Harga Gula Masih Tinggi kendati Produksi Berlimpah
Harga rata-rata nasional gula konsumsi di tingkat eceran masih tinggi meskipun produksi gula pada musim giling tebu tahun ini berlimpah. Penyebabnya diperkirakan gula hasil produksi tersebut masih di pedagang dan belum didistribusikan secara merata. Berdasar Panel Harga Pangan Bapanas, per 18 Juni 2024 pukul 14.15 WIB, harga rerata nasional gula konsumsi di tingkat eceran Rp 18.220 per kg. Harga itu masih tinggi kendati mulai turun 0,55 % dibanding harga rerata Mei 2024 yang sebesar Rp 18.360 per kg. Namun, secara tahunan, harganya naik 19,9 %. Harga gula tertinggi berada di Papua Tengah, yakni Rp 40.000 per kg, jauh di atas harga acuan penjualan (HAP) sementara gula konsumsi di tingkat eceran di wilayah Papua, Maluku, dan daerah tertinggal, terdepan, terpencil, dan perbatasan (3TP) Rp 18.500 per kg.
Harga gula terendah berada di Jatim, yaitu Rp 16.660 per kg, di bawah HAP sementara gula konsumsi di tingkat eceran untuk wilayah di luar Papua, Maluku, dan daerah 3TP. Tenaga ahli Asosiasi Gula Indonesia (AGI), Yadi Yusriadi, Selasa (18/6) mengatakan, harga rerata nasional gula konsumsi di tingkat eceran memang masih tinggi. Penyebabnya diperkirakan bukan pada produksi, melainkan lebih karena gula hasil produksi Mei-medio Juni 2024 berada di pedagang dan belum didistribusikan secara merata. ”Dari sisi produksi relatif tidak ada masalah karena hampir semua pabrik gula (PG) mulai menggiling tebu sejak Mei 2024. Dalam sebulan, rerata produksi gula nasional berkisar 400.000-450.000 ton.
“Kalau untuk memenuhi kebutuhan bulanan gula, yakni sebanyak 240.000-250.000 ton, seharusnya cukup,” ujarnya. Bapanas memang menaikkan harga acuan pembelian (HPP) gula petani dari Rp 12.500 per kg menjadi Rp 14.500 per kg. Namun, seiring dengan mulai masifnya produksi gula nasional, harga gula petani justru turun dan cenderung berada di bawah HPP. Dalam lelang gula yang sudah dilakukan sejumlah PG, harga gula petani yang sempat tembus Rp 14.900 per kg, saat ini berada di kisaran Rp 14.200-Rp 14.500 per kg. ”Jadi, penyebab harga gula masih tinggi lebih pada distribusinya yang belum merata, karena itu, pemerintah diharapkan bisa mendorong agar distribusi gula semakin merata, terutama di wilayah timur Indonesia dan 3TP,” kata Yadi. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023