam, pemanfaatan teknologi, dan efisiensi produksi. Kedua, memperbaiki system produksi pangan yang bergantung pada cuaca,terutama cabai dan bawang merah, melalui riset dan teknologi pangan. Ketiga, mencari sumber alternative negara importir lain. Selain itu, pemerintah juga perlu meningkatkan alokasi subsidi dan input pangan, seperti benih dan pupuk, agar harganya stabil dan petani tidak dirugikan.

Officer off Food Security and Nutrition Officer FAO Dewi Fatmaningrum menyatakan, FAO telah merekomendasikan sejumlah program mitigasi kiris pangan global kepada setiap  negara di dunia. Kunci utamanya ialah setiap negara harus membuka perdagangan. Ketum Asosiasi Produsen Tepung Terigu Indonesia (Aptindo) Franciscus Welirang berpendapat, kenaikan harga pangan berdampak pada rumah tangga dan dunia usaha. Kenaikan harga pangan dapat semakin menggerus daya beli rumah tangga, terutama yang berpenghasilan rendah. Kepala BKP Kasan Muhri menuturkan, laju kenaikan inflasi tengah melanda dunia, termasuk Indonesia. Inflasi disebabkan kenaikan harga komoditas pangan dan energi akibat sejumlah faktor, seperti pandemi Covid-19, anomali cuaca, restriksi pangan, dan invasi Rusia ke Ukraina. ”Ada angin segar dari penandatanganan pembukaan ekspor pangan antara Rusia, Ukraina, dan PBB yang difasilitasi Turki. Harapannya ketersediaan dan harga pangan global kembali stabil,” tuturnya. (Yoga)


Mencari Saham Salim Pembagi Dividen

28 Jul 2022

Empat emiten Grup Salim kompak menebar deviden dengan nilai total keseluruhan mencapai Rp 5,49 triliun, Keempatnya yaitu PT. Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF), PT. Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), PT. Salim Invomas Pratama Tbk (SIMP) dan PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP). Cum dividen keempat saham ini jatuh pada awal Agustus mendatang. Head of Research Jasa Utama Capital Sekuritas Cheril Tanuwijaya menyampaikan, di antara keempat saham tersebut, dia mengunggulkan LSIP. Alasannya yield yang diberikan dividen perusahaan sawit ini menarik. 

Transaksi QRIS Hampir Menembus Rp 9 Triliun

28 Jul 2022

Transaksi digital menggunakan teknologi Quick Response Code Indonesia Standard (QRIS) semakin familiar. Hal ini terekam dalam data Bank Indonesia (BI). Volume transaksi QRIS bertumbuh 156% secara tahunan menjadi 74,01 juta di Juni 2022 lalu. Kenaikan juga terlihat dari nominal transaksi QRIS sebesar Rp 8,6 triliun yang tumbuh 333% secara tahunan. Di tahun ini, BI menargetkan ada 15 juta pengguna baru yang hingga Juni lalu sudah ada sekitar 9,6 juta lebih. Tahun lalu BI mencatat ada 11,5 juta pengguna yang memakai teknologi QRIS. Direktur Eksekutif Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia (APSI), Susiana Suhendra juga memberikan gambaran kenaikan transaksi QRIS yang signifikan itu. "Nominal transaksinya mencapai Rp 9 triliun, ini meningkat 9 kali dibandingkan awal tahun 2020,"ujarnya.

Ciputra Genjot Proyek di Luar Jawa

28 Jul 2022

PT Ciputra Development Tbk (CTRA) telah mengantongi pra penjualan atau marketing sales senilai Rp 3,99 triliun hingga akhir Juni 2022. Grup Ciputra optimistis bisa memenuhi target penjualan pada tahun ini. "Kami masih optimistis target Rp 8,2 triliun bisa tercapai di tahun 2022 dan belum ada perubahan target saat ini," ungkap Direktur CTRA, Tulus Santoso dalam paparan publik, Rabu (27/7). Tulus menambahkan, pada tahun 2022, CTRA juga telah menambah beberapa proyek baru diantaranya proyek CitraLand Tanjung Morawa di Sumatera Utara. Proyek CTRA selanjutnya adalah CitraLand Sampali Kota Deli Megapolitan di Sumatera Utara. 

BABAK BARU RELASI RI-JEPANG

28 Jul 2022

Hubungan Indonesia dan Jepang memasuki babak baru, di tengah upaya masing-masing negara memulihkan perekonomiannya dari pandemi Covid-19. Komitmen kedua negara baik terkait perdagangan, investasi, maupun ekonomi akan membawa relasi RI dan Jepang menjadi lebih dalam lagi. Presiden Joko Widodo (Jokowi) tengah melakukan kunjungan kenegaraan ke tiga negara yakni China, Jepang, dan Korea Selatan. Jepang menjadi negara kedua yang dikunjungi Jokowi dalam lawatan kali ini. Presiden tiba di Jepang pada Rabu (27/7) dinihari, dan telah bertolak ke Korsel pada Rabu sore. Dalam kunjungan yang relatif singkat tersebut, Kepala Negara bertemu dengan Perdana Menteri Jepang Fumio Kishida untuk membahas sejumlah isu penting; dan menghasilkan sejumlah kesepakatan. Di bidang perdagangan, kedua negara berkomitmen untuk meningkatkan perdagangan bilateral. Pada 2021, total perdagangan antara Indonesia dan Jepang tercatat sebesar US$32,5 miliar. Adapun, sepanjang Januari-Mei 2022, perdagangan di antara keduanya telah mencapai US$9,7 miliar. Di bidang investasi, kedua negara sepakat melanjutkan kerja sama. Bahkan, lawatan Presiden kali ini berhasil mendulang raihan komitmen investasi baru senilai Rp75,4 triliun di sejumlah bidang, termasuk otomotif, serta energi baru dan terbarukan


Gak Kaleng-Kaleng! Baru Setengah Tahun BRI Cetak Laba Rp24,88 Triliun

28 Jul 2022

PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk mampu mencatatkan pertumbuhan kinerja positif di tengah kondisi perekonomian dunia yang masih penuh dengan tantangan. Hingga akhir Kuartal II 2022, BRI secara konsolidasian (BRI Group) berhasil mencatatkan laba bersih senilai Rp.24,88 triliun atau tumbuh 98,38% year on year (yoy) dengan total aset meningkat 6,37% yoy menjadi Rp.1.652,84 triliun. Direktur Utama BRI Sunarso pada Press Conference Pemaparan Kinerja Keuangan Kuartal II Tahun 2022 pada Rabu, 27 Juli 2022, mengungkapkan bahwa pencapaian tersebut tak lepas dari kemampuan BRI dalam melakukan strategic response yang tepat. Dari sisi pembiayaan, BRI Group berhasil menyalurkan kredit sebesar Rp.1.104,79 triliun atau tumbuh 8,75% yoy. Penyaluran kredit kepada seluruh segmen pinjaman tercatat tumbuh positif, dengan penopang utama yakni segmen mikro yang tumbuh 15,07%, segmen konsumer tumbuh 5,27%, segmen korporasi tumbuh 3,76% serta segmen kecil & menengah tumbuh 2,71%.

BRI juga berhasil mencatatkan kinerja positif dalam hal penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK). Hingga akhir Kuartal II 2022, DPK BRI tercatat tumbuh 3,70% menjadi Rp.1.136,98 triliun. Dana murah (CASA) menjadi pendorong utama pertumbuhan DPK BRI, dimana secara year on year meningkat sebesar 13,38%. Apabila dirinci, Giro tercatat tumbuh 25,63% dan Tabungan tumbuh 8,32%. Secara umum saat ini proporsi CASA BRI tercatat 65,12%, meningkat signifikan dibandingkan dengan CASA pada periode yang sama tahun lalu yakni sebesar 59,56%.“Peningkatan CASA yang dilakukan oleh perseroan selaras dengan transformasi yang sedang dijalankan BRI, dimana inisiatif strategis yang dijalankan difokuskan untuk mengakselerasi CASA growth”, ungkapnya.

Menjaga Denyut Ekonomi Stabil

28 Jul 2022

Sejak 2021, pertumbuhan ekonomi Indonesia berangsur-angsur pulih, setelah terkontraksi sepanjang 2020 akibat hantaman pandemi Covid-19. Bahkan, berdasarkan ramalan dari Bank Dunia dan Dana Moneter International (IMF), perekonomian Indonesia sepanjang 2022 dan 2023 berpeluang tumbuh di atas 5 persen (year-on-year/YoY). Jika ramalan itu terjadi, maka capaian ini sangat layak diapresiasi. Sebab, dalam 2 tahun ke depan, perekonomian dunia dihadapkan pada risiko yang besar. Bahkan, Bank Dunia telah memberi peringatan akan potensi besar perekonomian dunia masuk ke jurang resesi. Pemantik dari resesi ekonomi dunia ini adalah meletusnya invasi militer Rusia terhadap Ukraina. Sudah lebih dari 6 bulan, invasi militer ini masih terus berlanjut. Berbagai diplomasi telah dilakukan untuk mengakhiri invasi ini, termasuk oleh Presiden Jokowi. Salah satu dampak dari invasi ini terganggunya pasokan berbagai komoditas (energi, pangan, dan mineral). Namun, mengingat motor utama pertumbuhan ekonomi Indonesia adalah konsumsi Rumah Tangga (RT). Maka, menjaga vitalitas konsumsi RT menjadi sangat penting, agar denyut pertumbuhan ekonomi tidak melemah dengan cepat. Seperti yang sudah terjadi di negara-negara berkembang lainnya.

INDUSTRI OTOMOTIF NASIONAL : INDONESIA JADI PASAR UTAMA MITSUBISHI

28 Jul 2022

PT Mitsubishi Motor Krama Yudha Sales Indonesia memastikan akan terus berupaya memberikan kontribusi positif bagi perekonomian Indonesia melalui sejumlah investasi yang dilakukan pada tahun-tahun mendatang. Naoya Nakamura, President Director PT Mitsubishi Motor Krama Yudha Sales Indonesia (MMKSI), mengatakan bahwa Indonesia merupakan salah satu pasar terpenting bagi Mitsubishi Motors. Untuk itu, perusahaan akan berupaya untuk memberikan kontribusi positif terhadap perekonomian Indonesia. “Indonesia adalah salah satu pasar terpenting bagi Mitsubishi Motors dengan angka terbesar dalam penjualan global kami,” katanya saat dihubungi, Rabu (27/7). “Mr. Kato, President & CEO Mitsubishi Motors mengadakan pertemuan dengan Bapak Airlangga Hartarto, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, dan Bapak Agus Gumiwang, Menteri Perindustrian kemarin di Jepang, dan melakukan diskusi mengenai perkembangan bisnis masa depan di Indonesia,” ujarnya. Untuk diketahui, Mitsubishi Motors Corporation (MMC) menjanjikan investasi baru hingga 2025 senilai Rp10 triliun. Gelontoran investasi itu untuk melanjutkan pengembangan produk berbasis elektrik.


Rakernas Apersi Soroti Penyaluran KPR FLPP Berbasis Syariah

28 Jul 2022

Rapat Kerja Nasional Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman (Rakernas Apersi) tahun 2022 menyoroti penyaluran kredit pemilikan rumah (KPR) bersubsidi dengan skema Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP). La Nyalla Mahmud Mattalitti,
ketua Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) dalam sambutan secara virtual di Rakernas Apersi menegaskan, sektor properti dan perbankan merupakan dua sektor yang tak terpisahkan. Kedua industri ini menjadi andalan dalam pemulihan ekonomi pascapandemi Covid-19. “Dengan istilah disatukan atau merger akan melemahkan positioning BTN Syariah sebagai bank yang fokus dalam penyaluran pembiayaan perumahan berbasis syariah, mengingat BSI tidak memiliki fokus dan pengalaman di bidang pembiayaan perumahan,” tegasnya. Selain itu, Ketua Apersi  Junaidi Abdilah juga menjelaskan bahwa saat ini kondisi pembangunan rumah subsidi untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) masih terkendala beberapa hal. Mulai dari patokan harga rumah dari pemerintah yang belum dinaikkan sejak dua tahun lalu sehingga mengganggu bisnis para pengembang. (Yetede)