;
Kategori

Ekonomi

( 40789 )

Ratusan Hektar Sawah ”Food Estate” Tak Bisa Ditanami

10 Oct 2022

Peladang di Kalteng yang mengikuti program strategis nasional lumbung pangan atau food estate di Kabupaten Pulang Pisau butuh didampingi. Sebab, bertani di sawah merupakan pengalaman baru dalam kehidupan pertanian mereka. Apalagi, di beberapa lokasi, ada ratusan hektar (ha) lahan cetak sawah yang sudah satu tahun ini belum bisa ditanami padi karena akses yang belum mendukung dan terendam banjir. Dari penelusuran di lapangan, setidaknya di dua desa di Kabupaten Pulang Pisau, yang merupakan wilayah dilaksanakannya program ekstensifikasi atau cetak sawah baru, lahan-lahan sawah food estate belum optimal dikelola masyarakat, yaitu Desa Pilang, Kecamatan Jabiren Raya dan Desa Mulya Sari, Kecamatan Pandih Batu. Di Desa Pilang, ladang-ladang masyarakat Dayak yang selama delapan tahun tak lagi dikelola berubah menjadi sawah. Ladang yang sudah menjadi hutan dengan ratusan bahkan ribuan tegakan pohon berubah menjadi hamparan sawah dengan pematang-pematang sawah yang masih dipenuhi batang-batang pohon yang rebah. Beberapa peladang bahkan sudah membuat pondok-pondok di kawasan tersebut untuk tempat tinggal. Mereka yang sudah delapan tahun lebih cukup senang dengan kehadiran food estate di desanya yang membuat mereka kembali berladang.

Namun, masalah baru muncul. Pola tanam yang tidak seragam membuat padi-padi yang sudah berumur 95 hari diserang hama. Mereka harus membeli pestisida untuk menyemprot hama, lalu membuat jaring, serta menjaga padi itu siang dan malam. Emek (65), salah satu peladang tradisional Dayak di Desa Pilang, mengaku baru pertama kali bertani di tanah sawah. Selama ia hidup ia hanya berladang dengan cara tebas bakar dan menanam benih padi lokal yang jumlahnya ada 19. Kini, karena sudah tidak pernah berladang karena larangan membakar, Emek kehilangan benih lokal di rumahnya. Semuanya habis digiling untuk makan. Emek kini harus menanam padi di sawah. ”Awalnya diberi bantuan kapur, pupuk, dan benih, tetapi bantuannya datang terlalu cepat, jadi benihnya sudah tidak bisa dipakai. Terpaksa saya beli benih baru,” tuturnya. Emek merupakan salah satu anggota kelompok tani yang tetap nekat menanam. Padinya pun berbeda-beda di satu petak, ada yang tinggi dan ada yang pendek, ada yang berdaun agak lebar, ada juga yang berdaun tajam. Hal itu terjadi bukan karena waktu tanam yang berbeda, melainkan ia menanam berbagai jenis padi, sama seperti yang ia lakukan dulu.

Kepala Desa Pilang Rusdi. belum bisa menanam padi karena lahannya bahkan belum dibuka dan masih berupa hutan. Ia menjelaskan, masih ada kelompok tani lain yang juga belum mulai menanam karena belum ada jalan akses masuk ke awahnya yang berada di pinggir Sungai Kahayan. ”Baru 10 % saja yang menanam, bukan berarti gagal, kami jangan ditinggalkan. Ini hal baru, seharusnya pendampingan bisa lebih intensif karena saya yakin lima tahun saja hasilnya akan luar biasa,” kata Rusdi. Rusdi menjelaskan, di desanya terdapat 1.060 ha ladang yang berubah menjadi sawah. Sawah itu dibagikan kepada 17 kelompok tani dengan ukuran paling kecil 30 ha atau 30 kali ukuran lapangan sepak bola. Sedang di Desa Mulya Sari. Lahan yang sudah jadi sawah tak bisa ditanami karena dalam dua tahun terakhir direndam banjir pasang surut. Ketua Gabungan Kelompok Tani Mulya Sari, Sukirno, mengatakan, banjir terjadi tidak hanya karena intensitas hujan, tetapi juga karena saluran irigasi masih menggunakan saluran irigasi 25 tahun lalu yang sudah tak bisa lagi digunakan. Air itu dalamnya sampai 50 cm, kami kerahkan sembilan hand tractor, tapi tenggelam ke bawah tanah karena direndam air selama lebih kurang dua tahun sejak dibuka,” kata Sukirno. (Yoga)


Koperasi Sejahtera Bersama Dibobol Tim Pengawas

07 Oct 2022

Bertambah lagi kasus gagal bayar koperasi simpan pinjam ke anggota yang ditangani oleh polisi. Kali ini menimpa Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Sejahtera Bersama. Penyidik Tipideksus Bareskrim Polri sudah menetapkan dua tersangka kasus dugaan penipuan dan pembobolan dana milik nasabah KSP Sejahtera Bersama senilai sekitar Rp 249 miliar. Dalam kasus ini yang ditetapkan sebagai tersangka oleh polisi adalah Ketua Pengawas KSP Sejahtera Bersama Iwan Setiawan, dan Anggota Pengawas Dang Zeany. Sementara jumlah simpanan seluruh nasabah di koperasi tersebut lebih dari Rp 6 triliun. Waluyo lantas merujuk laporan pertanggungjawaban Pengurus-Pengawas tahun 2021. Berdasarkan data tersebut, nilai aset properti KSP Sejahtera Bersama yang sedang dalam proses penjualan sekitar Rp 220,6 miliar. Nilai ini jauh dari simpanan nasabah.

Ekonomi ASEAN+3 Diramal Hanya Tumbuh 3,7%

07 Oct 2022

Tim Riset Ekonomi Makro Regional ASEAN+3 (Amro) memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi wilayah ASEAN+3. ASEAN+3 terdiri dari negara-negara di kawasan ASEAN plus China, Jepang, dan Korea. Kepala Ekonom Amro Hoe Ee Khor memperkirakan, pertumbuhan ekonomi ASEAN+3 pada tahun 2022 sebesar 3,7%, lebih rendah dari perkiraan semula yang sebesar 4,3%.

Lelang Sukuk Negara Tambahan Menerima Penawaran Rp 2,7 Triliun

07 Oct 2022

Hasil lelang surat berharga syariah negara (SBSN) tambahan pada Rabu (5/10) jauh lebih tinggi daripada hasil lelang SBSN yang dilaksanakan di hari sebelumnya. Padahal, yield yang ditawarkan masih sama seperti lelang sebelumnya. Berdasarkan data DJPPR Kementerian Keuangan, lelang sukuk negara tambahan alias greenshoe option menerima penawaran Rp 2,67 triliun. Ada lima seri sukuk negara yang ditawarkan, yakni PBS036, PBS003, PBS029, PBS034 dan PBS033. Dari lima seri tersebut, seri PBS036 menerima paling banyak permintaan, mencapai Rp 1,07 triliun. Sementara pada lelang sukuk negara di hari Selasa (4/10), permintaan pada seri dengan tenor tiga tahun ini mencapai Rp 2,19 triliun. Pemerintah hanya menyerap Rp 45 miliar.

Bunga Mekar, Simpanan Valas Bank Membesar

07 Oct 2022

Demi menarik dana pihak ketiga (DPK) valuta asing (valas), perbankan mulai menyesuaikan bunga simpanan valas. Penyesuaian seiring kenaikan bunga Bank Indonesia (BI). Hasilnya, simpanan valas perbankan ikut naik di saat dollar Amerika Serikat (AS) kian perkasa. Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) memantau, pada 22 Agustus hingga 16 September 2022, suku bunga pasar simpanan valas naik 20 basis poin (bps) menjadi 0,44%. Ketua Dewan Komisioner LPS, Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan, kenaikan bunga ini sebagai dampak ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed dan kondisi likuiditas valas dengan ruang lanjutan peningkatan cukup terbuka pasca FOMC September 2022. Data BI mencatat DPK valas perbankan tumbuh 12,1% secara tahunan atau year on year (yoy) menjadi Rp 1.049,6 triliun per Agustus 2022. Jauh lebih tinggi dari pertumbuhan DPK rupiah yang hanya naik 7,6% menjadi Rp 6.305,1 triliun pada periode yang sama.

BERJIBAKU JAGA RUPIAH

07 Oct 2022

Bank Indonesia terus berjibaku menjaga stabilitas rupiah seiring dengan tren penguatan dolar Amerika Serikat (AS) dan aliran keluar modal asing (capital outflow) yang kian deras. Maklum, pelemahan mata uang Garuda bakal berimpak besar. Tak hanya di pasar keuangan, melainkan juga pada ekonomi secara makro. Dolar AS yang terus menguat mendorong kenaikan biaya produksi akibat importasi bahan baku dan penolong yang makin mahal. Ongkos produksi yang tinggi akan bermuara pada terkereknya harga jual barang di tingkat konsumen sehingga memicu lesatan inflasi yang saat ini tengah diperangi oleh Bank Indonesia (BI). Sementara itu, implementasi Local Currency Settlement (LCS) atau penggunaan mata uang lokal dalam setiap transaksi, belum terlalu signifikan mengingat jumlah negara yang menjalin kemitraan dengan Indonesia masih terbatas. Alhasil, dolar AS mendominasi setiap transaksi. Perihal kondisi tersebut, Wakil Ketua Umum Gabungan Pelaksana Konstruksi Nasional Indonesia (Gapensi) Didi Iskandar Aulia, mengatakan pelemahan rupiah kian menambah beban seluruh pebisnis yang mendatangkan bahan baku dari luar negeri. 

Dia mengatakan, komponen pelemahan rupiah berdampak terhadap naiknya harga bahan baku baja yang masih impor hingga 10%. Namun, seiring dengan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) maka kenaikan ongkos produksi mencapai 15%—20%. Kondisi tersebut sesungguhnya disadari betul oleh pemangku kebijakan. Bank sentral telah melakukan serangkaian aksi untuk mempertebal proteksi rupiah. Salah satunya dengan melakukan intervensi di pasar Surat Berharga Negara (SBN). “Stabilisasi rupiah memang tidak hanya lewat intervensi spot, juga lewat intervensi DNDF, dan pembelian/penjualan SBN,” kata Direktur Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI Wahyu Agung Nugroho, kepada Bisnis.


Investor Kurangi Investasi pada Obligasi

07 Oct 2022

Akibat kenaikan suku bunga di sejumlah negara, daya tarik investasi pada obligasi berkurang, sehingga para investor global mengurangi dana-dana investasi pada pasar obligasi. Pengurangan ini terjadi di semua kawasan. Dana Moneter Internasional (IMF) memperingatkan, penarikan dana investasi berpotensi mengganggu sistem keuangan global. Kantor berita Reuters, Rabu  (5/10), memberitakan, dana-dana investasi global di pasar obligasi menurun drastis selama tiga kuartal I-2022. Ini penurunan terbesar dalam dua dekade terakhir. Penyebabnya adalah rentetan kenaikan suku bunga di banyak negara yang berpotensi mendorong resesi. Hal itu menurunkan kepercayaan investor pada kemampuan bayar para penerbit obligasi. 

Menurut data Refinitiv Lipper, dana-dana investasi pada pasar obligasi turun 175,5 miliar USD selama tiga kuartal I-2022, terbesar sejak 2002. Nilai bersih aset obligasi global juga turun 10,2 %, terbesar sejak 1990. Kenaikan suku bunga menurunkan nilai bersih aset obligasi. Sejumlah pemerintah dan korporasi penerbit obligasi dalam beberapa tahun terakhir gencar memanfaatkan rendahnya suku bunga. Kini para penerbit obligasi tersebut ketiban beban bunga lebih besar. ”Kombinasi tingkat utang yang tinggi dan kenaikan suku bunga telah menurunkan kepercayaan para investor terhadap kemampuan bayar para penerbit obligasi. Ini sekaligus menjadi penyebab penurunan investasi pada pasar obligasi,” kata Jacob Sansbury, CEO Pluto Investing. (Yoga)

Pasokan Minyak Terpangkas

07 Oct 2022

Kondisi perekonomian dunia semakin sulit, akibat berkurangnya pasokan minyak dunia menyusul keputusan pemangkasan produksi minyak hingga 2 juta barel per hari oleh OPEC+. Muncul kekhawatiran, kenaikan harga minyak pasca pemangkasan produksi dapat memperparah inflasi yang kini menggoyahkan ekonomi global. Pada Rabu (5/10) Arab Saudi dan Rusia serta negara-negara yang tergabung dalam Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC)+ bersepakat memangkas produksi minyak sebesar dua juta barel per hari, setara 2 % produksi minyak global saat ini dan menjadi pemangkasan terbesar sejak pandemi tahun 2020. Pemangkasan tersebut akan diberlakukan mulai November 2022. Dalam konferensi pers seusai pertemuan OPEC+ di Vienna, Austria, Menteri Energi Arab Saudi Pangeran Abdulaziz bin Salman mengatakan, keputusan pemangkasan produksi minyak itu dipicu tanda-tanda penurunan ekonomi dunia yang bisa memperlemah permintaan dan jatuhnya harga minyak. 

”Kami lebih memilih langkah pencegahan daripada nanti menyesal,” kata Abdulaziz, seperti dikutip The New York Times. ”Keputusan ini didasarkan pada kajian teknis. Kami tidak akan menggunakan (OPEC) sebagai organisasi politik,” ujar Suhail Al-Mazroui, Menteri Energi Uni Emirat Arab, menyangkal tudingan soal politisasi terhadap OPEC+. Keputusan pemangkasan produksi minyak tersebut dibuat saat harga minyak turun dari 120 USD per barel pada tiga bulan lalu menjadi 90 USD per barel. Saat keputusan pemangkasan produksi minyak OPEC+ diumumkan, harga minyak Brent yang menjadi patokan utama internasional naik 1,7 % sebelum ditutup pada 93,37 USD per barel. IHSG sejumlah bursa AS dan Eropa anjlok hingga 1,1 %. Mantan Kepala Departemen Analisis OPEC Hassan Balfakeih menyebutkan, pemangkasan produksi lebih dipicu faktor geopolitik dibandingkan kondisi pasar. (Yoga)

Kerajinan Kerang Magelang Diekspor ke AS

07 Oct 2022

Sekitar 9.000 kerajinan kerang buatan warga Magelang, Jateng, menembus pasar AS. Ekspor perdana dilakukan CV Sabila Multi Kreasindo, Kamis (6/10) dengan nilai 33.000 USD atau Rp 503 juta. ”Jika pengiriman pertama mendapat respons bagus, pihak importir dari AS menjanjikan akan rutin memesan,” kata Prajoko, pemilik perusahaan tersebut. (Yoga)

OneMed Incar Dana Ipo Rp 1,25 triliun

07 Oct 2022

PT Jayamas Medica Industri Tbk (OMED) atau OneMed bersiap menggelar penawaran umum perdana (IPO) sebanyak-banyaknya 4.058.850.000 saham dengan nilai nominal Rp 25 per saham. Dari aksi korporasi ini, perusahaan alat kesehatan tersebut mengincar dana segar hingga Rp 1,25 triliun. Dalam prospektus awal perseroan yang dipublikasi Kamis (6/10) dijelaskan, jumlah saham yang ditawarkan setara 15% modal ditempatkan dan disetor penuh perseroan setelah penawaran umum perdana saham, dengan harga penawaran berkisar Rp 204 hingga Rp 310 per saham. Dengan demikian, perseroan berpotensi meraih dana IPO Rp 828 miliar hingga Rp 1,25 triliun. Dana yang diperoleh dari IPO saham ini setelah dikurangi seluruh biaya-biaya emisi saham, akan dialokasikan  72,19% untuk pengembangan usaha dalam bentuk belanja modal (capital expenditure) dan modal kerja (working capital), lalu 22,87% diberikan kepada perusahaan anak, yaitu PT Intisumber Hasil Sempurna Global (IHSG) untuk belanja modal dan modal kerja, 4,94% diberikan kepada IHSG dalam bentuk setoran modal, kemudian IHSG akan memberikan kepada anak usaha PT Inti Medicom Retailindo (IMR) dalam bentuk setoran modal untuk belanja modal dan modal kerja. (Yoga)