Telekomunikasi
( 286 )Erick Thohir Sebut Sejumlah BUMN Investasi di Belasan Startup
Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mengatakan sejumlah perusahaan pelat merah berinvestasi di startup. Hal ini seiring dengan perkembangan prospek bisnis sektor digital di Indonesia. Erick mengatakan salah satu BUMN yang berinvestasi di startup adalah PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI. Perusahaan itu berinvestasi di 15 startup. "Kami melihat BUMN itu punya investasi di startup," ungkap Erick kepada media, Kamis (23/9). Selain BRI, ada pula PT Bank Mandiri (Persero) Tbk yang juga menanamkan dana di 15 startup. Kemudian, Telkomsel berinvestasi di 15 startup dan PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk di 54 startup. Erick tak merinci identitas startup yang menjadi ladang investasi sejumlah perusahaan pelat merah. Hanya saja, ia menyebut beberapa startup sudah berstatus unicorn. "Sebagian sudah unicorn, mereka investasi di Bukalapak, salah satu yang kemarin go public," terang Erick.
Sebelumnya, Direktur Digital Business Telkom Indonesia Muhamad Fajrin Rasyid mengatakan pihaknya siap mengakuisisi startup dalam waktu mendatang. Hal ini khususnya startup yang memberikan nilai tambah bagi perusahaan. "Telkom terbuka untuk berinvestasi atau semacamnya, apakah itu akuisisi terhadap perusahaan startup atau pihak-pihak yang memang dapat menambah value added Telkom," ungkap Fajrin dalam Telkom Talks-Akselerasi Digital untuk Kemajuan Bangsa Indonesia, Selasa (6/7). Ia mengatakan pihaknya baru-baru ini berinvestasi di Gojek. Investasi itu dilakukan oleh anak usaha mereka, Telkomsel. Selain itu, Telkom Indonesia memiliki venture capital bernama MDI Ventures. Fajrin mengatakan perusahaan itu sudah cukup banyak menanamkan dana di sejumlah startup. (yetede)
Bisnis Data Center, Persaingan Harga Pusat Data Bakal Ketat
Indonesia Digital Empowering Community memproyeksikan perang harga di industri pusat data pada masa mendatang seiring dengan pesatnya pembangunan pusat data di Indonesia. Ketua Indonesia Digital Empowering Community (Idiec) M Tesar Sandikaputra mengatakan munculnya pusat data-data baru di Tanah Air akan mendorong persaingan dari sisi harga. Menurutnya, pemain pusat data menawarkan harga murah untuk merebut pasar yang terbatas. "Makin banyak pemain tentu harga makin murah, terlebih tidak semua sektor menggunakan layanan pusat data," katanya, Selasa (21/9)
Kesenjangan antara suplai pusat data dan kebutuhan yang tidak terlalu besar kemudian beresiko membuat para penyedia pusat data saling bersaing menawarkan layanannya dengan harga murah. Berdasarkan pengalaman Tesar pusat data diatas 10 juta atau satu rak. Makin banyak yang tersimpan, imbuhnya, makin besar rak yang di sewa. "Itu hanya sewa rak dan bandwith saja. Belum termasuk operasi atau isi," kata Tesar. Saat ini beberapa perusahaan mengebut pembangunan pusat data seperti PT Telkom Indonesia Tbk, Biznet, DCI Indonesia dalam jalur pembangunan pusat data skala hiper.
"Bisnis pusat data saingannnya adalah para pemain pusat data besar-besar untuk teknologi komputasi awan, misalnya AWS," kata Tesar. Ditengah pembangunan pesat pusat data di Tanah Air, para pemain pusat data mengalami pertumbuhan yang signifikan di bisnis pusat data. Pada kuartal II/2021, PT Telkom Indonesia Tbk, mencatat pendapatan senilai Rp713 miliar dari bisnis pusat data dan komputasi awan. Jumlah pendapatan tersebut meningkat 11,7% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. (yetede)
Grup Telkom dan Djarum Di Puncak Bisnis Menara
Jakarta - Prospek bisnis menara telekomunikasi semakin menjulang. Setidaknya ada dua transaksi besar yang dilakukan operator menara dalam waktu berdekatan. Pertama, anak usaha PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) yakni PT Profesional Telekomunikasi Indonesia (Protelindo), akan menuntaskan akuisisi 90% saham PT Solusi Tuntas Pratama Tbk (SUPR), yang memiliki 6.433 menara telekomunikasi dengan nilai aset Rp 12 triliun. Kedua, PT Dayamitra Telekomunikasi (Mitratel) mengambil alih 4.000 menara milik PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel).
Praktis, dua transaksi jumbo tersebut semakin mengukuhkan para jawara menara telekomunikasi di Indonesia. Kini, Grup Telkom merajai bisnis menara telekomunikasi dengan menguasai lebih dari 30.000 menara, melalui kepemilikan Mitratel dan Telkomsel. Prospek bisnis menara masih terbuka lebar untuk pengembangan pasar oleh perusahaan telekomunikasi lainnya. Saham-saham sektor telekomunikasi sangat menarik untuk dikoleksi jangka panjang. Pasalnya, saham di sektor ini memiliki prospek fundamental menjanjikan.
Lagi, Mitratel Ambil Alih 4.000 Menara Telekomunikasi dari Telkomsel
PT Dayamitra Telekomunikasi (Mitratel) kembali mengambil alih sebanyak 4.000 menara telekomunikasi dari PT Telekomunikasi Seluler (Telkomsel). Aksi korporasi ini semakin mengukuhkan posisi Mitratel sebagai pengusaha menara telekomunikasi terbesar di Indonesia. Kesepakatan antar dua anak usaha PT Telkom Indonesia Tbk terkait penandatanganan perjanjian jual beli (sale and purchase agreement/SPA) terjadi pada 31 Agustus 2021. Hal ini melengkapi aksi korporasi yang dilakukan oleh kedua perusahaan atas 6.050 menara telekomunikasi pada tahun lalu.
Direktur Utama Telkomsel Hendri Mulya Syam menjelaskan, pihaknya konsisten dalam melakukan transformasi portofolio di bisnis digital melalui sejumlah langkah strategis. "Kelanjutan aksi korporasi dengan melakukan pengalihan kepemilikan menera telekomunikasi kepada Mitratel semakin menunjukkan keseriusan Telkomsel untuk lebih fokus dalam memperkuat eksistensi dan penetrasi dalam menggelar layanan digital," kata dia dalam keterangan tertulis, Kamis (2/9)
Direktur Strategi Portfolio Telkom Budi Setyawan Wijaya menambahkan, aksi korporasi ini merupakan langkah Telkom dalam menata portfolio demi value cretion yang optimal. Telkom Group turut serta memantapkan langkah Mitratel sebagai pemain tower terbesar di Indonesia. "Mitratel bersiap untuk mengoptimalkan value creation selanjutnya melalui aksi korporasi yang lebih besar lagi, tuturnya.
Menkominfo: Koneksi Ponsel Capai 345,3 Juta, Lampaui Total Penduduk RI
Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Johnny G Plate menyebutkan jumlah koneksi ponsel di Indonesia mencapai 345,3 juta, lebih banyak dari total penduduk. Pandemi ini membawa perubahan yang masif di semua lini, serta mendorong semua aktivitas dan interaksi beralih ke digital.
Selain itu jaringan internet aktif di Tanah Air tercatat digunakan oleh 200 juta pengguna atau setara dengan 73,3 persen dari populasi Indonesia. Menurut ia, situasi tersebut pun membuat Indonesia menjadi negara kelima terbesar pengguna internet di dunia..
Sebelum adanya pandemi, kata dia, suka tidak suka seluruh dunia harus melakukan digitalisasi karena adanya disrupsi teknologi. Kemudian pandemi pun datang dan mempercepat transformasi digital karena mengakibatkan masyarakat di dunia, termasuk Indonesia baik rakyat biasa maupun unit usaha harus bermigrasi dari aktivitas fisik ke digital. Maka dari itu, Menkominfo, menuturkan sudah terdapat enam arah strategis Indonesia dalam mengakselerasi transformasi digital.
Telkom Sambut IPO Kredivo
PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) menyambut positif terkait
keinginan Kredivo untuk menjadi perusahaan publik dengan valuasi sekitar US$
2,5 milliar. Kredivo merupakan starup portofolio dari anak
perusahaan Telkom melaui MDI Ventures setelah berinvestasi di Kredivo sejak
2018 dan tahun berikutnya bersama Terkomsel
Mitra Inovasi.
Direktur Strategis Portofolio Telkom Budi Setyawan Wijaya mengatakan, “Ini merupakan buah manis dari strategis dan komitmen investasi Telkom di bisnis digital yang dijalankan melalui MDI Ventures dan MDI sudah on the track. Bukan hanya potensi capital gain yang mungkin diperolah, tapi hal terpenting dari investasi ini adalah synergi value dengan startup portofolio MDI yang akan mendukung mengembangan bisnis digital Telkom, khususnya pada domain platform dan services,” jelas Budi dalam keterangan tertulis kepada Investor Dayli, Senin (9/8).
Hadirnya Kredivo sebagai unicorn akan menambah catatan positif MDI Ventures dalam berinvestasi. Sebelumnya Nium, starup Portfolio MDI juga menjadi unicorn pembayaran B2B pertama dari Asia Tenggara dengan valuasi di atas UUS$ 1 milliar. “Semoga langkah sukses Kredivo ini dapat diikuti startup lokal yang lahir sebagai Unicorn baru. Telkom Group melalui MDI akan terus berupaya mendukung terwujudnya hal tersebut. Dalam waktu dekat mudah-mudahan akan menyusul startup portofolio MDI lain yang melakukan IPO di bursa dalam negeri,” papar Budi.
Lahirkan Unicorn Baru, Laba Telkomsel Diproyesikan Melesat
Dengan bisnis yang besar dan kuat di sektor teknologi yang kini tumbuh pesat, saham
emiten telekomunikasi itu valuasinya dinilai murah dan berpotensi harganya melejit kembali.
Selain investasi lewat anak usahanya ke 50 lebih startup mulai menguntungkan, saham PT
Telekomunikasi Indonesia Tbk
(TLKM) juga menarik karena
dividennya besar. Laba Telkom
diproyeksikan tumbuh kuat, seiring
transformasi yang terus dilakukan
BUMN ini ke digital telco.
Kepala Riset Praus Capital Alfred Nainggolan mengatakan, yang
sedang hype adalah emiten sektor berbasis teknologi dan fenomena bank-bank digital yang ramai
mendapat valuasi premium dari pasar.
Pasalnya, sektor ini dinilai memberikan pertumbuhan yang tinggi.
“Fenomena bank-bank digital yang
ramai mendapat valuasi premium
dari pasar atau emiten-emiten sektor teknologi, hal itu tidak lepas
karena prospek pertumbuhan yang
bisa diberikan. Di sisi lain, banyak
saham-saham first liner mengalami
kondisi yang sama dengan TLKM,
seperti UNVR yang sahamnya terus
turun, serta saham consumer good
lainnya INDF yang harga sahamnya
tidak banyak bergerak dalam 5 tahun
terakhir. Namun, kalau melihat
harga saham TLKM saat ini, menurut saya sangat menarik karena
bisnisnya yang kuat dan besar di
sektor yang menjadi makin kuat
(sejak era pandemi). Namun, harga ini masih jauh
di bawah rekor tertinggi saham
Telkom sekitar Rp 4.800 per unit
pada 2 Agustus 2017.
Sementara itu, market capitalization Telkom sekitar Rp 328 triliun
atau terbesar ketiga setelah PT Bank
Central Asia Tbk (BCA) dan PT
Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI),
dengan dividend yield sekitar 5,08%.
Sedangkan kapitalisasi pasar BCA
Rp 727 triliun dan BRI Rp 457 triliun
Ekspansi Data Center, Etisalat-Telkom akan Gelontorkan Dana Rp 1,45 Triliun
Perusahaan telekomunikasi asal Uni Emirat Arab
(UEA), Etisalat, dan PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) berencana
menggelontorkan dana investasi hingga US$ 100 juta atau
setara Rp 1,45 triliun untuk membangun pusat data (data
center) di Nongsa Digital Park, Batam, Kepulauan Riau.
Saat ini, Nongsa Digital Park
memiliki sekitar 160 perusahaan dengan
1.000 pekerja yang berasal dari perusahaan
lokal maupun perusahaan asing.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menerangkan,
untuk mendukung teknologi digital agar
semakin berkembang di Kawasan BatamBintan-Karimun (BBK), pemerintah Indonesia telah meresmikan Nongsa Digital Park
pada Maret 2018. Lokasi ini adalah proyek
utama sebagai digital hub antara Indonesia
dan Singapura.
“Untuk Kawasan BBK, dipersiapkan menjadi hub logistik internasional untuk mendukung integrasi dan persaingan industri,
perdagangan, maritim, dan pariwisata,” ujar
Airlangga dalam rilisnya terkait hasil Pertemuan Tingkat Menteri Enam Kelompok Kerja
Bilateral Singapura-Indonesia.
Sementara itu, Telkom sendiri telah
meresmikan data center NeuCentrIX ketiga
di Meruya, Jakarta. Data center berstandardisasi tier-3 service level assurance ini
dijaminkan memiliki downtime kurang dari
1,6 jam dalam satu tahun (99,98% guaranteed
availability).
Direktur Wholesale & International Service Telkom Dian Rachmawan mengatakan,
langkah menghadirkan data center tersebut
untuk mengakselerasi bisnis paltform digital
sebagai salah satu fokus bisnis digital yang
tengah dijalankan oleh Telkom.
Saat ini, lanjut Dian, data center yang dimiliki oleh Telkom tersebar di 13 kota besar di
Indonesia, yaitu Medan, Batam, Pekanbaru,
Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta,
Surabaya, Denpasar, Banjarmasin, Balikpapan, Makassar, dan Manado.
(Oleh - HR1)
Telkomsel Lebur Simpati, As, dan Loop
Telkomsel tak hanya melakukan pembaruan pada Logo di Hari Ulang Tahun (HUT) ke 26. Berbagai pembenahan juga inovasi yang dihadirkan untuk menjawab tantangan di era digital. Salah satunya, melakukan pembaruan dan penyesuaian brand produk dan layanannya.
Pembaruan tersebut yakni Telkomsel telah melebur tiga kartu prabayar menjadi satu serta mengganti nama produk kartu pascabayar. Berdasarkan perkembangan teknologi dan digitalisasi gaya hidup masyarakat, Telkomsel selalu berfokus menyediakan produk dan layanan terbaik bagi pelanggan di seluruh usia.
Telkomsel dikenal memiliki tiga produk prabayar; kartu AS, simPATI, dan Loop. Jadi ketiga produk tersebut dilebur menjadi satu produk, Kini namanya menjadi kartu Telkomsel Prabayar. Dengan adanya perubahan yang berlaku sejak 18 Juni 2021 ini, ke depannya sudah tidak ada lagi penjualan kartu baru untuk tiga produk prabayar tersebut.
Sementara untuk produk pascabayar, Telkomsel mengubah nama dan logo. Kartu Halo berubah menjadi Telkomsel Halo yang ditandai dengan perubahan nama dan logo namun tetap dengan layanan terbaik.
Hingga 2030, Bakti akan Adakan 3 Satelit Satria
JAKARTA – Hingga tahun 2030, Badan
Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi
Kementerian Komunikasi dan Informasi (Bakti)
menargetkan pengadaan tiga satelit Satria.
Tujuannya untuk peningkatan akses internet
yang lebih baik bagi layanan publik, terutama
di area terdepan, terpencil, dan tertinggal (3T)
di Tanah Air.
Direktur Infrastruktur Bakti
Bambang Noegroho menyampaikan, Bakti akan mengadakan
tiga satelit Satria, yang terdiri atas
Satria-1 berkapasitas 150 Gpbs
yang akan diluncurkan akhir 2023,
Satria-2 berkapasitas 300 Gpbs
pada 2024, dan Satria-3 berkapasitas sekitar 500 Gpbs tahun 2030.
“Kita akan mengadakan tiga
satelit karena RI wilayah geografis kepulauan yang sulit dipenuhi jika membangun kabel fiber
optic,” ujar Nugi, panggilan akrab
Bambang Noe groho, dalam
acara ‘Peran Perbankan Dukung
Upaya Perluasan Konektivitas
Nasional’, dikutip Rabu (7/7).
Pengadaan satelit Satria-1
hingga Satria-3 sangat diperlukan
guna menopang akses internet
untuk layanan publik sekitar
501.112 titik di seluruh wilayah
Tanah Air. Sementara itu, hingga
saat ini, sudah sebanyak 351.111
titik layanan publik telah mampu
dilayani satelit.
President Director PT Pasifik
Satelit Nusantara (PSN) Adi
Rahman Adiwoso menyampaikan, proyek Satria-1 masuk ke
dalam Proyek Strategis Nasional
(PSN) Pemerintah Indonesia
dan menjadi salah satu kunci
pengembangan konektivitas internet broadband secara nasional.
Kahadiran Satria-1 yang akan
diluncurkan ke orbit pada kuartal III-2023 sangat diperlukan
untuk mengurangi kesenjangan
(gap) telekomunikasi mengingat
kondisi geografis Indonesia yang
terdiri atas ribuan pulau dengan
masih banyak masyarakat yang
belum terjangkau oleh akses
internet, terutama di wilayah 3T
(Oleh - HR1)
Pilihan Editor
-
Mengelola Risiko Laju Inflasi
09 Jun 2022 -
Audit Perusahaan Sawit Segera Dimulai
08 Jun 2022 -
Penerimaan Negara Terbantu Komoditas
14 Jun 2022 -
Menkeu Minta Kualitas Belanja Pemda Diperbaiki
08 Jun 2022 -
Yusuf Ramli, Jalan Berliku Juragan Ikan
10 Jun 2022









