;
Tags

Telekomunikasi

( 286 )

Erick Thohir Sebut Sejumlah BUMN Investasi di Belasan Startup

KT1 29 Sep 2021 CNN Indonesia

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mengatakan sejumlah perusahaan pelat merah berinvestasi di startup. Hal ini seiring dengan perkembangan prospek bisnis sektor digital di Indonesia. Erick mengatakan salah satu BUMN yang berinvestasi di startup adalah PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI. Perusahaan itu berinvestasi di 15 startup. "Kami melihat BUMN itu punya investasi di startup," ungkap Erick kepada media, Kamis (23/9). Selain BRI, ada pula PT Bank Mandiri (Persero) Tbk yang juga menanamkan dana di 15 startup. Kemudian, Telkomsel berinvestasi di 15 startup dan PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk di 54 startup. Erick tak merinci identitas startup yang menjadi ladang investasi sejumlah perusahaan pelat merah. Hanya saja, ia menyebut beberapa startup sudah berstatus unicorn. "Sebagian sudah unicorn, mereka investasi di Bukalapak, salah satu yang kemarin go public," terang Erick. 

Sebelumnya, Direktur Digital Business Telkom Indonesia Muhamad Fajrin Rasyid mengatakan pihaknya siap mengakuisisi startup dalam waktu mendatang. Hal ini khususnya startup yang memberikan nilai tambah bagi perusahaan. "Telkom terbuka untuk berinvestasi atau semacamnya, apakah itu akuisisi terhadap perusahaan startup atau pihak-pihak yang memang dapat menambah value added Telkom," ungkap Fajrin dalam Telkom Talks-Akselerasi Digital untuk Kemajuan Bangsa Indonesia, Selasa (6/7). Ia mengatakan pihaknya baru-baru ini berinvestasi di Gojek. Investasi itu dilakukan oleh anak usaha mereka, Telkomsel. Selain itu, Telkom Indonesia memiliki venture capital bernama MDI Ventures. Fajrin mengatakan perusahaan itu sudah cukup banyak menanamkan dana di sejumlah startup. (yetede)

Bisnis Data Center, Persaingan Harga Pusat Data Bakal Ketat

KT1 23 Sep 2021 Bisnis Indonesia

Indonesia Digital Empowering Community memproyeksikan perang harga di industri pusat data pada masa mendatang seiring dengan pesatnya pembangunan pusat data di Indonesia. Ketua Indonesia Digital Empowering Community (Idiec) M Tesar Sandikaputra mengatakan munculnya pusat data-data baru di Tanah Air akan mendorong persaingan dari sisi harga. Menurutnya, pemain pusat data menawarkan harga murah untuk merebut pasar yang terbatas. "Makin banyak pemain tentu harga makin murah, terlebih tidak semua sektor menggunakan layanan pusat data," katanya, Selasa (21/9)

Kesenjangan antara suplai pusat data dan kebutuhan yang tidak terlalu besar kemudian beresiko membuat para penyedia pusat data saling bersaing menawarkan layanannya dengan harga murah. Berdasarkan pengalaman Tesar pusat data diatas 10 juta atau satu rak. Makin banyak yang tersimpan, imbuhnya, makin besar rak yang di sewa. "Itu hanya sewa rak dan bandwith saja. Belum termasuk operasi atau isi," kata Tesar. Saat ini beberapa perusahaan mengebut pembangunan pusat data seperti PT Telkom Indonesia Tbk, Biznet, DCI Indonesia dalam jalur pembangunan pusat data skala hiper.

"Bisnis pusat data saingannnya adalah para pemain pusat data besar-besar untuk teknologi komputasi awan, misalnya AWS," kata Tesar. Ditengah pembangunan pesat pusat data di Tanah Air, para pemain pusat data mengalami pertumbuhan yang signifikan di bisnis pusat data. Pada kuartal II/2021, PT Telkom Indonesia Tbk, mencatat pendapatan senilai Rp713 miliar dari bisnis pusat data  dan komputasi awan. Jumlah pendapatan tersebut meningkat 11,7% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. (yetede)

Grup Telkom dan Djarum Di Puncak Bisnis Menara

IDR 09 Sep 2021 Kontan, 7 September 2021

Jakarta - Prospek bisnis menara telekomunikasi semakin menjulang. Setidaknya ada dua transaksi besar yang dilakukan operator menara dalam waktu berdekatan. Pertama, anak usaha PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) yakni PT Profesional Telekomunikasi Indonesia (Protelindo), akan menuntaskan akuisisi 90% saham PT Solusi Tuntas Pratama Tbk (SUPR), yang memiliki 6.433 menara telekomunikasi dengan nilai aset Rp 12 triliun. Kedua, PT Dayamitra Telekomunikasi (Mitratel) mengambil alih 4.000 menara milik PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel). 

Praktis, dua transaksi jumbo tersebut semakin mengukuhkan para jawara menara telekomunikasi di Indonesia. Kini, Grup Telkom merajai bisnis menara telekomunikasi dengan menguasai lebih dari 30.000 menara, melalui kepemilikan Mitratel dan Telkomsel. Prospek bisnis menara masih terbuka lebar untuk pengembangan pasar oleh perusahaan telekomunikasi lainnya. Saham-saham sektor telekomunikasi sangat menarik untuk dikoleksi jangka panjang. Pasalnya, saham di sektor ini memiliki prospek fundamental menjanjikan. 

Lagi, Mitratel Ambil Alih 4.000 Menara Telekomunikasi dari Telkomsel

KT1 03 Sep 2021 Investor Daily, 3 September 2021

PT Dayamitra Telekomunikasi (Mitratel) kembali mengambil alih sebanyak 4.000 menara telekomunikasi dari PT Telekomunikasi Seluler (Telkomsel). Aksi korporasi ini semakin mengukuhkan posisi Mitratel sebagai pengusaha menara telekomunikasi terbesar di Indonesia. Kesepakatan antar dua anak usaha PT Telkom Indonesia Tbk terkait penandatanganan perjanjian jual beli (sale and purchase agreement/SPA) terjadi pada 31 Agustus 2021. Hal ini melengkapi aksi korporasi yang dilakukan oleh kedua perusahaan atas 6.050 menara telekomunikasi pada tahun lalu. 

Direktur Utama Telkomsel Hendri Mulya Syam menjelaskan, pihaknya konsisten dalam melakukan transformasi portofolio di bisnis digital melalui sejumlah langkah strategis. "Kelanjutan aksi korporasi dengan melakukan pengalihan kepemilikan menera telekomunikasi kepada Mitratel semakin menunjukkan keseriusan Telkomsel untuk lebih fokus dalam memperkuat eksistensi dan penetrasi dalam menggelar layanan digital," kata dia dalam keterangan tertulis, Kamis (2/9)

Direktur Strategi Portfolio Telkom Budi Setyawan Wijaya menambahkan, aksi korporasi ini merupakan langkah Telkom dalam menata portfolio demi value cretion yang optimal. Telkom Group turut serta memantapkan langkah Mitratel sebagai pemain tower terbesar  di Indonesia. "Mitratel bersiap untuk mengoptimalkan value creation selanjutnya melalui aksi korporasi yang lebih besar lagi, tuturnya. 


Menkominfo: Koneksi Ponsel Capai 345,3 Juta, Lampaui Total Penduduk RI

Sajili 13 Aug 2021 Sinar Indonesia Baru

Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Johnny G Plate menyebutkan jumlah koneksi ponsel di Indonesia mencapai 345,3 juta, lebih banyak dari total penduduk. Pandemi ini membawa perubahan yang masif di semua lini, serta mendorong semua aktivitas dan interaksi beralih ke digital.

Selain itu jaringan internet aktif di Tanah Air tercatat digunakan oleh 200 juta pengguna atau setara dengan 73,3 persen dari populasi Indonesia. Menurut ia, situasi tersebut pun membuat Indonesia menjadi negara kelima terbesar pengguna internet di dunia..

Sebelum adanya pandemi, kata dia, suka tidak suka seluruh dunia harus melakukan digitalisasi karena adanya disrupsi teknologi. Kemudian pandemi pun datang dan mempercepat transformasi digital karena mengakibatkan masyarakat di dunia, termasuk Indonesia baik rakyat biasa maupun unit usaha harus bermigrasi dari aktivitas fisik ke digital. Maka dari itu, Menkominfo, menuturkan sudah terdapat enam arah strategis Indonesia dalam mengakselerasi transformasi digital.


Telkom Sambut IPO Kredivo

KT1 10 Aug 2021 Investor Daily, 10 Agustus 2021

PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) menyambut positif terkait keinginan Kredivo untuk menjadi perusahaan publik dengan valuasi sekitar US$ 2,5 milliar. Kredivo merupakan starup portofolio dari anak perusahaan Telkom melaui MDI Ventures setelah berinvestasi di Kredivo sejak 2018 dan tahun berikutnya bersama Terkomsel Mitra Inovasi.

Direktur Strategis Portofolio Telkom Budi Setyawan Wijaya mengatakan, “Ini merupakan buah manis dari strategis dan komitmen investasi Telkom di bisnis digital yang dijalankan melalui MDI Ventures dan MDI sudah on the track. Bukan hanya potensi capital gain yang mungkin diperolah, tapi hal terpenting dari investasi ini adalah synergi value dengan startup portofolio MDI yang akan mendukung mengembangan bisnis digital Telkom, khususnya pada domain platform dan services,” jelas Budi dalam keterangan tertulis kepada Investor Dayli, Senin (9/8).

Hadirnya Kredivo sebagai unicorn akan menambah catatan positif MDI Ventures dalam berinvestasi. Sebelumnya Nium, starup  Portfolio MDI juga menjadi unicorn pembayaran B2B pertama dari Asia Tenggara dengan valuasi di atas UUS$ 1 milliar. “Semoga langkah sukses Kredivo ini dapat diikuti startup lokal yang lahir sebagai Unicorn baru. Telkom Group melalui MDI akan terus berupaya mendukung terwujudnya hal tersebut. Dalam waktu dekat mudah-mudahan akan menyusul startup portofolio MDI lain yang melakukan IPO di bursa dalam negeri,” papar Budi.


Lahirkan Unicorn Baru, Laba Telkomsel Diproyesikan Melesat

KT2 03 Aug 2021 Investor Daily, 3 Agustus 2021

Dengan bisnis yang besar dan kuat di sektor teknologi yang kini tumbuh pesat, saham emiten telekomunikasi itu valuasinya dinilai murah dan berpotensi harganya melejit kembali. Selain investasi lewat anak usahanya ke 50 lebih startup mulai menguntungkan, saham PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) juga menarik karena dividennya besar. Laba Telkom diproyeksikan tumbuh kuat, seiring transformasi yang terus dilakukan BUMN ini ke digital telco. Kepala Riset Praus Capital Alfred Nainggolan mengatakan, yang sedang hype adalah emiten sektor berbasis teknologi dan fenomena bank-bank digital yang ramai mendapat valuasi premium dari pasar. Pasalnya, sektor ini dinilai memberikan pertumbuhan yang tinggi. “Fenomena bank-bank digital yang ramai mendapat valuasi premium dari pasar atau emiten-emiten sektor teknologi, hal itu tidak lepas karena prospek pertumbuhan yang bisa diberikan. Di sisi lain, banyak saham-saham first liner mengalami kondisi yang sama dengan TLKM, seperti UNVR yang sahamnya terus turun, serta saham consumer good lainnya INDF yang harga sahamnya tidak banyak bergerak dalam 5 tahun terakhir. Namun, kalau melihat harga saham TLKM saat ini, menurut saya sangat menarik karena bisnisnya yang kuat dan besar di sektor yang menjadi makin kuat (sejak era pandemi). Namun, harga ini masih jauh di bawah rekor tertinggi saham Telkom sekitar Rp 4.800 per unit pada 2 Agustus 2017. Sementara itu, market capitalization Telkom sekitar Rp 328 triliun atau terbesar ketiga setelah PT Bank Central Asia Tbk (BCA) dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI), dengan dividend yield sekitar 5,08%. Sedangkan kapitalisasi pasar BCA Rp 727 triliun dan BRI Rp 457 triliun

Ekspansi Data Center, Etisalat-Telkom akan Gelontorkan Dana Rp 1,45 Triliun

Ayutyas 16 Jul 2021 Investor Daily, 16 Juli 2021

Perusahaan telekomunikasi asal Uni Emirat Arab (UEA), Etisalat, dan PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) berencana menggelontorkan dana investasi hingga US$ 100 juta atau setara Rp 1,45 triliun untuk membangun pusat data (data center) di Nongsa Digital Park, Batam, Kepulauan Riau. Saat ini, Nongsa Digital Park memiliki sekitar 160 perusahaan dengan 1.000 pekerja yang berasal dari perusahaan lokal maupun perusahaan asing. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menerangkan, untuk mendukung teknologi digital agar semakin berkembang di Kawasan BatamBintan-Karimun (BBK), pemerintah Indonesia telah meresmikan Nongsa Digital Park pada Maret 2018. Lokasi ini adalah proyek utama sebagai digital hub antara Indonesia dan Singapura. “Untuk Kawasan BBK, dipersiapkan menjadi hub logistik internasional untuk mendukung integrasi dan persaingan industri, perdagangan, maritim, dan pariwisata,” ujar Airlangga dalam rilisnya terkait hasil Pertemuan Tingkat Menteri Enam Kelompok Kerja Bilateral Singapura-Indonesia.

Sementara itu, Telkom sendiri telah meresmikan data center NeuCentrIX ketiga di Meruya, Jakarta. Data center berstandardisasi tier-3 service level assurance ini dijaminkan memiliki downtime kurang dari 1,6 jam dalam satu tahun (99,98% guaranteed availability). Direktur Wholesale & International Service Telkom Dian Rachmawan mengatakan, langkah menghadirkan data center tersebut untuk mengakselerasi bisnis paltform digital sebagai salah satu fokus bisnis digital yang tengah dijalankan oleh Telkom. Saat ini, lanjut Dian, data center yang dimiliki oleh Telkom tersebar di 13 kota besar di Indonesia, yaitu Medan, Batam, Pekanbaru, Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Denpasar, Banjarmasin, Balikpapan, Makassar, dan Manado.

(Oleh - HR1)

Telkomsel Lebur Simpati, As, dan Loop

Sajili 15 Jul 2021 Tribun Timur

Telkomsel tak hanya melakukan pembaruan pada Logo di Hari Ulang Tahun (HUT) ke 26. Berbagai pembenahan juga inovasi yang dihadirkan untuk menjawab tantangan di era digital. Salah satunya, melakukan pembaruan dan penyesuaian brand produk dan layanannya.

Pembaruan tersebut yakni Telkomsel telah melebur tiga kartu prabayar menjadi satu serta mengganti nama produk kartu pascabayar. Berdasarkan perkembangan teknologi dan digitalisasi gaya hidup masyarakat, Telkomsel selalu berfokus menyediakan produk dan layanan terbaik bagi pelanggan di seluruh usia.

Telkomsel dikenal memiliki tiga produk prabayar; kartu AS, simPATI, dan Loop. Jadi ketiga produk tersebut dilebur menjadi satu produk, Kini namanya menjadi kartu Telkomsel Prabayar. Dengan adanya perubahan yang berlaku sejak 18 Juni 2021 ini, ke depannya sudah tidak ada lagi penjualan kartu baru untuk tiga produk prabayar tersebut.

Sementara untuk produk pascabayar, Telkomsel mengubah nama dan logo. Kartu Halo berubah menjadi Telkomsel Halo yang ditandai dengan perubahan nama dan logo namun tetap dengan layanan terbaik.


Hingga 2030, Bakti akan Adakan 3 Satelit Satria

Ayutyas 08 Jul 2021 Investor Daily, 8 Juli 2021

JAKARTA – Hingga tahun 2030, Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi Kementerian Komunikasi dan Informasi (Bakti) menargetkan pengadaan tiga satelit Satria. Tujuannya untuk peningkatan akses internet yang lebih baik bagi layanan publik, terutama di area terdepan, terpencil, dan tertinggal (3T) di Tanah Air. Direktur Infrastruktur Bakti Bambang Noegroho menyampaikan, Bakti akan mengadakan tiga satelit Satria, yang terdiri atas Satria-1 berkapasitas 150 Gpbs yang akan diluncurkan akhir 2023, Satria-2 berkapasitas 300 Gpbs pada 2024, dan Satria-3 berkapasitas sekitar 500 Gpbs tahun 2030. “Kita akan mengadakan tiga satelit karena RI wilayah geografis kepulauan yang sulit dipenuhi jika membangun kabel fiber optic,” ujar Nugi, panggilan akrab Bambang Noe groho, dalam acara ‘Peran Perbankan Dukung Upaya Perluasan Konektivitas Nasional’, dikutip Rabu (7/7).

Pengadaan satelit Satria-1 hingga Satria-3 sangat diperlukan guna menopang akses internet untuk layanan publik sekitar 501.112 titik di seluruh wilayah Tanah Air. Sementara itu, hingga saat ini, sudah sebanyak 351.111 titik layanan publik telah mampu dilayani satelit. President Director PT Pasifik Satelit Nusantara (PSN) Adi Rahman Adiwoso menyampaikan, proyek Satria-1 masuk ke dalam Proyek Strategis Nasional (PSN) Pemerintah Indonesia dan menjadi salah satu kunci pengembangan konektivitas internet broadband secara nasional. Kahadiran Satria-1 yang akan diluncurkan ke orbit pada kuartal III-2023 sangat diperlukan untuk mengurangi kesenjangan (gap) telekomunikasi mengingat kondisi geografis Indonesia yang terdiri atas ribuan pulau dengan masih banyak masyarakat yang belum terjangkau oleh akses internet, terutama di wilayah 3T

(Oleh - HR1)