;
Tags

Perbankan

( 2327 )

Penurunan Suku Bunga Jadi Kunci Akselerasi Kredit

HR1 14 May 2025 Kontan
Pertumbuhan kredit perbankan Indonesia terus melambat, hanya mencatat 9,16% yoy per Maret 2025, level terendah sejak Oktober 2023. Dalam kondisi ini, para pelaku industri dan analis menilai penurunan suku bunga diperlukan untuk mendorong pertumbuhan kredit, meskipun bukan satu-satunya solusi.

Analis Jeffrosenberg Chenlim dan Faiq Asad dari Maybank Sekuritas menekankan bahwa penurunan suku bunga akan membantu menurunkan biaya dana (cost of fund) dan memperlonggar likuiditas, yang sangat dibutuhkan untuk percepatan kredit. Mereka menilai hanya bank-bank dengan likuiditas kuat, seperti Bank Central Asia (BCA) dan CIMB Niaga, yang mampu menyalurkan kredit secara agresif di tengah kondisi ini.

Lani Darmawan, Presiden Direktur CIMB Niaga, sepakat bahwa suku bunga rendah bisa mendorong kredit, namun menekankan bahwa daya beli masyarakat juga merupakan faktor kunci. Ia mendorong evaluasi kebijakan insentif, seperti likuiditas makroprudensial, agar lebih efektif menggairahkan kredit. Lani juga mencatat bahwa biaya dana CIMB Niaga naik menjadi 3,61% pada kuartal I-2025, sehingga fokus bank saat ini adalah menggenjot dana murah (CASA).

Efdinal Alamsyah, Direktur Kepatuhan Bank Oke Indonesia, menilai suku bunga rendah belum cukup. Ia menyarankan adanya stimulus fiskal, insentif sektor prioritas, dan pelonggaran kebijakan LTV atau GWM agar penyaluran kredit lebih efektif.

Sementara itu, Jahja Setiaatmadja, Presiden Direktur BCA, menekankan bahwa meskipun biaya dana BCA tetap rendah, pertumbuhan kredit masih melambat (hanya 2,1% kuartalan). Menurutnya, masalah utamanya bukan di suku bunga, melainkan pada lemahnya permintaan kredit di masyarakat.

Meskipun penurunan suku bunga bisa menjadi alat bantu, pertumbuhan kredit nasional masih bergantung pada kombinasi faktor: daya beli masyarakat, kondisi likuiditas, serta dukungan insentif dari regulator dan pemerintah.

Pertumbuhan Kredit Valas Mulai Tertahan

HR1 13 May 2025 Kontan

Pertumbuhan kredit valuta asing (valas) perbankan Indonesia masih mencatatkan angka dua digit hingga Maret 2025, yakni 13,3% year-on-year (yoy). Namun, laju pertumbuhannya melambat dibandingkan bulan-bulan sebelumnya, mencerminkan sikap hati-hati pelaku usaha dan perbankan dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi global serta volatilitas nilai tukar rupiah yang sempat menembus Rp 17.052 per dolar AS pada April.

Sejumlah bank besar seperti Bank Mandiri, CIMB Niaga, dan BCA tetap menyalurkan kredit valas, namun dengan pendekatan kehati-hatian.

M. Ashidiq Iswara, Sekretaris Perusahaan Bank Mandiri, menyatakan bahwa mereka menyalurkan kredit valas secara selektif, terutama ke sektor ekspor-impor yang dianggap prospektif dan tangguh. Ia menekankan pentingnya menjaga kualitas aset di tengah volatilitas pasar.

Rusly Johannes, Direktur Business Banking CIMB Niaga, menambahkan bahwa CIMB juga berhati-hati dengan risiko valas yang semuanya di-hedging. Kredit valas mereka stabil dan banyak disalurkan ke sektor pertanian dan tambang.

Sementara itu, Hera F. Haryn, EVP Komunikasi Korporat BCA, mengatakan bahwa BCA menjaga pertumbuhan kredit valas secara terukur, dengan nilai mencapai US$ 3 miliar (sekitar 5% dari total kredit). Mereka juga melakukan stress test secara konsisten dan menjaga likuiditas serta modal yang kuat.

Meskipun menghadapi tantangan global dan depresiasi rupiah, bank-bank besar tetap menunjukkan optimisme terhadap pertumbuhan kredit valas, asalkan disertai mitigasi risiko yang disiplin dan penyaluran ke sektor yang resilien.

Perbankan Hadapi Volatilitas Likuiditas

HR1 13 May 2025 Bisnis Indonesia

Polemik kondisi likuiditas perbankan Indonesia saat ini menampilkan dua sisi pandang yang kontras. Di satu sisi, Bank Indonesia (BI) menyatakan bahwa ruang likuiditas longgar, terlihat dari kepatuhan mayoritas bank terhadap rasio Pemenuhan Kewajiban Likuiditas Makroprudensial (PLM), terutama kepemilikan Surat Berharga Negara (SBN) yang melebihi ketentuan minimum 5%. Namun, di sisi lain, para bankir justru mengeluhkan ketatnya likuiditas akibat persaingan antar lembaga keuangan dalam mencari dana di pasar uang, yang dibuktikan oleh penyusutan kepemilikan SRBI ke titik terendah dalam sembilan bulan terakhir.

Perbedaan pandangan ini menunjukkan tidak sinkronnya indikator-indikator makro dan mikro dalam menggambarkan realitas likuiditas perbankan. Rasio loan to deposit (LDR) yang masih di bawah 90% dan pertumbuhan kredit yang stagnan (9,16% pada Maret 2025) menunjukkan bahwa dana pihak ketiga belum optimal disalurkan menjadi kredit produktif.

Divergensi struktur bank besar dan kecil turut memperparah kondisi, terlebih karena kebijakan makro seperti suku bunga acuan dan Giro Wajib Minimum (GWM) masih bersifat seragam atau "gelondongan", tanpa mempertimbangkan kapasitas masing-masing bank. Dalam konteks ini, BI disarankan lebih selektif dan strategis, misalnya dengan pelonggaran GWM yang diarahkan ke sektor-sektor prioritas seperti UMKM, ekonomi hijau, dan pariwisata.

Bank sendiri pun, menurut artikel ini, perlu lebih adaptif dan inovatif. Alih-alih meminta dispensasi, bank harus bisa menata ulang portofolio mereka dan mulai menyiapkan sumber dana murah alternatif di luar dana pihak ketiga. Dengan demikian, siklus naik-turun likuiditas tidak akan mengguncang stabilitas, dan industri perbankan tetap bisa menjalankan peran kuncinya dalam mendukung pertumbuhan ekonomi menuju Indonesia Emas 2045, sebagaimana yang diharapkan oleh BI dan para pemangku kepentingan.


BTN Dorong Pemberdayaan Perempuan di Lingkungan Kerja

KT1 13 May 2025 Investor Daily
PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) menegaskan komitmennya dalam, mendorong kesetaraan gender di lingkungan kerja dengan mendukung pemberdayaan Srikandi BTN. Upaya tersebut sejalan dengan Asta CIta Presiden Prabowo Subianto yakni keseteraan gender. Direktur Utama BTN Nixon Napitupul menyampaikan, keterwakilan perempuan dalam jajaran top management juga menjadi bagian transformasi perseroan agar lebih produktif dan adaptif terhadap perubahan zaman. "Industri perbankan sejatinya merupakan industri dengan pendekatan feminim karena berkaitan dengan hospitality, jasa, dan relasi. Dengan keterwakilan perempuan di level pemimpin akan membawa perubahan besar dalam menghadirkan layanan yang lebih ramah bagi para nasabah," ujar Nixon. Nixon melanjutkan, keterwakilam perempuan dalam level pimpinan akan menciptakan lingkungan persaingan sehat. BTN sendiri telah mencatat kemajuan signifikan, dengan dua perempuan yang kini menjabat sebagai direksi dan keterwakilan perempuan di level BOD-1 telah mencapai 20%. Per Desember 2024, jumlah pegawai perempuan di BTN juga mencapai 48,9%. (Yetede)

BTN Dorong Pemberdayaan Perempuan di Lingkungan Kerja

KT1 13 May 2025 Investor Daily
PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) menegaskan komitmennya dalam, mendorong kesetaraan gender di lingkungan kerja dengan mendukung pemberdayaan Srikandi BTN. Upaya tersebut sejalan dengan Asta CIta Presiden Prabowo Subianto yakni keseteraan gender. Direktur Utama BTN Nixon Napitupul menyampaikan, keterwakilan perempuan dalam jajaran top management juga menjadi bagian transformasi perseroan agar lebih produktif dan adaptif terhadap perubahan zaman. "Industri perbankan sejatinya merupakan industri dengan pendekatan feminim karena berkaitan dengan hospitality, jasa, dan relasi. Dengan keterwakilan perempuan di level pemimpin akan membawa perubahan besar dalam menghadirkan layanan yang lebih ramah bagi para nasabah," ujar Nixon. Nixon melanjutkan, keterwakilam perempuan dalam level pimpinan akan menciptakan lingkungan persaingan sehat. BTN sendiri telah mencatat kemajuan signifikan, dengan dua perempuan yang kini menjabat sebagai direksi dan keterwakilan perempuan di level BOD-1 telah mencapai 20%. Per Desember 2024, jumlah pegawai perempuan di BTN juga mencapai 48,9%. (Yetede)

IKK pada April 2025 Berada pada Level Pptimis

KT1 10 May 2025 Investor Daily (H)
BI melaporkan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada April 2025 berada pada level optimis yaitu sebesar 121,7. Angka ini lebih tinggi dibandingkan dengan indeks pada bulan sebelumnya sebesar 121,1. Dengan kata lain, IKK mengakhiri penurunan selama tiga bulan sebelumnya. Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Parkoso mengatakan optimisme konsumen yang meningkat pada April 2025 terjadi karena ada kenaikan keyakinan konsumen terhadao kondisi ekonimi saat ini dan terjaganya keyakinan konseumen terhadao kondisi ekonomi ke depan. "Survei konsumen BI pada Pril 2025 mengindikasikan keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi tergaja," ucap Ramdan. Berdasarkan kelompk pengeluaran responeden, keyakinan konsumen pada April 2025 meningkat untuk sebagian kelompok, dengan IKK tertingi tercatat responden pengeluaran >Rp 5 juta (127,9) dan Rp 4,1 juta (125,2). Meski demikian, perkembangan optimisme pada kelompk pengeluaran Rp 1-2 juta menurun dibandingkan kondisi bulan sebelumnya. Berdasarkan kelompok usia, dengan IKK tertinggi tercatat pada responden usia 20-30 tahun (126,4), 31-4- tahun (123,0), dan 41-50 tahun (120,9). (Yetede)

BI Memutuskan untuk Mempertahankan BI-Rate Sebesar 5,75%

KT1 10 May 2025 Investor Daily (H)
Dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 22-23 April 2025, BI memutuskan untuk mempertahankan BI-Rate sebesar 5,75%, suku bunga Deposit Facility 5,00%, dan suku bunga Lending Facility 6,50%. Di sisi lain, Bank Sentral Amerika Serikat Federal Reserve atau The Fed mempertahankan suku  juga acuan sebesar 4,25%-4,50% dalam federal Open market Committe atau FOMC periode Mei 2025. The Fed  memeprtahankan suku bunga acuan seiring meluaskany kekhawatiran  atas tarif yang diberlakukan terhadap mitra dagang utama AS. Hal ini berartu Bank Sentral AS tersebut sejak mempertahankan suku bunga sejak pertemuan pada Januari dan Maret tahun ini. "Waktu yang realistis untuk penuruan suku bunga acuan lebih lanjut adalah pada semester II tahun 2025, dengan catat bawa kondisi global mulai membaik dan tekanan inflasi tetap rendah," kata pakar ekonomi Fakultas Ekonomi dan bisnis Universitas Arilangga Tika Widiastuti kepada Investor Daily. Dia mengatakan, indikator domestik seperti pertumbuhan ekonomi yang melambat dan permintaan kredit yang lemah juga menjadi pertimbangan yang penting. (Yetede)

Peluang Bank Indonesia untuk Menurunkan Suku Bunga Acuan

KT1 10 May 2025 Investor Daily
Peluang Bank Indonesia untuk menurunkan suku bunga acuan (BI-Rate) diperkirakan  pada semester II-2025. Hal ini dapat dilakukan jika RI memiliki ruang pelonggaran  moneter yang menandai, tingkat inflasi sesuai target, dan nilai tukar rupiah yang stabil. Dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia 22-23 April 2025, BI memutuskan untuk mempertahankan BI-Rate sebesar 5,75%, suku bunga Deposit Falicity 5,00%, dan suku bunga Lending Falicity 6,50%. Di sisi lain, Bank Sentral Amerika Serikat The Fed mempertahankan  suku bunga Deposit Facility 5,00%, dan suku bunga Lending Falicity 6,50%. Di sisi lain Bank Sentra AS Federal Reserve atau The Fed mempertahankan suku bunga acuan sebesar 4,25%-4,50% dalam Federal Open Market Committe atau FOMC periode Mei 2025. The Fed mempertahankan suku bunga acuannya seiring meluasnya kekhawatiran atas tarif yang diberlakukan terhadap mitra dagang utama AS. Hal ini berarti Bank Sentral AS tersebut telah memeprtahankan suku bunga sejak pertama pada Januari dan Maret tahun ini. "Waktu yang realistis untuk penurunan suku bunga acuan lebih lanjut adalah pada semester II tahun 2025, dengan catatan bahwa kondisi global mulai membaik dan tekanan inflasi tetap rendah," kata Pakar Ekonomi Fakultas Bisnis Universitas Airlangga Tika Widiastuti. (Yetede)

Ambisi Asus Jadi Penguasa Segmen Komputer RI

KT1 10 May 2025 Investor Daily
Asus, produsen perangkat komputer, yang terdiri dari laptop, notebook, personal computer (PC) hingga desktops menargetkan untuk menjadi penguasa, alias raja produk komputer di pasar Indonesia. Upaya ini seiring dengan posisinya yang sudah menguasai segmen consumer dengan 30-35% pangsa pasar selama 5-10 tahun terakhir, serta menargetkan untuk menguasai segmen komersial dalam jangka waktu tiga tahun ke depan. "Untuk consumer, selama 10 tahun terakhir ini kami posisi pertama di Indonesia dengan pangsa pasar saat ini sekitar 30-35%. Sedangkan untuk segmen komersial, targetnya dalam waktu 1-3 tahun ke depan menjadi nomor satu di Indonesia," kata Director of Commercial Products Asus Indonesia Yulianto Hasan di Batam. Penguatan di lini komersial ini, juga akan menjadi fokus utama Asus ke depannya. Karena permintaan perangkat bisnis ini terutama didukung oleh segmen pemerintah dan korporasi yang gencar melakukan digitalisasi, dan peremajaan perangkat seiring dengan rencana Microsoft yang akan mematikan sistem operasi Windows 10, dan beralih ke Windows 11 pada tahun ini. (Yetede)

Bayar Utang Luar Negeri

KT1 09 May 2025 Investor Daily
Pembayaran utang luar negeri pemerinta dan kebijakan stabilitas nilai tukar rupiah membiayai cadangan devisa turun US$ 4,6 miliar menjadi US$ 152,5 miliar pada April 2025, dari posisi Maret 2025 yang sebesar US$ 157,1 miliar. Upaya stabilitas rupiah tersebut sebagai respons BI dalam menghadaou ketidakpastian pasar keuangan global yang semakin tinggi. Adapun posisi cadangan devisa pada akhir April tersebut setara dengan pembiayaan 6,5 bulan impor atau 6,2 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor. Kondisi cadangan devisa tersebut diharapkan menjadi penyokong bagi ketahanan eksternal untuk perekonomian Indonesia. Dalam siaran pers BI, Kamis (8/5/2025), Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso menjelaskan, BI menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternak serta menjaga stabilitas makekoekonomi dan sistem keuangan. "Ke depan, BI memandang posisi cadangan devisa memadai untuk mendukung ketahanan sektor eksternal sejalan dengan tetap terjaganya prospek ekspor, neraca transaksi modal dan finansial yang diperkirakan tetap mencatatkan surplus, serta persepsi positif investor terhadap prospek perekonomian nasional dan imbal hasil investasi yang menarik," jelas dia. (Yetede)