Ekonomi
( 40498 )Kesalahan Keuangan di Masa Produktif
Cukup banyak karyawan yang terlena dengan pekerjaan utamanya dan merasa bahwa gajinya cukup-cukup saja. Sayangnya, semua karyawan akan pensiun pada akhirnya. Dan, jika hal ini terjadi, pensiunan yang telah memiliki keahlian ataupun aset produktif lain akan lebih mampu melewati masa pensiun dengan baik. Contoh kenaikan harga yang terjadi beberapa bulan ini adalah bukti nyata bahwa seseorang sebaiknya memiliki multiple income sources, yang bisa terus berlangsung hingga masa pensiun kelak. Kedua, memiliki gaya hidup yang berlebihan. Godaan seseorang yang memiliki penghasilan di atas rata-rata adalah terbiasa menikmati gaya hidup yang di atas rata-rata pula. Seseorang tidak akan memiliki masalah di masa produktifnya, tetapi sangat berbahaya saat menjelang pensiun.
Solusinya adalah melakukan pembagian alokasi penghasilan minimal untuk tiga hal, yaitu pos biaya hidup (living), pos tabungan (saving), dan pos gaya hidup (playing). Fokus utama ialah terpenuhinya pos tabungan dana darurat. Kemudian, sangat penting untuk mengalokasikan minimal 10 % penghasilan untuk tabungan masa pensiun. Gaya hidup sah saja sepanjang tidak melebihi alokasi 20 % penghasilan yang tersedia di pos gaya hidup. Ketiga, tidak mungkin berinvestasi tanpa ilmu. Tidak bisa dimungkiri fenomena ingin memperoleh imbal hasil investasi tinggi dalam waktu singkat semakin marak sejak munculnya opsi berinvestasi di aset kripto, sehingga tidak sedikit pekerja usia produktif yang sempat terjebak penawaran trading yang ternyata investasi bodong. Solusinya adalah literasi sebelum inklusi. Ragam aset investasi yang ditawarkan lembaga jasa keuangan sebaiknya dipelajari dalam hal potensi keuntungan serta potensi risiko yang menyertainya. (Yoga)
Rangkaian Kereta Cepat Tiba di Tanjung Priok
JAKARTA - Rangkaian Kereta Cepat Jakarta Bandung (KCJB) tiba di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta pada Jumat (2/9/2022). Sarana perkeretaapian tersebut merupakan rangkaian kereta api cepat pertama yang tiba di Indonesia dan Asean. “Alhamdulillah rangkaian kereta api cepat Jakarta-Bandung pertama sudah tiba di Indonesia. Ketibaan rangkaian kereta api cepat ini menjadi kabar baik untuk Indonesia dan menunjukkan bahwa Indonesia bisa bersaing dengan negara maju lainnya,” kata Wakil Menteri (Wamen) BUMN II Kartika Wirjoatmodjo saat menghadiri kedatangan perdana rangkaian Kereta Cepat di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Jumat (2/9/2022). “Insya Allah sesuai jadwalnya seperti itu, tapi nanti kita lihat pada waktu G20,” katanya. Kartika menargetkan uji coba Kereta Cepat Jakarta Bandung akan dilakukan pada waktu pelaksanaan KTT G20, yakni November 2022. “Kita akan melakukan uji coba nanti pada November 2022 pada waktu G20 dari jalur Tegalluar sampai dengan Kopo,” kata dia. Kartika Wirjoatmodjo juga menargetkan operasional Kereta Cepat Jakarta Bandung pada Juni 2023 setelah kedatangan perdana rangkaian kereta tersebut di Indonesia. (Yetede)
Pengaruh Energi Rusia di UE Segera Berakhir
LONDON, ID – Para analis energi dan politik mengungkapkan bahwa ketergantungan Uni Eropa (UE) terhadap energi, khususnya gas dari Rusia, sepertinya bakal segera berakhir. Jika terwujud dapat mengurangi risiko gangguan pasokan, mengingat banyak yang khawatir Rusia bisa saja menghentikan total pengiriman gas selama musim dingin nanti. Menurut laporan, ekspor gas Rusia ke Eropa dalam beberapa bulan terakhir telah turun tajam. Padahal Rusia sudah sejak lama menjadi pemasok energi terbesarnya. Penurunan ekspor gas tersebut semakin memperparah perselisihan antara UE dan Rusia, serta memperburuk risiko resesi dan kekurangan gas di musim dingin. Pihak berwenang Rusia mengatakan alasan dibalik pengurangan pengiriman adalah karena alat yang rusak atau tertundanya kedatangan perangkat yang diperlukan. Tetapi para pembuat kebijakan Eropa menganggap pemangkasan pasokan tersebut sebagai manuver politk yang dirancang untuk menebar ketidakpastian kepada 27 negara dalam blok UE, dan meningkatkan harga energi di tengah serangan Negeri Beruang Merah ke Ukraina. (Yetede)
Siklus Penaikan Suku Bunga Mulai Melambat
LONDON, ID – Laju dan skala penaikan suku bunga acuan yang dilakukan oleh bank-bank sentral di negara maju dan berkembang menunjukkan pelambatan pada Agustus 2022. Hal ini dikarenakan para pembuat kebijakan sedang meninjau kembali dampak lonjakan inflasi dan harga energi. Sebagai informasi, bank-bank sentral global secara kolektif telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 675 basis poin (bps) pada Agustus, atau sekitar setengah dari jumlah acuan suku bunga pada Juli. Dari total tersebut, sekitar 200 basis poin disampaikan oleh para pembuat kebijakan yang bertugas mengawasi empat dari 10 mata uang yang paling banyak diperdagangkan. Para penentu suku bunga harga di pasar negara berkembang benar-benar melonggarkan. Mereka hanya memberikan kenaikan senilai 475 bps, kira-kira setengah dari pengetatan dibandingkan bulan sebelumnya. Demikian hasil kalkulasi yang diperlihatkan Reuters. Namun secara keseluruhan, ekonomi di pasar berkembang utama telah memberikan kenaikan suku bunga 5.740 bps sejak awal tahun ini dibandingkan 1.300 bps dari negara-negara maju. “Bank-bank sentral di seluruh pasar negara berkembang telah melakukan penaikan terlebih dahulu, mereka memimpin kurva. Mereka tidak memiliki kemewahan dengan membiarkan inflasi berjalan,” ujar Flavio Carpenzano, direktur investasi di Capital Group. (Yetede)
Anies Tawarkan Proyek di Ujung Masa Jabatan
Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta menawarkan 15 proyek infrastruktur kepada para investor. Total nilai proyeknya mencapai Rp 280 triliun.
Proyek infrastruktur bernilai jumbo tersebut Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan tawarkan dua bulan menjelang masa jabatannya berakhir. Masa jabatan Anies sebagai orang nomor satu di Ibu Kota RI bakal berakhir pada 16 Oktober 2022.
Ada tujuh badan usaha milik daerah (BUMD) milik Pemprov DKI yang menawarkan 15 proyek itu. Yakni, MRT Jakarta, TransJakarta, Jakarta Propertindo (Jakpro), PT Kawasan Berikat Nusantara, PT Jakarta Industrial Estate Pulogadung (JIEP), Jakarta Experience Board (JXB), dan Perumda Sarana Jaya.
Ke-15 proyek tersebut di antaranya: Intermediate Treatment Facility (ITF) Sunter, LRT Jakarta Fase 2A (Jakarta International Stadium-Rajawali), serta LRT Jakarta Fase 3A (Jakarta International Stadium-Rajawali).
Kemudian, MRT Fase 3 (Timur-Barat), MRT Fase 4 (Fatmawati-TMII), South Jakarta Mix-Used Development, bus listrik TransJakarta, dan stasiun pengisian baterai.
Direktur Riset Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Piter Abdullah menyebutkan, masa jabatan Anies yang akan berakhir takkan memengaruhi investor untuk menunda menanamkan modal. Pasalnya, akan ada pengganti sementara Gubernur DKI. Selain itu, investor akan mengeluarkan modal kalau tawaran investasi menguntungkan secara bisnis.
"Tawaran itu adalah tawaran investasi dari Pemerintah Provinsi DKI, bukan dari Anies pribadi. Jadi, tidak ada hubungannya dengan masa jabatan Anies yang akan segera berakhir," tegas Piter.
Harga Produk Terjaga, Kinerja Alfamart Berjaya
Kinerja emiten ritel masih solid meski dihantui kenaikan harga barang. Lihat saja kinerja PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT). Pada semester I-2022, emiten pemilik merek gerai ritel Alfamart ini berhasil meraup pendapatan bersih Rp 47,89 triliun, naik 13,92% dibanding periode yang sama setahun sebelumnya.
Rani Wijaya, Corporate Communication General Manager Sumber Alfaria Trijaya, menuturkan, moncernya kinerja perseroan ini pada semester I-2022 didorong masih terjangkaunya harga produk-produk primer yang dibutuhkan konsumen. Rani mengklaim, ini lantaran AMRT menerapkan sejumlah strategi untuk menjaga harga produk.
Misalnya, Alfamart berkoordinasi dengan pemasok untuk menjaga ketersediaan produk. Selain itu, menggelar promo rutin agar kenaikan harga bisa dijaga. "Kami terus berupaya mencari pasokan dan pilihan produk dengan harga terjangkau. Jadi, kami bisa terus menyalurkan berbagai bahan makanan pokok," ungkap Rani kepada Kontan, Jumat (2/9).
Rani tak menampik, kinerja AMRT ke depan akan menghadapi banyak tantangan. Salah satunya dari fluktuasi harga produk yang berpengaruh kepada end user. Kondisi ini dipicu oleh berbagai sentimen negatif terhadap bisnis ritel di Tanah Air.
Pelemahan Rupiah Kikis Laba Pebisnis
Rupiah yang lemah dan kenaikan harga komoditas, rupanya tak bersahabat bagi sejumlah korporasi di dalam negeri. Pelemahan kurs rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) dan kenaikan harga komoditas mengikis kinerja sejumlah emiten di dalam negeri.
Lihat saja catatan kinerja sejumlah emiten saham sepanjang semester I-2022. Emiten saham yang bergantung pada bahan baku impor dan memiliki utang denominasi dollar AS terkena dampak rugi kurs paling signifikan.
Emiten saham produsen mi instan merek Indomie, PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), misalnya, mencatatkan kerugian kurs hingga senilai Rp 1,32 triliun di enam bulan pertama tahun ini. Rugi selisih kurs ini berasal dari obligasi dollar AS yang mencapai 95% dari total utang.
Dus, manakala rupiah melemah, sementara harga gandum di pasar dunia melesat, kerugian selisih kurs yang dicatatkan emiten Grup Salim tersebut meningkat. Laba bersihnya pun turut tergerus.
Inflasi Inti 2022 Bisa Menembus 4%
Komponen inflasi inti menjadi penyumbang terbesar Indeks Harga Konsumen (IHK) Agustus 2022. Bahkan, meski pada Agustus IHK terjadi deflasi, inflasi komponen inti masih naik baik secara bulanan maupun tahunan.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, pada Agustus 2022 terjadi deflasi sebesar 0,21% secara bulanan atau
month on month
(mom). Alhasil, secara tahunan tercatat inflasi 4,96%
year on year
(yoy). Dengan andil sebesar 0,24%, komponen inti mencatatkan inflasi 0,38% secara bulanan dan 3,04% yoy. Angka itu lebih tinggi ketimbang Juli 2022 yang tercatat inflasi 0,28% mom dan 2,86% yoy.
Menurut Kepala BPS Margo Yuwono naiknya inflasi inti Agustus 2022, sejalan naiknya harga beberapa barang seperti sewa rumah, dan mobil.
"Inflasi inti ini mencakup 711 komoditas, dan dengan meningkatnya inflasi inti, menunjukkan permintaan bagus karena daya beli masih baik. Cakupan komoditas komponen ini cukup besar," kata Margo, Kamis (1/9).
Apalagi, tingkat inflasi umum tahun 2022 sudah melampaui batas atas target BI dan pemerintah yang sebesar 4% yoy. "Tentu saja, dengan mengontrol harga barang dan jasa ini bisa membantu pemerintah menekan inflasi yang juga bisa memengaruhi daya beli masyarakat," tambahnya.
Menjaga Manufaktur Tak Kendur
Optimisme dunia usaha masih terbaca dari Purchasing Managers’ Index atau PMI Manufaktur Indonesia Agustus 2022 lansiran S&P Global yang mencapai 51,7 alias berada di zona ekspansi. Angka tersebut lebih tinggi ketimbang indeks Juli yang tercatat 51,3. PMI Manufaktur Indonesia pada Agustus 2022 bahkan mampu melampaui Jepang dan Korea Selatan yang masing-masing hanya 51,5 dan 47,6. Menurut S&P Global, perusahaan manufaktur di Indonesia mencatat perbaikan lebih kuat pada keseluruhan kondisi bisnis. Hal tersebut didukung oleh produksi yang naik selama tiga bulan berturut-turut, tercepat dalam tujuh bulan terakhir. Kendati demikian, Ekonom S&P Global Market Intelligence Laura Denman mengatakan kepercayaan bisnis secara keseluruhan masih turun pada Agustus 2022 dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Lunturnya optimisme ini tak lepas dari masih beratnya tekanan ekonomi akibat harga energi, terutama bahan bakar minyak (BBM) dan komoditas pangan yang berpotensi kembali mendorong inflasi. Hal tersebut bisa bermuara pada penurunan daya beli masyarakat sehingga konsumsi turun. Apalagi, realisasi inflasi pada bulan lalu masih parkir di atas target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2022 Perubahan yakni 3,5%—4,5%.
Sentimen Inflasi: Target Kredit Bank Tetap Tinggi
Bayang-bayang inflasi yang berpotensi menekan ekonomi tidak mengendurkan target perbankan dalam penyaluran kredit. Permintaan kredit, terutama dari kelompok korporasi, diperkirakan masih terjaga.
Data Bank Indonesia mencatat outstanding penyaluran kredit perbankan hingga Juli 2022 mencapai Rp6.143,7 triliun atau naik 10,5% year-on-year (YoY). Angka pertumbuhan kredit ini tercatat yang tertinggi dalam periode yang sama selama 3 tahun terakhir. Keyakinan bank dalam mendorong kredit juga diyakini dari hasil Indikator Likuiditas Bulanan yang dirilis Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) pada 25 Agustus.Kendati perbankan dihadapkan pada kebijakan pengetatan giro wajib minimum (GWM) hingga bulan ini, dampaknya terhadap kondisi likuiditas perbankan relatif terbatas.“Kapasitas bank mendorong pertumbuhan kredit diproyeksikan tetap tinggi,” tulis laporan LPS itu dikutip, Kamis (1/9).
Laporan itu juga menyebut peningkatan permintaan kredit akan menjadi tantangan bagi bank dalam mengelola likuiditasnya sekaligus tetap menjaga partumbuhan kredit yang sehat.Terkait dengan bunga simpanan, LPS memperhatikan suku bunga simpanan diperkirakan akan mulai meningkat secara bertahap, dipengaruhi peningkatan ekspektasi inflasi dan dampak dari perubahan strategi pengelolaan likuiditas bank mengantisipasi kenaikan kredit dan perubahan GWM.
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









