Ekonomi
( 40512 )Lonjakan Komoditas Bikin PNBP Moncer
Kinerja penerimaan negara bukan pajak (PNBP) makin moncer. Hasil tersebut tak lepas dari kinerja PNBP sektor sumber daya alam.
Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan, negara telah mengantongi Rp 386,0 triliun PNBP pada periode laporan hingga Agustus 2022. Ini setara 80,1% dari target PNBP tahun ini.
"Kinerja PNBP yang baik ini didukung oleh meningkatnya pendapatan semua komponen PNBP, kecuali pendapatan badan layanan umum (BLU)," terang Sri Mulyani dalam konferensi pers APBN KiTa edisi Agustus 2022, Senin (26/9).
Rupiah Jatuh, Beban Utang Bisa Membengkak
Nilai tukar rupiah yang masih loyo harus menjadi perhatian pemerintah.
Sebab, utang pemerintah masih ada yang berbentuk valuta asing, terutama dolar Amerika Serikat (AS). Jumlahnya pun tergolong besar.
Apalagi kurs rupiah makin payah belakangan ini.
Pada perdagangan Rabu (28/9), kurs referensi Bank Indonesia (BI), Jakarta Interbank Spor Dollar Rate (Jisdor) menempatkan rupiah di posisi Rp 15.243 per dolar. Artinya kurs versi Jisdor tersebut melemah 0,58% dari posisi per Selasa (27/8).
Meski demikian, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengklaim bahwa kondisi rupiah yang loyo belum terasa memberatkan beban pembayaran utang pemerintah.
Prospek Kinerja PGAS Masih Akan Ngegas
Kenaikan harga jual rata-rata dan pertumbuhan volume distribusi gas akan menjadi pendorong kinerja PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) hingga akhir tahun ini. Saham PGAS pun masih punya peluang penguatan jangka panjang. Analis Panin Sekuritas Christian Anderson Yuwono mengatakan, saham-saham berbasis komoditas pada umumnya memiliki kecenderungan untuk bergerak positif sejalan harga komoditas dasarnya. Direktur Utama Perusahaan Gas Negara M. Haryo Yunianto mengatakan, kinerja operasional tumbuh positif. Volume niaga gas mencapai 930 billion british thermal unit per day (bbtud) di semester pertama 2022. Realisasi ini naik 4,1% secara tahunan.
Gandeng Hyundai Engineering, ADCP Pacu Hunian Terintegrasi
Emiten properti PT Adhi Commuter Properti Tbk (ADCP) terus menggeber ekspansi bisnis di sisa tahun ini. Yang terbaru, ADCP menjalin kerjasama pengembangan lahan dengan perusahaan asal Korea Selatan, yakni Hyundai Engineering Co Ltd.
Dalam keterbukaan informasinya ke Bursa Efek Indonesia, Rabu (28/9), manajemen ADCP menjelaskan, pihaknya telah menerima kunjungan Hyundai untuk melihat beberapa lokasi pengembangan lahan proyek yang dimiliki.
"Kunjungan ini dapat memberikan gambaran lebih nyata dan mendorong percepatan rencana kerjasama ADCP dan Hyundai Engineering," ungkap R Adi Sampurno,
Corporate Secretary
Adhi Commuter Properti.
Tarif Cukai Bikin Pudar Emiten Rokok
Kinerja PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk (HMSP) masih akan tertekan di sepanjang tahun ini. Analis melihat kenaikan cukai rokok menjadi katalis pelemah kinerja HMSP.
Analis Kanaka Hita Solvera Andhika Cipta Labora memperkirakan, prospek kinerja HMSP di tahun ini masih berat. Sebab, pemerintah memang berkomitmen untuk mengontrol produksi rokok. Berdasarkan data Kementerian Keuangan, produksi rokok nasional selama delapan bulan turun 3,3%.
Sejatinya HMSP juga memiliki produk tembakau elektrik IQOS yang bermerek HEETS. Jumlah pengguna IQOS hingga akhir 2021 meningkat menjadi 65.000 anggota dari tahun 2020 sebanyak 30.000.
Gerai IQOS pun meningkat menjadi 78 gerai di akhir 2021 dari 14 gerai di tahun 2020. Sayangnya, kontribusi pendapatan tidak nampak dalam laporan keuangan HMSP.
KETAR-KETIR BANK DIGITAL
Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia dan tingkat bunga penjaminan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) bakal membuat bisnis bank-bank digital kian menantang. Situasi tersebut membuat mereka akan bersaing sengit dengan bank konvensional untuk memupuk dana pihak ketiga (DPK). Apalagi, selama ini bank-bank digital yang relatif baru meramaikan industri perbankan, kerap menggunakan iming-iming bunga simpanan tinggi untuk menarik dana dari masyarakat. Belakangan tren tersebut perlahan berubah. Sejumlah pemain bank digital kini tak lagi melulu menjadikan suku bunga simpanan tinggi sebagai pendongkrak DPK. Jika ditelusuri, saat ini, rata-rata bunga simpanan deposito di bank digital secara rerata berada di kisaran 3,5% sampai dengan 4%. Padahal sebelumnya, ada bank digital yang berani mematok bunga simpanan hingga 8%. Beberapa bank digital pun kini lebih memilih mengoptimalkan dana murah di tengah kenaikan suku bunga acuan dan inflasi yang meninggi. Salah satunya adalah entitas usaha PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. yang bergerak di layanan digital yakni PT Bank Raya Indonesia Tbk. (AGRO). Direktur Keuangan Bank Raya Akhmad Fazri mengatakan bahwa perseroan telah melakukan penyesuaian tingkat suku bunga simpanan dengan mempertimbangkan kondisi kebijakan regulator, posisi likuiditas, dan tingkat persaingan di industri. Lain halnya dengan PT Bank Jago Tbk. yang berupaya menurunkan rasio biaya operasional dan pendapatan operasional (BOPO) dengan memacu fee based income. Direktur Kepatuhan Bank Jago Tjit Siat Fun menyatakan perseroan masih memerlukan waktu untuk mencapai skala ekonomis yang maksimal. Apalagi, sejak kuartal III/2022, bank dengan kode ARTO itu tidak mencatatkan kerugian.
Ketar Ketir Bank Digital
Kenaikan suku bunga acuan BI dan tingkat bunga penjaminan LPS bakal membuat bisnis bank-bank digital kian menantang. Situasi tersebut membuat mereka akan bersaing sengit dengan bank konvensional untuk memupuk dana pihak ketiga (DPK). Apalagi, selama ini bank-bank digital yang relatif baru meramaikan industri perbankan, kerap menggunakan bunga simpanan tinggi untuk menarik dana masyarakat. Belakangan tren tersebut berubah. Sejumlah bank digital tak lagi menjadikan suku bunga simpanan tinggi sebagai pendongkrak DPK. Saat ini, rata-rata bunga simpanan deposito bank digital berada di kisaran 3,5% sampai 4%, sebelumnya, ada bank digital yang berani mematok bunga simpanan hingga 8%. Beberapa bank digital pun kini memilih mengoptimalkan dana murah di tengah kenaikan suku bunga acuan dan inflasi yang meninggi.
Salah satunya entitas usaha PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. yang bergerak di layanan digital yakni PT Bank Raya Indonesia Tbk. (AGRO). Direktur Keuangan Bank Raya Akhmad Fazri mengatakan bahwa perseroan telah melakukan penyesuaian tingkat suku bunga simpanan dengan mempertimbangkan kondisi kebijakan regulator, posisi likuiditas, dan tingkat persaingan di industri. Bank Raya, lanjutnya, mengoptimalkan pertumbuhan dana murah (current account saving account/CASA) yang ditunjang dengan program menarik serta suku bunga yang bersaing. “Strategi Bank Raya untuk meningkatkan CASA adalah dengan mengoptimalkan program marketing secara digital dan direct dengan pendekatan O2O [online to offl ine] melalui community branch,” kata Akhmad kepada Bisnis, Rabu (28/9). (Yoga)
Dorong pelaku usaha Bangkit, Dirut BRI Sunarso Dinobatkan Sebagai Tokoh Pembiayaan Dan Pemberdayaan UMKM
Dirut BRI Sunarso dinobatkan sebagai “Tokoh Pembiayaan dan Pemberdayaan
UMKM” dalam gelaran “Rakyat
Merdeka Award untuk Indonesia
Pulih dan Bangkit 2022”. Penghargaan tersebut tak terlepas dari peran
Sunarso sebagai ‘master mind’’ dari
konsistensi dan kesuksesan PT Bank
Rakyat Indonesia (Persero) Tbk dalam
memberdayakan dan mengedukasi
pelaku usaha di segmen UMKM.
Atas pencapaian tersebut, Sunarso
mendedikasikan penghargaan tersebut untuk seluruh insan BRILiaN
(pekerja BRI). “Saya dedikasikan
penghargaan ini kepada Insan BRILiaN yang telah memberikan kontribusi
terbaiknya kepada BRI dan untuk Indonesia”, ungkapnya.
“Penghargaan ini juga saya persembahkan untuk seluruh nasabah
UMKM BRI yang menjadi tulang
punggung perekonomian Indonesia,”
tambah Sunarso.
Sunarso menegaskan bahwa
UMKM di Indonesia sangat membutuhkan edukasi secara konsisten
dan berkelanjutan dari pada advokasi.
“Oleh karenanya, BRI saat ini dan ke
depan akan semakin fokus untuk memberdayakan dan mengedukasi pelaku
usaha di segmen UMKM”, tegasnya. (Yoga)
OPTIMISME EKONOMI MENINGGI
Risiko konsumsi lesu akibat kenaikan inflasi yang dipicu penaikan harga bahan bakar minyak (BBM), rupanya tak membuat optimisme terhadap ekonomi Indonesia mengendur. Sejumlah lembaga internasional malah menilai prospek ekonomi Indonesia pada tahun ini masih moncer. Asian Development Bank (ADB) misalnya, mengerek proyeksi ekonomi Indonesia dari 5% menjadi 5,4%, sedangkan World Bank mempertahankan ekspektasi pertumbuhan di dalam negeri pada posisi 5%. Pun dengan Organisation for Economic Cooperation and Development (OECD) yang dengan mantap menempatkan Indonesia pada posisi pertumbuhan 5%, sedangkan International Monetary Fund (IMF) 5,3%. Secara umum, lembaga-lembaga tersebut memandang Indonesia mampu mengelola krisis energi dengan baik melalui kebijakan penebalan subsidi dan perlindungan sosial, sehingga relatif mampu menjaga gerak inflasi. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, mengatakan ada dua komponen yang mampu menjaga momentum pemulihan ekonomi di tengah risiko lonjakan inflasi, yakni investasi dan ekspor. “Kalau kita lihat sumber pertumbuhan dari ekspor, dari investasi, kita masih melihat adanya momentum kuartal III/2022,” katanya, Selasa (27/6). Menkeu meyakini, realisasi pertumbuhan ekonomi pada kuartal III/2022 mencapai 5,6%—6% seiring dengan kinerja ekspor serta performa penanaman modal yang kian menanjak.
DAMPAK KEBIJAKAN BI : REI KHAWATIR PROPERTI TERTEKAN
Persatuan Perusahaan Realestat Indonesia mengkhawatirkan laju kebangkitan industri properti tertahan pada tahun depan setelah Bank Indonesia menaikkan 7 Days Reverse Repo Rate sebesar 50 basis poin menjadi 4,25%.
Wakil Ketua Umum Persatuan Perusahaan Realestat Indonesia (REI), Hari Gani mengatakan industri properti kembali menghadapi ancaman penurunan kinerja akibat kondisi makroekonomi, padahal industri properti komersial pada tahun ini baru saja bangkit dari tekanan pandemi Covid-19.Untuk suku bunga deposit facility naik menjadi 3,5% dan suku bunga lending facility naik menjadi 5%. Pada Agustus, suku bunga BI naik untuk pertama kalinya sejak November 2018.“Kenaikan suku bunga ini tidak langsung menyebabkan kenaikan bunga KPR, perlu waktu sekitar 6 bulan. Kelihatannya dampaknya terasa mungkin di awal tahun depan,” katanya kepada Bisnis, Selasa (27/9).
Berdasarkan paparan APBN Kita oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani, ancaman resesi ekonomi makin kuat akibat pergolakan ekonomi global yang terjadi.
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









